Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Naomi Datang
Batas itu pecah bukan karena Rayhan bergerak, melainkan karena Sari akhirnya berdeham di depan pintu.
Yola seperti baru ditarik keluar dari air. Ia menarik jarinya terlalu cepat sampai ujung kasa ikut bergeser. Rayhan menghirup napas pendek, hampir tidak terdengar, tetapi cukup untuk membuat Yola panik.
"Maaf," katanya.
"Lanjutkan."
Suaranya rendah. Tidak marah. Justru karena tidak marah, tangan Yola semakin sulit stabil.
Sari masuk dengan nampan bubur dan obat, matanya menunduk terlalu rapi untuk seseorang yang tidak melihat apa-apa. "Mama minta Pak Rayhan makan dulu sebelum minum obat."
"Letakkan," kata Rayhan.
Yola segera menyelesaikan perban luar. Kali ini ia menjaga jarak ujung jari dari kulit Rayhan sebaik mungkin. Setelah perekat terakhir menempel, ia mundur setengah langkah.
"Selesai."
Rayhan menatap perban itu, lalu menatap tangan Yola yang masih ada goresan tipis. "Tanganmu belum dibersihkan ulang."
"Nanti saya urus."
"Sekarang."
Yola menahan napas. "Pak Rayhan, saya bisa..."
"Sari."
Sari hampir menjatuhkan sendok. "Iya, Pak."
"Bersihkan tangan Nona Yola."
Yola ingin menolak, tetapi Mama Liem masuk tepat pada saat itu dan langsung setuju. Maka malam itu berakhir dengan Rayhan duduk diam memakan bubur, sementara Sari membersihkan goresan Yola di sofa seberang. Mereka tidak saling bicara lagi.
Namun setiap kali Yola menunduk, ia masih bisa merasakan panas kulit Rayhan di ujung jarinya.
Keesokan paginya, Liem Mansion belum pulih sepenuhnya dari malam sebelumnya.
Koran bisnis sudah menulis insiden Hartono Estate sebagai "gangguan keamanan dalam acara privat konglomerat". Tidak ada nama Yola. Tidak ada detail Naomi. Liem Group dan Hartono Group sama-sama mengeluarkan pernyataan singkat bahwa tidak ada korban jiwa.
Tapi di dapur, staf tetap berbisik pelan.
Di ruang keluarga, Mama Liem meminta semua televisi dimatikan.
Yola sedang menata obat Rayhan sesuai jam makan ketika suara mobil masuk terdengar dari halaman. Sari mengintip dari jendela, lalu wajahnya berubah.
"Nona Naomi datang."
Yola mengangkat kepala. "Sekarang?"
Belum sempat Sari menjawab, suara Naomi sudah terdengar dari foyer.
"Kak Yola! Aku tahu ini kepagian, tapi aku nggak bisa tidur semalaman. Kalau aku nunggu jam berkunjung yang sopan, aku bisa gila."
Mama Liem yang duduk di sofa langsung tertawa pelan untuk pertama kalinya sejak semalam. "Suruh masuk."
Naomi muncul dengan gaun kasual warna putih, rambutnya diikat asal, dan mata sedikit bengkak. Di belakangnya, dua staf Hartono membawa keranjang buah, kotak kue, bunga putih, dan satu kotak panjang berbungkus kain emas.
Yola berdiri. "Naomi, kamu seharusnya istirahat."
Naomi berhenti di depannya, menatap dari kepala sampai kaki, lalu memeluk Yola tanpa peringatan.
Yola kaku karena terkejut.
"Maaf," bisik Naomi. "Maaf banget. Kalau Kak Yola nggak dorong aku..."
Yola menghela napas pelan, lalu menepuk punggung Naomi dengan hati-hati. "Kamu selamat. Itu yang penting."
"Tangan Kak Yola luka."
"Sudah dibersihkan."
"Bahu?"
"Hanya memar."
Naomi melepas pelukan, matanya berkaca-kaca. "Kak Yola selalu bilang hanya."
Mama Liem menatap Naomi dengan lembut. "Duduk dulu, Nak. Kamu juga pasti masih shock."
Naomi langsung menunduk sopan. "Maaf, Mama Liem. Aku datang tanpa janji."
"Kalau datang untuk Yola, pintu rumah ini terbuka."
Kalimat itu membuat Naomi tampak hampir menangis lagi.
Yola membantunya duduk. "Kamu sudah sarapan?"
"Belum."
"Sari, tolong tambah bubur dan teh hangat."
"Iya, Nona."
Naomi menatap Yola. "Kak Yola baru jadi pahlawan semalam, pagi ini udah ngatur sarapan orang."
"Justru karena semalam kacau, pagi ini harus makan."
"Logikanya serem, tapi masuk akal."
Dari tangga, langkah pelan terdengar.
Rayhan turun dengan kemeja hitam longgar yang menutupi perban di bahu kanannya. Wajahnya lebih pucat daripada biasa, tetapi sikapnya tetap dingin. Ardi berjalan di belakangnya membawa tablet.
Naomi langsung berdiri. "Kak Rayhan."
Rayhan menatapnya. "Kamu seharusnya di rumah."
"Aku seharusnya berterima kasih."
"Sudah."
"Belum ke Kak Yola."
Rayhan melirik Yola.
Yola sedang menuangkan teh untuk Naomi. Tangannya bergerak pelan agar luka kecil di punggung tangan tidak tertarik. Gerakan itu tidak luput dari mata Rayhan.
"Duduk," katanya kepada Naomi.
Naomi duduk lagi, tetapi mulutnya tidak berhenti. "Papa juga mau datang, tapi Kak Adrian melarang karena pagi ini banyak polisi dan wartawan di luar rumah. Jadi aku dikirim duluan. Eh, bukan dikirim. Aku memaksa datang duluan."
Mama Liem tersenyum. "Keluarga Hartono terlalu banyak mengirim barang."
Naomi menunjuk kotak panjang berbungkus kain emas. "Itu bukan dari aku. Itu dari Papa. Katanya untuk Kak Yola, tanda terima kasih. Aku nggak tahu isinya, tapi Papa kalau merasa berutang biasanya lebay."
Yola langsung gelisah. "Naomi, saya tidak bisa menerima hadiah besar."
"Belum dibuka sudah nolak." Naomi menatap Mama Liem, mencari dukungan. "Mama Liem, Kak Yola suka begini ya?"
"Sangat," jawab Mama Liem.
"Mama," protes Yola pelan.
Rayhan duduk di sofa tunggal. "Buka."
Yola menoleh kepadanya.
"Kalau isinya tidak pantas, baru tolak," kata Rayhan.
Naomi mengangguk cepat. "Nah, itu. Untuk sekali ini aku setuju sama Kak Rayhan."
Sari membuka kain emas dengan hati-hati. Di dalamnya ada kotak kayu gelap. Saat tutupnya dibuka, aroma lembut langsung keluar, bukan parfum modern, melainkan kayu tua dan bunga kering. Di dalam kotak itu tersusun satu set botol kaca kecil antik, masing-masing dengan tutup perak, seperti koleksi lama untuk meracik aroma.
Yola terdiam.
Naomi ikut terdiam. "Oh. Ini cantik banget."
Mama Liem menatap Yola. "Untuk parfum?"
Yola menyentuh tepi kotak, tidak berani menyentuh botolnya. "Botol seperti ini jarang ada. Biasanya koleksi lama dari Eropa atau toko antik."
"Papa bilang Kak Yola punya tangan yang cocok menyelamatkan orang dan membuat sesuatu yang harum," kata Naomi, kali ini lebih pelan. "Dia nggak pinter ngomong manis. Jadi dia kasih barang."
Yola merasakan tenggorokannya menghangat.
Rayhan menatap kotak itu, lalu menatap wajah Yola. Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajah Yola tidak sepenuhnya tegang. Ada cahaya kecil di matanya. Bukan untuknya. Untuk botol kaca tua dan kemungkinan yang belum ia sebutkan.
"Terima kasih," kata Yola akhirnya. "Tolong sampaikan kepada Papa Hartono, saya akan menjaganya baik-baik."
Naomi tersenyum lega. "Aku sampaikan kalau Kak Yola suka. Biar Papa berhenti mondar-mandir kayak orang mau sidang."
Mama Liem tertawa pelan.
Suasana ruang keluarga menghangat, tetapi Rayhan tetap diam. Ia melihat Naomi mengambil satu kue, melihat Yola mengingatkannya agar makan bubur dulu, melihat Sari tersenyum diam-diam di belakang.
Liem Mansion, untuk beberapa menit, tidak terasa seperti rumah sakit setelah insiden.
Terasa seperti rumah.
Naomi menoleh kepada Rayhan. "Kak Rayhan, bahunya sakit?"
"Tidak."
Yola dan Mama Liem menatapnya bersamaan.
Naomi mengangkat alis. "Wah. Kalau dua perempuan langsung lihat begitu, berarti jawabannya bohong."
Rayhan diam.
Yola menunduk, menyembunyikan senyum kecil di balik cangkir tehnya.
Rayhan melihatnya.
Dan kali ini, meskipun senyum itu bukan untuknya, ia tidak ingin mengalihkan pandangan.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅