Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Kabar Baik
Beberapa hari kemudian, ucapan Devan yang berjanji mau berubah ternyata benar-benar dia tepati.
Meskipun masih sibuk mengurus OSIS, setidaknya sekarang Devan selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama Kinan di kantin. Kalau ada rapat sampai sore, dia akan mengabari Kinan lebih dulu, lalu sesekali menjemput atau mengantar Kinan pulang.
Perubahan itu perlahan membuat hubungan mereka kembali membaik.
Seperti siang ini.
Kinan langsung duduk di salah satu kursi kantin sambil meletakkan kotak bekalnya di atas meja.
Oca yang sedang menyuap nasi goreng langsung melirik kotak bekal itu. “Tumben bawa bekal?"
Kinan mengangguk kecil sambil membuka tutup kotak bekalnya. "Devan yang bawain."
Mendengar jawaban itu, Andira langsung menyeringai jahil.
"Cie... yang udah baikan dibawain bekal sama pacar," godanya sambil menaik-turunkan alis.
"Ih, apaan sih kalian," protes Kinan sambil mendengus. Tapi meski begitu, ia tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya.
Oca dan Andira langsung terkekeh melihat reaksi sahabatnya. Ketiganya pun mulai menyantap makanan masing-masing sambil sesekali mengobrol ringan.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba seseorang menarik kursi kosong di samping Oca. Dirga duduk dengan santai, lalu meletakkan sebuah bingkisan kecil berwarna cokelat tepat di hadapan gadis itu.
"Ini buat lo."
Oca mengernyit bingung. "Buat gue?"
Dirga mengangguk pelan. "Kemarin lo bilang suka roti isi cokelat yang ada di toko depan sekolah. Kebetulan gue lewat sana tadi jadi sekalian beliin."
Oca menatap bingkisan itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Makasih, Dirga."
"Sama-sama."
Andira dan Kinan saling pandang, lalu tersenyum penuh arti. Tatapan jahil keduanya bergantian mengarah pada Oca dan Dirga.
"Eh iya..." Dirga berdeham pelan, berusaha mengabaikan tatapan usil mereka. "Nanti malam lo ada acara?"
Oca menggeleng. "Kayaknya nggak ada. Memangnya kenapa?"
"Kalau gitu... mau nggak, ikut keluar sama gue nanti malam? Ada tempat yang pengin gue tunjukin."
Oca tampak sedikit terkejut.
Belum sempat menjawab, Andira sudah menyenggol pelan lengannya sambil memasang senyum usil.
"Tuh kan... baru juga duduk udah ngajak jalan."
Wajah Oca langsung memerah. "Berisik deh."
Kemudian tatapannya kembali menoleh ke arah Dirga, "Nanti gue kabarin, ya. Soalnya gue belum tahu malam ini bisa atau nggak."
Dirga mengangguk sambil tersenyum kecil, lalu berdiri dari duduknya. "Oke, gue tunggu kabar dari lo."
Setelah mengucapkan itu, Dirga melangkah pergi meninggalkan meja mereka.
Begitu sosok Dirga menghilang, Andira langsung menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja. Ia menatap Kinan dengan wajah yang dibuat dramatis.
"Duh... enaknya yang punya pacar deket. Bisa dibawain bekal, diajak jalan, terus mesra-mesraan."
Kinan langsung menyikut pelan lengan Andira. "Apaan sih."
Andira mengembuskan napas panjang sambil mendongak ke langit-langit kantin. "Andai aja Bryan ada di sini..."
Oca langsung terkekeh. "Kangen ya?"
"Banget," jawab Andira tanpa malu-malu. "Pacar orang bisa muncul tiap hari di sekolah. Lah pacar gue? Sibuk terus sama skripsinya."
Kinan dan Oca langsung tertawa mendengar keluhan Andira. Sementara Andira hanya bisa memasang wajah pasrah yang sukses membuat suasana meja mereka kembali dipenuhi tawa.
______
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, menandakan seluruh kegiatan belajar hari ini telah selesai. Oca lebih dulu berpamitan kepada Kinan dan Andira karena hari ini ia pulang bersama Dirga.
Seperti biasanya, Dirga mengantar Oca sampai di persimpangan jalan yang tidak jauh dari mansion tempat Oca tinggal. Motor itu pun berhenti di tempat yang sama seperti beberapa hari sebelumnya.
Oca turun dari motor, lalu melepas helm yang dipakainya sebelum menyerahkannya kepada Dirga.
"Makasih ya.”
Dirga menerima helm itu sambil tersenyum kecil. "Sama-sama." Ia terdiam sejenak sebelum kembali membuka suara. "Oh iya... nanti kabarin gue, ya. Jadi atau nggak keluarnya malam ini."
Oca mengangguk pelan. "Iya, pasti gue kabarin kok."
"Ya udah. Kalau gitu hati-hati di jalan."
"Lo juga hati-hati."
Dirga mengangguk singkat, lalu mengenakan kembali helmnya sebelum menyalakan mesin motor. Setelah itu motor melaju meninggalkan persimpangan, Oca pun berbalik dan mulai melangkahkan kaki menuju mansion.
Beberapa menit kemudian, Oca akhirnya sampai di depan rumah. Baru saja masuk ke dalam mansion, salah satu pelayan yang sedang membawa nampan langsung menyapanya dengan ramah.
"Selamat sore, Nona."
Oca membalas senyum tipis. "Anthony udah pulang?"
Pelayan itu menggeleng pelan.
"Belum, Nona. Tuan tadi sempat memberi kabar kalau hari ini ada jadwal syuting sampai malam, jadi kemungkinan baru pulang agak larut."
"Oh... ya sudah," balas Oca sambil mengangguk pelan.
Setelah itu, ia langsung menaiki tangga menuju lantai dua. Sesampainya di kamar, tas yang dibawanya ia letakkan di atas sofa sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar setengah jam kemudian, Oca keluar dengan pakaian yang lebih santai. Ia mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu membuka chat obrolannya dengan Dirga.
Jarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.
Oca: Gue bisa kok nanti malam.
Pesan itu langsung terkirim dan beberapa saat kemudian muncul balasan dari Dirga.
Dirga: Oke. Jam tujuh gue jemput di tempat biasa.
Senyum tipis tanpa sadar terbit di bibir Oca.
Oca: Siap.
Setelah mengirim balasan itu, Oca meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Tanpa sadar, senyum kecil masih menghiasi wajahnya saat membayangkan pertemuan mereka nanti malam.