Kehilangan istri membuat seorang Yudatama menjelma menjadi orang yang dingin, kejam dan arogan.
Hingga takdir mempertemukan dirinya dengan seorang gadis bernama Rania. Ia memiliki wajah yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.
Yudatama melakukan segala cara untuk mendapatkan Rania dengan cara berpura-pura mencintai Rania. Baginya mendiang istrinya adalah obsesi terbesarnya.
Bagiamana pernikahan Yudatama dan Rania ke depannya?
Apakah dari sebuah obsesi bisa berakhir dengan jatuh cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.R.E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DASAR, WANITA POLOS!
Pukul sebelas malam , Rania terbangun. Ia baru menyadari jika suaminya tidak ada di kamar. Ia kira suaminya sudah kembali nyatanya sampai detik ini belum juga masuk kamar.
Rania pun beranjak. ia hendak mencari keberadaan Yuda. Sebelum keluar kamar ia memakai kerudungnya terlebih dahulu.
Saat ia hendak keluar, matanya justru menangkap sosok suaminya berada di balkon kamar. Yuda membelakangi dirinya namun ia bisa melihat jika tatapan suaminya seperti memperhatikan langit malam.
Tanpa ragu Rania pun membuka pintu balkon dengan perlahan. ia lalu berdiri di samping Yuda. Rania ikut menatap langit malam yang berwarna biru gelap.
Yuda menoleh saat menyadari keberadaan Rania. "Kenapa ke sini?" tanya Yuda lalu kembali menatap langit.
"Memang ada larangan. Aku gak boleh ke sini?"
"Ini sudah malam. Dingin. Lebih baik kamu masuk terus tidur lagi."
"Tuan juga tidur. Ini malah melamun."
"Siapa yang melamun? Enggak, kok. Udah so tahu salah pula."
"Tuan jangan bohong! Rania bisa melihat dengan jelas jika Tuan memang sedang melamun."
"Enggak! Jangan sok tahu, sekarang kembali masuk!"
"Aku ..."
Perkataan Rania terputus di udara, saat secara tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang basah menempel di bibirnya. Sebenarnya ini adalah sebuah sentuhan yang menuntut tapi karena Rania syok dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan, membuat Rania terus mengatupkan bibirnya.
Otaknya tidak bisa berkerja dengan baik. Ia malah terus mematung hingga kesadarannya kembali saat Yuda selesai melepaskan tautannya. Rania menatap Yuda yang terlihat terengah-engah itu sementara dirinya tidak bisa berkata apa-apa.
"Berhenti mengoceh! Apa kamu lupa apa yang sudah aku katakan tempo hari?"
Rania mengangguk, ia masih ingat apa yang dikatakan Yuda. Jika ia cerewet maka ia akan mendapatkan hukuman berupa sebuah ciuman. Tapi tadi ia mendadak lupa.
"Sekarang kamu tidur, sebelum aku melakukan perbuatan lebih dari sekadar ciuman."
"Memang apa yang mau Tuan lakukan?".Nada suara Rania malah Terdengar seperti menantang. Alhasil Yuda pun memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang memang harusnya sedari tadi ia lakukan.
"kamu mau tahu?"
Rania mengangguk. "Iya, Rania mau tahu."
Seringai kelicikan terbit di bibir Yuda lalu didetik berikutnya. Secara tiba-tiba menggendong Rania dan sukses membuat Rania menjerit kaget.
"Aaaa, Tuan, apa yang Anda lakukan? Turunkan aku!"
"Bukankah kamu mau tahu apa yang ingin aku lakukan? Jadi, diamlah. Suara teriakanmu nanti terdengar oleh seluruh penghuni rumah ini."
Rania terus memberontak minta untuk diturunkan dari gendongan Yuda.
"Biarin, aku sekalian mau teriak biar pada bangun terus tolongin aku."
Seketika Yuda menghentikan langkahnya. Lalu menatap penuh intimidasi membuat Rania langsung merapatkan bibirnya.
"Sekali lagi kamu berisik aku ..."
"Enggak, Tuan. Rania diam kok," sela Rania ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Yuda.
"Istri baik." tutur Yuda seraya mengelus kepala Rania. ''Sekarang kamu harus penuhi kewajibanmu. Aku baru ingat jika kita itu sepasang pengantin baru."
Kedua mata Rania membulat dengan sempurna. Pendengarnya tiba-tiba terasa sakit saat mendengar dua kata yang diucapkan Yuda 'pengantin baru'. Seketika Rania pun berpura-pura tidak mengerti dengan arah pembicaraan Yuda.
"Ma-maksud Tuan apa?"
"Jangan sok polos. Kamu juga pasti tahu." Yuda menyeringai lalu kembali melangkah masuk ke kamar.
Rania hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ya Tuhan!"
***
Keesokan paginya...
Rania bangun kesiangan, bahkan salat subuhnya saja sampai terlewatkan. Andai jika saja Rena tidak menggedor pintu kamarnya sudah dipastikan dia akan bangun lebih siang dari sekarang.
Kejadian semalam sudah membuat tubuh Rania sakit, remuk dan serasa tidak berbentuk lagi. Sungguh aktivitas panas mereka benar-benar terasa panas saat Yuda terus saja menggagahinya secar berulang. Dia tidak mampu untuk menandinginya. Kini ia tahu yang sebenarnya liar di atas ranjang itu justru Yuda bukan dirinya.
Kembali suara gedoran di pintu menyadarkan Rania dari bayangan kejadian tadi malam. Ia hendak bangun dan memakai kembali pakaian miliknya yang dibuka secara kasar sebab dirinya yang memberontak terus.
"Mommy, Daddy. Bangun! Ini sudah siang." teriak Rena dari balik pintu sana.
"Bentar sayang, kamu sama Bi Ati dulu. Mommy nanti nyusul."
Setelah itu tidak terdengar lagi suara Rena Sepertinya ia sudah pergi. Sebelum ia benar-benar beranjak ia melihat jam terlebih dahulu dan jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Ini gara-gara Daddy-nya Rena!" gerutu Rania.
Ia lalu menatap ke arah Yuda yang masih tidur dengan nyenyak. Lalu ingatannya kembali ke kejadian tadi malam. Saat dengan jelas jika suaminya terus memanggil dirinya Arini, bukan Rania.
Tentunya hal ini membuat Rania berpikir dan bertanya siapa Arini yang Yuda maksud.
"Apa Arini itu ibu kandung Rena? ... Apa Tuan Yuda masih mencintai mendiang istrinya? sampai-sampai saat bersamaku saja ia malah memanggilnya. Tapi... bukankah Tuan Yuda bilang mencintaiku? Lalu...."
Rania menggeleng, ia tidak ingin berpikir yang aneh-aneh. Rania memaklumi jika saat dengannya Yuda terus memanggil dirinya Arini. Setidaknya mungkin Yuda masih merasa jika wanita yang ada di bawah Kungkungannya adalah orang yang berbeda.
Rania memilih untuk segera turun dan mandi daripada terus berpikiran yang tidak-tidak. Baru saja ia hendak berdiri namun ia urung lakukan. Karena ia merasakan kesakitan di area pribadinya.
"Hah, ini terlalu sakit!. Kenapa bisa?" Rania terus saja ternyata-tanya.
"Saat pertama tuan Yuda menyentuhku saja tidak terasa sakit seperti ini. Lalu ini kenapa begitu sakit? Ah atau jangan-jangan karena Tuan Yuda begitu ganas dan melakukan secara berulang-ulang? Huh! Menyebalkan!"
Tanpa Rania duga jika sedari tadi Yuda sudah terjaga. Yuda rasanya ingin tertawa saat ia mengeluhkan rasa sakit di area wanitanya. Wajar saja karena ini adalah kali pertama mereka melakukan hubungan.
'Dasar wanita polos! Apa dia benar-benar tidak tahu berbeda sudah digagahi dan belum? Ya Tuhan dia benar-benar berbeda jauh dengan Arini-ku.'
yg ada curiga dgn anak rania, menuduh rania selingkuh
mending rania hidup sendiri ma jagoan kecilnya aja.... biar suatu saat Yuda menyesal karena menyia-nyiakan istri dan anaknya
author👍👍👍👍👍 ayo semangat double up ya🥰🥰🥰
lanjut thor
Lanjut thor