Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran dari Alam
Setelah Aldi menerima kehadiran Dinda, Bara, dan Rian, mereka memutuskan untuk tinggal beberapa hari di sekitar rumah Aldi dan kakeknya agar bisa mulai memberikan bimbingan awal. Rumah kayu kecil yang terletak di pinggiran hutan lindung ternyata memiliki suasana yang sangat mendukung untuk pembelajaran energi alamiah – udara yang segar, suara gemericik sungai di kejauhan, dan pepohonan yang rindang menjadi latar yang sempurna.
Kakek Aldi, seorang pria berusia lanjut bernama Kakek Jaya, sangat senang melihat cucunya mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan. Ia bahkan menyediakan ruangan khusus untuk mereka bertempat tinggal dan selalu menyajikan makanan hangat yang dibuat dari bahan-bahan alami dari sekitar hutan.
“Sejak kemampuan Aldi muncul, saya tidak bisa melakukan banyak hal selain menemani dia dan mencoba membuatnya merasa lebih baik,” ujar Kakek Jaya pada pagi hari berikutnya, sambil menyajikan bubur kacang hijau yang hangat. “Saya tahu bahwa kemampuannya bukan kutukan – leluhur kita sering bercerita tentang orang-orang yang bisa berkomunikasi dengan alam. Tapi saya tidak punya pengetahuan untuk membimbingnya.”
Dinda tersenyum dan memberikan sapaan bahu pada Kakek Jaya. “Jangan khawatir, Pak Jaya. Kita akan membantu Aldi memahami kekuatannya dengan benar. Dan saya yakin, suatu hari nanti dia akan bisa menggunakan kemampuannya untuk melindungi desa dan hutan ini.”
Pada hari pertama pelatihan, mereka membawa Aldi ke sungai tempat ia pertama kali menemukan kemampuannya. Sungai yang terletak di dalam hutan lindung memiliki air yang jernih dan segar, dengan batu-batu besar yang tersebar di sepanjang alirannya.
“Kekuatanmu berasal dari sini, bukan?” tanya Bara yang sekarang bisa bergerak bebas di sekitar sungai – bentuk fisiknya semakin stabil berkat dukungan energi alamiah di sekitar hutan.
Aldi mengangguk dengan sedikit ragu. “Ya… saya terjatuh ke dalam sungai saat sedang mencari buah di hutan. Saat saya tenggelam, saya merasa seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam diri saya – seperti arus energi yang hangat dan kuat.”
Rian mendekati tepi sungai dan merendam tangannya ke dalam air. “Mari kita mulai dari yang paling dasar, Aldi. Kekuatan alamiah tidak bisa dipaksa atau dikendalikan dengan paksa. Ia harus diterima dengan hati yang terbuka dan dijaga dengan rasa hormat.”
Dinda kemudian mengajak Aldi untuk duduk di atas salah satu batu besar di tepi sungai. “Tutup matamu dan coba rasakan apa yang ada di sekitarmu,” instruksinya dengan suara lembut. “Jangan coba untuk menarik energi atau memaksanya keluar. Hanya saja rasakan – bagaimana udara menyentuh kulitmu, bagaimana air mengalir, bagaimana pepohonan bernapas.”
Aldi mengikuti instruksi Dinda dengan penuh konsentrasi. Awalnya, ia tampak kesulitan dan tubuhnya sedikit tegang. Namun setelah beberapa menit, wajahnya mulai rileks dan matanya yang tertutup mulai menunjukkan ekspresi yang tenang.
“Aku merasakannya…” bisik Aldi dengan suara yang penuh kagum. “Ada sesuatu yang mengalir di sekitar kita – seperti aliran energi yang menghubungkan semua hal. Aku bisa merasakan pepohonan, sungai, bahkan tanah di bawah kakiku.”
Bara tersenyum dan mulai menjelaskan lebih lanjut. “Itu adalah jaringan energi alamiah yang menghubungkan semua makhluk hidup di dunia ini. Kamu memiliki kemampuan khusus untuk merasakan dan berinteraksi dengan jaringan ini dengan lebih jelas daripada kebanyakan orang.”
Selama beberapa hari berikutnya, pelatihan berlanjut dengan progres yang luar biasa. Aldi belajar cara mengendalikan energi yang ada di dalam dirinya dengan cara yang benar – tidak dengan memaksanya, melainkan dengan bekerja sama dengan alam. Rian menjadi instruktur yang sangat baik untuk Aldi, karena ia bisa memahami dengan tepat apa yang dialami oleh Aldi dan memberikan nasihat berdasarkan pengalamannya sendiri.
“Saat kamu merasa energi mulai keluar tanpa kontrol,” jelas Rian saat mereka berlatih di tengah hamparan rumput yang luas, “cobalah untuk menghubungkan dirimu dengan sesuatu yang stabil – seperti akar pepohonan besar atau batu yang kuat. Biarkan energi yang berlebih mengalir keluar dari dirimu dan kembali ke alam dengan sendirinya.”
Aldi mencoba melakukan apa yang diajarkan Rian. Saat energi mulai muncul di tangannya, ia fokus pada sebuah pohon jati besar di kejauhan. Dengan perlahan, ia merasakan energi mengalir dari tangannya ke arah pohon – dan pohon tersebut bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang lebih cepat, dengan daun-daunnya yang semakin hijau dan segar.
“Luar biasa!” teriak Dinda dengan senyum bangga. “Kamu sudah bisa mengarahkan energimu untuk kebaikan, Aldi. Itulah makna sebenarnya dari kekuatan yang kamu miliki – untuk membantu alam dan makhluk hidup di dalamnya.”
Namun tidak semua hal berjalan mulus. Pada malam hari keempat, ketika mereka sedang berkumpul di halaman rumah Aldi, sebuah perubahan mendadak terjadi pada energi di sekitar hutan. Udara yang biasanya segar menjadi sedikit berat, dan pepohonan mulai bergetar dengan cara yang tidak biasa – seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu keseimbangan alamiah.
Bara segera berdiri dengan wajah yang serius. “Ada sesuatu yang tidak benar. Energi di sekitar hutan sedang terganggu oleh sesuatu yang kuat dan tidak dikenal.”
Dinda menyentuh kalung Batu Pemersatu di lehernya – batu itu mulai bersinar dengan sangat terang dan memberikan sinyal bahwa ada ancaman yang mendekat. “Ini bukan energi yang berasal dari alam. Ada teknologi yang digunakan untuk mengganggu jaringan energi alamiah di sini.”
Tiba-tiba, beberapa sosok yang mengenakan jas hitam dengan simbol yang tidak dikenal muncul dari arah hutan. Mereka membawa alat-alat yang kompleks yang memancarkan energi berwarna kebiruan yang membuat pepohonan di sekitarnya mulai menguning dan layu.
“Kita telah mengamati kamu selama beberapa hari,” ujar salah satu sosok yang tampaknya menjadi pemimpinnya, dengan suara yang dingin dan tidak memiliki emosi. “Kemampuan yang kamu miliki, Aldi, adalah sesuatu yang sangat berharga. Kami ingin kamu bergabung dengan kami dan menggunakan kekuatanmu untuk tujuan yang lebih besar.”
“Kamu salah besar!” teriak Aldi dengan suara yang tegas, berdiri di sisi Dinda dan Rian. “Kekuatanku bukan untuk digunakan oleh orang yang hanya ingin mengambil keuntungan darinya. Aku akan melindungi alam dan semua yang ada di dalamnya!”
Energi ungu muda mulai muncul di tangan Aldi – kali ini tidak dengan rasa takut, melainkan dengan tekad yang kuat untuk melindungi apa yang dia cintai. Bara juga mulai mengumpulkan energinya untuk membentuk perisai pelindung, sementara Rian siap membantu mengarahkan energi dari alam sekitar untuk memperkuat pertahanan mereka.
“Kamu tidak punya pilihan lain!” teriak pemimpin kelompok tersebut sambil mengangkat tangannya untuk mengaktifkan alat mereka dengan kekuatan penuh. Energi kebiruan yang sangat kuat mulai menyebar ke segala arah, mengancam untuk merusak seluruh area hutan lindung...