NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa / Tamat
Popularitas:343.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Eni pua

Menikah dengan laki-laki yang dicintai adalah harapan setiap wanita. Tetapi, bagaimana jika sang suami tidak bertanggungjawab dan tidak mau menafkahi bahkan menceraikannya disaat Lilis sangat membutuhkan kehadirannya sebagai kepala rumahtangga?
Lilis tidak menangis ataupun bersedih. Dia malah bersyukur karena terbebas dari pria seperti mantan suaminya.
Lilis merantau dan berjuang hidup ke kota besar. Memulai usaha dari nol. Hingga dia mampu berdiri sendiri dan membahagiakan anak dan ibunya.
Akankah Lilis menemukan pria lain yang lebih baik, ataukah dia akan kembali pada mantan suaminya demi Naina putrinya?
Temukan jawabannya di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Perasaan Nathan

Nathan kembali ke kantor dengan hati berbunga-bunga. Banyak wanita cantik yang ada di sekelilingnya. Mau yang model apapun ada. Cantik, lembut, keibuan bahkan yang bar-bar juga ada. Namun tidak ada satupun yang mampu membuat hatinya berdebar.

Hanya dengan melihat Lilis, Nathan baru bisa merasakan hati berdebar dan jantung yang berdegup lebih cepat. Ternyata, cinta itu datang tidak memandang waktu dan tempat. Rupa dan pekerjaan. Nathan berjanji akan memperjuangkan cinta ini.

Seno mengetuk pintu, untuk menemui Bos nya. Seno juga ingin mengetahui apakah rencana Bos nya berjalan sesuai yang direncanakan.

"Masuk."

Seno masuk dengan membawa dokumen penting yang harus ditandatangani oleh Nathan.

"Bagaimana, apakah semua berjalan lancar?" tanya Seno penasaran.

"Tidak usah dibicarakan lagi. Lain kali aku kesana lagi."

"Apakah Bos di usir?"

"Mana mungkin aku di usir. Aku hanya bertemu pelayannya saja. Aku takut mengganggu pekerjaannya karena banyak pelanggan."

"Mbak Surti?"

"Bukan. Emang disana ada berapa pelayan?"

"Cuma satu. Mbak Surti itu."

"Benarkah? Tapi tadi aku bertemu seorang pelayan lagi. Masih muda, agak cantik dikit. Namanya Lilis."

"Bu Lilis, ya. Itu pemilik warungnya Bos. Yang mengusir Seno kemarin."

"Hah, pemilik warung itu? Bukannya pemiliknya mbok-mbok?"

"Maaf Bos. Lupa kasih tahu, kalau pemiliknya memang ibu-ibu. Tetapi usianya masih muda, baru sekitar 22 tahun. Dan putrinya baru berumur 2 tahun."

"Lilis itu sudah punya anak dan suami?"

Nathan bagai disambar petir ketika mengetahui jika Lilis sudah memiliki anak dan suami. Bagaimana dia bisa jatuh cinta dengan istri orang?

"Janda, Bos."

Syukurlah, kalau janda. Janda satu anak? Tidak masalah. Aku memilikinya segalanya, hanya cinta yang belum aku punya. Jadi aku tidak akan pernah melepaskan kesempatan untuk mencintai dan dicintai.

"Bos, kenapa diam. Apa rencana Bos selanjutnya?"

"Kita tidak perlu memaksanya. Kalau dia menolak, kita batalkan saja semuanya."

"Bos, apa aku tidak salah dengar? Baru kali ini, Bos menyerah sebelum bertanding."

"Terserah aku kan? Sudahlah, pending semua sampai batas waktu yang tidak ditentukan."

"Baik, sesuai keinginan Bos."

Sejak itu, hampir setiap hari, Nathan datang ke warung Lilis. Nathan juga mengatakan jika dia tidak pernah mengira kalau pemilik warung ini adalah Lilis. Lilis hanya tersenyum saja menanggapi kesalahpahaman Nathan.

Nathan perlahan-lahan namun pasti mendekati Lilis. Setiap hari Jum'at dia datang setelah sholat Jumat. Dia datang hanya untuk membantu Lilis, membungkus makanan yang akan diberikan pada orang-orang yang tidak bisa makan dan gelandangan dipinggir jalan.

"Lis, apa kamu tidak takut merugi, kalau sering memberi mereka makan?" tanya Nathan.

Jiwa bisnisnya berontak. Selama ini, dia selalu memikirkan bagaiman bisa mendapatkan banyak keuntungan dan menekan hal yang bisa berakibat merugikan bisnisnya.

"Tentu saja tidak. Ini hanya sebagai ungkapan rasa bersyukur aku, atas rezeki yang diberikan Allah padaku. Lagian juga tidak seberapa, masih banyakan yang sudah terjual setiap harinya."

"Kalau begitu, nanti aku bantu bagikan."

"Kamu tidak sibuk? sebenarnya pekerjaan kamu apa, mas Nathan? seorang sopir? Setiap hari membawa mobil bosmu untuk membantuku membagikan makanan?"

"Bosku orang yang baik. Jadi Mbak Lilis tidak perlu khawatir. Lagipula membantu membagikan makanan itu kan hanya sebentar. Setelah itu bisa langsung aku kembalikan."

"Aku berencana untuk bersedekah setiap 2 hari sekali. Nanti kalau berjalan lancar, bisa dibuat Setiap hari. Bagaimana menurut, mas Nathan?"

"Bagus juga. Walaupun jika itu aku, aku tidak akan bisa melakukannya. Tetapi sebagai teman, aku akan selalu mendukung apapun yang kamu lakukan."

"Terimakasih. Kalau Mas Nathan tidak keberatan, Lilis mau minta tolong. Mas Nathan tidak perlu setiap hari datang kesini."

"Apakah ada yang keberatan?"

"Tidak. Lilis hanya tidak ingin, pekerjaan Mas Nathan terganggu."

"Baiklah, mungkin kamu juga sudah bosan setiap hari melihatku."

Lilis menatap Nathan yang terlihat kecewa dengan permintaannya. Tetapi itu lebih baik daripada membiarkan Nathan terus mengusiknya. Nathan sudah mengacaukan hidup Lilis. Karena sejak ada Nathan, Lilis merasa mulai bergantung padanya.

Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Lilis bergegas pulang kerumahnya dengan naik motor yang biasa dia gunakan untuk pergi ke pasar. Hanya 5 menit perjalanan, Lilis sudah sampai di rumah.

"Assalamualaikum."

"Wa'alaikum salam."

"Apa Naina sudah tidur?" tanya Naina sambil duduk di kursi tamu.

"Baru saja. Kamu mandilah dulu, setelah itu kamu bisa mendekati Naina."

Lilis tersenyum sambil mengangguk pelan. Seperti biasanya, dia segera mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, dia akan tidur bersama Naina. Meski hanya melihat Naina saat tidur, Lilis sudah puas. Lilis bersyukur, jika dibandingkan dulu, setiap pulang kerja hanya melihat langit-langit kamar saja.

Lilis sangat sibuk sehingga takut mempengaruhi pertumbuhan Naina. Kini setiap Minggu Lilis memutuskan untuk berjualan pagi saja. Sehingga bisa mengajak Naina pergi bermain di taman kota.

"Lis, Apa kamu sudah tidur?" tanya Bu Siti sambil membuka pintu kamar Lilis.

"Belum, Bu."

"Tadi ibu menerima paket dari pengacara yang mengurus perceraian kamu. Ini, ambilah. Mungkin ini penting."

Lilis beranjak dari tempat tidurnya lalu duduk di tepi ranjang. Lilis menerima sebuah paket dari pengacaranya. Lilis membuka perlahan ditemani ibunya yang ikut duduk ditepi ranjang.

Dibukanya pelan-pelan amplop besar yang ada ditangannya. Ternyata surat cerainya sudah keluar. Kini, Lilis telah resmi menjanda. Tak terasa, ada sedikit rasa sesak di dadanya.

Lilis melihat ke arah Naina. Naina lah yang kini menjadi penguat semangatnya untuk terus melangkah ke depan. Dia tidak akan pernah lagi, menoleh ke belakang untuk menyesali.

"Lis, yang sabar nak. Insyaallah, kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik," ucap Bu Siti mendoakan Lilis.

"Aamiin. Lilis aminkan saja, meski Lilis tidak tahu kapan saat itu akan tiba."

"Ibu yakin, jodohmu sudah menunggumu."

Bu Siti mencoba membuat Lilis tersenyum dengan menggodanya. Lilis tersenyum malu, seperti anak kecil. Rasanya malam ini, dia ingin bermanja pada ibunya. Lilis meletakan kepalanya di pangkuan ibunya. Bu Siti membelai dan mengusap rambut Lilis, seolah Lilis masih anak kecil.

Malam sudah semakin larut. Bu Siti beranjak pergi setelah Lilis sudah cukup bermanja. Lilis melanjutkan tidurnya sambil memeluk Naina.

Lilis menangis sendirian di jalanan yang sangat ramai. Dia bingung kemana harus berjalan. Lilis lupa jalan pulang. Airmatanya menetes tiada henti. Tidak ada satupun dari orang-orang itu yang peduli padanya dan menunjukan jalan pulang.

Lilis mulai putus asa, dia terduduk dijalan tanpa alas kaki. Tiba-tiba, sebuah tangan menjulur kearahnya. Lilis tertegun, ternyata masih ada yang peduli padanya. Lilis meraih tangan kekar yang sanggup menariknya hingga dia bisa berdiri tegak.

Dengan perasaan penasaran, Lilis melihat wajah sang penolong yang tampak tidak asing baginya.

"Mari aku gendong, kakimu bisa terluka jika berjalan tidak memakai alas kaki."

Suara lembut yang mampu meneduhkan hatinya yang sempat terguncang.

"Nathan Sugara..."

Bersambung

1
Uti Deal
yg bantuin bawa barang suruhan nathan paling
Uti Deal
ceritanya penu modifikasi.
Noerlina Akbar
Kecewa
Nurlaila Hasan
Luar biasa
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor
Eni pua: terima kasih, kak
atas dukungannya 🥰🥰
total 1 replies
Vivi Yanti
cerita sebagus ini..kok bisa sepi ya
RINI AGUSTINA
up
Anete Tambayong
Syukurlah Nathan dan Lilis tidak jadi pisah
Anete Tambayong
Dasar laki" pemalas, mau kaya tapi gak mau usaha dgn halal. ich Cemen banget sih. cuma mau numpang kaya sama org lain...
Anete Tambayong
Woww, semakin menarik ceritanya. tapi jgn biarkan Desta menghancurkan Nathan. jgn biarkan Desta bahagia, karna dia tidak berhak bahagia sebelum dia benar" bertobat.
Anete Tambayong
bagus banget
Anete Tambayong
Weleh,kenapa jadi begini...kasian Lilis. perjuangankan cintamu sama Lilis donk Nathan.
Anete Tambayong
moga Lilis usir mentah" si Cemen Desta
Anete Tambayong
Ya,Semoga suatu saat nanti kamu bahagia dan bisa ngebahagiain ibumu. dan semoga suamimu dapat balasan yg setimpal dgn perbuatan nya.
Anete Tambayong
Ya ampun Lis, kasian banget deh km.
Popy Setyaningsih
the real fucek boy utk dunia halu,coba ada didepanku gausah jadi istrinya kenal aja udh aku gampar pakek teflon wajahnya
Popy Setyaningsih: ha pas itu,pakek goreng telor dlu baru gampar pas kan panas,perih nya dpt sama bekasnya juga pasti nempel tuh🤣
total 2 replies
antha mom
makasih author sukses selalu ya
Eni pua: makasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Kod Driyah
kakek sdh bau tanah msh buat ulah
Kod Driyah
lanjut
Kod Driyah
Nathan jngan menyerah pasti km bs
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!