Pemberontakan atas perjodohan orang tua, membuat Shena Az Zahra nekat mengajak pria asing untuk menikah. Pernikahan itu terjadi tepat di hari pertemuan pertama karena insiden kecelakaan.
Danish Anderson yang menjadi harapan kilat, justru mengempaskan impian gadis itu. Niat hati melarikan diri, tetapi berakhir terjebak dalam pernikahan aliansi.
Duka itu bukan saat kehilangan orang terkasih, tetapi ketika kepercayaan yang mengetuk hati hancur sebelum dimulai. Kenyataan dalam selimut kepalsuan di setiap hubungan dengan tarik ulur kesalahpahaman.
Apakah pernikahan kilat Shena dan Danish bisa bertahan? Simak kisah cinta keduanya hanya di Aku Bukan Perebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Emosi
Apa itu sebuah ancaman atau sebuah pernyataan? Shena tidak menggertak karena saat ini. Dia tidak bisa menunggu lagi. Apapun yang telah terpatri di dalam memorinya. Semua harus mendapatkan penjelasan. Mama Melati dan Papa William saling pandang. Terlihat pasutri itu merasa dilema.
"Nak, sebenarnya ….,"
Papa William siap untuk menjelaskan, tetapi tiba-tiba Mama Melati jatuh tak sadarkan diri. Shena langsung melompati meja, bahkan tidak peduli dengan tatapan terkejut Danish dan Mama Quinara. Gadis itu langsung memeriksa keadaan mamanya, sedangkan Sang Papa bergegas mengambil obat khusus yang biasa diminum istrinya.
Danish berusaha membantu, tapi justru ditolak mentah-mentah dengan tatapan mata tajam Shena. Meski begitu, pria itu tidak peduli karena saat ini yang menjadi kekhawatirannya adalah kesehatan sang Mama mertua. Ditengah usaha keluarga untuk mengembalikan kesadaran Mama Melati.
Pria yang dituduh melakukan pelecehan melipir meninggalkan ruang tamu. Pria itu pergi menuju dapur, ntah melakukan apa. Setelah beberapa menit, dia kembali muncul dengan membawa sebuah mangkuk kaca yang berisi air panas. Lihat saja asap putih yang mengepul itu.
"Minggir. Aku akan bantu menyadarkan Melati." tukasnya mengusir semua orang, sayangnya Shena justru menghalangi niat darinya dengan tatapan setajam belati. "Apa kamu curiga pada ayahmu sendiri?"
Ayah? Satu kata itu seperti bintang jatuh di depannya. Bagaimana seorang pria asing, tiba-tiba mengaku menjadi ayahnya. Ketika Papa William saja masih hidup, bahkan sehat wal afiat. Tubuh di depannya seperti preman jalanan dengan tampang sangar. Meski kekuatan pria itu terlihat cukup kuat.
Shena menoleh ke arah Papa William, tapi yang ditatap malah menundukkan kepala. Sudah jelas ada yang tidak beres. Apalagi pria yang terbiasa menatap ke arah lawan bicara, hari ini terus menunduk menjelaskan bahwa ia bersalah. Melihat situasi yang ada, Shena kembali menatap pria yang mengaku menjadi ayahnya.
Shena melepaskan tangan dari wajah pucat Mama Melati. Dia juga menyingkirkan Danish agar tidak menghentikannya, apalagi mencoba untuk ikut campur urusannya. Kemudian, ditatapnya pria yang membawa mangkuk kaca berisi air panas.
Pertemuan dua netra yang memiliki warna mata sama. Tatapan itu mengubah suara detakan jarum jam. Seakan di ruangan itu hanya ada mereka berdua saja. Shena menahan nafas, tanpa memutuskan tatapan mata tajamnya. "Coba ulangi."
"Kamu adalah putriku dan Melati mantan istriku. Shena, keluarga yang kamu anggap sebagai pusat kebahagiaan. Kedua lawan jenis ini, tidak memiliki hak untuk merenggutmu dariku. Aku adalah ayah kandung yang tidak bisa menjadi ayah nyata mu."
Setiap kata yang didengarnya begitu jelas seperti suara klakson mobil di tengah hutan. Tubuh Shena terhuyung ke belakang dan Danish langsung memegangi agar tidak jatuh. Sorot mata penuh kemarahan berubah sendu dengan bibir terkunci rapat. Istrinya shock luar biasa.
Namun, gadis itu masih tetap mendengarkan penjelasan dari pria yang mengaku menjadi ayah kandungnya. Entah benar atau tidak. Hatinya berdenyut miris, jika mungkin ingin menghilang dari dunia ini. Sesakit inikah? Kenyataan yang begitu pahit.
Papa William menghela nafas panjang, lalu mencoba meraih tangan Shena. Gadis yang ia besarkan dengan segenap cinta. Tatapan mata sang putri jelas ingin mendapatkan penolakan. Setidaknya ingin mendengar, jika semua yang dikatakan preman itu hanyalah omong kosong.
Danish yang merasa harus bertindak. Nyatanya masih terdiam, pria itu tidak tahu jika kehidupan Shena akan berputar seperti rollercoaster. "SheZa." bisiknya mencoba untuk memberi ketenangan serta mencoba mengembalikan kesadaran gadis itu.
Shena berubah menjadi bisu, dan telinganya membeku. Tidak ada yang bisa menjelaskan, siapa dia sebenarnya. Papa William yang bersiap untuk mengungkapkan masa lalu, seketika tertegun. Tangannya ditepis Shena. Gadis itu berlari meninggalkan ruang tamu hingga suara langkah kaki membuyarkan keheningan.
"Nak, kejar Shena. Dia butuh seseorang untuk duduk bersamanya. Jangan katakan apapun, tapi cukup temani putri ku saja." pinta Papa William menatap Danish memelas, membuat sang menantu mengangguk. Kemudian menyusul pergi untuk melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
Kepergian Danish mengubah suasana ruang tamu semakin membatu. Tetapi hanya sesaat hingga pintu kamar Shena tertutup. Papa William menatap ayah kandung dari putrinya. Tatapan tegas dengan alis berkedut, "Apa kamu puas, Hah! Shena seharusnya tidak tahu, tapi berkat kegilaanmu. Hidup putriku tenggelam dalam kepedihan."
"Hey! Aku tidak peduli dengan mu karena yang ku mau cuma Shena ...,"
Shena bukan hanya putrinya, tapi juga kebangangan rumah ini. Tidak seorangpun boleh menodai, apalagi mengucapkan nama sang putri dengan seenak jidat. Papa William langsung menampar Bastian. Memang benar, pria itu adalah ayah kandung. Namun bukan berarti, berhak untuk merebut anak yang dibesarkan sepenuh cinta.
Suara tamparan yang menggema di ruang tamu, membuat Mama Quinara tercengang. Seorang William terkenal akan sifat lembut dan penyayang. Hari ini, dia melihat amarah pria itu membuncah karena demi melindungi nama gadis yang menjadi bagian hidup keluarga William. Sementara di lantai atas, Shena masuk ke kamar mandi mengisi bath up.
Gadis itu, berusaha merendam tubuhnya hanya untuk meredam semua emosinya. Di dalam hati dan pikiran hanya ada berjuta tarian pertanyaan. Benarkah semua yang dia dengar? Apakah mungkin keluarga yang penuh cinta, memiliki rahasia sebesar itu? Masih banyak lagi pertanyaan, namun tak ingin mencari jawabannya.
Aku tidak tahu harus apa. Melihatmu terluka, hatiku terasa sesak. Ingin sekali menjadi saudaramu, tapi kamu sendiri membangun benteng yang begitu tinggi.~ucap hati Danish yang berdiri di depan pintu menatap ke dalam bath up, dimana istrinya menenggelamkan diri.