Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
"Masuk."
Keira melangkah ke dalam Suite 501.
Pintu di belakangnya tertutup pelan. Begitu bunyi klik terakhir hilang, gelap menelan seluruh ruangan.
Bukan redup.
Gelap total.
Keira berhenti sejenak, membiarkan matanya sia-sia mencari bentuk. Tidak ada lampu meja. Tidak ada cahaya dari tirai. Tidak ada garis putih di lantai. Hanya aroma kayu mahal, linen bersih, dan obat yang samar.
Yang lebih mengejutkan, suara benda juga mengecil.
Tidak hilang sepenuhnya. Meja kopi masih berbisik, "Tamu baru," dari jauh. Sofa menguap. Jam dinding berdetak kaku.
Tetapi dibandingkan Mansion Tanuwijaya yang seperti pasar malam, suite ini terasa seperti perpustakaan.
"Nama."
Suara itu datang dari arah kiri.
Keira menoleh.
Di sofa panjang, seorang pria duduk tegak. Kemeja hitam, celana panjang gelap, kacamata hitam masih terpasang meski ruangan sepenuhnya tidak bercahaya. Wajahnya sama dengan malam di bar, dingin dan terlalu tenang untuk seseorang yang mengubah dunia Keira hanya dengan satu sentuhan.
"Naira," jawab Keira.
Pria itu diam sebentar. "Bukan Felicia?"
Keira menahan napas.
"Bukan."
"Bagus."
Jawaban itu membuat Keira kehilangan satu detik untuk berpikir.
Edric Liem bersandar sedikit. "Setidaknya kamu tidak langsung memakai nama orang lain."
Ia tahu.
Atau setidaknya ia tidak peduli.
"Saya datang karena..."
"Karena ibuku mengirimmu," potong Edric. "Atau karena Denny salah paham. Tidak penting. Orang-orang datang, mencoba berbicara lembut, lalu melaporkan ke ibuku apakah aku sudah lebih jinak."
Kata jinak membuat dada Keira sedikit menegang.
"Saya bukan orang Nyonya Liem."
"Semua orang mengatakan begitu sebelum meminta sesuatu."
Keira tidak punya bantahan yang cukup bersih, karena ia memang datang untuk meminta sesuatu.
Edric meraih tongkat lipat di samping sofa. Gerakannya terlatih, tetapi rahangnya tegang. "Kamar tamu di sebelah kanan. Kalau mau tidur, tidur di sana. Kalau mau uang, bicara dengan Denny besok."
"Saya tidak mau uang."
"Maka aku tidak tahu kenapa kamu di sini."
Keira juga belum tahu bagaimana menjelaskannya tanpa terdengar gila.
Edric berdiri. Langkah pertamanya stabil. Langkah kedua sedikit tertahan, seolah tubuhnya sedang menanggung sesuatu yang tidak terlihat.
"Antar aku ke kamar mandi."
Keira berkedip. "Saya?"
"Di ruangan ini hanya ada kamu."
Ia mengulurkan tongkat. Keira meraba gelap, lalu menyentuh ujung tongkat itu. Begitu jari mereka hampir bertemu, suara meja kopi mendadak terdiam setengah detik.
Hanya hampir.
Keira menggigit bibir.
Ia memegang tongkat Edric dan berjalan pelan di sampingnya. Di tengah gelap, jarak menjadi aneh. Bahu mereka tidak bersentuhan, tetapi panas tubuh Edric terasa seperti garis aman yang bisa diikuti.
Pintu kamar mandi terbuka otomatis. Lampu tidak menyala. Mungkin Edric tidak membutuhkannya.
Keira, karena terlalu tegang dan terlalu kurang tidur, bertanya tanpa berpikir.
"Perlu saya bantu pegang?"
Ruangan hening.
Tongkat Edric berhenti bergerak.
Keira sadar tiga detik terlambat.
Panas naik ke wajahnya begitu cepat sampai ia ingin menghantamkan kepala ke pintu.
"Maksud saya pintunya," katanya cepat. "Pegang pintunya. Biar tidak nutup. Bukan... yang lain."
Dalam gelap, Edric menoleh perlahan ke arahnya.
"Naira."
"Ya?"
"Diam."
Keira langsung diam.
Pintu kamar mandi tertutup di depan wajahnya.
Dari dalam, wastafel berbisik, "Aku sudah melihat banyak hal, tapi itu salah paham paling cepat minggu ini."
Keira menutup mata.
Bagus. Baru masuk sepuluh menit, ia sudah hampir mengubur diri sendiri.
Beberapa menit kemudian, Edric keluar dengan wajah tetap dingin, seolah tidak ada apa-apa. Tetapi telinga kanannya, yang tidak tertutup kacamata, tampak sedikit merah.
"Kamar tamu di kanan," katanya.
"Baik."
Keira berjalan ke arah yang ia kira kanan. Ia membuka pintu kamar tamu, masuk dua langkah, lalu berhenti.
Suara benda di kamar tamu lebih ramai.
Bantal mengeluh kesepian. Lampu tidur bertanya kenapa tidak pernah dinyalakan. Selimut memuji dirinya sendiri terlalu lembut. Tidak separah Mansion, tetapi cukup untuk membuat kepala Keira kembali berdengung.
Ia mundur ke ambang pintu.
Di ruang utama, dekat Edric, suara-suara itu mengecil lagi.
Keira berdiri diam.
Satu menit.
Dua menit.
"Kamu masih di sini," kata Edric dari sofa.
Keira membeku.
"Saya..."
"Tidak ada suara langkah menjauh. Napasmu juga masih di posisi yang sama."
Ia buta, tetapi tidak lemah.
Keira akhirnya menyerah pada sisa harga dirinya.
"Tuan Liem, boleh saya pinjam... tidur di dekat Anda?"
Udara membeku.
Edric perlahan mengangkat kepala. "Apa?"
"Tidur beneran!" Keira langsung panik. "Cuma tidur. Bukan maksud aneh. Pegang tangan saja juga cukup."
"Kamu meminta izin memegang tangan pria asing di kamar gelap pukul satu dini hari."
"Kalau diringkas begitu memang terdengar buruk."
"Itu ringkasan yang akurat."
Keira menarik napas dalam. "Saya punya masalah. Saya mendengar suara benda. Semua benda. Setiap malam. Tidak berhenti. Tapi saat kemarin tangan saya menyentuh tangan Anda di bar, semuanya hilang."
Edric tidak berkata apa-apa.
"Saya tahu terdengar mustahil. Saya juga tidak berharap Anda percaya. Tapi saya belum tidur benar selama berhari-hari. Saya hanya butuh beberapa jam sunyi."
Sofa berbisik lembut, "Jujur juga anaknya."
Edric tiba-tiba membungkuk.
Tongkatnya jatuh ke karpet tanpa suara keras.
Keira maju refleks. "Tuan Liem?"
Jari Edric mencengkeram ujung sofa. Bahunya tegang. Napasnya pecah menjadi pendek-pendek. Di bawah kacamata hitam, wajahnya memucat seperti seluruh darah ditarik dari kulit.
"Jangan..." Suaranya serak. "Jangan dekat."
"Anda sakit."
"Jangan sentuh."
Tapi tubuhnya gemetar.
Keira tidak bisa melihat jelas, tetapi ia bisa mendengar napas yang menahan sakit, bisa melihat jari yang hampir merobek kain sofa. Ini bukan marah. Ini serangan.
Ia berlutut di depannya dan, tanpa berpikir panjang, menyentuh dahi Edric dengan ujung jari.
Kontak kulit.
Dunia Keira langsung sunyi.
Sempurna.
Tidak ada sofa. Tidak ada jam. Tidak ada lantai. Tidak ada keluhan benda.
Pada saat yang sama, tubuh Edric berhenti gemetar.
Napasnya yang tadinya patah menjadi panjang, dalam, nyaris tidak percaya. Tangannya yang mencengkeram sofa perlahan melemah. Ia mengangkat wajah, seolah orang yang tenggelam baru menemukan udara.
"Kamu..."
Keira belum sempat menarik tangan.
Edric menangkap pergelangan tangannya.
Sentuhan itu membuat seluruh kepala Keira kosong dari suara.
Ia hampir menangis.
Edric menariknya lebih dekat secara refleks, bukan kasar, melainkan putus asa. Keira kehilangan keseimbangan dan jatuh setengah duduk di sampingnya. Lengan Edric memeluknya dari belakang, kaku pada detik pertama, lalu semakin erat ketika tubuhnya sadar bahwa ia tidak mual.
Ia tidak menolak.
Keira juga tidak.
Karena untuk pertama kalinya setelah terlalu banyak malam, pikirannya benar-benar diam.
Edric menunduk. Suaranya nyaris bisikan. "Sepuluh tahun."
Keira tidak bergerak.
"Sepuluh tahun aku tidak bisa disentuh siapa pun tanpa muntah."
Tangannya di pergelangan Keira masih gemetar halus.
"Tapi kamu tidak membuatku sakit."
Keira menelan ludah. "Anda juga membuat suara-suara itu hilang."
Edric diam lama.
Dalam gelap, dua orang asing duduk terlalu dekat, masing-masing menemukan jawaban yang tidak masuk akal bagi penyakit paling menyiksa dalam hidup mereka.
Akhirnya Edric berkata sangat serius, "Kalau begitu, besok kita ke kantor catatan sipil."
Keira tersedak. "HAH?"
"Menikah."
"Tuan Liem."
"Supaya kamu tidak bisa pergi."
"Anda baru tahu nama palsu saya dua puluh menit lalu."
"Nama bisa diganti."
"Logika Anda perlu diperiksa dokter."
"Dokterku gagal sepuluh tahun. Kamu berhasil dalam tiga detik."
Keira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Kalimat itu terlalu absurd untuk dibantah, dan terlalu sedih untuk ditertawakan penuh.
"Saya tidak akan menikah dengan Anda," katanya akhirnya.
Edric tidak tampak tersinggung. "Baik. Kalau begitu kontrak."
"Kontrak apa?"
"Kamu datang setiap malam. Pegang tanganku. Tidur di sini sampai pagi. Aku memberimu ketenangan. Kamu memberiku..." Ia berhenti, seolah kata yang benar terlalu telanjang untuk diucapkan. "Kamu memberiku waktu tanpa sakit."
Keira menunduk pada tangan mereka yang masih saling menggenggam.
Transaksi.
Itu seharusnya membuatnya tenang.
Tetapi jantungnya justru berdebar dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan logika.
"Tidak boleh ada hal lain," katanya. "Tidur beneran. Pegang tangan. Jarak aman."
"Aku buta, bukan tidak mengerti batas."
"Bagus."
"Kamu juga tidak boleh kabur setelah aku tidur."
"Saya datang karena ingin tidur, bukan wisata malam."
Edric mengangguk, serius seperti sedang menandatangani akuisisi perusahaan. "Mulai malam ini."
Keira sudah ingin berkata ia harus pulang sebelum subuh.
Tetapi sunyi di kepalanya begitu lembut.
Tubuhnya, yang selama berhari-hari bertahan dengan marah dan kafein, akhirnya menyerah.
Edric membuka genggamannya sedikit, memberi ruang. "Kamar utama. Tempat tidurnya besar. Kita bisa menjaga jarak."
"Dan tangan?"
"Pegang."
Maka dini hari itu, di Suite 501 yang gelap total, Keira berbaring di sisi paling kanan tempat tidur. Edric berbaring di sisi kiri. Di antara mereka ada jarak cukup untuk menaruh satu bantal panjang.
Hanya tangan mereka yang bertemu di atas bantal itu.
Jari Edric dingin pada awalnya. Lalu perlahan menghangat.
Keira mendengar tidak ada apa-apa.
Tidak ada lemari.
Tidak ada AC.
Tidak ada pil tidur yang pamer pahit.
Hanya napas Edric yang stabil di sisi lain gelap, dan denyut jantungnya sendiri yang akhirnya melambat, pelan sekali.
Sebelum tertidur, satu pikiran terakhir lewat di kepala Keira.
Besok malam ia harus kembali.
Masalahnya, bagaimana cara menyelinap keluar dari Mansion setiap malam tanpa ketahuan Ko Kevin, Ko Darren, dan Brandon?
semangat thor💪