Ternyata tinggal bersama ibu mertua tak seindah bayangan Gita. Miranti terus saja menyiksa batin serta fisiknya.
Gita mengalami baby blues pasca melahirkan hingga hampir mencekik bayinya sendiri.
Miranti dengan rencana yang telah tersusun rapi di dalam otaknya, semakin kejam dalam menyiksa batin Gita. Melayangkan berbagai fitnah, hingga sang putra, Pramudya membenci, Gita dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Apa langkah yang harus Gita ambil dalam rumah tangganya. Ketika sang ibu mertua menyimpan dendam padanya dari kehidupan masa lalu.
Apakah Gita tetap bertahan dengan rumah tangga yang bagaikan neraka itu?
Atau pergi dan membuat Pram menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24. Kontak Batin Sahabat.
Gita pun tersadar dan kembali ke kamar setelah mendengar jerit tangis bayinya. Dengan sisa tenaga, wanita itu bangun dan berlari.
Karena memang belum makan, Gita tak berani menyusui baby Asha secara langsung. Karenanya Gita memutuskan untuk membutakan susu formula. Gita menengok kedalam kaleng susu. Cukuplah untuk beberapa botol lagi hingga nanti suaminya pulang.
Gita memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Pram. Ia takkan menutupi apapun lagi kejelekan dari mama mertuanya itu. Bagaimana perlakuannya selama ini padanya, sungguh di luar batas. Gita merasa tak kuat lagi menahannya seorang diri.
Dadanya hampir meledak dan kepalanya mau pecah. Rasanya sangat sakit ketika kau menahan semuanya sendirian. Sekarang ponselnya rusak, ia takkan bisa menghubungi satu-satunya orang yang kini peduli padanya.
Meta, seakan memiliki kontak batin dengan Gita. Wanita muda itu ijin dari kantornya sebentar. Karena, sejak tadi ia tak bisa menghubungi gitaz sahabatnya.
"Kamu ijin? Tidak biasanya, ada apa?" tegas sang atasan yang merupakan Presdir dari perusahan Elang Corporindo. Tempat dimana Gita juga bekerja dulu.
"Saya ingin menengok Gita sebentar, Pak. Sekitar dua jam kemudian saya akan segera kembali," jawab Meta. Ia memutuskan untuk jujur agar diijinkan oleh Rama Adi Kusuma.
"Gita? Maksudmu ... mantan karyawanku?" cecar Rama. Meta pun menjelaskan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Rama yang sejak dulu menyimpan rasa pada Gita tentu saja menaruh simpati kepadanya.
"Seharusnya saya tidak menceritakan ini pada anda, Pak. Kalau Gita tau, bisa-bisa dia marah dan--"
"Kalau begitu, jangan sampai dia tau. Meta, mulai saat ini kamu harus melapor jika Gita mengalami kesulitan lagi. Jika sampai, pria itu berbuat tak baik. Aku akan segera mencopot jabatannya," kecam Rama geram.
"Kalau anda mencopot jabatan Pram, maka hidup Gita akan tambah susah," jelas Meta. Dimana hal itu diiyakan oleh Rama.
"Ya sudah, kau pergilah. Ingat, jangan sungkan untuk minta bantuanku," pesan Rama kemudian.
"Ah, ya ... tunggu sebentar!" Panggilan dari Rama sontak menghentikan langkah Meta.
"Ini, berikan hadiah untuk Gita dan juga bayinya. Tapi, rahasiakan. Jangan katakan itu dariku," titah Rama seraya menyodorkan amplop coklat berisi uang kepada Meta.
"Baiklah, Pak. Nanti saya akan kabarkan apa barang yang saya beli," ucap Meta, menerima pemberian sang CEO tampan itu dengan senang hati.
Meta menghubungi kekasihnya yang kebetulan juga free. Roy Ferdinand adalah seorang pengacara handal untuk setiap kasus pidana dan kriminal.
Meta, akan melangsungkan pernikahannya dengan sang kekasih beberapa bulan ke depan. Akan tetapi, wanita itu agak sedikit ragu setelah melihat keadaan rumah tangga sahabatnya.
"Aku tidak bisa menjemputmu, pulangnya naik taksi saja tak apa kan?" tanya Roy, seraya menatap lembut ke arah Meta.
"Iya, terimakasih sudah mengantarku," jawab Meta singkat. Wanita itu pun turun dari mobil setelah sebelumnya mereka mampir membeli buah.
Di dalam kamar, Gita merasa sangat lemas. Hati yang sakit serta perut yang perih benar-benar menguras tenaganya. Apalagi, dia terus menangis sejak tadi.
Mengacak dapur pun percuma tak ada sisa makanan yang bisa mengganjal perutnya.
Di saat kritis, terdengar suara ketukan pintu. Gita yang lemas mengabaikannya. Hingga pintu kamarnya ada yang mendorong.
"Git!" panggilan dari suara yang ia kenal mampu membuat Gita membuka matanya.
"Meta ...," sahut Gita lirih.
Melihat keadaan sahabatnya yang lemah, membuat Meta meletakkan sembarang tentengan yang ia bawa. Wanita itu merangsek masuk ke dalam kamar menghampiri tempat tidur Gita.
"Kamu kenapa? Sakit?" cecar Meta khawatir. Firasatnya sejak tadi pagi ternyata benar. Bahwa keadaan sahabatnya ini sedang tidak baik-baik saja.
"Meta ...," Gita tak sanggup menjawab apapun, dirinya hanya mampu menangis didalam pelukan sahabatnya itu.
"Katakan ada apa? Apa yang bisa ku bantu?" cecar Meta lagi. Ia takut sekali jika Gita mendapat kekerasan maupun penyiksaan lagi. Baik itu verbal maupun fisik secara tidak langsung.
"Aku lapar, Ta ..."
"Astaga, Gita!"
...Bersambung ...
walaupun singkat tapi mantap..terus berkarya dan sehat selalu 😘😘