Bagaimana perasaanmu saat pulang dari perantauan karena dikabari kalau Papa meninggal, dan saat sampai mendapati kalau Sang Papa memiliki istri muda tanpa sepengetahuanmu?
Yang lebih mencengangkan, Si Istri Muda, adalah wanita dari masa lalumu. Saat itu, di sebuah club, dalam keadaan frustasi, dan dalam kondisi 'panas'.
Apakah kondisi keluarga seperti ini sehat? Saat akan tinggal serumah dengan si Ibu Tiri yang usianya 5 tahun lebih muda, seksi, dan dirimu tahu bagaimana wujudnya di balik pakaiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Begitulah
Ruby bilang kamu sakit, tapi saya tidak yakin. Kenapa kamu tidak masuk sekolah?
Sebuah kalimat dari Bu Guru Erica, membuat Romeo menyeringai.
“Duh,” ia pun mengelus dadanya yang berdebar.
Wanita pujaan hatinya mengiriminya pesan singkat, japri pula.
Apa coba namanya kalau bukan lampu hijau.
Dalam hati Romeo ingin segera dewasa, supaya gerakannya tidak terbatas.
Ia menutup buku mengenai pertumbuhan ekonomi negara, lalu mulai sibuk dengan ponselnya.
Romeo pun mengirimi 1 kata. Icon senyum.
Lalu menunggu beberapa saat.
Kenapa senyum-senyum?
Begitu balasan Bu Guru Erica.
Romeo mendongak menatap jam dinding. Pukul 22.
Duo rusuh belum pulang dari rumah sakit, jadi ia sedikit bebas untuk Video Call.
“Romeo,” terlihat Erica dengan gaun malamnya yang berwarna pink dari satin. Ia juga mengenakan kimono transparant untuk menutupi gaun tidurnya yang seksi.
"Bu Erica," sapa Romeo sambil tersenyum. "Coba mundur sedikit bu, saya melihat sesuatu di belakang sana,"
"Hah?" Bu Erica menoleh ke arah belakang, lalu dengan mengernyit dia menatap Romeo karena tak mengerti.
"Coba mundur dulu, hape taro di dudukan," kata Romeo sekali lagi.
"Ada apa sih?!" Bu Erica mundur selangkah.
"Lagi, mundur lagi,"
"Ya?" Bu Erica mundur lagi dua langkah.
"Stop disitu,"
"Kenapa?" tanya Bu Erica.
Kini layar ponselnya menampakkan seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki.
"Hm," gumam Romeo sambil menyangga dagunya dengan tangan, ia tersenyum menatap penampilan Bu Erica, "Ibu cantik,"
Bu Erica langsung 'Ha...h!' Mendengus malas dan maju sambil menyambar ponselnya. "Kamu ini belajar dari mana sih kata-kata begitu?"
"Hehe, dari lubuk hati yang paling dalam,"
Bu Erica mengernyit sambil menatap Romeo, "kelihatannya kamu baik-baik saja. Nggak sakit,"
"Sakit hati, Iya,"
"Romeo, ingat kesepakatan kita,"
"Saya nggak pernah bilang kalau saya sepakat,"
Bu Erica menatap Romeo dengan sayu. Dalam hatinya ia berujar, percuma saja berdebat dengan anak yang IQnya mengalahkan Einstein. Romeo bahkan bisa menyelesaikan rubik dalam 10 detik.
Dan biasanya anak dengan kemampuan seperti itu, egonya ada di level atas.
"Saya suka orang lain," akhirnya kartu AS Bu Erica dikeluarkan.
Kata-kata ini memang akan dikeluarkannya kalai Romeo masih bandel cinta-cintaan. Apalagi ini sampai bolos sekolah.
Ya memang selama ini Romeo belum pernah izin tidak masuk. Tapi sekalinya izin, rasanya konyol kalau alasannya adalah 'patah hati'. Karena tidak wajar bagi anak seusia Romeo untuk merasa patah hati.
Tapi semua yang di diri Romeo tidaklah wajar, bukan?!
Mendengar pernyataan dari Bu Erica, Romeo mengangkat alisnya.
"Paling sama Om Randy," cetusnya.
Membuat Bu Erica mencibir. Kenapa langsung tepat sasaran sih?!
"Nggak ada yang nggak suka sama tampang dan postur seperti Raja Diraja begitu, bu... Tapi Bu Erica nggak sendiri, saingannya banyak," ini diucapkan Romeo hanya asal spekulasi untuk menjatuhkan mental Bu Erica.
Kenyataannya sih dia tidak tahu.
Grakk!!
Jderr!!
Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup paksa.
Membuat Romeo menoleh dengan waspada ke arah pintu kamarnya.
"Romeo? Suara apa itu?!" Bahkan Bu Erica dari seberang sana mendengarnya.
"Em... Nggak tau bu," Romeo mengambil tongkat baseball dari besi di atas lemarinya, lalu berjalan mengendap-endap ke arah pintu dengan waspada.
"bu, tolong jangan diputus VCnya, kalau ada apa-apa saya minta tolong hubungi polisi," gumam Romeo dengan suara pelan.
Tapi hal itu malah membuat Bu Erica gagal fokus.
Karena...
Romeo dalam keadaan waspada, ternyata ganteng banget.
Dia tampak lebih dewasa dengan alis mengerut dan tatapan mata tajam.
Apalagi dia bersiaga dengan tongkat baseball, gerakannya terstruktur seakan siap menyerang siapa pun makhluk mencurigakan di luar sana.
"Wow," gumam Bu Erica tanpa sadar. "Anuu... Romeo,"
"Hm?" Romeo perlahan menempelkan pipinya ke pintu, berusaha mendengar lebih jelas yang terjadi di luar kamarnya.
"Itu topi penyihirnya dibuka dulu. Terus kenapa kamu pake rok?"
Romeo menatap ke arah Bu Erica sambil bilang “Kostum Halloween,” padahal dia lupa lepas habis live Tiktok.
Romeo mengarahkan kamera ponselnya ke arah sela-sela dan membuka pintunya perlahan.
Terdengar bisik-bisik dari arah luar kamarnya.
“Romeo gimana? Eumh...” suara wanita.
“Udah tidur kayaknya ini udah jam 10,” suara pria disertai pekikan tertahan. “Astaga enak banget, sayang... udah lama aku nggak- ooh,”
“Di kamar, kita ke kamar aja,” d3sah si wanita.
“Selesaiin yang di sini dulu, tanggung!” geram si pria.
Membuat Romeo dan Bu Erica membulatkan matanya.
Karena penasaran, Romeo berjalan perlahan keluar dan mendapati Ruby dan Randy sedang...
“Romeo, masuk kamar dan pakai headset,” perintah Bu Erica cepat.
“Yaa~h...” keluh Romeo.
**
Apa sih yang terjadi sebenarnya?
Mari kita kembali ke setengah jam yang lalu...
"Lo balik duluan aja Boss, gue nunggu Alan di sini sampe dia sadar," kata Ruby sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi ruang tunggu.
"Lo nggak ada kepentingan BuTir,"
"Tapi misi gue kan ngegodain Alan,"
"Ya udah terlaksana tuh, Victoria udah digeret pulang bapaknya. Lo liat nggak tadi mukanya Om Joseph merah gitu nahan marah. Hehe lucu,"
"Hem... Tetap aja kayak nggak tuntas tugas gue," Ruby tampang ngedumel sendiri sambil menopang dagunya.
Randy memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berdiri bersandar ke dinding. Tatapannya sinis ke arah Ruby, "Bilang aja lo ada hasrat terpendam ke Alan,"
"Nggak kok," Ruby membuang muka.
"Masa?!"
"Nggak salah," tambah Ruby.
"Kenapa pada suka sama Alan sih?! Padahal di sini ada yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih berkuasa, lebih berpengalaman, lebih tinggi,"
"Lebih tinggi... Kesombonganya? Kadang berlebihan itu tidak baik,"
"Spik lo tingkat dewa," desis Randy sambil mencibir.
"Gue emang mantan penghuni Olympus yang terhempas karena semua iri dengan kecantikan gue,"
"Ngayal terooos," desis Randy. "Pulang yuk,"
"Pulang sendiri aja, tinggalin kunci mobilnya di gue,"
"Ogah, mobilnya punya gue," Randy menjulurkan lidahnya.
"Tega lo,"
"Ya makanya ayo pulang bareng sini! Bentar lagi emaknya Alan dateng, jadi lo nggak perlu ada di sini! Lagian semua biaya perawatan udah gue talangin dulu," Randy mengulurkan tangannya ke Ruby.
Ruby menatapnya dengan ragu. Bergantian antara mata Randy dengan tangannya yang besar terulur padanya.
Wanita itu akhirnya berpikir.
Walau pun kemungkinan besar pertengkaran Alan dan Victoria adalah karena dirinya, namun Randy benar, tidak ada gunanya ia di sini menunggui Alan.
Akhirnya ia meraih tangan Randy dan menggenggamnya.
Lalu tersenyum.
Tangan Randy besar dan hangat.
Sudah lama sekali ia tidak disentuh pria seintim ini. Gandengan tangan Randy terasa nyaman.
Membuatnya ingin merapatkan tubuhnya dan menggantungkan hidupnya.
"Hey, lo tau nggak kalo Papa bukan bokap kandung gue?" tanya Randy.
"Iya gue tau, gue nemu KK di gudang atas. Om Raymond nikahin kakak iparnya ya,"
"Iya. Bisa dibilang gue ini keponakannya,"
"Itu sebabnya Pak Jamal bilang kalo masalah warisan ini bakalan bikin seluruh keluarga lo meradang?"
"Iya. Lo udah mentakel semua porsi,"
"Hem, mungkin sebenarnya itulah tujuan gue ada di sini," Ruby menyandarkan kepalanya di lengan Randy sambil mereka berjalan perlahan ke arah parkiran.
"Nyokap meninggal pas gue 15 tahun, sejak itu tingkah Papa jadi aneh. Mulai terobsesi kekayaan dan temenan sama politikus. Jadi tim sukses ini lah, jadi pengurus partai itu lah, ada aja tingkahnya,"
"Hem, kebaca kan, kenapa gue ada di sini?!"
"Dia kayaknya nggak mau bagi-bagi warisan ke keluarga besar. Habis semua nentang dia naik ranjang, masih dendam kayaknya,"
"Kalo lo gimana?"
"Gimana apa?"
"Ada niat menjalin hubungan dengan si ibu tiri?!"
Randy berhenti melangkah dan menoleh ke samping menatap Ruby, "Lo hutang sama gue, gue ngasih tips gede banget loh! Sampe lo bisa pulang ke Indonesia," gerutu Randy.
"Mau dituntasin?"
"Sekali kita terjun ke dalam, nggak bakal bisa balik lagi. Alan tinggal kenangan," desis Randy.
"Hem, kita liat aja. Kalo gue puas sama lo, ya gue nggak liat kanan kiri lagi," kata Ruby.
"Deal,"
Dan begitulah yang terjadi.
ckckck emang berat godaan ikan peda bermerk Romeo