Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kulit yang Mengelupas
Matahari pagi yang terbit keesokan harinya tidak membawa kehangatan maupun harapan ke dalam rumah Sekar. Cahaya fajar yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang tamu justru terasa mentah, pucat, dan menyilaukan mata dengan cara yang menyakitkan. Bau asap kemenyan dari sisa semalam menolak menguap; bau itu justru mengendap rendah, bercampur dengan kelembapan dinding rumah tua yang kini terasa seperti dinding gua bawah tanah.
Sekar terbangun bukan karena alarm ponsel atau ketukan pintu ibunya, melainkan karena rasa gatal yang teramat luar biasa di sepanjang tulang belikat hingga tengkuknya. Itu bukan gatal biasa yang bisa diredakan dengan garukan jemari. Rasa gatal itu terasa jauh di bawah lapisan daging, seperti ada ribuan ulat bulu atau serangga tanah kecil yang sedang menggali terowongan di sepanjang jaringan sarafnya.
Dengan napas yang memburu kencang, Sekar bangkit dari ranjangnya. Kepalanya mendadak pening luar biasa saat tubuhnya diposisikan tegak. Sendi-sendinya berderak kaku, terutama di bagian leher belakang. Rasanya seolah-olah otot lehernya telah kehilangan kelenturan manusianya, digantikan oleh jalinan serat yang padat dan keras.
Sekar melangkah gontai menuju cermin wastafel kamar mandi. Lorong rumah terasa begitu sunyi. Ibunya, Rahayu, tidak terlihat di dapur maupun ruang tengah. Yang tertinggal di ruang tamu hanyalah bekas melingkar menghitam di atas lantai tegel—sebuah monumen kutukan yang membuktikan bahwa apa yang terjadi semalam bukanlah sebuah mimpi buruk yang lewat.
Di dalam kamar mandi, Sekar mengunci pintu dari dalam. Dia menyalakan keran air, lalu menatap pantulan dirinya di cermin berkerak.
Wajahnya tampak sangat pucat, hampir kehilangan rona darah sama sekali. Namun, yang membuat jantung Sekar seakan berhenti berdetak adalah kondisi kulitnya. Ketika dia meraba pipinya, sensasi yang dirasakan oleh telapak tangannya terasa sangat ganjil. Kulit wajahnya terasa teramat halus—terlalu halus untuk ukuran kulit manusia normal. Kulit itu tidak memiliki pori-pori yang terlihat lagi, licin seumpama permukaan porselen mahal, namun ketika ditekan, suhunya teramat dingin. Dingin yang tidak wajar, menyerupai suhu permukaan es yang telah lama disimpan di tempat kedap udara.
Sekar membalikkan tubuhnya membelakangi cermin, lalu menolehkan kepalanya sejauh mungkin ke bahu kanan untuk memeriksa belikatnya. Dia menyentak kerah pakaian tidurnya hingga merosot ke bawah dada.
"Gusti..." bisik Sekar dengan suara yang bergetar.
Noda darah hitam dari semalam telah mengering sempurna, membentuk kerak tipis sewarna tanah kuburan. Sekar membasahi selembar kain dengan air dingin lalu menyeka kerak darah tersebut secara perlahan. Saat permukaan belikatnya bersih dari sisa darah, sepotong pemandangan mengerikan terpampang nyata di depan matanya.
Tanda lahir bersisik itu kini telah bermutasi sepenuhnya. Sisik-sisik hitam legam sewarna arang purba itu tidak lagi bersembunyi di bawah permukaan kulit lembutnya. Mereka telah mencuat keluar dengan kokoh, mengeras menjadi lempengan-lempengan keratin tebal yang saling tumpang tindih dengan presisi yang sempurna, persis seperti pola pelindung pada punggung reptil raksasa.
Tepian dari masing-masing sisik itu memiliki garis tipis berwarna emas tua yang berkilat kusam saat menangkap pantulan cahaya lampu kamar mandi. Sisik-sisik itu meluas, merayap naik menembus batas tengkuknya dan mulai membungkus leher belakangnya seperti kerah pelindung yang kaku.
Rasa gatal yang menyiksa tadi bersumber dari pinggiran koloni sisik tersebut. Sekar mencoba menusukkan kuku jarinya ke salah satu ujung sisik hitam itu, berniat untuk mengelupas atau mencungkilnya demi mengembalikan kulit manusianya.
"Aakh!" Sekar memekik tertahan.
Rasa sakitnya instan dan luar biasa dahsyat. Saat ujung sisik itu ditarik sedikit saja, seluruh tubuh Sekar tersengat aliran rasa perih yang menjalar langsung ke otak tengahnya. Kepingan sisik itu tidak menempel di atas kulit; mereka tumbuh dari dalam tulang dan dagingnya. Mengelupas satu keping sisik itu sama saja dengan mencoba mencabut sepotong tulang rusuknya sendiri secara hidup-hidup. Dari sela-sela sisik yang sempat ditariknya, cairan benir sewarna nanah bercampur darah encer merembes keluar, mengeluarkan aroma anyir yang samar namun tajam.
Sekar terengah-engah, bersandar pada tepi wastafel yang dingin. Air matanya menetes bebas, membasahi permukaan kulit pipinya yang licin dan dingin. Dia menyadari satu hal: metamorfosis ini tidak bisa dihentikan secara fisik. Sentuhan Sang Kalingga semalam telah mengaktifkan cetak biru genetika iblis yang selama dua puluh dua tahun ini tertidur di dalam tubuhnya.
Gadis itu kemudian membasuh wajahnya dengan air keran yang mengalir, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian tidak beraturan. Namun, saat dia menyeka matanya dan kembali menatap cermin, seberkas cahaya matahari pagi dari celah ventilasi kamar mandi tepat menghantam wajahnya.
Deg.
Sekar terpaku, matanya membelalak gila menatap pantulan bola matanya sendiri di dalam cermin.
Saat cahaya matahari langsung mengenai matanya, iris matanya yang berwarna cokelat gelap mendadak menyusut secara radikal. Pupil matanya tidak lagi berbentuk lingkaran sempurna seperti manusia normal. Pupil itu memanjang, menipis secara vertikal, membentuk sebaris garis lurus yang tajam seumpama belahan silet—persis seperti sepasang mata ular beludak yang sedang mengintai mangsa di bawah terik matahari.
Bersamaan dengan perubahan pupil itu, lapisan selaput bening yang tipis mendadak muncul dari sudut matanya, berkedip secara horizontal melintasi bola matanya sebelum menghilang kembali ke balik kelopak mata.
Sekar mundur selangkah hingga punggungnya menghantam pintu kamar mandi. Dia menutup kedua matanya dengan telapak tangan, menjerit tanpa suara di dalam kegelapan pikirannya sendiri. Perubahan itu tidak lagi bersembunyi di bagian tubuh yang tertutup pakaian. Kutukan itu kini telah merayap naik, mulai merusak wajahnya, merusak tubuhnya, dan perlahan-lahan menghapus identitas dirinya sebagai manusia.
Sekar menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan penglihatannya yang mendadak terasa berbeda. Ketika dia membuka mata, sudut pandangnya seolah melebar. Sensasi visualnya menjadi lebih sensitif terhadap gerakan sekecil apa pun, namun warna-warna di sekitarnya tampak meredup, menyisakan rona keperakan yang dingin. Dia berkedip beberapa kali hingga pupil matanya yang vertikal perlahan melonggar, kembali membulat seiring bergesernya berkas cahaya matahari dari ventilasi.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Sekar membuka pintu kamar mandi. Langkah kakinya ke ruang tengah terasa ringan—terlalu ringan, seolah-olah berat badannya berkurang atau langkahnya beralih menjadi sapuan tanpa tekanan yang luwes.
Di dapur, Rahayu sedang berdiri membelakanginya di depan kompor. Bau nasi goreng yang gosong tercium di udara, namun bagi penciuman Sekar yang telah terdistorsi, bau itu terasa hambar dan memuakkan. Sebaliknya, indra penciumannya menangkap aroma lain yang jauh lebih memikat: bau anyir darah dari sisa daging ayam mentah yang diletakkan di atas talenan di sudut meja dapur.
Air liur Sekar menetes tanpa sadar di ujung bibirnya saat menatap potongan daging mentah yang masih menyisakan urat darah kebiruan itu. Ada dorongan primitif yang teramat liar di dalam perutnya, menuntutnya untuk melangkah mendekat, meraih daging dingin itu, dan mengoyaknya langsung dengan giginya.
Sekar tersentak, buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan yang sedingin es. “Gusti... apa yang terjadi padaku? Aku ingin makan daging mentah?” batinnya menjerit gila, menyadari kemanusiaannya sedang digerogoti oleh insting mahluk melata.
"Sekar? Kamu sudah bangun, Nduk?" Rahayu memutar tubuhnya.
Begitu tatapan mereka bertemu, Rahayu langsung menghentikan kalimatnya. Sendok kayu di tangannya terlepas, jatuh berdentang di atas lantai dapur. Wanita tua itu menatap wajah Sekar dengan mata yang membelalak dipenuhi rasa ngeri yang tidak bisa disembunyikan.
Dari jarak dua meter, Rahayu bisa melihat dengan sangat jelas perubahan radikal pada anak perempuannya. Kulit wajah Sekar tampak begitu berkilat, putih pucat tanpa pori-pori seolah dilapisi oleh membran lilin yang tipis. Di sepanjang garis rahang kanannya, beberapa serpihan kulit mati mulai mengelupas halus, menampilkan lapisan sisik-sisik mikro sewarna kelabu yang mulai tersusun rapi di bawah telinga.
"Lehermu... wajahmu, Nduk..." bisik Rahayu dengan suara yang bergetar hebat. Dia mundur selangkah hingga punggungnya membentur rak piring.
Sekar refleks menarik kerah pakaian tidurnya ke atas, berusaha menyembunyikan lehernya yang kian kaku oleh kerah sisik hitam. "Sekar gak apa-apa, Bu. Ini... ini cuma alergi," dusta Sekar, meskipun dia tahu kebohongan itu terdengar teramat konyol di telinga mereka berdua.
"Itu bukan alergi, Sekar! Dia sedang memakanmu... Sang Kalingga sedang mengambil kulit manusiamu!" Rahayu menutup wajahnya dengan kedua tangan, kembali menangis histeris. Ratapan penyesalan wanita tua itu menggema di ruangan dapur yang sempit, menambah beban stres yang nyaris meledakkan kepala Sekar.
"Cukup, Bu! Hentikan!" desak Sekar. Nada desisan ganda itu kembali keluar dari tenggorokannya, terdengar tajam dan dingin, membuat Rahayu seketika terdiam karena ketakutan. Untuk pertama kalinya, Rahayu merasa asing dengan aura yang dipancarkan oleh anaknya sendiri. Aura di sekeliling Sekar kini terasa dominan, mengintimidasi, dan berbahaya—persis seperti aura Sang Kalingga semalam.
Sekar berbalik dengan kasar, melangkah cepat menuju kamarnya dan membanting pintu kayu itu hingga rapat. Dia melemparkan tubuhnya ke atas kasur, menelungkupkan wajahnya di atas bantal untuk meredam jeritan keputusasaannya.
Namun, bantal yang biasanya terasa empuk kini terasa kasar di kulit pipinya yang sensitif. Saat dia menggeser tubuhnya, kulit di bagian lengannya bergesekan dengan kain sprei, mengeluarkan suara desiran halus yang mirip dengan gesekan selembar kertas amplas pada permukaan kayu.
Sekar mengangkat tangan kirinya ke depan mata. Di bawah kuku-kuku jarinya, warna merah muda alami kuku manusia perlahan memudar, digantikan oleh rona keperakan yang kaku di bagian pangkalnya. Ketika dia menyentuh permukaan meja belajar di samping ranjang, tangannya tidak lagi bisa merasakan tekstur hangat dari kayu; segalanya terasa dingin, mati, dan mekanis.
Isolasi ini telah dimulai. Tubuhnya sedang membangun tembok penjara alaminya sendiri. Kulit manusianya yang mengelupas seolah-olah menjadi simbol dari hari-hari kemanusiaannya yang sedang digugurkan satu demi satu oleh waktu yang terus merayap menuju Sabtu Kliwon berikutnya.
Sekar meringkuk di atas kasur, memeluk dirinya sendiri. Di dalam keheningan kamarnya yang pengap oleh bau kemenyan, dia bisa merasakan sisik-sisik di punggungnya berdenyut pelan secara ritmis, seolah-olah ada sesuatu yang hidup di bawah sana, sedang bernapas dengan tenang, menunggu saat yang tepat untuk membungkus seluruh tubuhnya dalam keabadian yang dingin dan terkutuk.