Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Kartu As Meilan
Dan kini, kartu itu ada di tangan Meilan sepenuhnya, tanpa ada yang tahu.
Sani menatap Meilan dengan wajah pucat.
Di ruang depan, suara Sari mencuci piring terdengar dari dapur. Anak-anak masih di sekolah. Rumah yang biasanya penuh langkah kecil mendadak terasa terlalu sunyi untuk rahasia sebesar ini.
"Saya tidak mengerti maksud Bu Meilan," kata Sani.
Meilan duduk di kursi seberangnya. "Kamu mengerti. Kamu hanya sedang memilih kebohongan berikutnya."
Ia mengeluarkan liontin hijau dari laci, meletakkannya di meja, lalu menatap telinga kiri Sani yang sudah tidak tertutup rambut.
"Adrian Sutanto."
Nama itu jatuh seperti batu.
Sani tidak bergerak. Namun napasnya berubah. Untuk anak seusianya, ia hebat menjaga wajah. Sayangnya, Meilan sudah melihat terlalu banyak orang dewasa berbohong dalam situasi lebih buruk.
"Saya bukan..."
"Reynard Sutanto sedang mencari sepupu lima belas atau enam belas tahun, luka-luka, hilang di BSD, dengan tahi lalat kecil di belakang telinga kiri. Kamu datang ke rumahku dalam kondisi luka, membawa liontin mahal, dikejar pembunuh profesional, dan pura-pura lupa ingatan dengan terlalu rapi." Meilan mengetuk meja pelan. "Mau aku lanjutkan?"
Sani menutup mata.
Ketika membukanya lagi, anak hilang yang lemah itu tidak sepenuhnya ada. Yang tersisa adalah remaja bangsawan bisnis yang terlalu cepat dipaksa dewasa.
"Kalau Bu Meilan tahu, kenapa tidak langsung menyerahkan saya?"
"Karena aku tidak tahu siapa yang boleh dipercaya."
"Reynard boleh dipercaya."
"Menurutmu."
"Dia sepupu saya."
"Keluarga kadang lebih berbahaya daripada orang asing."
Sani terdiam. Kalimat itu sepertinya mengenai tempat yang ia pahami.
Meilan menyandarkan tubuh. "Aku bisa menjaga rahasiamu sebentar lagi. Tapi aku punya syarat."
Mata Sani menyipit. "Uang?"
"Aku sudah punya bisnis."
"Apa?"
"Atur pertemuan dengan Reynard. Di rumah ini."
Sani tampak benar-benar terkejut. "Bu Meilan ingin bertemu Kak Reynard?"
"Kak?"
"Dia sepupu senior saya. Dalam keluarga, saya memanggilnya Kak Rey kalau tidak ada orang luar."
Informasi kecil itu Meilan simpan.
"Ya. Aku ingin bertemu dengannya. Resmi, tanpa aku perlu menguntit lagi."
Sani menatapnya lama. "Kak Rey tidak mudah diajak datang ke rumah orang."
"Katakan kamu ada di sini."
"Kalau saya mengatakan itu, dia akan datang dengan seluruh tim keamanan."
"Bagus. Berarti dia sungguh peduli."
Sani akhirnya tertawa kecil, lalu meringis karena lukanya. "Bu Meilan berani sekali."
"Aku punya empat anak kecil, satu remaja buronan, satu pembantu yang terlalu baik, dan restoran musuh yang ingin menghancurkanku. Berani bukan pilihan. Itu biaya hidup."
Sani menunduk. Beberapa saat kemudian, ia berkata, "Saya bisa mengirim pesan lewat jalur lama. Tapi kalau Kak Rey datang, identitas saya tidak bisa ditahan lagi."
"Kalau dia benar pelindungmu, itu baik."
"Dan kalau Bu Meilan ternyata ingin memanfaatkan saya?"
Meilan tersenyum. "Tentu saja aku memanfaatkanmu. Tapi aku juga menyelamatkan nyawamu, memberi makan, membayar dokter, dan melarangmu membuka jahitan sendiri. Dalam hidup, yang penting bukan apakah seseorang memanfaatkanmu. Yang penting apakah ia juga melindungimu."
Sani menatapnya, lalu tertawa pelan. "Saya mengerti kenapa anak-anak patuh pada Bu Meilan."
Pesan dikirim sore itu.
Reynard datang sebelum matahari tenggelam.
Tidak dengan seluruh pasukan, tetapi cukup untuk membuat Griya Asri berhenti bernapas. Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Bima turun lebih dulu, lalu Reynard. Chelsea ikut datang, wajahnya tegang karena akhirnya memahami mengapa Meilan tiba-tiba minta ia menjadi penghubung.
"Mei," bisik Chelsea ketika masuk, "kamu benar-benar menyembunyikan Adrian Sutanto di rumahmu?"
"Aku juga menyembunyikan beberapa rahasia lain. Satu-satu dulu."
Chelsea menutup mulutnya.
Reynard berdiri di ruang depan. Rumah Meilan kecil, dindingnya sederhana, lantainya tidak sempurna. Namun ia tidak menunjukkan jijik atau canggung. Matanya hanya bergerak sekali, memeriksa pintu, jendela, posisi keluar, lalu berhenti pada Meilan.
"Di mana dia?"
Meilan menatapnya. "Tidak ada basa-basi?"
"Untuk basa-basi, saya bisa datang lain kali."
"Janji?"
Bima hampir menjatuhkan map yang ia bawa.
Reynard menatap Meilan satu detik, lalu berkata, "Nona Meilan."
"Baik. Sani."
Dari kamar depan, Sani keluar pelan. Ia memakai kaus bersih yang diberikan Sari. Wajahnya masih pucat, tetapi punggungnya tegak.
Reynard tidak langsung bergerak.
Ia hanya mendengar langkah itu, melihat remaja di ambang pintu, lalu matanya berubah. Sangat kecil, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruang terasa lebih berat.
"Adrian."
Sani menelan ludah. "Kak Rey."
Satu panggilan itu mematahkan semua keraguan.
Bima mengeluarkan napas keras. Chelsea langsung menutup mata, lega. Reynard melangkah mendekat, memegang bahu Sani dengan kedua tangan. Ia tidak memeluk, mungkin karena luka, mungkin karena pria seperti dia tidak terbiasa menunjukkan emosi. Namun ibu jari yang menekan bahu Sani sedikit gemetar.
"Kamu hidup."
"Maaf."
"Bodoh. Yang penting kamu hidup."
Sani menunduk. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia terlihat benar-benar seperti anak lima belas tahun yang hampir kehilangan segalanya.
Reynard memeriksa wajahnya, luka di lengan, cara ia menahan perut saat berdiri. Rahang pria itu mengeras setiap kali menemukan bekas baru. Tidak ada teriakan, tidak ada pelukan dramatis, tetapi kemarahan yang tertahan di bawah kulitnya membuat ruangan seperti lebih dingin.
"Siapa yang menyerangmu?"
Sani melirik Meilan.
Reynard menangkap lirikan itu. "Dia tahu?"
"Bu Meilan tahu cukup banyak."
"Tidak semuanya," kata Meilan.
Sani menarik napas. "Saya belum yakin siapa yang boleh disebut."
Reynard menutup mata sesaat, lalu membukanya dengan kendali yang kembali rapi. "Baik. Kamu masih hidup. Itu urusan pertama. Sisanya nanti."
Kalimat pendek itu membuat Sani menunduk lebih dalam. Untuk anak yang terus-menerus pura-pura kuat, izin untuk tidak menjelaskan semuanya mungkin terasa seperti selimut setelah badai.
Meilan memberi ruang pada mereka. Sari muncul di dapur, bingung melihat tamu-tamu mahal memenuhi rumah. Ia hampir mundur, tetapi Sani menoleh.
"Mbak Sari, tidak apa-apa."
Nada itu membuat Meilan mengangkat alis. Sani jarang memanggil Sari dengan selembut itu.
Bima mendekati Meilan dan menyerahkan map. "Bu Meilan, ini tanda terima kasih dari Pak Rey dan keluarga Sutanto. Transfer bertahap ke rekening yang akan Ibu tentukan, juga penggantian biaya medis, keamanan, dan kerugian rumah."
Meilan membuka sekilas.
Jumlahnya membuat bahkan dirinya diam dua detik.
Puluhan juta Rupiah hanya di halaman pertama. Di halaman berikutnya, ada komitmen yang nilainya lebih besar lagi.
"Dermawan sekali."
Bima berkata serius, "Nyawa Tuan Muda tidak ternilai."
"Aku setuju. Tapi rumahku tetap menerima uang."
Chelsea tertawa gugup. Bima tampak tidak tahu apakah harus tersenyum.
Reynard menoleh. "Jika kurang, katakan."
"Hati-hati, Pak Reynard. Aku bisa sangat mahal."
"Saya sudah menduga."
Tatapan mereka bertemu. Kali ini, Reynard tidak segera memalingkan wajah.
Meilan menutup map itu pelan. Uang sebanyak ini bisa membeli tempat lebih aman, membayar sekolah, menambah modal Cantika, bahkan menutup mulut banyak orang yang selama ini merasa berhak merendahkannya. Namun yang membuat dadanya bergetar bukan angka itu.
Melainkan cara Reynard memberikannya.
Tidak seperti amal.
Tidak seperti membeli jasa perempuan miskin.
Ia membayar utang nyawa dengan sikap orang yang tahu nilai nyawa itu, tanpa membuat penyelamatnya merasa kecil. Detail seperti itu lebih berbahaya daripada wajah tampan.
Sari, yang tidak tahan melihat tamu penting berdiri tanpa makan, akhirnya berkata, "Mbak Mei, nasi sudah matang."
Meilan menatap Reynard. "Makan dulu?"
Bima tampak ingin menolak demi keamanan, tetapi Reynard berkata, "Baik."
Maka malam itu, Presiden Direktur Sutanto Group duduk di meja makan kecil Meilan, memakan sayur bening, ayam kecap, sambal, dan perkedel yang dibuat Sari. Ia makan tanpa komentar pada awalnya.
Lalu menambah nasi.
Sekali.
Dua kali.
Ketiga kalinya, Sari tampak seperti ingin menangis bangga.
Reynard sendiri tampak tidak sadar sudah menambah sebanyak itu. Setiap kali Sari hendak mengambil piring, ia hanya berkata singkat, "Sedikit lagi." Sedikit bagi pria itu ternyata cukup untuk membuat Bima menatap mangkuk nasi seperti sedang menyaksikan peristiwa langka.
Chelsea berbisik pada Meilan, "Aku pernah makan satu meja dengan dia di gala. Dia bahkan tidak menghabiskan satu porsi steak."
"Mungkin steak-nya kalah dari perkedel Sari."
Sari yang mendengar itu hampir menjatuhkan sendok sayur.
Di sisi lain meja, Sani makan lebih pelan. Ia tidak banyak bicara, tetapi tubuhnya tidak setegang sebelumnya. Kadang matanya mengikuti Sari bergerak dari dapur ke meja. Bagi Meilan, itu bukan tatapan remaja kaya pada pembantu. Itu tatapan seseorang yang mengingat tangan yang memberinya bubur ketika ia tidak punya nama.
Reynard juga melihatnya, tetapi ia memilih diam.
"Masakan Mbak Sari enak, kan?" tanya Lala yang baru pulang dan sudah diberi tahu bahwa ada tamu penting.
Reynard menatap anak perempuan kecil itu. Ekspresinya melunak tanpa ia sadari. "Enak."
Lala tersenyum puas. "Makan lagi."
"Lala," Bobo memperingatkan dari pintu kamar.
Reynard menoleh.
Bobo berdiri di sana, wajah kecilnya dingin, tangan menggenggam kusen pintu. Ia baru bangun dari tidur sore, rambutnya sedikit berantakan, tetapi garis wajahnya terlihat jelas di bawah lampu ruang tengah.
Seluruh tubuh Reynard membeku.
Meilan melihatnya.
Melihat mata pria itu melebar sepersekian detik, melihat napasnya tertahan, melihat sendok di tangannya berhenti di udara.
Bobo menatapnya balik tanpa senyum.
"Mama," kata Bobo pendek, "siapa?"
Meilan belum menjawab.
Reynard sudah berdiri sangat pelan.
"Anak ini..." suaranya hampir tidak terdengar.
Bima yang melihat wajah Bobo ikut mematung.
Chelsea menutup mulutnya.
Meilan menggenggam tepi meja.
Reynard tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia memaksa dirinya duduk kembali, menyelesaikan makan malam dengan kendali yang terlalu kaku, lalu pamit saat anak-anak masuk kamar.
Namun ketika ia keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil, langkahnya berhenti di tengah gang.
Ia menoleh kembali ke rumah kecil Meilan.
Lama.
Sangat lama.