"Ren kamu kirim gadis itu jauh dari negara ini," ucap Devano dengan wajah tanpa ekspresi itu saat bicara.
"Gadis yang mana tuan dan apa kesalahannya?" bertanya dengan penuh tanda tanya, karena belum paham atas ucapan tuannya.
"Gadis yang ada di sebelah mobil ini, karena dia membawa penyakit yang menular," melirik sekilas lalu merasakan kembali penyakit itu lagi.
"Penyakit menular apa tuan?" belum paham maksud perkataan tuannya ini.
"Saat aku melihat kearah dia, jantung ku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bahaya sekali penyakit itu, cepat kamu kirim dia jauh dari negara ini,"
Dalam hati Ren " itu bukan penyakit tuan muda tapi anda jatuh cinta namanya, selamat datang di dunia baru menurut anda tuan muda dan selamat menikmati. jika saya menuruti ucapan anda lalu saya sendiri yang akan susah saat anda tau apa arti debaran jantung itu".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Sadar Cemburu.
Kenzo masih berusaha mencerna ucapan Devano barusan karena dia belum percaya atas apa yang Devano sampaikan.
Tidak mungkin adiknya memiliki penyakit yang mematikan dan juga dokter yang memeriksa kesehatan keluarga mereka bukanlah dokter yang baru lulus tahun kemarin.
Apalagi orang yang baru menyandang gelar dokter.
"Sayang apa maksud dia?"
Kenzo meminta penjelasan kepada Rindu karena dia tidak akan mudah percaya apa yang diucapkan Devano.
Ini bukan perkara sepele tapi sudah menyangkut nyawa.
"Sebaiknya kita pulang dan nanti gue jelaskan,"
Rindu juga tidak ingin berlama-lama dekat dengan Devano apalagi laki-laki itu sudah mulai berani membatasi pergaulan dia dan tidak boleh dekat dengan laki-laki lain.
Apa-apaan seperti itu! Mereka hanya memiliki hubungan sebatas bos dan karyawan, tidak lebih. Jadi Devano tidak memiliki hak dalam mengatur Rindu apalagi di luar jam kantor.
"Apakah kamu sudah melupakan bahwa saya tidak mengizinkan kamu dekat dengan laki-laki lain karena penyakit kamu itu sangat membahayakan,"
Devano tetap kekeh dengan pendiriannya dan Rindu tidak peduli atas larangan Devano terhadapnya.
Karena sudah mengetahui alasan Devano melarangnya jadi Rindu tidak ambil pusing dan membiarkan saja Devano menikmati debaran itu dan terus menolak apa yang telah dia sampaikan.
Jika saja Devano mengakui dan menyadari perasaan dimiliki terhadap Rindu serta ingin membuka lembaran baru bersama gadis itu mungkin saja Rindu memikirkan kembali ucapan Devano.
Tapi ini alih-alih mau mengakui justru malah membatasi ruang gerak Rindu yang mana mereka tidak memiliki hubungan sama sekali.
"Kita pulang aja, gue capek,"
Dari pada berdebat yang tidak akan ada hasilnya lebih baik Rindu pergi dari sana dan tidak peduli atas teriakan Devano untuk menjaga jarak pada Kenzo.
Kenzo yang belum tahu permasalahannya hanya menuruti keinginan adiknya itu dan mereka pulang bersama.
Untuk Risa Kenzo menyuruh pengawalnya untuk mengantarkan gadis itu dan untuk kendaraan mereka berdua akan dibawa nanti.
"Sekarang jelaskan sama Abang, apa maksud laki-laki tadi? Sejak kapan kamu memiliki penyakit seperti yang dia katakan tadi!"
Walaupun Kenzo memiliki kesibukan untuk mempersiapkan diri yang akan dilantik menggantikan papanya menduduki posisi direktur di perusahaan tapi dia tidak akan pernah melewati aktivitas adiknya melalui orang kepercayaan yang selalu mengawasinya.
"Dia itu yang bodoh Bang, bukan penyakit yang serius hanya saja setiap berdekatan dengan gue dada dia selalu berdebar dan sesak nafas hingga dia menyimpulkan bahwa gue memiliki penyakit yang mematikan yang gua tularkan kepada dia padahal jelas-jelas itu karena dia yang jatuh cinta kepada gue.
Dan kenapa dia melarang gue berdekatan dengan laki-laki lain supaya penyakit yang gue alami tidak tertular pada orang lain padahal di bawah alam sadarnya dia hanya nggak ingin gue berdekatan dengan laki-laki lain yang sudah pasti akan membuat dia cemburu tapi sayang setelah diberitahu pun dia nggak mau menerima,"
Rindu menjelaskan kepada Kenzo agar saat sampai di rumah nanti tidak terjadi keributan karena salah mendapatkan informasi dan bisa saja kedua orang tua mereka mencemaskan keadaan Rindu Yang kenapa tiba-tiba memiliki penyakit yang mematikan padahal mereka sudah memastikan kesehatan anaknya.
"Itu orang dari zaman apa sih nggak bisa membedakan debaran jantung saat jatuh cinta dengan debaran sebuah penyakit?"
Kenzo sampai tertawa ngakak karena penjelasan Rindu membuat dia tidak bisa menahan tawanya.
Tapi wajar Kenzo menertawakan kebodohan Devano karena di zaman yang sudah canggih seperti ini jangankan orang dewasa seperti dia anak sekolah dasar pun sudah tahu apa itu jatuh cinta.
\=\=\=\=\=
"Dev, kapan kamu akan memperkenalkan bunda kepada calon menantu bunda?"
Kebetulan sekarang hari Minggu dan mereka masih duduk di kursi meja makan saat pas menghabiskan sarapan pagi bersama dan hanya menikmati puding yang baru dihidangkan oleh asisten rumah tangga.
"Bunda Ini ngomong apa? apakah Bunda lupa jika bujang tampan Bunda ini belum memiliki kekasih Jadi siapa yang mau aku kenalkan kepada Bunda?"
Ealaupun sudah tahu jawabannya ini tapi Bunda Devano tidak pernah bosan mempertanyakan kapan dia akan diperkenalkan kepada calon menantunya itu.
"Lalu gadis itu siapa? apakah kamu tidak ada keinginan untuk mendekatinya atau mau menunggu dulu dia direbut orang lain?"
Wajar Bunda Rivanno berkata demikian karena jika sepulang dari kantor orange selalu melaporkan kepada bundanya tentang kejadian apa saja yang terjadi dan dialami oleh Devano yang jelas berhubungan dengan Rindu.
"Bunda ini aneh-aneh saja, masa iya Bunda rela membiarkan anak tampan Bunda ini hidup bersama gadis yang memiliki penyakit mematikan seperti itu? aku masih ingin hidup lama Bun jadi aku akan menikahi gadis yang sehat jasmani dan rohani,"
Mendengar jawaban Devano membuat sang Bunda ingin rasanya menangis karena kebutaan anaknya terhadap asmara yang belum pernah dialami selama ini.
Kenapa sesulit ini sekali menyadarkan Devano bahwa dia menyukai atau bahkan sudah mencintai Rindu tapi, Devano selalu mengelak dan tetap menyimpulkan bahwa debaran itu adalah sebuah penyakit.
"Ya sudah jika kamu memang tidak menyukai gadis itu dan Bunda harap kamu segera memiliki pasangan dan jangan mau kalah dengan adikmu,"
Setelah cukup lama berbincang mereka semua membubarkan diri dan Devano meninggalkan perkarangan rumah orang tuanya mengendarai mobilnya sendiri.
Di dalam mobil Devano.
"Bunda selalu itu yang dibahas dan Ini semua karena Ren yang selalu melaporkan apapun kepada Bunda padahal gue sudah mengatakan bahwa gadis itu bukanlah gadis yang sehat tapi mereka tetap ingin gue mendekatinya, alih-alih gue bahagia yang ada gue akan selalu direpotkan karena penyakit dia itu dan akan buang-buang waktu,"
Devano terus mengendarai mobilnya yang belum tentu mau ke mana tapi jika dibandingkan di rumah lebih baik mengelilingi kota tanpa tujuan daripada mendengar pertanyaan bundanya yang selalu itu-itu saja setiap hari.
"Sial, kenapa sekarang gue malah membayangkan wajah dia sih!"
Kesal Devano yang tiba-tiba saja membayangkan wajah cantik Rindu padahal dia sedang fokus mengemudi.
"Bukan jantungku saja yang dijangkiti penyakit tapi sekarang sudah bertambah ke otak gue, benar-benar gadis yang berbahaya,"
Karena bosan terus mengelilingi dan Devano memutuskan mampir ke sebuah restoran karena tanpa dia sadari jam sudah menunjukkan mau waktu makan siang.
Saat baru memasuki restoran itu saja mata dia sudah disambut dengan pemandangan yang membuat darah dia mendidih seketika.
"Benar-benar nggak mau mendengar ucapan gue dan sekarang laki-laki mana lagi yang dia dekati untuk mencari korban selanjutnya?"
Devano berjalan cepat menghampiri sebuah meja yang terdapat sepasang sejoli yang sedang menikmati makan siangnya.
Dengan nafas yang memburu serta dada kembang kempis Devano terus memusatkan perhatiannya pada sosok yang selalu membuat dia kesal jika berdekatan dengan orang lain.
\=\=\=\=\=
*Bersambung 😘