Adis seorang gadis yang sangat membenci laki-laki, entah apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
Yang jelas jika ada laki-laki yang mendekatinya, hati Adis bisa menjadi marah. Dan yang mengetahui penyebab itu adalah ibunya, hingga sang ibu memutuskan menyuruh Adis untuk menikah karena hanya itu jalan satu-satunya.
Meski kata menikah dalam benak Adis adalah 'Aneh' namun akhirnya Adis tetap menuruti permintaan ibunya itu meski ia sendiri ragu untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh ibunya Adis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan saja
Bima kemudian bangkit dari jongkoknya lalu duduk di sebelah Adis.
"Oke, aku tidak akan kasih tahu Mama tapi setelah pulang dari kantor. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit biar luka di kakimu terobati." Ujar Bima.
"Iya Tuan." Angguk Adis.
"Ck, Dis.. berhenti memanggilku Tuan. Risih aku dengar sebutan itu." Kesal Bima. Padahal sudah mau jadi pasangan suami istri tapi masih aja nyebut 'Tuan'. Bima ingin sekali Adis memanggilnya dengan sebutan 'Mas' seperti pasangan lainnya.
"Hehe.." Adis hanya cengengesan sambil menatap pria tampan itu.
"Sudah, ayo kita makan." Ucap Bima. Dengan sigap Adis melayani Bima dan mereka pun makan bersama-sama.
"Enak Tuan.." Puji Adis dengan mengacungkan jari jempolnya. Perutnya sudah kelaparan.
"Enak lah kan gratis." Sahut Bima.
"Jadi nggak ikhlas nih." Adis langsung cemberut dan meletakkan piring yang masih banyak makanan itu diatas meja.
"Ngambek lagi." Gumam Bima padahal ia hanya bercanda tadi nyatanya Adis mudah tersinggung.
"Enggak Dis, aku cuma bercanda. Dimakan lagi ya." Ucap Bima membujuk calon istrinya itu. Selain keras kepala, Adis juga gampang kesinggung. Bima harus ekstra sabar nantinya.
Adis mulai menyantap makan siangnya lagi. Bima juga menambahkan daging panggang di piring Adis. Untungnya tadi Mamanya mengirimi makan siang jika tidak maka dia tidak akan mengetahui kalau Adis keserempet motor. Pasalnya gadis yang ada disampingnya ini pasti akan merahasiakan darinya. Secara Bima tahu bagaimana sifat Adis.
Mereka pun sudah selesai makan dan Adis langsung membereskan peralatan makan itu. Bima menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
"Tuan, kalau gitu saya keluar ya." Ucap Adis karena harus kembali bertugas.
"Udah disini saja. Kamu harus istirahat, aku tahu kakimu masih sakit." Cegah Bima lalu menarik lengan kiri Adis hingga gadis itu kembali duduk di sofa.
"Aduh.. sakit Tuan." Keluh Adis.
"Mana yang sakit?" Tanya Bima panik.
"Ini lengan kiri saya." Adu Adis sambil menunjuk.
Bima menghela napasnya. "Sudah tahu sakit tapi masih aja maksa untuk bekerja." Ujar Bima dingin.
"Nanti aku kena omel Pak Hendra jika tidak kembali kerja lagi." Jawab Adis, tidak mau meninggalkan tugasnya begitu saja. Apalagi besok ia sudah tidak bekerja lagi bakalan kangen dengan semua teman-temannya sesama office girl.
"Disini yang atasan kamu siapa?" Tanya Bima dengan wajah datarnya.
"Tuan." Jawab Adis.
"Ya sudah sekarang kamu jangan kemana-mana tetap disini, atau kalau kamu mau tidur siang kamu bisa tidur di kamar pribadiku." Ujar Bima menyuruh Adis untuk istirahat.
Adis langsung menggeleng cepat tidak mau tidur di ruang pribadi Bima. Emang dia gadis apaan? Kan mereka belum sah.
"Aku disini aja deh." Ucap Adis. Bima pun tersenyum tipis.
"Tidur lah, aku akan melanjutkan kerjaku lagi." Bima melangkah menuju kursi kebesarannya.
Sedangkan Adis karena tidak merasa kantuk ia pun berjalan ke arah lemari lalu mengambil salah satu buku tebal dan mulai membacanya menghilangkan rasa bosannya.
"Kemana Adis?" Tanya Pak Hendra kepada Mbak Yuni.
"Saya juga tidak tahu Pak." Jawab Mbak Yuni yang sedari tadi tidak melihat juniornya itu.
"Pekerjaan belum selesai main menghilang aja. Niat kerja apa tidak gadis itu." Gerutu Pak Hendra.
Sementara gadis yang mereka bicarakan sedang tertidur pulas sambil memeluk buku tebal yang isinya tentang bisnis.
Tak lama Nova masuk ke ruangan Bima sambil menyerahkan berkas yang diminta oleh pria tampan itu. Nova juga melirik ke arah Adis yang tertidur pulas di sofa. Nova pun bertanya-tanya dalam hati, baru kali ini selama ia menjabat sebagai sekretaris ada yang berani tidur di ruangan atasannya itu. Terlebih lagi seorang gadis yang notabene hanya seorang OG.
"Sebenarnya apa hubungan Pak Bima dan Adis. Kenapa Adis bisa seenaknya tidur di jam kerja seperti ini? Pak Bima juga santai-santai aja membiarkan Adis tidur." Batin Nova yang mulai curiga.
Bima begitu fokus membaca berkas yang di serahkan Nova tadi. Hingga deringan ponsel membuatnya beralih pada benda persegi panjang yang ada di atas meja. Bima melihat layar ponselnya dan ada panggilan dari Mama Desi. Langsung saja Bima mengangkatnya.
"Bima.." Belum juga berucap 'halo' Mama Desi sudah menyela omongannya.
"Iya Ma." Jawab Bima.
"Sekarang kamu ajak Adis ke butik langganan Mama." Perintah Mama Desi.
"Maaf Ma, Bima hari ini masih sibuk, banyak dokumen yang harus Bima tangani." Ujarnya menolak.
"Kamu berikan saja pada sekretaris dan asistenmu. Mama nggak mau dengar penolakan ya Bim." Klik, Mama Desi mematikan sambungan telpon begitu saja.
Bima hanya bisa geleng-geleng kepala. Nyonya Adi ini bila kemauannya tidak dituruti maka semua penghuni rumah tidak akan disapanya. Terpaksa beberapa dokumen yang belum ia pelajari harus ia bawa pulang karena tidak mungkin melimpahkan semuanya kepada sekretaris dan asistennya yang juga sama-sama sibuknya.
Bima pun beranjak dari duduknya lalu memakai jasnya dan membangunkan Adis.
"Nyenyak banget tidurmu." Gumam Bima tersenyum tipis memandangi wajah damai Adis. Ia pun mengambil ponselnya dan diam-diam memfoto Adis mumpung si empu belum ia bangunkan.
"Adis.. bangun." Sambil mengguncang pelan kaki perempuan itu.
Adis mengerjap-ngerjapkan matanya begitu mendengar suara berat laki-laki yang memanggilnya. Ia pun merubah posisinya menjadi duduk.
"Waktunya pulang ya?" Tanya Adis, berpikir jika hari sudah sore.
"Belum. Mama meminta kita untuk datang ke butik." Jawab Bima. "Cuci mukamu di kamar mandi sana." Tambah Bima menunjuk ke kamar pribadinya.
"Ayo Tuan." Ajak Adis begitu sudah selesai membasuh wajahnya hingga segar kembali. Mereka pun keluar dari ruangan Bima.
"Nova.." Panggil Bima kepada perempuan yang mengetik sesuatu di layar PC.
"Iya Pak." Jawab Nova dan langsung berdiri sambil melirik Adis yang berdiri disamping Bima.
"Saya akan pulang sekarang, kalau ada urusan pekerjaan mendadak kamu bisa mengirimkan ke email saya." Ucap Bima datar.
"Baik Pak." Jawab Nova sambil menunduk hormat.
Nova masih memperhatikan Bima dan Adis yang berlalu dari hadapannya. Sepertinya kecurigaannya benar pasti ada hubungan sesuatu diantara mereka.
Bukan hanya Nova saja, beberapa karyawan juga memandang heran ketika Adis berjalan disamping Bima. Bahkan ada dua pegawai wanita yang saling berbisik menggunjing Adis.
"Lihat si cleaning servis itu, berani sekali dia menjajari langkah Bos tampan kita." Sambil menatap sinis ke arah Adis.
"Mau diajak kemana tuh." Jawab perempuan satunya.
Adis yang merasa dirinya jadi pusat perhatian hanya menunduk kemudian berjalan di belakang Bima.
"Biarkan saja mereka." Ucap Bima sambil menarik tangan Adis.
"Tuan lepaskan, saya malu." Bisik Adis sembari melepaskan tangan Bima yang menggenggamnya erat.
.
.
.
Bersambung...