Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 Ghea yang terluka
Langkah kaki Ghea terasa begitu goyah saat ia keluar dari pintu besi ruang tahanan. Di dalam sana, Arkan baru saja dibawa kembali ke sel penampungan, meninggalkan gema bunyi borgol yang seolah mengunci mati masa depan mereka. Ghea bersandar di dinding koridor yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.
Namun, sunyi nya lorong Mapolda itu mendadak terusik. Begitu Ghea melangkah ke ruang tunggu utama, sosok Siska—mama Arkan—langsung berdiri dari bangku panjang. Pakaian Siska tak lagi rapi, wajahnya kuyu, dan guratan penuaan nampak jelas tanpa polesan bedak mahal yang biasanya selalu ia pamerkan. Begitu melihat Ghea berjalan mendekat, mata Siska yang sembap langsung memancarkan kilatan penuh amarah.
"Puas kamu sekarang, Ghea?" tanya Siska tiba tiba, menodong Ghea dengan pandangan memerah.
Suara Siska tidak menggelegar, namun terdengar begitu tajam dan bergetar di lorong yang sepi itu. Ia melangkah maju, menghadang jalan Ghea.
Ghea menghentikan langkahnya. Matanya yang bengkak menatap sang calon ibu mertua dengan tatapan lelah. "Jangan mulai deh, Tan. Aku lagi capek" kesal Ghea.
"Jangan panggil saya Tante! Saya nggak sudi punya hubungan apa-apa lagi sama perempuan sialan kayak kamu!" Siska menunjuk wajah Ghea dengan jari yang gemetar.
Ghea mengernyitkan dahi, bingung. "maksud Tante apa sih?"
Bu Siska berdecak tak senang, dia menatap Ghea penuh amarah. "Nggak usah sok nggak tau kamu, Ghea!" pekik Siska. "Lihat anak saya! Sekarang Arkan masuk penjara, hancur, dihina semua orang! Itu semua gara-gara kamu! Kalau bukan karena kamu yang datang menggoda Arkan, dia nggak akan mungkin menceraikan Nadia!" Teriak Siska dengan emosi meluap luap.
Siska mulai meneteskan air mata, dadanya naik turun dengan tidak teratur. "Arkan itu dulu laki-laki lurus waktu sama Nadia. Tapi sejak ada kamu, dia jadi serakah! Dia nekat memanipulasi uang perusahaan cuma demi menuruti gengsi kamu! Demi beliin kamu mobil, tas mewah, apartemen! Kamu yang sudah menjerumuskan anak saya sampai jadi narapidana!"
Mendengar rentetan tuduhan itu, sesuatu di dalam diri Ghea seolah patah. Rasa sedihnya seketika menguap, digantikan oleh rasa perih yang teramat sangat karena disudutkan sendirian di titik terendah. Ghea maju satu langkah, menatap lurus ke dalam mata Siska dengan tatapan yang sarat akan luka mendalam.
"Tante... tolong jangan seolah-olah Tante adalah ibu paling suci yang nggak tahu apa-apa" bisik Ghea. Suaranya bergetar hebat, namun setiap kata yang keluar terdengar begitu menusuk. "Waktu Arkan bawa aku ke rumah Tante pertama kali, waktu Arkan masih berstatus suami sah Nadia, apa Tante menolak aku?" tanya Ghea.
Siska tersentak, wajahnya kian pucat.
Ghea tertawa sumbang melihat wajah ibu mertuanya. "Enggak, kan?"
hening.
"Tante justru menyambut aku dengan tangan terbuka karena aku selalu bawain Tante barang-barang bermerek. Tante diam saja waktu Arkan mengkhianati Nadia karena Tante suka sama uangnya Arkan! Tante tahu dari mana Arkan dapat uang miliaran dalam waktu singkat? Tante sebenarnya tahu! Tapi Tante pura-pura buta karena Tante sibuk pakai uang itu buat arisan dan pamer ke tetangga!" Teriak Ghea balik.
"GHEA! JAGA MULUT KAMU YAH!" Siska mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan, namun tangannya tertahan di udara, gemetar tanpa daya.
"Tampar aja, Tante. Tampar!" Tantang Ghea, dia memajukan wajahnya, seolah menyuruh calon ibu mertuanya untuk menampar wajahnya yang berlinang air mata. "Tapi tamparan Tante nggak akan bisa mengubah kenyataan kalau kita berdua yang sudah bikin Arkan hancur. Jangan cuma salahin aku!"
Napas Ghea tersengal, dia menyeka air matanya dengan kasar, lalu menatap Siska dengan sorot mata yang mendadak melunak, capek, kesal menjadi satu.
"Tante pikir aku cuma mau uangnya Arkan? Tante pikir aku se-murahan itu sampai langsung lari waktu dia bangkrut?" suara Ghea melemah, terdengar begitu sendu di antara lorong sepi.
Tak ada jawaban, Bu Siska hanya diam mematung tanpa menjawab atau meluapkan amarah seperti tadi.
Ghea menghela nafas kasar, lelah untuk terlalu banyak berdebat yang menguras emosi. "Aku bakal jual semua barang yang pernah Arkan kasih ke aku. Mobil, tas-tas branded, perhiasan... semuanya, Tante! Nggak akan ada yang aku sisakan satu pun. Aku bakal pakai semua uangnya buat bayar ganti rugi atau denda ke perusahaan, biar hukuman Arkan bisa diringankan. Aku nggak peduli kalau aku harus hidup miskin sekalipun"
Siska terpaku. Matanya membelalak menatap Ghea yang kini berdiri tegar di hadapannya. Walaupun wajahnya kacau balau dengan riasan hancur di wajahnya karena air mata. Apa lagi maskara nya yang luntur dan berbekas hitam di bawah mata, dia tetap tenang walaupun hancur juga seperti siska.
"Bahkan... kalau itu masih belum cukup–" Ghea menunduk, bahunya berguncang hebat saat menyadari betapa rendahnya harga diri yang siap dia pertaruhkan demi pria yang dicintainya. "Kalau memang diperlukan... aku bakal cari Nadia. Aku bakal datangi dia, dan aku rela sujud langsung di kaki Nadia. Aku bakal ngemis maaf ke dia, biar dia mau melunakkan hatinya dan mau cabut tuntutan itu buat Arkan. Aku rela lakuin itu, Tante. Aku rela dihina Nadia asal Arkan nggak harus menderita sepuluh tahun di dalam sana."
Mendengar pengakuan jujur dan kepasrahan Ghea, kemarahan di wajah Siska mendadak runtuh. Wanita paruh baya itu kehilangan seluruh kekuatannya. Dia mundur selangkah, lalu luruh terduduk di bangku panjang koridor, menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis pilu. Bukan lagi karena marah, tapi karena dia sadar—di balik kesalahan besar mereka, perempuan muda di hadapannya ini ternyata benar benar tulus menyayangi anaknya, bahkan di saat Arkan sudah menjelma menjadi sampah yang tak berguna.
Ghea berdiri terdiam menatap Siska yang kini menangis tersedu-sedu. Keheningan kembali merayap di antara mereka, menyisakan penyesalan mendalam yang sudah terlambat untuk di tata.
"Besok orang bank datang buat menyita rumah mewah Arkan" jelas Ghea pelan, suaranya kembali datar, memecah kesunyian koridor. "Aku sudah sewa kontrakan kecil di pinggiran kota pakai sisa tabunganku yang tersisa. Kalau Tante masih mau bareng aku, besok kemas barang-barang Tante. Kita pindah ke sana. Kita mulai semuanya dari nol, sambil nunggu Arkan bebas."
Tanpa menunggu jawaban dari Siska, Ghea membalikkan badan. Langkah kakinya terdengar sunyi dan lambat saat berjalan meninggalkan koridor Mapolda, meninggalkan Siska yang masih menangis meratapi takdir buruk yang mereka rajut sendiri akibat keserakahan.
Tidak ada lagi barang mewah, hanya ada kesederhanaan yang harus mereka terima suka maupun tidak.
★★★