NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 | Plester

​"Selamat pagi, Nanae," sapa Orion dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar sangat intim. "Tidurmu nyenyak sekali di pelukanku."

​Deg!

​Jantung Luna serasa berhenti berdetak seketika. Efek kaget yang menghantamnya terasa seribu kali lebih dahsyat daripada saat memacu Kawasaki Ninja-nya semalam. ​Mata Luna membelalak sempurna. Ia baru sadar bahwa dirinya... sedang terbaring di atas satu ranjang yang sama dengan pasien paling berbahaya di RSJ ini!

​"O-Orion?!" pekik Luna, suaranya melengking karena panik yang teramat sangat.

​Tanpa berpikir panjang, Luna refleks mendorong dada Orion dengan sekuat tenaga dan berusaha mundur. Namun, pergerakannya terhalang oleh cengkeraman tangan Orion di pinggangnya yang justru makin mengencang, membuat tubuh mereka kembali menempel rapat.

​"Hei, pelan-pelan. Kamu bisa jatuh dari ranjang kalau mendadak panik begitu," kekeh Orion rendah. Binar geli di mata abu-abu pria itu berkobar makin terang melihat wajah Luna yang langsung memerah padam sampai ke ujung telinga.

​"Lepasin, Orion! Kamu... kenapa aku bisa ada di atas ranjang?!" geram Luna setengah berbisik, panik setengah mati kalau-kalau ada perawat yang tiba-tiba membuka pintu.

​"Semalam kamu ketiduran di kursi dengan posisi yang menyedihkan," potong Orion santai, jari-jarinya yang lancang justru mengusap pinggang Luna. "Daripada lehermu patah, aku pindah saja kamu ke sini. Ranjang VIP ini cukup luas untuk kita berdua, kan?"

​"Kamu mindah aku?!" Luna rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.

​Seorang dokter psikiater, tertangkap basah tidur seranjang dengan pasiennya sendiri di dalam bangsal perawatan? Kalau sampai hal ini ketahuan Direktur Utama atau staf RSJ Silver Oak, karier dan reputasinya sebagai dokter akan hancur lebur dalam hitungan detik!

​"Orion, lepas! Ini pelanggaran—"

​"Ssst," Orion memotong ucapan Luna dengan meletakkan telunjuknya di atas bibir wanita itu. Tatapannya mendadak mengayun intens, merayap dari mata cokelat Luna, turun ke bibirnya, lalu berhenti di leher putih wanita itu.

Plester yang ditempelkan Luna kemarin ternyata sudah sedikit terkelupas akibat tergesek bantal, mengekspos sebagian bercak kemerahan di lehernya.

​Senyum Orion makin melebar, terlihat sangat puas dan penuh kemenangan. "Plestermu lepas sedikit, Nanae. Tanda dariku masih kelihatan jelas."

Wajah Luna rasanya seperti terbakar. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang dimilikinya, Luna mencengkeram pergelangan tangan Orion yang ada di pinggangnya lalu memutarnya kuat-kuat.

​"Aww–" Orion meringis pelan, refleks mengendurkan cengkeramannya.

Luna tidak membuang kesempatan emas itu. Ia langsung berguling menjauh dan melompat turun dari ranjang. Jaketnya yang sempat ia lepas semalam tergeletak di kursi. Dengan jemari gemetar, Luna menyambar jaket itu, memakainya asal-asalan, lalu merapikan rambutnya yang berantakan dengan kepanikan luar biasa.

​Ia menatap Orion dengan napas memburu dan mata yang berkilat marah campur malu. "Kamu benar-benar tidak ada kapoknya, ya?!"

Orion menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, merentangkan kedua tangannya di atas bantal dengan raut wajah tanpa dosa sama sekali.

​"Aku cuma merawat psikiaterku yang kelelahan setelah menolongku semalam. Apa itu salah?" tanya Orion lembut, nada suaranya begitu polos hingga rasanya ingin sekali Luna lempar memakai baki makanan.

​Ceklek!

​Suara handle pintu yang diputar dari luar mendadak membuat Luna membeku kaku di tempatnya berdiri. Jantungnya serasa mau melompat keluar dari dada.

Pintu kayu kamar 404 bergerak terbuka pelan. ​Luna mematung sempurna. Wajahnya yang semula memerah padam mendadak pucat pasi. Otaknya langsung berputar liar mencari alasan rasional jika perawat yang masuk melihatnya berdiri panik dengan pakaian kusut, rambut sedikit berantakan, dan wajah seperti habis ketahuan mencuri.

​"Selamat pagi, Pasien Orion..." Fiona, perawat kepala bangsal VIP melangkah masuk sambil membawa nampan berisi sarapan dan gelas obat.

​Namun, begitu pandangannya membentur sosok Luna yang berdiri kaku di samping ranjang, langkah Fiona langsung terhenti. Matanya membelalak lebar, berpindah dari wajah Luna yang pucat, ke arah Orion yang sedang bersandar santai di ranjang dengan senyum tipis, lalu turun ke arah selimut yang tampak sedikit kusut di sisi kosong tempat tidur.

​"D-dokter Luna?" Maya tergagap, hampir saja menjatuhkan nampannya. "Dokter... ada di sini sejak kapan? Bukannya tadi malam bukan jadwalnya Dokter ya?"

​Luna menelan ludah yang terasa sekeras batu. Ia buru-buru berdeham, berusaha setengah mati mengembalikan suara tegas khas dokternya.

​"Ah... iya, Fiona. Selamat pagi," sahut Luna, tangannya bergerak cepat merapikan kerah jaket untuk menutupi bagian leher yang plester-nya sedikit terkelupas. "Tadi malam ada insiden kecil di rooftop. Pihak keamanan memanggil saya karena pasien hanya mau kooperatif dengan saya. Karena kondisinya sempat tidak stabil, saya... saya terpaksa observasi disini sampai pagi."

Observasi diatas ranjang yang sama, batin Orion sambil terkekeh pelan tanpa suara di belakang Luna.

​Fiona mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba memproses jawaban itu. "O-oh... begitu. Tapi... wajah dokter Luna kayak pucat banget? Dokter tidak apa-apa?"

​"Saya hanya kurang tidur. Banyak berkas yang harus saya evaluasi," potong Luna cepat, sama sekali tidak memberi ruang untuk pertanyaan susulan. Ia melirik Orion dengan tatapan tajam yang menyiratkan ancaman kematian jika pria itu berani angkat bicara.

​Beruntung, Orion hanya mengulas senyum tipis, memilih menikmati kepanikan manis sang psikiater dari atas tempat tidur.

​"Kalau begitu, tolong pastikan Orion meminum obatnya, Fiona," ujar Luna tegas, melangkah melewati Maya menuju pintu keluar. "Saya harus ke ruang staf sekarang."

​"Baik, Dok..."

​Begitu melangkah keluar dari kamar VIP 404 dan pintu tertutup rapat, Luna merosotkan bahunya. Ia berjalan cepat menyusuri koridor, masuk ke dalam toilet dokter, lalu langsung mengunci pintunya dari dalam.

Brak!

​Luna menyandarkan tubuhnya ke pintu toilet, menangkup wajahnya yang terasa sangat panas dengan kedua telapak tangan yang dingin. ​"Gila! Ini benar-benar gila, Rellunae!" bisiknya frustrasi pada diri sendiri.

Ia melangkah ke depan wastafel dan menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya sembap, bajunya kusut, dan saat ia menurunkan kerah jaket... plester di lehernya sudah hampir lepas sepenuhnya, memperlihatkan tanda kemerahan yang jelas-jelas tercetak di sana.

​Aroma maskulin khas Orion seolah masih menempel erat di pakaiannya, dan sensasi pelukan hangat pria itu saat ia terbangun tadi masih terasa nyata di pinggangnya.

​"Bagaimana bisa aku tertidur lelap di sebelahnya?!" Luna meremas pinggiran wastafel, napasnya memburu.

​Sebagai psikiater, ia tau Orion adalah pasien yang sangat manipulatif dan mahir membaca emosi lawan bicaranya. Tapi cara pria itu memperlakukannya tadi pagi... godaannya, tatapannya, dan fakta bahwa Orion rela memindahkannya ke ranjang agar lehernya tidak pegal, benar-benar mengacak-acak batas profesionalisme medis yang dibangunnya mati-matian.

Ponsel di dalam saku jaketnya mendadak bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal, yang Luna tau pasti siapa pemiliknya.

​087xxxxxx: Plestermu hampir lepas, Nanae. Jangan lupa diganti. Terima kasih sudah menemaniku tidur semalam. Aku menunggumu di sesi konsultasi berikutnya.

​Luna memejamkan mata erat-erat, memeluk ponselnya di dada sambil mengembuskan napas panjang. Pria itu tidak hanya menguji batas kesabarannya... tapi juga mulai mengambil alih seluruh isi kepalanya.

☆☆☆

Luna baru saja menyelesaikan sesi konsultasi untuk pagi hari. Dirinya menepuk-nepuk pipinya yang masih terasa hangat, berusaha mengusir bayangan Orion yang terus berputar di kepalanya. Untungnya, sesi Orion akan berlangsung saat siang hari. Dirinya tidak siap jika harus langsung berhadapan dengan pasien satu itu pagi ini.

Begitu melangkah keluar dari ruang konselingnya menuju area meja resepsionis utama, langkah Luna terhenti.

​Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja kasual yang tergulung hingga siku berdiri di sana. Postur tubuhnya yang tegap khas aparat, dipadu dengan rahang tegas dan tatapan mata tajam, membuat beberapa perawat muda di sekitar resepsionis curi-curi pandang.

​"Kak Biru?" panggil Luna heran, mempercepat langkah menghampirinya. "Kok di sini? Ngga ada tugas kah, kak?"

​"Kebetulan tadi aku dapet tugas lapangan di daerah sini," ujar Xabiru, suaranya berat dan tenang. Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang satu kantong kertas berisi paper bag dari restoran favorit Luna. "Mampir sebentar. Kamu pasti belum sempat sarapan atau makan siang, kan? Mukamu pucat banget."

​"Ah... iya, semalam agak sibuk," sahut Luna canggung, menerima kantong kertas itu. "Makasih ya, kak. Padahal ngga usah repot-repot..."

​"Ngga ada istilah repot buat kamu, Re," potong Xabiru pelan. Tangannya refleks terangkat, hendak mengusap puncak kepala Luna, kebiasaan perhatian yang selalu ia tunjukkan sejak dulu.

​Namun, saat tangan Xabiru melayang di udara, matanya yang tajam menangkap sesuatu di sela-sela kerah jubah putih Luna yang sedikit terbuka. Sebuah plester medis baru tertempel di sisi kiri leher wanita itu. Tepat di area pembuluh darah utama.

Gerakan tangan Xabiru mendadak terhenti. Matanya menyipit tajam. Binar hangat di iris hitamnya menguap seketika, digantikan oleh aura dingin yang begitu pekat. "Lehermu kenapa, Renae?" tanya Xabiru. Suaranya mendadak turun satu oktaf, berubah menjadi intonasi interogasi khas seorang penyidik polisi.

Luna refleks memegang lehernya, jantungnya langsung berdegup kencang karena panik. "E-eh? Ini... cuma tergores. Tadi malam kejatuhan berkas di ruang arsip, kena pinggiran map yang tajam."

Xabiru tidak langsung percaya. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Luna bisa merasakan intimidasi halus dari saudaranya itu. Ibu jari Xabiru terangkat, mengusap pinggiran plester di leher Luna dengan tekanan yang sedikit terlalu kuat.

​"Tergores map?" gumam Xabiru dingin, matanya menatap lurus ke dalam mata Luna, mencari kebohongan di sana. "Bentuk lukanya kayak apa sampai harus dipasang plester sebesar ini di leher?"

​"Cuma goresan kecil, kak Biru. Serius," kilah Luna, mencoba tersenyum sealami mungkin meski ketakutan mulai merayapi tengkuknya. "Aku ini dokter, tau cara merawat luka sendiri."

Xabiru menatap Luna selama beberapa detik dalam keheningan yang mencekam, sebelum akhirnya menghela napas pendek. Ia menurunkan tangannya dari leher Luna, lalu mengusap bahu wanita itu pelan, seolah memancarkan hak kepemilikan di depan staf rumah sakit lain yang berlalu-lalang.

​"Ya sudah. Nanti malam aku jemput yaa? Kamu kelihatan capek banget, ngga usah naik motor Ninja-mu itu," ujar Xabiru tegas, tak menerima bantahan.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!