NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Masih Hidup

Tiga hari berlalu, Alena tidak tahu dia ada di mana. Begitu ia bangun, hari sudah berganti dan menemukan dirinya di atas ranjang empuk yang begitu mewah.

Layaknya ranjang yang ia tiduri, dekorasi kamar yang begitu luas itu juga sangat memanjakan mata, Alena bahkan beberapa kali berdecak kagum, tapi sayang tidak ada satu foto pun yang ada di sana untuk memberi tahu di mana dan siapa pemilik kamar itu.

Setelah tiga hari, ia hanya mendekam di kamar karena ia memang tidak bisa ke luar. Pintunya didesain khusus dan hanya bisa dibuka oleh orang tertentu saja. Dan selama tiga hari itu juga, Alena hanya bertemu dengan seorang pelayan yang datang mengantar makanannya pada pagi, siang, dan sore hari serta seorang dokter yang memeriksa lukanya setiap hari.

Alena mencoba bertanya pada pelayan tersebut, tapi hasilnya nihil. Pelayan itu memilih untuk bungkam. Akhirnya Alena memutuskan untuk menunggu.

Melihat keselamatan dan kesehatannya begitu diperhatikan, sepertinya ia tidak perlu terlalu khawatir. Dan, ia juga mengingat dengan jelas bahwa Pax yang dianggapnya Pollux datang menyelamatkannya.

Alena memutuskan untuk mandi setelah memakan sebagian sarapannya. Ia berendam dalam air hangat yang disediakan, meletakkan tangan kirinya di tempat yang tidak terkena oleh cipratan air. Lukanya belum kering secara sempurna.

Tok. Tok

Terdengar ketukan dari luar kamar mandi.

"Aku bisa sendiri. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan sesuatu," sahut Alena yang masih merasa enggan untuk beranjak.

Ya, setiap ia mandi, pelayan yang mengantarkan makanan untuknya juga pasti selalu membantunya menggosok punggung dan mengenakan pakaiannya. Awalnya ia merasa risih, tapi ternyata ia memang tidak bisa melakukannya sendiri.

Lima menit kemudian, Alena pun berdiri, berjalan menuju shower dan membersihkan tubuhnya seadanya.

"Jubahnya tidak ada," gumam Alena begitu melihat hanya ada handuk, ia pun menarik handuk tersebut dan menutupi bagian depan tubuhnya, ia tidak bisa melilitkannya.

"Aku tidak menemukan jubah..." ucapan Alena terhenti begitu juga dengan langkahnya yang sudah berada di ambang pintu. Ia mengerjapkan mata beberapa kali melihat sosok yang duduk di atas ranjang, yang juga sedang menoleh ke arahnya.

Sama seperti Alena, Pax juga mengerjapkan mata berulang kali.

"Kenapa kau ada di sini,,," Alena melayangkan tatapan ke segala sudut ruangan lalu menunduk untuk memastikan penampilannya.

Handuk putih bersih itu sangat kontras dengan kulitnya, dan sialnya hanya bisa menutupi setengah pahanya, belum lagi bagian tubuhnya yang lain terlihat karena tidak tertutup secara sempurna.

Alena merasa malu seketika, ingin rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi. Alena mundur dan masuk kembali ke dalam toilet.

Pax kembali mendapatkan nyawanya. Untuk beberapa detik ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Ia menarik napas panjang, menetralisir degupan jantungnya melihat pemandangan indah yang begitu sangat eksotis. Ia merasakan gelanyar aneh di sekujur tubuhnya. Panas dingin tak menentu.

Berhasil menenangkan dirinya, ia pun berdiri, berjalan menuju pintu toilet.

"Alena," panggilnya dengan mengetuk pintu toilet.

"Ambilkan bajuku," seru Alena dari balik pintu. "Jangan!" cegah Alena dengan segera begitu mengingat pasti ada pakaian dalamnya di sana. Melihat dirinya setengah telanjang sudah cukup memalukan dan ia tidak ingin mempertontonkan apa yang akan ia kenakan di dalam tubuhnya.

Jangan mempermalukan diri sampai dua kali di hadapan orang yang sama.

"Panggilkan orang yang biasa membantuku, dan kenapa kau masuk tanpa permisi ke kamar seorang wanita!" Alena juga kesal dengan kelancangan pria itu.

"Ini kamarku," sahut Pax lempeng.

Alena berdecis kesal. "Sekalipun ini kamarmu, bukan berarti kau bisa masuk seenaknya. Itu namanya tidak punya sopan santun. Di negaraku kau bisa dituntut karena sudah mengintip dan melecehkanku,"

"Astaga, apa yang dikatakan wanita ini," Pax menggelengkan kepalanya. Ia pun beranjak ke luar kamar, memanggilkan pelayan untuk membantu Alena.

Pax menunggu di luar kamar sampai pelayan yang membantu Alena ke luar dari dalam kamar.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya terlihat santai.

Melihat sikap Pax, Alena yang tadinya merasa canggung, menjadi tenang.

"Aku masih hidup, dan terima kasih untuk pertolonganmu," Alena menyunggingkan senyum samar.

Ada apa dengan diriku, kenapa hawanya terasa berbeda. Beberapa hari yang lalu aku bisa bersikap santai dan tenang saat berbicara dengannya. Tapi kenapa hari ini aku merasa terancam. Aura pria ini terlihat berbeda. Alena bertanya-tanya dalam hatinya.

Pax menganggukkan kepalanya, ia pun menarik kursi dan duduk di hadapan Alena yang duduk di atas ranjang. Pax menyilangkan kakinya, bersedekap dan memperhatikan Alena secara terang-terangan.

Alena merasa kikuk, dan tidak nyaman di tempatnya. Mendadak ia merasa ranjang yang begitu nyaman itu dipenuhi duri yang menusuk-nusuk bokongnya.

Pax menikmati kekikukan yang ditunjukkan Alena. Kemana keangkuhan wanita ini menghilang? Batinnya, merasa geli melihat tingkah Alena yang tidak berani menatapnya.

"Apa kau yakin hanya berutang terima kasih padaku?" pertanyaan Pax membuat Alena menoleh ke arahnya dengan dahi mengernyit bingung.

"Kau melukaiku, jika kau lupa," jelas Pax.

"Oh, maafkan aku untuk bahumu. Apakah lukanya sangat parah?" Alena merasa bersalah seketika.

"Luka di bahuku memang cukup serius walau tak sempat terkena rabies, tapi luka di selangkaanganku..." Pax sengaja menggantung ucapannya untuk melihat reaksi Alena. Alih-alih menemukan rasa bersalah di wajah Alena, Pax justru melihat Alena semakin bingung.

"Hari itu kau terlihat baik-baik saja saat aku bertanya. Kau memang mengatakan belum memeriksanya, tapi sepertinya kau memang tidak butuh pemeriksaan. Dan bukankah aku juga sudah meminta maaf untuk hal itu."

Dan kali ini Pax juga ikut terlihat bingung, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Alena. "Terkadang aku bingung apa yang sedang dikatakannya," Pax bergumam pelan.

Alena masih bisa mendengar dengan jelas. "Baiklah, demi kesopanan yang kujunjung tinggi, sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu, dan maafkan aku untuk luka di bahumu dan juga untuk seranganku hari itu."

Pax menganggukkan kepalanya, "Maaf diterima. Jadi jelaskan padaku, siapa kau?" Pax memasang tampang serius, berubah 360 derajat dalam hitungan detik. Alena bahkan terkesiap, bagaimana seseorang bisa merubah mimiknya begitu cepat.

Tadi pria itu terlihat santai dan menjengkelkan dalam satu waktu, dan sekarang pria itu terlihat seperti pemburu, yang siap menerkam lawannya.

"Alena."

Pax bergeming, tidak menunjukkan reaksi selain tatapan penuh intimidasi.

"Namaku Alena, kau tahu itu," pungkas Alena dengan wajah lugu.

"Lalu kenapa kau mendapat luka tembak. Apa yang sudah kau lakukan?"

"Aku tidak tahu. Aku sedang berjalan-jalan, menikmati negaramu yang indah ini. Sebuah mobil tiba-tiba mengagetkanku. Tadinya aku mengira dia mengundangku untuk beradu kecepatan. Undangannya kusambut, tapi ternyata dia tidak sendiri. Ada satu buah mobil lagi. Dan seperti yang kau lihat, aku mendapatkan tanda cinta." jelas Alena, tanpa menjelaskan dari mana ia sebelumnya.

"Omong-omong, terima kasih juga sudah membiarkanku menginap di rumahmu. Dan masalah biaya pengobatan, aku akan menggantinya. Bisa kah kau tunjukkan jalan ke luar, aku mau ke kantor polisi untuk membuat laporan. Warga negara asing juga butuh perlindungan, bukan?" Alena berdiri, dan beringsut dari hadapan Pax yang hanya menatapnya lekat tanpa berkomentar dan itu membuat Alena tidak nyaman.

Pax akhirnya berdiri dari kursinya, seperti permintaan Alena, ia pun menunjukkan jalan ke luar.

"Jadi ini sungguh rumahmu?" tanya Alena begitu mereka sudah sampai di halaman.

"Hm."

"Rumahmu yang lain terlihat tidak hidup, tapi rumah yang ini terlihat penuh misteri," Alena mengedarkan pandangannya. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan. Dan hanya rumah Pax, satu-satunya bangunan yang ada di sana.

Pax menukik alisnya, "Rumah yang lain? Kau tahu rumahku yang lain?"

"Ya, sepertinya dia memiliki kesenjangan melupakan apa yang sudah terjadi," gumam Alena dalam bahasa yang tidak dimengerti Pax.

"Naiklah," Perintah Pax menunjuk sebuah heli yang terparkir. Bola mata Alena membelalak seketika.

"Aku tidak ingin orang lain mengetahui wilayahku." Pax bergidik santai. "Mereka akan mengantarmu," Pax berbalik dan meninggalkan Alena yang masih terkejut. Heli? astaga, bahkan jika ia diantar memakai mobil, ia tidak mungkin menghafal jalanan di tengah hutan seperti ini, dan tak mungkin juga ia akan berkunjung kembali.

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!