NovelToon NovelToon
Suamiku Kabur dengan Selingkuhannya, Simpananku Ternyata Sang Pewaris

Suamiku Kabur dengan Selingkuhannya, Simpananku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Tiga tahun lalu, Citra Wijaya menikah dengan Rafael Gan di catatan sipil. Cincin murah, resepsi seadanya, dan — yang baru dia tahu belakangan — akta nikah palsu seharga sembilan ribu sembilan ratus rupiah.
Sekarang? Rafael pulang dari luar negeri. Bawa oleh-oleh: selingkuhannya, Lianna Halim, yang perutnya sudah membuncit tujuh bulan.
Citra tidak menangis. Tidak memohon. Tidak menampar.
Dia hanya pulang ke apartemennya, menyiapkan amplop berisi uang pesangon, dan menulis satu kalimat di secarik kertas untuk pria lain yang sudah tiga tahun dia *bayar* untuk tinggal di sisinya:
"Kita selesai. Terima kasih sudah menemaniku."
Pria itu — yang selama ini dia panggil *Si Ganteng* — tidak pernah protes, tidak pernah bertanya macam-macam, tidak pernah menunjukkan ambisi apa pun. Tampan, pendiam, penurut. Simpanan sempurna.
Tapi malam itu, Si Ganteng menolak amplop uangnya.
Dan Citra baru sadar: pria yang selama tiga tahun dia anggap *tidak punya apa-apa*... ternyata adalah **Reynard Hartono** — pewaris tunggal Hartono Group, konglomerat terbesar di Jakarta, yang seluruh elit kota ini panggil *Pangeran*.
Dia tidak butuh uang Citra. Dia tidak pernah butuh.
Yang dia butuhkan hanya *dia*.
Karena dua puluh tahun lalu, di masa kecil yang sudah Citra lupakan sepenuhnya, ada seorang anak laki-laki yang hampir mati — dan satu-satunya alasan dia bertahan hidup adalah satu kalimat dari gadis kecil bermata jernih:
"Kalau tidak ada yang mencintaimu, biar aku yang mencintaimu."
Citra tidak ingat. Reynard tidak pernah lupa. Satu hari pun tidak.
Sekarang, di kota yang sama, takdir mempertemukan mereka lagi. Tapi kali ini, bukan cuma masa lalu yang mengejar — ada rahasia kelahiran yang ditukar, keluarga konglomerat yang kehilangan putri mereka dua puluh tiga tahun lalu, dan seorang wanita yang akan membalas setiap orang yang pernah menginjak harga dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Jebakan

Citra sedang di ruang make up Citra TV ketika Nolan menelepon.

Biasanya, Nolan tidak menelepon pagi-pagi. Ia lebih suka mengirim voice note panjang, setengah mengeluh, setengah bercanda. Jadi ketika nama Nol muncul di layar, Citra langsung merasa ada yang salah.

"Ci."

Satu suku kata itu cukup.

"Kamu di mana?"

"Bar Janji." Suara Nolan serak. "Mereka menutup sementara izinnya."

Citra berdiri begitu cepat sampai kursi make up bergeser.

"Apa?"

"Aku dituduh menggelapkan dana operasional. Partnerku bilang ada dokumen transfer. Ada tanda tanganku. Ci, aku tidak melakukan itu."

Di kaca, wajah Citra berubah.

Penata rambut di belakangnya berhenti.

"Aku ke sana setelah siaran," kata Citra.

"Tanda tangannya mirip banget." Nolan tertawa pendek, panik. "Aku sendiri hampir percaya kalau bukan aku yang tahu aku tidak sebodoh itu."

"Nol, dengar aku. Jangan tanda tangan apa pun lagi. Jangan bicara tanpa pengacara. Kirim semua dokumen ke aku."

"Ci..."

"Aku percaya kamu."

Di seberang, Nolan diam.

Lalu napasnya pecah sedikit. "Makasih."

"Aku takut kehilangan bar ini," katanya setelah jeda. "Kedengarannya bodoh, ya? Orang lain kehilangan rumah, keluarga, hidup. Aku panik cuma karena bar."

"Bar Janji bukan cuma bar buat kamu."

Nolan tertawa serak. "Kamu selalu membuat kalimatku terdengar lebih bermartabat."

"Karena kamu sedang kacau dan tetap butuh martabat."

"Ci."

"Aku datang."

Citra menutup telepon dan kembali duduk di kursi. Lampu make up masih terang. Rundown acara pagi itu terbuka di pangkuannya. Ia punya sepuluh menit sebelum masuk studio.

Ia menatap dirinya di cermin.

Presenter harus tenang.

Teman boleh marah nanti.

Satu jam berikutnya, Citra membaca berita ekonomi dengan suara stabil. Ia tersenyum ke kamera. Ia mengoreksi narasumber yang salah menyebut data inflasi. Tidak ada penonton yang tahu bahwa di bawah meja, jarinya menggenggam pulpen terlalu keras sampai buku jari memutih.

Selesai siaran, ia langsung ke Bar Janji.

Bar itu masih tutup. Lampu sebagian mati. Nolan duduk di salah satu meja, rambutnya berantakan, mata merah, di depannya ada tumpukan fotokopi dokumen dan satu cangkir kopi yang tidak disentuh.

"Pengacara?" tanya Citra.

"Dalam perjalanan."

"Dokumennya?"

Nolan mendorong map ke arahnya.

Citra membuka halaman pertama. Ada laporan pengeluaran, bukti transfer, tanda tangan Nolan di beberapa lembar persetujuan. Sepintas, semuanya rapi.

Terlalu rapi.

Pengacara datang setengah jam kemudian, perempuan tegas bernama Bu Ratna. Ia memeriksa dokumen dengan kaca pembesar kecil dan memotret beberapa bagian.

"Tanda tangan ini bagus," katanya.

Nolan pucat.

"Tapi stempelnya salah."

Citra menoleh cepat. "Salah?"

"Nolan biasa pakai tinta stempel biru tua dari merek tertentu. Ini birunya berbeda, lebih muda. Tekanan cap juga tidak konsisten. Siapa pun yang membuat ini punya akses contoh tanda tangan, tapi tidak tahu kebiasaan administrasi kecil di bar."

Nolan menutup wajah dengan kedua tangan.

Bu Ratna membalik halaman lain. "Transfernya juga cerdas. Nominalnya tidak terlalu besar untuk memicu audit otomatis, tapi cukup sering untuk terlihat seperti pola. Ini bukan jebakan yang dibuat orang panik."

"Maksudnya?"

"Maksud saya, orang ini mempelajari sistem bar kamu sebelum bergerak."

Nolan menurunkan tangan. Wajahnya lebih pucat daripada tadi. "Siapa yang sebegitu niatnya menghancurkan aku?"

Citra tidak menjawab.

Di kepalanya, wajah Lianna muncul dengan senyum siap sebelum mata mereka bertemu.

Nolan berdiri tiba-tiba, berjalan ke bar, lalu berhenti di depan rak botol yang ditutup kain. Bar Janji biasanya hidup pada jam seperti ini. Musik pelan, gelas beradu, Nolan berteriak dari belakang meja sambil menggoda pelanggan tetap. Sekarang ruangan itu diam seperti seseorang menahan napas.

"Tempat ini satu-satunya hal yang benar-benar kubangun sendiri," katanya.

Citra berdiri di sampingnya.

"Kita akan buka lagi."

"Kamu yakin?"

"Tidak sepenuhnya. Tapi aku akan bertindak seperti yakin sampai buktinya menyusul."

Nolan menoleh. Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya muncul sedikit. "Itu kalimat paling Citra yang pernah ada."

Citra membalas senyum itu, tetapi di dalam dirinya ada kemarahan yang tumbuh lebih gelap.

Jika Lianna memang menyentuh Nolan, berarti ia tidak hanya menyerang Citra. Ia menyerang orang-orang yang menjadi tempat Citra tetap waras.

Itu bukan kecemburuan.

Itu pengepungan.

"Ada yang masuk kantormu dua minggu terakhir?" tanya Citra.

"Banyak. Supplier, vendor, partner. Tapi..." Nolan mengangkat wajah. "Ada satu perempuan. Ngaku dari distributor minuman baru. Dia minta lihat storage dan kantor karena mau kasih penawaran kontrak."

"Nama?"

"Aku lupa. Dia pakai kartu nama. Mungkin masih ada di laci."

Citra berjalan ke kantor kecil di belakang bar. Meja Nolan berantakan seperti biasa, tetapi laci kartu nama cukup rapi. Ia menemukan beberapa kartu. Satu kosong dari logo besar, hanya nama perusahaan distribusi generik dan nomor ponsel.

Nomor itu tidak terdaftar di aplikasi pencarian.

Citra memotretnya.

Di tempat lain, di kamar yang tirainya tertutup rapat, Lianna duduk dengan laptop terbuka.

Di layar, profil media sosial Nolan Santoso terbuka. Foto Bar Janji. Foto Citra dan Nolan saat ulang tahun. Komentar-komentar lama yang menunjukkan kedekatan mereka. Lianna menggulir perlahan, wajahnya tenang.

Nolan adalah tempat Citra bicara ketika ia tidak ingin terlihat lemah.

Jika tempat itu goyah, Citra akan menyimpan lebih banyak hal sendiri.

Orang yang menyimpan terlalu banyak hal sendiri akan lebih mudah salah membaca arah.

Lianna menutup profil itu, lalu membuka folder lain. Ada foto tanda tangan Nolan, hasil scan dokumen lama, dan catatan kecil tentang kebiasaan administrasi Bar Janji.

Ia menyentuh perutnya sekilas ketika bayi bergerak.

"Sebentar lagi," bisiknya.

Tidak jelas kepada siapa.

Di meja samping laptop ada gelas susu hangat yang mulai dingin dan buku catatan kecil. Di halaman terbuka, nama-nama ditulis dalam kolom.

Citra.

Rey.

Nolan.

Rafael.

Jessica.

Di samping setiap nama ada titik lemah. Untuk Nolan, Lianna menulis satu kata: loyal.

Orang yang loyal mudah dijadikan sandera oleh reputasi orang yang ia sayangi.

Lianna menutup buku itu ketika suara langkah terdengar di luar kamar. Dalam satu tarikan napas, wajahnya kembali menjadi wajah perempuan hamil yang lelah dan lembut.

Ketika pintu terbuka, ia sudah tersenyum.

Rafael masuk dengan wajah kusut. Ia bertanya apakah Lianna sudah makan, tetapi matanya tidak benar-benar melihat. Ponselnya terus bergetar di saku. Lianna memperhatikan cara tangannya bergerak ke sana setiap beberapa menit.

Klub Nightfall sudah mulai bekerja pada Rafael.

Utang membuat laki-laki yang merasa bersalah menjadi lebih mudah diarahkan.

"Kamu capek?" tanya Lianna lembut.

Rafael mengangguk.

"Tidur saja. Aku baik-baik saja."

Ia mengatakannya seperti istri yang pengertian.

Padahal di kepalanya, semua bidak sudah bergerak.

Malam itu, Citra kembali ke Villa 9 dengan kepala penuh garis merah.

Di perjalanan, ia berhenti di lampu merah dan baru sadar tangannya masih mencengkeram setir seperti memegang ranting di Lembang. Musuh kali ini tidak punya gigi, tidak punya bulu cokelat, tidak melompat dari kabut. Justru karena itu lebih buruk. Ajag setidaknya menyerang dari depan.

Orang yang menyerang Nolan hari ini memakai dokumen, stempel, dan senyum orang tak dikenal.

Lebih sulit dilawan.

Rey masih di Menara BJ, katanya ada rapat sampai larut. Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, Citra merasa Villa 9 terlalu luas tanpa suara halaman buku Rey.

Ia duduk di ruang kerja dan menempel catatan di papan kecil. Lianna. Melbourne. Sydney. Mobil hitam. Klub Nightfall. Rafael. Nolan. Dokumen palsu.

Semua garis mengarah ke arah yang sama, tetapi belum ada satu pun bukti yang bisa ia pakai untuk menunjuk.

Itu yang membuatnya marah.

Citra bisa melawan hinaan. Bisa melawan pengkhianatan. Bisa melawan serigala di kabut.

Tetapi melawan seseorang yang selalu berdiri setengah langkah di luar cahaya jauh lebih melelahkan.

Ia menulis ulang kronologi dari awal.

Lianna muncul bersama Rafael dalam keadaan hamil.

Lianna punya riwayat Melbourne yang tidak bersih.

Lianna naik mobil hitam yang tidak pernah jelas pemiliknya.

Lianna memberi informasi tentang Klub Nightfall, seolah membantu, tetapi justru mengarahkan Citra ke jalur yang ia pilih sendiri.

Sekarang Nolan, orang yang paling sering menjadi tempat Citra bernapas, diserang lewat dokumen yang terlalu rapi.

Tidak ada bukti.

Tetapi pola mulai terlihat.

Citra menatap papan itu sampai matanya panas. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa tidak cukup cepat. Tidak cukup dekat. Tidak cukup pintar untuk menangkap tangan yang sedang menggeser hidupnya dari balik layar.

Perasaan itu asing.

Dan ia membencinya.

Ia membuka folder lama Bab 18, tempat ia menyimpan tangkapan layar daftar teman Facebook Lianna. Ada satu nama yang dulu ia tandai, tetapi belum ia cari.

Nama itu dulu ia abaikan karena tampak terlalu biasa. Tidak ada foto profil jelas, tidak ada unggahan publik, hanya akun lama yang hampir kosong. Tetapi setelah Nolan jatuh, hal-hal kosong justru terasa paling berbahaya. Orang yang terlalu bersih sering menyimpan sesuatu di tempat lain.

Namanya sederhana.

Tidak menonjol.

Citra mengetiknya di mesin pencari.

Hasil pertama muncul.

Berita kriminal lama.

Foto buram garis polisi.

Jenazah laki-laki ditemukan di waduk, polisi menduga pembunuhan.

Citra membaca baris pertama.

Tangannya menjadi dingin.

Nama di daftar teman Lianna itu milik seseorang yang sudah mati.

Seseorang yang kematiannya tidak pernah benar-benar selesai.

1
partini
pembunuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!