[Jangan dibaca, novel berisi adegan++. Harap bijak dalam membaca. MC bisa bikin darah tinggi!]
[3-25 : Plot MC hidup sendiri bersama sistem, mungkin agak membosankan dan bertele-tele]
[26 keatas: Plot berubah. MC menjadi konglomerat, banyak pelayan, pengawal setia, banyak musuh, pengkhianatan, penyesalan. serta kemunculan tokoh-tokoh lainnya]
Pemuda yang baik hati, tiba-tiba dituduh lalu di usir dari rumah keluarga angkatnya, sampai berniat bunuh diri.
Ia akhirnya mendapatkan sebuah sistem, setelah menolong nenek-nenek misterius, yang dimana sistem itu akan membantunya menjadi seorang penguasa tertinggi.
Kepribadiannya yang naif dan bertele-tele, perlahan berubah, menjadi kejam tanpa ampun dalam melenyapkan musuhnya. Simak terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikki Kurunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Yang Penting, Habiskan!
(Tuk, tuk, tuk!)
Suara ketukan itu, terdengar dari arah luar pintu kamar, yang membuat Zevan seketika terbangun dari tidurnya.
[Selamat pagi Tuan! Bidadari anda telah menunggu didepan kamar]
"Tuan Vanzee, banguunn!!" seru Kimmy yang telah berdiri didepan pintu, sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Zevan.
Zevan lalu menggeliat, dan mulai melangkahkan kakinya terhuyung-huyung menuju pintu kamar. "Kimmy? Ada apa?" tanya Zevan setelah membuka pintu, dengan mata yang menyipit, seakan enggan untuk membuka lebar.
Kimmy mendengus. "Sekarang sudah jam berapa?! Apa kau tidak berangkat sekolah?" Ia sontak menarik tangan Zevan, dan menggiringnya berjalan menuju pintu kamar mandi. "Ayo, cepat mandi! Aku akan menyiapkan bekal untukmu," desak Kimmy.
"Dasar bawel!" sindir Zevan dalam hatinya, seraya meraih sebuah sikat gigi, lalu melumurinya dengan pasta gigi. "Sistem, pindai perasaanya. Aku benar-benar bingung dengan sikapnya selama ini," pinta Zevan dalam hatinya, sambil menggosok-gosokan giginya didepan cermin wastafel.
[Baik Tuan!]
[Sistem! Memindai perasaan Kimmy Dirgantara terhadap Tuan, diaktifkan!]
[•••••Kimmy Dirgantara•••••]
[Rasa suka: 80%]
[Rasa kagum: 5%]
[Rasa segan: 5%]
[Rasa benci: 5%]
[Rasa hormat: 5%]
[Informasi: Dapat disimpulkan bila Kimmy Dirgantara menyimpan perasaan terhadap Tuan, namun masih malu-malu kucing]
Zevan sontak menyemburkan busa cairan dalam mulutnya, kearah cermin wastafel. "Gawat! Ternyata dia benar-benar suka kepadaku," batinnya, lalu berkumur-kumur dengan air wastafel.
Sementara Kimmy, hanya terduduk santai didepan kaca jendela kamar, yang membentang luas dari ujung ke ujung. Ia sebenarnya telah mempersiapkan makanan untuk Zevan, sebelum mengunjungi apartemen anak tersebut.
"Apa dia bakal suka sama rasanya yah?" Kimmy menatap penuh cemas kearah kotak bekal, yang telah diletakkannya diatas meja sofa. "Aku takut kalau dia tak suka dengan rasa nasi gorengku itu," batinnya sambil menggigit bibir bawah.
Setelah menunggu beberapa saat, Kimmy sontak meraih kotak bekalnya, lalu menyembunyikannya dibalik punggung, setelah mendapati Zevan keluar dari kamar mandi.
{Aku harus membuat Tuan memakan nasi goreng buatan Kimmy, bagaimanapun caranya!}
[Tuan! Kimmy berniat menyerahkan nasi goreng buatannya untukmu]
Zevan seketika berjalan menuju lemari pakaianya, seraya menggosok-gosokan rambut basahnya dengan handuk kecil. "Nasi goreng? Bagaimana dengan kandungan makanannya? Apakah nasi itu aman untuk dimakan?" Ia pun bertanya-tanya dalam hatinya, dan sontak menoleh kearah Kimmy.
Kimmy pun lantas memalingkan wajahnya kearah lain, saat mendapati Zevan yang tengah telanjang dada, menoleh kearahnya. "Badannyaaa! Dia terlalu sixpack untuk anak seusianyaaa!" pikir Kimmy, yang semakin memperkuat gigitan bibir bawahnya, seiring dengan kedua pipi yang telah memerah, serta detak jantung yang berdegup sangat kencang.
[Tidak Tuan! Aku menjamin nasi goreng itu enak, eh! Maksudku, aman untuk dimakan]
Zevan seketika menatap penuh heran kearah gadis itu. "Kimmy, mau keluar, atau menghadap kesana?" tanya Zevan, yang membuat Kimmy sontak menghadap kearah luar jendela.
"Kenapa tidak pakai baju didalam kamar mandi saja!" keluh Kimmy.
Dan benar saja, Zevan kembali beranjak kedalam kamar mandi, lalu mengenakan seluruh pakaian seragam sekolahnya, karena merasa canggung dengan seorang gadis, yang tengah terduduk didalam kamarnya itu.
Setelah mengenakan seluruh pakaian seragamnya, Zevan segera beranjak keluar dari kamar mandi. "Kimmy? ... kamu dimana?" ucapnya saat menoleh kearah jendela, dan tak mendapati keberadaan Kimmy. Ia pun sontak menoleh kearah pintu, dan terkejut.
"Berani yah kamu mempermainkan aku?! Tadi menyuruhku menghadap ke jendela. Tapi kamu malah mengganti pakaiannya di kamar mandi! Aku benar-benar nampak seperti gadis bodoh saja!" keluh Kimmy panjang lebar, dengan mengkerutkan alisnya seraya berkacak pinggang.
Namun, Zevan hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman polos ciri khasnya, yang membuat Kimmy sampai tercengang bukan kepalang saat melihatnya.
"Kimmy? Kimmy?!" Zevan melambai-lambaikan sebalah telapak tangannya, tepat didepan wajah yang sedang terpana itu.
Kimmy pun sontak mengedipkan mata lentiknya. "Apa aku tadi sedang berhalusinasi?" tanya Kimmy, yang telah kembali pada jalur kesadarannya.
Zevan mengacuhkan pertanyaannya, dan segera mengenakan tas sekolah. "Baiklah. Aku harus berangkat sekolah." Ia pun kembali tersenyum. "Terimakasih sudah membangunkanku, Kimmy," ucapnya dan mulai berjalan melewati gadis itu.
Belum sempat Zevan mencapai pintu kamar, Kimmy sontak meraih tangannya. "Vanze! Siapa kau sebenarnya?" tanya kembali gadis yang tengah mengenakan pakaian formal khas kantoran, lengkap dengan rok bahan pendek yang hanya menutupi setengah ukuran paha putih dan mulusnya itu.
"Aku? Aku hanyalah orang biasa, yang hidup sebatang kara," jawab Zevan dengan penuh percaya diri.
Kimmy lalu beringsut mendekati wajah anak itu. "Lalu, kenapa saat aku melihatmu, jantungku semakin berdegup kencang tak karuan? Apa yang telah kau lakukan padaku?" Hidung Kimmy hanya berjalan sekitar beberapa sentimer saja, dari hidung Zevan, yang membuat aroma wangi nafasnya mulutnya itu, terhirup segar dihidung anak tersebut.
Zevan tak mengindahkan pertanyaan itu, karena telah terperangkap oleh aura kecantikan yang mempesona dari wajah Kimmy. "Kimmy ...." ucapnya dengan nada pelan, dan tanpa disadari olehnya, kedua tangannya telah menyentuh punggung Kimmy.
"Vanze ...." Kimmy pun turut merangkul kedua pundak Zevan, dan mulai mendekatkan bibirnya menuju bibir anak itu.
[Come on baby! Come on!!]
Namun, belum sempat bibir mereka bersentuhan, Zevan seketika berkata, "Aku masih dibawah umur," ucapnya, yang membuat laju bibir Kimmy terhenti, sejarak satu sentimeter dari bibirnya.
[What the ....]
Mereka akhirnya salah tingkah. Kimmy sontak berjalan menuju tas serta tottebag-nya, yang masih terletak diatas meja, sedangkan Zevan bersandar pada sisi pintu, selagi menunggu Kimmy keluar dari kamarnya.
{Hadehh ... keduanya benar-benar persis seperti sepasang kekasih, dalam novel romansa -,-}
"Ayo!" Kimmy melangkahkan kakinya keluar dari pintu kamar, dan menunggu Zevan mengunci pintunya. "Kamu tidak punya kendaraan kan? Kita berangkat bersama saja," Ia kembali menarik tangan Zevan, dan menggiringnya turun menuju lantai dasar gedung pengelola, sementara kamar pribadi Zevan, terletak dilantai delapan puluh.
Zevan membiarkan tangannya digenggam erat oleh gadis itu, selagi mereka berjalan menuju pintu utama gedung pengelola, dan menjadi pusat perhatian para karyawan.
"Apa aku tidak salah lihat?! B-b-bos kita masih sekolah rupanya!" ucap salah seorang karyawan tingkat menengah, yang tengah menatap mereka dari kejauhan.
"Dunia memang sudah semakin canggih! Atau, apa hanya kita saja yang terlalu usang? Sampai-sampai bos kita merupakan seorang bocah yang masih berusia belasan tahun?" Pertanyaan-pertanyaan itu, terlontarkan oleh seorang karyawan tingkat menengah, yang menatap penuh heran kearah Zevan.
Alvin yang tengah berjongkok sambil membersihkan kaca pintu utama pun sontak berdiri, dan membungkuk dihadapan Zevan. "Selamat pagi, Tuan Vanzeeee?!!" Ia pun terkejut, saat mendongakkan wajahnya, dan menoleh kearah seragam sekolah yang dikenakan Zevan. "T-t-tuaan?! Anda masih sekolah?!" tanya Alvin.
"Selamat pagi, Alvin. Ten—" Zevan tak sempat menjawab pertanyaan itu, karena tangannya sontak ditarik oleh Kimmy, yang sudah semakin tidak sabaran.
"Tuaaaan! Semangat belajarnyaaaa!" sorak Alvin dari kejauhan, saat menyaksikan kedua orang itu tengah berjalan menuju halaman parkiran mobil.
"Kimmy, bisa pelan-pelan?" tanya Zevan, yang merasa terheran dengan sikap Kimmy.
Kimmy lalu berhenti, tepat didepan mobil sedannya. "Mau sampai kapan kamu menguras waktumu?! Hari ini kamu akan ujian bukan?" tanya Kimmy, seraya membuka pintu depan mobilnya, dan mempersilahkan masuk kedalamnya.
Zevan lalu menutup pintu mobil, namun sempat terkejut dengan perkataan Kimmy. "D-darimana kau tahu kalau hari ini aku ujian?" tanya Zevan, setelah mendapati gadis itu memasuki ruang setir kemudi.
"Tentu saja aku tahu. Soalnya aku pernah sekolah selama tiga tahun, di kota ini," jawab Kimmy sambil menyalakan mesin mobilnya, dan mulai tancap gas menuju gedung sekolah Zevan.
Selama perjalanan menuju sekolah, Zevan hanya terdiam seribu bahasa, karena semakin terhanyut dalam rasa canggungnya. Sementara Kimmy, terus memanfaatkan setiap kesempatan, untuk melirik-lirik kepolosan wajah anak itu.
{Hadeeh ... kalau aku bertindak, Tuan pasti akan marah. Tapi, kalau terus begini, mereka tidak akan ada kemajuan sama sekali}
"Cukup sampai depan saja," ucap Zevan, setelah gedung sekolahnya mulai terlihat dalam pandangannya.
Kimmy lantas menepikan kendaraanya, tepat dipinggir trotoar jalan, dan menyaksikan Zevan beranjak keluar dari mobilnya. "Tuan Vanze!" himbaunya, dan turut keluar dari mobilnya, lalu berjalan tergesa-gesa menghampiri Zevan.
"Ini!" Kimmy seketika menyodorkan tottebag, yang berisi kotak bekal makanan buatannya kepada anak itu. "Jangan komentar tentang rasanya! Yang penting, habiskan!" tegas Kimmy, dan kembali berjalan memasuki mobilnya, lalu tancap gas dengan segera.
"Jadi, inikah nasi goreng buatannya? Aku malah jadi penasaran dengan rasanya," batin Zevan, sambil terus menatap kearah kotak bekal, yang telah dikeluarkannya dari dalam tottebag.
{Akhirnyaaaa!}
[Tuan, ayo cepat masuk kedalam! Waktunya tinggal sedikit lagi!]
"Baiklah!" Zevan mulai melangkahkan kakinya, masuk kedalam gerbang sekolah, seraya menenteng tottebag milik Kimmy. "Sistem, aku penasaran kenapa dari tadi kau diam saja? Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Zevan dalam hatinya.
[Tidak ada! Aku hanya sedang mengawasi Tuan saja]
{Padahal sedari tadi, aku merasa 'greget' dengan sikap Tuan! :p}
...****TBC****...
tapi aku merasa koq nggak lucu sama sekali setiap MC bertengkar dg sistem nya sendiri?
sampe bikin tokoh utama yang ga jelas.
maaf.. saya stop baca. aliran cerita terhambat dan terantuk2 sepanjang jalan karena pemaksaan karakter tsb
NGAKU2 TULISAN SENDIRI
SEHARUSNYA DATANG BERSAMA POLISI,