NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Insiden di Restoran dan Oma Tetangga

Eve memilih kembali ke Restoran 1973 pada Jumat malam karena tempat itu membuat napasnya lebih mudah.

Edric tidak keberatan. Ia bahkan memesan meja delapan sebelum Eve sempat menelepon. Saat mereka duduk di bawah lampu kuning tua, Eve merasa sedikit dari dirinya yang hilang mulai menemukan jalan pulang.

Jerry kebetulan ada di sana lagi. Kali ini ia duduk dua meja di belakang, pura-pura membaca menu sambil jelas-jelas berjaga. Eve sudah mulai curiga bahwa hidup Edric penuh kebetulan yang terlalu disiplin.

"Kamu sering makan dengan bosmu?" tanyanya.

"Kadang."

"Bosmu tidak punya teman?"

"Dia punya. Tapi pekerjaannya berat."

Jerry dari belakang hampir tersedak teh.

Eve menatap Jerry lewat pantulan kaca jendela. Cara pria itu duduk terlalu tegak untuk orang yang sedang santai makan malam. Ponselnya diletakkan terbalik, tetapi layar sesekali menyala. Setiap kali pelayan lewat dekat meja Eve, mata Jerry mengikuti sebentar, lalu kembali ke Edric. Kalau ini kebetulan, kebetulan itu memakai jadwal kerja dan prosedur pengamanan.

Malam itu nyaris tenang sampai seorang pria muda mabuk masuk bersama dua teman. Wajahnya memerah, kemejanya mahal, langkahnya goyah. Ia berhenti di dekat meja Eve.

"Wah," katanya sambil menatap Eve. "Cantik sekali. Sendirian?"

Edric meletakkan sumpit.

Eve menjawab dingin, "Saya bersama suami."

Pria itu tertawa. "Suami? Yang kurus diam itu?"

Edric tidak kurus. Ia hanya duduk terlalu tenang.

Pria itu mendekat lagi. "Nama saya Marco Lie. Kalau bosan dengan suami pendiam, saya bisa..."

Ia tidak selesai.

Edric berdiri dan memukulnya sekali.

Marco jatuh menabrak kursi, darah keluar dari sudut bibirnya. Restoran menjerit kecil. Dua temannya langsung mundur.

"Kamu tahu aku siapa?" Marco berteriak dari lantai. "Keluarga Lie akan bikin kalian tidak bisa hidup di Jakarta!"

Edric mengambil serbet, membersihkan buku jarinya. "Panggil."

Eve berdiri di belakangnya dengan jantung berlari. Baru beberapa hari lalu ia melihat Edric mematahkan tangan Hartono. Kini ia melihat versi yang lebih tertahan, tetapi tetap berbahaya. Edric tidak memukul karena tersinggung. Ia memukul karena Marco menatap Eve seperti barang.

"Edric," bisiknya.

Edric menoleh sedikit. "Takut?"

Eve melihat Marco yang mengerang, lalu tangan Edric yang hanya sedikit merah. "Tidak. Aku cuma tidak mau kamu kena masalah."

"Masalahnya sudah duduk di lantai."

Jerry menutup wajah dengan menu. Di situasi lain, kalimat itu mungkin lucu. Di sini, semua orang terlalu takut untuk tertawa.

Pemilik restoran berlari dari kasir, wajahnya pucat. Eve langsung berdiri lebih dekat ke Edric, bukan karena takut Marco bangkit, melainkan karena ia tahu orang kaya mabuk jarang datang tanpa ekor masalah. Di Jakarta, nama keluarga bisa berubah menjadi senjata lebih cepat daripada pisau dapur.

Setengah jam kemudian, Leonardo Lie datang dengan wajah marah. Namun amarah itu hilang begitu ia melihat Jerry berdiri di belakang Edric.

"Pak Asisten..."

Eve menoleh cepat.

Jerry memejamkan mata. Tamat sudah.

Leonardo menyadari kesalahan, tetapi terlambat. Ia menunduk pada Edric. "Maaf. Keponakan saya mabuk dan tidak tahu aturan."

Marco yang masih memegang pipi membeku. "Om?"

"Diam!" Leonardo membentaknya. "Minta maaf kepada Nona Evelina dan suaminya."

Marco menatap Edric, lalu Jerry, lalu pamannya yang berkeringat. Kesombongannya runtuh.

"Maaf."

"Lebih jelas," kata Edric.

"Maaf, Nona Evelina. Maaf, Pak."

Leonardo membayar semua kerusakan, meminta staf menghapus rekaman internal dari area umum, lalu mengantar mereka sampai pintu restoran seperti mengantar tamu kerajaan.

Di mobil, Eve menatap Edric.

"Pak Asisten?"

"Mungkin dia salah dengar."

"Leonardo Lie memanggil Jerry Pak Asisten. Tapi Jerry bosmu."

"Orang mabuk membuat semua orang bingung."

"Leonardo tidak mabuk."

Edric diam.

Eve menyipit. "Kamu menyimpan banyak hal."

"Saya menyimpan beberapa."

"Itu bukan jawaban."

"Saya tahu."

Eve menatap jendela mobil. Luka di tangannya berdenyut pelan, tetapi pikirannya lebih sibuk menyusun potongan. Jerry di JCC terlihat takut pada Edric. Manajer 1973 hampir memanggilnya Pak Asisten. Leonardo Lie menunduk bukan kepada Jerry saja, melainkan kepada udara di sekitar Edric.

Kalau ini teka-teki, jawabannya mulai terlihat seperti sesuatu yang terlalu besar.

Malam itu pertanyaan menggantung, tetapi tidak pecah. Eve terlalu lelah setelah insiden Marco, dan Edric terlalu jelas sedang menimbang kapan kebenaran akan menghancurkan sesuatu yang baru tumbuh.

Keesokan paginya, bel apartemen berbunyi.

Eve membuka pintu dengan rambut masih diikat asal.

Di depan pintu berdiri perempuan tua dari Golden Lotus, memakai kardigan lembut dan membawa tas kecil.

"Oma?"

Perempuan itu tersenyum hangat. "Kamu masih ingat."

"Tentu. Oma tinggal di sini?"

"Baru pindah ke sebelah." Ia menunjuk unit di samping. "Anak Oma mengurus semuanya, tapi dia tiba-tiba keluar kota. Oma belum biasa tidur sendiri di tempat baru. Boleh Oma duduk sebentar?"

Eve langsung membuka pintu lebih lebar. "Masuk, Oma."

Di dalam, Edric keluar dari dapur sambil membawa dua gelas air.

Ia berhenti.

Oma Kho juga berhenti.

Satu detik itu cukup untuk perang kecil lewat di antara mata mereka.

Eve tidak melihatnya. Ia sibuk mengambil bantal untuk tamu.

"Oma Liana, ini suami saya, Edric."

Oma tersenyum seperti aktris senior. "Oh, jadi ini suamimu."

Edric menatap neneknya sendiri dengan wajah pria yang baru tahu rumahnya dikepung dari dalam. "Oma Liana."

"Panggil Oma saja. Rasanya lebih dekat."

Eve senang. "Iya, panggil Oma saja. Edric, Oma hampir jatuh waktu di Golden Lotus. Untung aku lihat."

"Saya dengar," kata Edric pelan.

Oma masuk dan duduk di sofa, matanya langsung bekerja. Sepatu Eve di dekat pintu. Dua cangkir di meja. Satu kamar utama terbuka sedikit, terlihat rapi berantakan seperti dipakai. Kamar lain pintunya setengah terbuka, terlalu rapi, nyaris seperti kamar contoh.

Ia juga melihat sikat gigi. Dua buah di gelas kamar mandi, tetapi jaraknya seperti dua tetangga yang sopan. Di rak dapur ada dua jenis kopi, tetapi hanya satu selimut kecil di sofa. Semua bukti berbisik bahwa cucunya yang katanya sudah menikah mungkin masih hidup seperti penghuni kos yang berbagi tagihan.

Oma menahan napas panjang. Edric kecil dulu keras kepala. Edric dewasa ternyata lebih parah.

Oma mengangkat alis.

Edric tahu tanda bahaya itu.

"Eve," kata Oma manis, "kamar yang satu lagi itu kosong ya?"

Eve tersenyum polos. "Itu kamar Edric."

Keheningan turun terlalu rapi.

Oma meletakkan cangkir dengan bunyi pelan. "Oh. Kamar Edric."

Eve baru menyadari nada itu. Ia menoleh ke Edric, lalu ke Oma. "Kami baru menikah mendadak. Jadi masih beres-beres."

"Tentu," kata Oma, senyumnya semakin lembut. "Menikah memang banyak yang harus dibereskan. Termasuk kebiasaan tidur sendiri."

Senyum Oma tetap ada, tetapi matanya berubah menjadi tajam.

Edric merasa seperti kembali ke medan perang.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!