NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Ditawarin Ciu

.........

...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka....

...Tidak untuk ditiru....

.........

...Happy Reading...

.........

Malam semakin larut ketika Tania dan Rangga tiba di sebuah pos ronda kayu yang terletak di bawah rindangnya pohon ceri tua. Di sana, sekelompok pemuda dan pria paruh baya sudah duduk melingkar di atas tikar pandan yang agak koyak. Di tengah-tengah mereka, seplastik besar kacang kulit sangrai, beberapa bungkus keripik singkong pedas, dan sebuah botol air mineral ukuran besar tanpa label yang berisi cairan bening agak kekuningan menjadi menu utama.

Aroma ciu alkohol tradisional eceran yang menyengat dan tajam seperti cuka asam bercampur bensin langsung menusuk hidung begitu Tania melangkah mendekat. Di dunia lamanya, aroma alkohol selalu identik dengan botol-botol wiski mahal berlabel impor atau seloki perak di kelab-kelab privat Gangnam. Aroma cairan di dalam botol plastik ini sangat jauh berbeda, namun esensi dari efek yang ditimbulkannya tetaplah sama, mematikan nalar manusia.

"Walah, Rangga! Beneran dibawa si Eneng cantik ini!" teriak seorang pria berkaos singlet loreng yang tampaknya sudah setengah teler. "Sini, duduk, duduk! Jangan malu-malu, Neng."

Tania mengambil posisi duduk di sudut tikar, melipat kakinya dengan anggun meski celana jins loaknya membatasi ruang gerak. Sesuai janjinya, Rangga langsung menggeser posisi duduknya tepat di sebelah Tania, seolah-olah tubuh jangkungnya adalah barikade hidup yang memisahkan sang ratu mafia dari kebuasan jalanan Jakarta.

"Neng Tania ini aslinya mana toh? Kok mukanya bening bener, gak cocok blas kerja megang sapu lidi," tanya Doni, pria yang membawa botol ciu malam itu, sambil mengunyah kacang kulit dan melempar kulitnya sembarangan ke tanah.

Sebelum Tania sempat membuka mulut, Rangga langsung memotong dengan suara medoknya yang sengaja ditinggikan. "Udah tak bilang tadi, Don! Dia ini asli sini, cuma nenek buyutnya aja yang orang Korea. Gak usah diinterogasi kayak buronan gitu lah,"

Mendengar pembelaan Rangga yang terlalu protektif, sorak-sorai usil langsung pecah di pos ronda itu. Jono menepuk paha Rangga keras-keras sambil tertawa terbahak-bahak. "Halah, Rangga! Sok jadi pahlawan kesiangan kamu, Ngga! Biasanya juga kamu yang paling depan kalau ada cewek baru. Inget ya Neng Tania, si Rangga ini jangan dipercaya. Bulan lalu dia janjiin nikah sama anak gadis gang sebelah, tahu-tahu minggu depannya udah boncengan sama janda pasar!"

Rangga mendengus kesal, wajahnya memerah bukan karena alkohol, melainkan karena rahasia buruknya sebagai playboy kelas kakap dibongkar habis-habisan di depan Tania. Dia melirik Tania dengan tatapan bersalah, namun Tania hanya menatapnya dengan raut wajah datar sewarna dinding beton. Tania tidak peduli dengan masa lalu Rangga.

Seiring berjalannya waktu, botol ciu pertama mulai tandas, dan botol kedua dibuka. Efek alkohol mulai bekerja di kepala para pria di pos ronda tersebut. Suasana yang semula penuh candaan kasual perlahan berubah menjadi agak liar dan berani.

Benar apa yang dikhawatirkan Rangga sejak awal. Beberapa pria yang sudah mulai mabuk mulai mengalihkan pandangan mereka yang sayu dan nakal ke arah Tania.

"Eh, Neng Tania... dari tadi diem-diem aja kayak patung," goda Doni, tangannya yang gemetar karena mabuk menuangkan cairan ciu dari botol ke dalam sebuah gelas plastik air mineral yang dipotong setengah. Dia menyodorkannya tepat di depan wajah Tania, baunya yang menyengat membuat Rangga yang berada di sampingnya langsung mengernyit. "Masa nongkrong di sini gak minum? Gak asyik bener. Nih, cobain dikit. Biar badannya anget dan gak kaku lagi kayak kanebo kering. Ayo toh, minum!"

Beberapa pria lain ikut bersorak, memberikan tekanan sosial jalanan yang khas. "Minum! Minum! Minum!"

Rangga yang kepalanya sudah mulai berdenyut agak pening akibat setengah mabuk setelah menenggak dua gelas sebelumnya, mencoba menepis tangan Doni. "Udah, Don, jangan dipaksa. Dia perempuan, gak biasa minum ginian. Sini buat aku aja—"

Namun, sebelum jemari Rangga sempat menyentuh gelas plastik tersebut, sebuah gerakan tangan yang sangat cepat dan efisien mendahuluinya.

Tania merebut gelas plastik itu dari tangan Doni. Seluruh sorak-sorai di pos ronda mendadak terhenti dalam sekejap. Semua pasang mata, termasuk mata sipit Rangga yang sudah sayu karena alkohol, menatap Tania dengan tatapan terkejut.

Tania menatap cairan bening kekuningan di dalam gelas plastik itu selama satu detik. Tanpa ada keraguan sedikit pun di wajah pucatnya, tanpa mengubah raut wajahnya yang sedingin es batu, dia mendekatkan gelas itu ke bibir tipisnya.

Glek. Glek.

Hanya dalam dua tegukan besar yang mantap, cairan ciu berkadar alkohol tinggi yang membakar tingkat tenggorokan itu habis tak bersisa. Tania menurunkan gelas plastik tersebut, meletakkannya kembali di atas tikar dengan ketukan pelan. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Tidak ada batuk, tidak ada ringisan menahan perih di leher, dan tidak ada air mata yang keluar. Baginya, rasa terbakar dari ciu murahan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa perih dari luka tertusuk benda tajam saat bermain kejar kejaran dengan beberapa polisi saat itu.

Keheningan malam di pos ronda itu pecah oleh gemuruh tepuk tangan yang luar biasa heboh.

"Waduh! Gila! Si Eneng ternyata suhu!" Jono berteriak histeris, memukuli tiang pos ronda dengan antusias. "Rangga! Kamu bawa singa betina ke sini, Ngga! Mantap bener!"

"Ayo, tuang lagi! Tuang lagi!" Doni yang merasa tertantang langsung mengambil botol ciu dan kembali memenuhi gelas plastik Tania.

Tania yang dari tadi merasa bosan dengan pembicaraan hambar mengenai gosip kampung, mendadak menemukan sedikit hiburan dari aktivitas ini. Di bawah sisa-sisa insting lamanya sebagai penguasa malam di Gangnam, dia menerima setiap tuangan gelas yang diberikan. Dia ikut minum, membiarkan cairan panas itu mengalir ke perutnya, memicu rasa hangat yang perlahan mengusir sisa dingin musim dingin Korea yang masih membekas di sumsum tulangnya.

Satu jam berlalu dalam kegilaan malam jalanan. Satu per satu, pertahanan para pria di pos ronda itu runtuh. Jono adalah orang pertama yang tumbang, telentang di atas tikar dengan mendengkur keras. Disusul oleh Doni yang berakhir memeluk tiang kayu pos ronda sambil meracau tidak jelas, dan tiga pemuda lainnya sudah tepar di atas tanah becek di samping pos.

Kini, hanya tersisa Tania yang masih duduk tegak dengan punggung kurusnya, serta Rangga yang berada di sampingnya dalam kondisi setengah sadar, menopang kepalanya yang berputar hebat dengan kedua tangannya di atas lutut.

Tania menoleh, menatap Rangga yang wajahnya sudah merah padam. Efek alkohol mulai membuat pandangan Tania sedikit mengabur, namun kesadarannya sebagai seorang pembunuh terlatih tetap terjaga di level tertinggi. Dia mengembuskan napas panjang, mengeluarkan aroma ciu yang pekat dari mulutnya, lalu mengedikkan bahu kanannya dengan santai.

"Aku mau pulang," ucap Tania, suaranya terdengar sangat datar dan dingin, bahasa Indonesianya yang kaku terdengar aneh di tengah kesunyian malam yang kini hanya diisi oleh suara jangkrik.

Rangga mengangkat kepalanya yang terasa seberat seonggok batu sepedaan. Dia menatap Tania dengan mata sipitnya yang nyaris tertutup sepenuhnya, lalu mengangguk-angguk lemah beberapa kali seperti mainan babi di dasbor mobil. "Iya... Neng... pulang... tak anter... eh, tapi aku gak bisa jalan..."

Tania tidak menunggu Rangga menyelesaikan kalimatnya. Dia bangkit berdiri, merapikan kaos oblong putihnya yang sedikit kusut, lalu melangkah meninggalkan pos ronda tersebut tanpa memedulikan tubuh-tubuh pria yang bergelimpangan di atas tikar. Di kegelapan gang yang berjarak lima puluh meter di depannya, sesosok bayangan pria berjaket hitam melintas cepat anak buah setianya memastikan sang ratu tetap berada dalam pengawasan yang aman hingga dia mengunci pintu kontrakannya.

...

Sementara itu, di belahan bumi bagian utara, perbedaan waktu beberapa jam menempatkan Seoul di awal pagi yang kelabu dan dipenuhi kabut musim dingin yang tebal.

Kapten Herry duduk di dalam mobil dinasnya yang terparkir di tepi jalan layang yang menghadap ke arah Gedung Markas Besar Kepolisian. Mesin mobil dibiarkan menyala, memberikan aliran udara hangat dari heater yang tidak mampu mengusir rasa dingin yang membeku di dalam dada Herry.

Di atas kursi penumpang di sebelahnya, sebuah map perak tebal berisi rincian susunan acara pernikahan dan daftar tamu VIP dari keluarga Han tergeletak begitu saja, kontras dengan tumpukan lembar dokumen intelijen maritim mengenai pelarian kapal kargo kayu yang dia pelajari semalaman.

Herry benar-benar berada di titik puncak stres pikirannya. Lubang hitam di kepalanya seolah menjelma menjadi monster yang terus mencakar warasnya. Di satu sisi, lembar dokumen kepolisian menyatakan bahwa Marysa adalah target operasi yang harus dia seret kembali ke sel besi. Namun di sisi lain, fragmen memorinya yang muncul di Pelabuhan Incheon terus-menerus meneriakkan bahwa wanita itu memiliki arti yang jauh lebih dalam di masa lalunya sebelum semua ingatan itu menghilang.

Ponselnya di atas dasbor bergetar kembali, menampilkan pesan singkat dari Jessica Hwang Won: 'Jangan lupa siang ini kita ada pertemuan dengan vendor dekorasi altar di Gangnam. Ayahku juga akan ikut.'

Herry menatap pesan itu dengan pandangan kosong yang pekat. Ada keraguan yang sangat besar yang kini merayap di setiap jengkal hatinya mengenai pernikahan ini. Dia tahu, menikahi Jessica adalah jalur aman yang akan menjamin masa depannya di koridor kekuasaan kepolisian. Namun, melangkah ke altar dengan jiwa yang terbagi, dengan pikiran yang terus-menerus dihantui oleh bayangan seorang gembong mafia wanita yang kini entah berada di mana, rasanya seperti melakukan pengkhianatan terbesar terhadap dirinya sendiri.

Dia tetap berkutat dengan pekerjaannya di siang hari, memeriksa logistik kapal, menginterogasi sisa jaringan Baekje dengan tangan besi, sembari dipaksa untuk tetap tersenyum kaku mengurus detail pernikahan yang terasa hambar. Tekanan dari Wakil Komisaris Jenderal untuk segera menyerahkan kasus Marysa ke BIN juga semakin mengimpit waktunya.

Herry mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat hingga kulit sarung tangannya mengeluarkan bunyi gesekan yang ketat. Rahangnya yang tegas mengeras kuat, memancarkan emosi dingin yang tertahan.

"Aku tidak akan membiarkan BIN mengambil kasus ini," desis Herry, suaranya memotong kesunyian kabin mobil seperti bilah pisau. "Aku yang akan menemukanmu, Marysa. Ke mana pun kapal sialan itu membawamu pergi... aku bersumpah ego kepolisianku tidak akan berhenti sebelum aku mendapatkan jawaban dari mulutmu sendiri."

Dengan sentakan kasar, Herry memindahkan tuas transmisi mobilnya, menginjak pedal gas dalam-dalam, dan membiarkan kendaraan roda empat itu melesat membelah kabut pagi Seoul yang membeku, memulai perjalanannya sendiri ke dalam pusaran takdir yang kian hari kian gelap dan tak terkendali.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!