Pertemuan yang tak baik belum tentu menjadi akhir yang buruk, karna seiring berjalannya waktu perasaan itu pasti akan muncul, contohnya perasaan jatuh cinta dan suka.
seperti kisah Jovandra dan adelliana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annaaluvv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 16
" Aduh kaka Yolla harus ngelukis tau!, ga ada kerjaan banget sih ah " Gerutu Yolla kesal seraya masuk kedalam kamar Joan dengan tangan yang membawa termos kecil, handuk kecil dan alat pengukur suhu badan.
Yolla menuangkan air panasnya kedalam gelas lalu mencelupkan alat pengukur suhu badan kedalam gelasnya.
" Bohong tuh dosa tau ka! " Ujar Yolla.
Joan yang tengah merebahkan tubuhnya bangkit, liat yolla sibuk karna suruhannya memang sedikit merepotkan Yolla dan menggangu aktifitas Yolla.
Tapi ya mau bagaimana lagi, namanya juga usaha.
Joan menarik tangan kanan Yolla yang hendak menuangkan air panasnya kedalam botol plastik " Eh, bukannya kamu bilang kamu suka ka Liana, ini Kaka lagi usaha supaya Liana jadi pacar kaka " Ujarnya jujur pada Yolla.
Wajah Yolla berubah sumringah, Yolla mendekati Joan dan duduk di tepi ranjangnya " Serius kak, Ka Joan gak lagi bohongin Yolla kan? " Tanya Yolla, tatapannya seakan memaksa agar Joan segera menjawab.
Joan menghela nafasnya " Terus ngapain Kaka suruh kamu lakuin ini, ya serius lah "
Plakk!
" Aww!! "
Yolla pukul keras paha Joan dengan wajah tanpa dosa " BILANG DARI TADI DONG! " Seru Yolla gembira.
Di sisi lain Joan mengusap usap pahanya yang terasa sakit akibat pukulan maut adiknya.
" Yaudah nih tempel biar panas badannya keburu ka Liana datang,,, " Heboh Yolla.
Yolla sampai tak sadar kalau botol yang dia pegang masih panas, Yolla lupa sama hal yang seharusnya air panas di dalam botol itu mereda terlebih dahulu sebelum menempelkannya pada kening joan.
Tapi ya suasana hati Yolla sedang gembira sampai dia lupa dan tempelin botol berisikan air panasnya ke kening Joan begitu saja.
Joan menepis botolnya " Panas laaaa, astaga kamu mau bakar muka Kaka? " Seru Joan geram.
Yolla tutup mulutnya pakai kedua tangannya kaget " Ih lupaaaa, maaf maaf,,,,, Ehhh tapi bagus kak makin panas suhu tubuh Kaka makin khawatir ka Liana tau! "Balas Yolla.
Joan menolehkan wajahnya pada Yolla sembari mengangkat alisnya satu" Iyakah? " Tanya Joan, Yolla mengangguk yakin.
" Yaudah sini botolnya, namanya berusaha harus ada pengorbanan ya gak " Ujar Joan menyuruh Yolla mengambil kembali botolnya.
Yolla pun mengambil botol yang sempat terlempar tak begitu jauh lalu memberikannya pada Joan kembali, dan lagi lagi menempelkannya begitu saja ke kening Joan.
" Pake aba aba yollanda!! "
Yolla meraih handuk yang ada di baskom kecil dan memeras handuknya " Banyak cingcong banget sih ka, udah lakuin aja pasti ka Liana bentar lagi datang "
Dan benar saja, berselang 5 menit akhirnya Liana datang, ketukan pintu kamar milik joan pun terdengar.
Yolla dan Joan mendadak heboh mendengar ketukan pintunya, dengan cepat Joan menyembunyikan botolnya ke dalam selimut, sedangkan Yolla menyembunyikan gelasnya dan memberikan pengukur suhu badan pada Joan.
" Ush ush panas " Gumam Joan memegang pengukurnya heboh.
" Cepetan kaa Ihhh! " Seru Yolla berbisik, tanpa mikir panjang Yolla merebut pengukurnya dan memasukkan kedalam mulut Joan, setelah itu Yolla mendorong tubuh joan agar segera tertidur.
" Eoh, masuk aja ka!! " Seru Yolla pada Liana.
Pintu pun terbuka, Liana segera menghampiri Joan dan berdiri di samping Yolla " Gimana udah turun? " Tanya Liana, Yolla menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Liana mengambilnya pengukur suhu badan dari mulut Joan untuk memeriksa " Tinggi banget, kita kerumah sakit aja ya demam Lo parah Jo "
Joan membuka lebar matanya, kalau kerumah sakit Berabe gimana kalau sampe dia ketauan kalau dia lagi akting sakit " Hah!? Eh jangan,,,,, maksud gue gak perlu di rawat di rumah aja pasti sembuh "
Joan menepuk tangan Yolla supaya membantunya " ehhh itu, eumm k-ka Joan takut rumah sakit ka kalau liat suntikan pasti pingsan, iya itu " Ujar yolla gagap, dia tepuk balik tangan joan " Ya kan kak! "
Wajah Joan berubah datar, alasan Yolla memang bagus tapi soal suntikannya, Joan merasa malu padahal kenyataannya berbeda " Hum, iya " joan terpaksa merespon.
Liana menghela nafasnya, tas di bahunya Liana simpan di dekat meja nakas " Yaudah Lo udah makan? " Tanya Liana.
Joan menggeleng " Belum, terakhir makan tadi pagi "
" Yaudah gue kebawah buat suruh dan bantu Bi Nami bikinin Lo bubur " Ujar Liana, sewaktu liana berbalik tiba tiba Yolla bersuara.
" Yolla gak di bikinin makan? " Ujar Yolla memasang wajah kecewa.
" Kaka loh yang sakit bukan kamu " Balas Joan.
Yolla menatap Joan marah, Yolla melipat kedua tangannya di depan dada " Tapi Yolla juga belum makan! Emang mau makan harus sakit dulu? "
" Udah jangan berantem, nanti pasti bi Nami juga masak yang lain Yolla, tunggu di sini aja nanti ka Liana bawain ke sini " Kata Liana menjadi penengah, setelah itu Liana pun keluar kamar dan berjalan menuju dapur.
Joan bangki dan tersenyum, Joan angkan satu tangannya ke arah Yolla dan di balas oleh Yolla, saling bertepukan.
" Itu baru adek kaka " Ujar Joan bangga.
" Yolla gak punya Kaka perasaan "
" Hehh! "
Di sisi lain Liana kini tengah membantu bi Nami menyiapkan makanan untuk Joan dan Yolla, ya walaupun Liana gak bisa masak tapi Liana masih bisa bantu soal potong memotong dan hal hal mudah lainnya.
Di saat Liana dan bi Nami tengah sibuk tiba tiba suara Bell terdengar, karna jarak dari dapur ke pintu utama tak terlalu jauh Liana masih bisa mendengar suara ramai dari luar rumah.
" Bentar ya bibi- "
" Liana aja bi " Potong Liana cepat, Liana melepaskan celemeknya " Bi Nami lanjut aja masaknya Liana bukain pintunya "
Bi Nami mengangguk mengiyakan, Liana pun berjalan menuju pintu utama untuk membukakan pintunya.
Cklek!
Bukannya langsung menyapa Liana justru mendadak kaku, orang orang yang ada di hadapannya Liana pun ikut terdiam, mereka kelima teman Joan, dan ada 2 perempuan di belakangnya.
" Liana Lo kok bisa di sini? "
Liana menolehkan wajahnya saat salah satu dari mereka bertanya, Liana bertambah terkejut, itu Yesa.
" Ahh gue,,,, "
" Yes ini bukan sesi tanya jawab kocak, kita mau jenguk Joan malah banyak tanya " Kata Bram, Bram kayanya paham sama situasi saat itu.
" Ouh, masuk masuk Joan lagi di kamarnya sama Yolla " Kata Liana menyuruh untuk segera masuk, karna untuk apa juga terus berdiri di ambang pintu.
Semuanya masuk kecuali satu, seorang perempuan yang tingginya di bawah Liana dan rambut lebat coklat tua kini menatap Liana meneliti.
" Kenapa ga masuk? " Tanya Liana.
Liana kebingungan sewaktu si cewe di depan dia itu justru terus natap Liana tanpa niat menjawab pertanyaan Liana.
Melihat cara perempuan itu menatap Liana seakan seperti tak suka akan kehadiran Liana di sana " Lo Liana? " Tanyanya.
Liana berkedip 3 kali sebelum menjawab
" I-iya, gue Liana kenapa? " Tanya balik Liana.
" Sebenarnya Lo siapa Joan sih? "
...TO BE CONTINUED ...