Selama tujuh tahun, Keira Halim mencintai Rafael Atmadja sambil membiarkan pekerjaannya dicuri, rasa sakitnya diremehkan, dan tubuhnya disebut rusak. Malam ketika Rafael mempermalukannya di depan para mitra bisnis demi membela Celine Hartono, sentuhan paksa seorang klien memicu serangan panik yang nyaris membuat Keira kehilangan kesadaran. Kali ini ia tidak memohon untuk dipercaya. Ia mengembalikan cincin pertunangannya, pergi, lalu mengetuk pintu yang salah.
Pria di balik pintu itu adalah Adrian Wijaya—dingin, penuh rahasia, tetapi tidak pernah menyentuh Keira tanpa izin. Di dekatnya, tubuh Keira yang selalu siaga akhirnya bisa bernapas. Dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka menyepakati batas, menandatangani perjanjian harta dan berita acara di hadapan saksi, lalu mencatatkan pernikahan mereka secara resmi. Bagi Keira, itu adalah jalan keluar. Bagi Adrian, pernikahan tersebut jauh lebih pribadi daripada yang berani ia akui.
Ketika Keira membangun Lentera Brand Lab dan merebut kembali namanya, Rafael mulai menyadari perempuan yang telah ia sia-siakan tidak akan pernah pulang. Namun penyesalan sang mantan berubah menjadi kepanikan saat identitas Adrian terbuka: suami “biasa” Keira ternyata pengendali Asterion Capital sekaligus pewaris keluarga Wijaya.
Di tengah perang reputasi, sebuah jam saku lama mengungkap bahwa Keira bukan yatim piatu tanpa asal-usul. Ia adalah satu-satunya penyintas keluarga Halim, pewaris aset lintas negara, dan saksi hidup pembunuhan sembilan belas orang yang selama ini ditutupi keluarga Atmadja. Untuk merebut kembali warisan dan nama keluarganya, Keira harus menghadapi pria berjari pendek dari ingatannya, membongkar perusahaan pencemar, dan memastikan para pelaku diadili—tanpa membiarkan cinta Adrian berubah menjadi sangkar baru.
Karena kali ini, Keira tidak sedang menunggu seorang pria menyelamatkannya. Ia sedang memilih siapa yang boleh berjalan di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Suami Bernama Wijaya
Dua hari setelah pulang dari Bali, nama Wijaya memenuhi layar di aula media Asterion.
Harga saham tidak jatuh, tetapi analis mempertanyakan benturan kepentingan antara audit independen Keira dan posisi Adrian sebagai pemegang kendali perusahaan. Undangan konferensi pers dikirim sebelum siang. Keira menyetujui hadir hanya setelah agenda, durasi, dan urutan pertanyaan dibuat tertulis.
Richard Wijaya datang lima menit sebelum acara dimulai. Rambutnya seluruhnya putih, langkahnya masih tegak, dan tatapannya berhenti pada Adrian seolah menghitung tahun yang hilang.
"Ayah," kata Adrian.
Richard tidak memeluknya. "Kita bicara setelah ini."
Vivian berdiri di samping Richard, sementara Kevin dan Regina menunggu di baris belakang. Gavin membantu tim kepatuhan memeriksa daftar media. Tidak ada satu pun dari mereka mendekati Keira dengan pertanyaan pribadi.
Konferensi dibuka dengan dua pernyataan terpisah. Keira menjelaskan bahwa pekerjaannya di Lentera dan audit Pulau Seraya dijalankan melalui kontrak independen, catatan metodologi, serta tinjauan pihak ketiga. Ia tidak memiliki hak suara di Asterion dan tidak menerima instruksi dari Adrian.
Adrian kemudian menyatakan bahwa ia mengundurkan diri dari setiap pembahasan dan keputusan yang menyentuh kontrak Keira, proyek Pulau Seraya, serta klaim kepemilikan lama Aruna Vista. Komite independen akan mencatat setiap pengunduran diri itu dalam risalah.
Seorang wartawan mengangkat tangan. "Pak Richard, apakah Anda mengonfirmasi bahwa Adrian adalah pewaris utama keluarga Wijaya?"
Richard mengambil mikrofon. "Adrian berada dalam sistem pewarisan inti keluarga kami. Rincian hukumnya bukan bahan konferensi pers. Kedudukan itu tidak memberi dia hak mengatur audit istrinya."
Kata istrinya membuat ruangan riuh.
Pertanyaan berikutnya datang cepat. "Apakah keluarga Wijaya menyetujui pernikahan ini?"
"Pernikahan dua orang dewasa tidak menjadi sah karena persetujuan saya," jawab Richard. "Saya datang untuk menjelaskan tata kelola perusahaan, bukan mengadili pilihan pribadi anak saya."
Wartawan lain menoleh kepada Keira. "Ada tuduhan Anda mendekati Pak Adrian setelah mengetahui kekayaannya. Apa tanggapan Anda?"
Keira tidak tersenyum. "Perjanjian pranikah kami memisahkan aset. Pendapatan saya berasal dari kontrak Lentera dan pekerjaan yang tercatat pajak. Jika Anda ingin menilai konflik kepentingan, periksa dokumennya. Jika Anda ingin menilai niat dalam kepala saya, itu bukan laporan bisnis."
Pertanyaan tentang Bali dijawab singkat. Keira mengonfirmasi adanya laporan polisi dan menolak mengungkap materi penyidikan. Adrian tidak menyebut nama Celine atau Rafael. Richard menutup acara ketika pertanyaan mulai berubah menjadi spekulasi tentang ranjang dan warisan.
Malamnya, keluarga Wijaya berkumpul di rumah Kemang. Keira memilih duduk di ruang baca dengan pintu terbuka. Ia tidak ingin percakapan penting berlangsung seperti sidang rahasia.
Richard menuangkan teh, tetapi tidak menyentuh cangkirnya. "Aku meninggalkan Indonesia karena mengira jarak bisa membuat Adrian aman. Itu kesalahan."
"Aman dari siapa?" tanya Keira.
Richard memandang Adrian, lalu menjawab, "Dari orang yang membunuh Amara."
Ruangan menjadi sunyi. Vivian meraih tangan Kevin, bukan tangan Richard.
Richard menjelaskan bahwa Amara menemukan perbedaan besar antara dokumen pengiriman bahan dan limbah yang benar-benar tiba di Pulau Seraya. Rantai pemasok itu terhubung dengan kontraktor Atmadja dan perusahaan lama Sagara. Beberapa minggu kemudian, mobil Amara mengalami kecelakaan yang disebut akibat hujan dan kelelahan.
"Aku tidak percaya laporan itu," katanya. "Aku memulai penyelidikan pribadi. Lalu seseorang mengirim foto Adrian saat pulang sekolah, lengkap dengan jadwalnya. Aku berhenti. Aku membawa keluargaku pergi dan membiarkan kasus itu membeku."
Adrian mengepalkan rahang. "Kau tidak pernah memberitahuku."
"Karena aku menyebut diam sebagai perlindungan. Sekarang aku melihat apa yang dilakukan kebohongan itu kepadamu."
Keira memikirkan audio dari Nusa Dua, ancaman terhadap Hendra, dan tangan pendek di foto Theresia. "Apakah nama Matius pernah muncul?"
Richard menggeleng. "Nama itu tidak ada di laporan yang kuterima. Tetapi kepala keamanan lama Sagara hilang tiga hari setelah kecelakaan Amara."
"Kami membutuhkan semua dokumen asli," kata Keira. "Bukan ringkasan yang sudah dipilih."
"Besok Gavin akan menyerahkan inventaris kepada penyidik melalui Hendrik."
Adrian menatap ayahnya. "Bukan kepada tim keluarga?"
"Kali ini tidak."
Percakapan belum selesai ketika Gavin masuk membawa laptop. Trustee yang menangani aset Halim mengirim pemberitahuan KYC abnormal. Sebuah dokumen baru diunggah melalui portal lama, mengaku sebagai bukti bahwa Keira telah menikah sebelum pernikahannya dengan Adrian.
Sebelum membuka lampiran, Gavin menunjukkan kepala surel dan jejak portal. Unggahan berasal dari akun pengajuan lama yang seharusnya hanya dapat dipakai kantor kuasa penerima manfaat. Kata sandinya diganti tiga bulan sebelumnya, tetapi alamat pemulihannya memakai domain gratis yang baru dibuat.
"Jangan masuk lagi dari jaringan rumah ini," kata Adrian. "Kita bisa merusak catatan akses."
Gavin menutup portal tanpa mengunduh ulang. Salinan yang mereka lihat berasal dari lampiran pemberitahuan trustee, lengkap dengan waktu penerimaan. Keira meminta Richard menyimpan router dan daftar perangkat rumah karena percakapan malam itu mungkin sudah dipantau.
Vivian memandang pintu ruang baca. "Apakah kita harus pergi?"
"Belum ada tanda ancaman fisik di sini," jawab Gavin. "Tetapi saya akan meminta pemeriksaan teknis melalui prosedur perusahaan."
Keira menoleh kepada Vivian. "Anda boleh memilih tempat menginap. Jangan biarkan keputusan keamanan berubah menjadi perintah yang tidak dijelaskan."
Vivian menatap Richard sejenak, lalu memilih tetap di rumah bersama Kevin dan Regina dengan pengamanan luar yang tidak masuk ruang keluarga. Richard menerima keputusan itu tanpa bantahan.
Adrian tampak ingin bergerak mendekati Keira. Ia berhenti sebelum menyentuhnya. "Apakah kau ingin aku duduk di sebelahmu?"
"Ya. Hanya duduk."
Ia mengambil kursi di sisi meja, cukup dekat untuk terlihat tetapi tidak menutup jalan keluar. Keira menyadari perubahan kecil itu. Di tengah dokumen palsu dan nama keluarga besar, pertanyaan sederhana masih memberi tubuhnya ruang untuk memilih.
Gavin memutar layar.
Di sana ada pindai akta perkawinan dengan foto Keira dan nama Rafael Atmadja. Tanggalnya dua tahun lalu. Tanda tangan serta kode QR terlihat meyakinkan bagi mata yang tidak terlatih.
"Trustee meminta proses verifikasi dihentikan sementara," kata Gavin. "Mereka harus memastikan identitas dan status perdata penerima manfaat."
Keira memperbesar sudut halaman. Foto dirinya diambil dari profil lama Lentera. Bayangan di belakang tanda tangan berbeda arah dari cap resmi.
"Aku tidak pernah menikah dengan Rafael," katanya.
Adrian berdiri, tetapi Keira mengangkat telapak tangan.
"Jangan hubungi media. Jangan hubungi Atmadja."
Ia menoleh kepada Hendrik yang mengikuti melalui sambungan aman.
"Besok kita ke Dukcapil. Aku ingin jawaban tertulis, rantai asal dokumen, dan laporan polisi. Kalau ini palsu, kita buktikan sebagai pemalsuan, bukan sebagai pertengkaran antara dua laki-laki."
Di layar, status verifikasi berubah dari hijau menjadi kuning.
Seseorang tidak lagi sekadar mencoba memulangkan Keira. Mereka sedang membuat masa lalunya sendiri agar hukum meragukan siapa dirinya.