NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Acara pelelangan itu pun dimulai. Para tamu penting mulai berdatangan, sebagian besar adalah pria. Mereka masuk satu per satu lalu duduk di tempat yang telah disediakan. Ucup dan Andre juga masuk, memilih duduk di barisan paling belakang agar tidak terlalu mencolok.

Ucup memperhatikan sekeliling ruangan, mencari sosok Yuli, Rafa, Henri, dan Risma. Namun, orang-orang yang mereka cari itu belum juga tampak.

“Andre, apa mereka tidak datang ya?” bisik Ucup sambil tetap menatap ke arah pintu masuk.

“Tunggu saja, Ucup. Pelelangan gelap seperti ini, mustahil mereka melewatkannya. Pasti mereka akan datang,” jawab Andre tenang.

“Benar juga… baiklah, aku bersabar menunggu mereka,” gumam Ucup pelan.

Di tempat lain, Kiara duduk berdampingan dengan Bara, tangan mereka saling menggenggam erat. Keduanya sudah merasa lelah menunggu sasaran yang tak kunjung muncul. Tak lama kemudian, Kiara berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan untuk mengambil minuman. Beberapa saat kemudian ia kembali ke balkon sambil membawa sebotol wiski dan dua gelas kecil.

Melihat apa yang dibawa kekasihnya, Bara tampak heran.

“Kamu… mau minum wiski, Sayang? Tumben sekali,” tanya Bara.

“Mau bagaimana lagi, ini yang ada. Aku heran, di rumah ini sepertinya tidak ada air putih sama sekali. Sudah kucari ke mana-mana, tidak ketemu. Yang ada di lemari es hanya ini,” jawab Kiara sambil menunjukkan botol itu.

“Baiklah kalau begitu. Kita minum sedikit saja, ya. Jangan berlebihan, aku takut kamu nanti mabuk,” pesan Bara.

“Tenang saja, cuma sedikit kok.”

Kiara menuangkan isi botol itu ke dalam dua gelas kecil, lalu menyerahkan satu gelas kepada Bara. Keduanya menyesap isinya perlahan.

Saat mereka asyik duduk santai di balkon, suara Vera terdengar jelas dari alat dengar yang terselip di telinga mereka. Vera menyampaikan kabar terbaru kepada seluruh rekan.

“hei guys, dengar baik-baik. Tante Risma dan rombongannya sudah tiba dan akan segera masuk ke dalam ruangan. Tolong perhatikan keadaan dengan saksama,” lapor Vera.

“Baik, terima kasih, Vera,” jawab Andre singkat.

“Kami berdua turun atau tetap di balkon saja?” tanya Bara.

“Kalian tetap di posisi sekarang. Berikan kode kepada kami jika melihat sesuatu yang mencurigakan,” perintah Andre.

“Kami duduk di dekat jendela. Nanti pantulkan cermin ke arah lampu sebagai tanda, supaya kami bisa melihat kode kalian dengan jelas,” tambah Ucup.

“Memangnya ada apa lagi sampai harus waspada ini?” tanya Bara lagi.

“Di acara semacam ini, pasti ada saja pihak yang berniat curang atau berbuat jahat. Kami harus memastikan bisa keluar dengan selamat sebelum keadaan menjadi kacau,” jelas Andre.

“Kamu memang penuh pengalaman, Andre,” puji Bara.

“Ya mau bagaimana lagi, pekerjaan ini sudah seperti di film laga saja, aku rasanya sudah mirip Tom Cruise,” jawab Andre sambil sedikit menyombongkan diri.

“Iya, iya, kami mengerti… Sudah, semuanya fokus! Dan Bara, awasi Kiara, jangan sampai dia terlalu banyak minum alkohol,” ingatkan Vera lewat alat komunikasi.

Mendengar itu, Bara menoleh terkejut melihat wajah Kiara yang sudah tampak memerah.

“Ya ampun, Sayang… sudah berapa kali kamu minum?” tanya Bara cemas.

“Aku… minum berapa kali ya? Hmmm… baru tiga tegukan kok,” jawab Kiara dengan suara yang mulai terdengar pelan dan tak jelas.

“Ya ampun, ternyata kamu sudah mabuk ringan.”

Bara segera menyingkirkan botol dan gelas dari hadapan mereka. Ia lalu mengangkat tubuh Kiara dengan hati-hati, menggendongnya dalam pelukan, lalu membaringkannya di atas sofa yang tersedia di sudut balkon dekat pintu.

“Kamu istirahat di sini dulu, tidur sebentar ya,” ucap Bara lembut.

“Jangan pergi, temani aku di sini saja,” pinta Kiara dengan suara merdu.

Tak sampai hati menolak permintaan kekasihnya yang sudah setengah mabuk, akhirnya Bara duduk di sampingnya dan tetap menemani.

 .

.

.

Sementara itu, di dalam ruang utama acara, para tamu dari kalangan pejabat dan pengusaha ternama tampak duduk dengan antusias. Di hadapan mereka, berjejer beberapa gadis muda yang dipakaikan kostum-kostum terbuka: ada yang berpakaian seperti kelinci, perawat, kucing, dan pramugari. Tatapan penuh nafsu dari para pria itu tak lepas sedikit pun dari tubuh para gadis yang tampak ketakutan itu.

Harga penawaran pun melambung tinggi. Banyak yang saling berebut bahkan tak segan mengancam demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Di salah satu sudut ruangan, duduk Rafa dan Yuli, tak jauh dari tempat Henri dan Risma berada. Keempatnya menyaksikan jalannya acara dengan senyum puas, membayangkan jumlah uang besar yang akan segera masuk ke kantong mereka dari hasil menjual empat gadis malang itu.

Di sisi lain, Andre sudah meninggalkan Ucup yang kini duduk sendirian sambil terus mengamati setiap gerak-gerik di dalam ruangan. Sedangkan Vera, ia tetap siaga menunggu aba-aba dari Andre. Begitu perintah diberikan, ia akan segera menghubungi pihak kepolisian untuk membongkar aksi ilegal itu.

"Ndre, elu kenapa lama sekali?” tanya Ucup melalui alat dengar tabung akustik—alat yang ikonik dan sering dipakai di film laga.

“Sabar, gue sedang berusaha mematikan aliran listrik dan lampu. Supaya kita bisa keluar tanpa ketahuan. Dengan cara ini, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menangkap kita, apalagi kalau tiba-tiba ada yang menembak,” jelas Andre.

Ucup mengerti, lalu ia menunggu dengan sabar sampai Andre selesai melaksanakan rencananya di rumah megah itu.

Tap!

Seketika seluruh lampu padam. Semua tamu tampak kebingungan, karena listrik di kawasan perumahan elit itu dikenal sangat jarang sekali mengalami gangguan. Akhirnya beberapa petugas keamanan bergegas memeriksa sumber listrik di bagian belakang bangunan. Sementara itu, Andre sudah bergerak menuju ruang utama untuk menemui Ucup.

Setelah mendekati Ucup, Andre langsung mengajaknya pergi. Sebelumnya, ia sudah lebih dulu memberitahu Vera agar segera menghubungi pihak kepolisian.

“Cup, ayo kita pergi sekarang,” ajak Andre.

Ucup mengangguk mantap, lalu bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah temannya keluar dari ruangan itu.

“Apa yang elu temukan di dalam sana, Ndre?” tanya Ucup penasaran.

“Nanti aku ceritakan semuanya. Sekarang kita harus segera keluar sebelum ada yang mulai curiga,” jawab Andre dengan nada terburu-buru.

Namun, saat keduanya baru saja melangkah melewati pintu utama, salah seorang penjaga menghadang dan memanggil mereka.

“Maaf, Tuan. Acara belum selesai, kalian belum diizinkan untuk pulang,” ucap penjaga itu dengan nada tegas.

“Saya harus kembali lebih awal karena ada urusan mendesak. Saya tidak bisa berlama-lama di sini,” jawab Andre berusaha meyakinkan.

“Tapi ini sudah menjadi peraturan di sini. Selama acara belum usai, tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini,” kata penjaga itu sedikit memaksa.

“Wah, sayang sekali kami tidak mengetahui peraturan itu. Tapi maaf, kami tetap harus pergi,” sahut Ucup tenang namun tegas, lalu ia melangkah beriringan dengan Andre.

Belum sempat mereka berjalan jauh, suara letusan senjata api tiba-tiba meletus ke udara sebagai peringatan.

“Jika kalian masih nekat melanggar peraturan, maka nyawa kalian akan menjadi taruhannya!” ancam penjaga itu.

“Ndre…” panggil Ucup dengan suara bergetar, karena ia sudah kehabisan akal untuk keluar dari situasi ini.

“Tunggu sebentar. Kita tunggu sesuatu yang sebentar lagi akan datang,” ucap Andre tenang.

Tak lama setelah itu, suara raungan sirene mobil polisi mulai terdengar mendekat. Ucup dan Andre segera memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk meloloskan diri. Sementara itu, penjaga yang tadi menghadang mereka tak lagi sempat mencegah, karena ia memilih bergegas masuk ke dalam ruangan untuk memberitahu para tamu bahwa aparat kepolisian sudah berada di dekat lokasi.

Mendengar kabar itu, Yuli segera menarik lengan Rafa, lalu memberi isyarat kepada Henri dan Risma untuk segera pergi dari tempat itu.

“Kenapa sampai ada polisi di sini?” gumam Rafa dengan wajah cemas.

“Sepertinya ada seseorang yang sudah melaporkan acara ini ke pihak berwajib,” sahut Henri.

“Aku juga berpikir begitu. Kita harus pergi secepatnya sebelum semuanya terlambat,” ucap Yuli tergesa-gesa.

Keempat orang itu pun mempercepat langkah mereka menuju kendaraan masing-masing. Rafa dan Yuli masuk ke dalam mobil sport milik mereka, sedangkan Risma ikut bersama Henri.

Risma sudah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Saat Henri hendak membuka pintu kemudi, tanpa sengaja pandangannya tertuju ke arah balkon lantai atas rumah tempat Andre dan yang lainnya bersembunyi. Mata Henri terbelalak lebar saat memperhatikan sosok yang berdiri di sana. Ia merasa sangat mengenali wajah orang itu. Seketika raut wajahnya berubah pucat dan dipenuhi rasa takut yang luar biasa. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan memacu kendaraannya meninggalkan kawasan itu hingga mobil itu lenyap dari pandangan.

 

Bersambung

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Kurir Paket Membangun Kerajaan Bisnis
Abyyasdemons: oke kak👍
total 1 replies
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!