'MASIH DALAM TAHAP REVISI'
Bocil menyingkir dulu ya! Karena di novel ini mengandung unsur perbucinan dan perbelutan seAsia. 🤣
Kisah cinta seorang gadis SMA yang dijodohkan dengan seorang CEO dingin dan bengis. Bian Anandita Putri harus rela menikah dengan seorang pria yang usianya terpaut 12 tahun lebih tua darinya.
Pria itu bernama Brian Cahyo Nugroho, dia merupakan seorang bisnisman dibidang kecantikan dan juga merupakan seorang pewaris dari perusahan kosmetik terbesar di Indonesia.
Karena sebuah hutang, ayah Bian rela menukar anaknya sendiri demi melunasi hutang yang dia miliki. Bian tidak diberi pilihan, dia mau tidak mau harus menerima perjodohan itu karena dia tidak mau ayahnya masuk ke penjara.
Banyak pertanyaan dalam drama yang akan terjadi di novel ini.
Kenapa Ayah Bian rela menukar Bian dengan uang?
Apakah Brian akan memperlakukan Bian dengan baik?
Apakah akan ada cinta yang tumbuh di antara Bian dan Brian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brian Marah
Brak!
Brian menggebrak meja di ruang meeting dengan keras. Wajahnya sudah memerah karena amarah yang begitu membuncah. Nugroho yang ada di samping Brian menarik lengan putranya meminta Brian untuk kembali duduk.
"Tenang Bi, kita itu harus bisa menghormati klien kita."
Brian mendengus. "Menghormati bagaimana? Apa yang harus di hormati. Pertama, mereka telat datang ke sini padahal waktu meeting sudah di tentukan dari jauh-jauh hari. Kedua, uji lab prodak yang dia ajukan benar-benar berantakan. Tim uji klinis menemukan berbagai macam bahan yang berbahaya di dalam produk itu. Apakah Ayah pikir Brian harus menghargai orang seperti itu? Maaf Yah, jika hal seperti ini saja tidak bisa mereka selesaikan, bagaimana mungkin mereka bisa bertanggung jawab jika kita bekerja sama dengan orang-orang seperti itu. Aku rasa hari ini meeting cukup sampai di sini. Kalian semua bubar, aku tidak ingin melihat wajah kalian."
Semua orang yang ada di ruangan itu hanya bisa menurut. Bahkan sang klien yang hendak membela diri tidak jadi berbicara karena dia mendapat isyarat dari Nugroho untuk segera keluar dari ruangan itu. Mungkin Brian memang sedikit nakal di dunia luar, namun jika sudah menyangkut pekerjaan, dia akan sangat profesional dan juga bertanggung jawab untuk pekerjaan yang dia emban.
"Bi, jangan terlalu begitu kepada orang. Kamu ini masih muda, Ayah tahu kamu masih menggebu-gebu. Jaga sikap kamu, jangan sampai mereka membencimu dan malah melakukan hal yang tidak-tidak nantinya. Belajar untuk sabar, jika memang kau tidak bisa menerima proyek yang mereka tawarkan, tolak dengan cara yang baik. Jelaskan dengan fakta namun tidak harus berteriak seperti barusan."
Brian menghembuskan napas kasar. Dia menarik dasi yang melingkar di lehernya. Brian sangat marah, bahkan dasi sialan itu juga membuat emosinya semakin bertambah.
"O iya Bi, bukannya kamu harus menjemput Byan, ini sudah lumayan sore lho. Jangan sampai Ibu kamu marah. Dia akan sangat sedih kalau dia tahu kamu tidak menjaga Byan dengan baik."
Nugroho menepuk bahu Brian beberapa kali. Setelah itu, Nugroho keluar dari ruang meeting meninggalkan Brian dan sekertaris pribadi sekaligus tangan kanannya, Dito.
"Dito, tolong siapkan mobil untuk saya. Dan tolong antar kan saya ke sekolah Taruna Bangsa. Saya sedang tidak mood untuk menyetir."
Dito yang kala itu ada di belakang Brian mengangguk. Dia keluar dari ruangan itu. Brian berdiri dengan malas. Bocah tengil itu selalu membuat Brian merasa jengkel. Sudah jelas-jelas dia bisa pergi dan pulang dengan Aldi. Tetapi kenapa dia malah ingin Brian yang mengantar jemput dirinya.
****
Brian hendak masuk ke dalam mobil ketika Dito sudah membukakan pintu penumpang untuknya. Namun tiba-tiba seorang wanita muncul sembari menarik tangan Brian.
"Sayang, hari ini kita menginap di apartemen mu ya! Aku ada beli lingerie baru," Sisil berbisik di dekat telinga Brian. Bukannya senang, Brian malah menepis tangan Sisil.
"Hari ini kamu pulang saja Sisil, kamu tidak kapok apa, belum jera karena tadi kita hampir ketahuan Ayah? Sudah kamu pulang saja. Aku masih ada urusan."
Brian masuk ke dalam mobil meninggalkan Sisil yang masih bergeming di tempatnya dengan bibir yang mengerucut. Kedua tangannya terkepal. Sisil merasa sangat kesal karena dia tidak bisa berduaan dengan Brian.
"Apa yang harus aku lakukan, sepertinya aku tidak bisa mendapatkan uang itu sekarang. Arrggh, aku jadi harus mengemis lagi kepada para rentenir itu." Sisil menghentakkan kakinya sembari menggerutu. Dia mengambil ponsel lalu membuka aplikasi taksi online.
****
"Tuan muda, maaf kalau saya tidak bisa menyetir dengan cepat. Hujannya sangat lebat Tuan," ujar Dito pada Brian. Brian hanya mengangguk sembari memijit pelipisnya. Kepalanya pusing memikirkan semua masalah yang terjadi hari ini.
Setelah beberapa menit, Brian juga Dito sudah ada di dekat sekolah Byan. Dito melihat ke luar kaca jendela mobil. "Tuan, sepertinya sekolah sudah tutup, gerbangnya juga sudah di gembok."
Brian ikut menoleh ke arah gerbang sekolah. Dia melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Pantas saja sekolah sudah sepi. Brian lupa kalau tadi Byan mengatakan jika dia akan pulang jam 3 sore. Sekarang sudah hampir jam 4:30. Brian sudah sangat terlambat.
"Kita pulang saja Dit, mungkin bocah itu sudah pulang."
Dito mengangguk. Dia melajukan mobilnya agak pelan, Brian dan Dito melewati salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari halte bus. Mereka tidak menyadari, jika orang yang sedang mereka cari ada di balik mobil itu.
"Tunggu!" Brian bersuara. "Mundur lagi Dito, sepertinya aku melihat sesuatu yang salah."
Dito melakukan apa yang Brian katakan. Dia menjalankan mobilnya dengan sangat pelan. Brian memperhatikan mobil merah yang saat itu terlihat agak mencurigakan. Ada gerakan-gerakannya aneh yang dia lihat.
"Bajingan!" Brian membuka pintu mobilnya kasar ketika dia mendengar suara jeritan orang minta tolong.
Dito sedikit terkejut melihat Brian yang keluar dengan cepat, dia tidak memperdulikan air hujan yang kala itu turun dengan derasnya.
"Anj*Ng!
Settt!
Bughhhhh!
Brian menarik kerah baju yang di kenakan oleh orang yang sedang berusaha melecehkan seorang wanita lalu meninju wajah pria brengsek itu dengan sangat keras. Dengan satu pukulan, pria itu jatuh tersungkur di trotoar yang kala itu sudah tergenang air.
Brian melihat ke dalam mobil. Dia ingin membantu wanita yang tadi berteriak dengan mengulurkan tangannya. Namun, matanya membulat ketika dia melihat wanita itu ternyata adalah istri kecilnya.
Brian yang hendak membantu Byan mengurungkan niatnya. Dia kembali menghampiri sosok pria brengsek itu lalu menghajarnya dengan membabi buta.
"Dasar Anj*ing. Gak ada otak. Bandot tua sialan."
Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh!
"Tuan muda, Tuan hentikan, Anda bisa membunuhnya." Dito menarik Brian dari atas tubuh pria yang wajahnya sudah seperti ayam geprek. Pria itu sudah tidak sadarkan diri, dan Brian masih ingin menghajarnya.
"Tuan sudah, dia bisa mati Tuan."
Brian menepis tangan Dito. Dia berdiri dengan napas yang terengah-engah. "Hubungi polisi Dito, tuntut dia dengan hukuman yang berat. Jangan biarkan dia lolos begitu saja."
Brian berbalik dan berjalan menuju mobil yang tadi. Dia menunduk melihat ke dalam mobil. Entah kenapa hatinya merasa sangat iba melihat gadis yang selama ini selalu membuatnya kesal sedang duduk meringkuk sembari memeluk kedua lututnya. Penampilan nya benar-benar sangat berantakan.
"Byan, kau sudah aman sekarang, kita pulang ya!"
Tidak ada aura tegas atau nada suara yang dingin. Perasaan Brian saat ini tidak mengijinkan dia untuk melakukan itu kepada istrinya.
Brian hendak menarik tanga Byan, namun gadis itu malah menggeser tubuhnya untuk menjauh. Brian mendesah. Haruskah dia membujuk gadis ini.
"Byan, ini aku Brian, suamimu, pria brengsek itu tidak akan mengganggumu lagi. Kita pulang ya!"
Byan menoleh ketika mendengar kata suami. Air matanya kembali mengalir dengan deras. Byan yang kala itu memang sangat takut langsung keluar dari mobil dan menghambur ke pelukan suaminya.
Pada awalnya Brian mematung melihat Byan langsung memeluk lehernya dengan erat. Gadis itu menangis tersedu-sedu. Brian membalas pelukan sang istri. Sejahat apapun dia, dia masih memiliki hati nurani. Brian tidak bisa mengabaikan Byan yang sedang ada dalam kondisi tidak baik seperti sekarang.
"Di sini masih hujan, sebaiknya kita masuk ke mobil dulu." Brian hendak melonggar pelukan gadis itu, namun Byan malah semakin memeluknya erat. Brian mau tidak mau memangku tubuh Byan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di mobil, Byan masih enggan lepas dari suaminya. Tangan juga tubuhnya merekat dengan baik pada tubuh sang suami. Brian hanya bisa diam membiarkan Byan duduk di atas pangkuannya.
Blam!
Brian melihat ke arah depan. Dito sudah duduk di balik kemudi.
"Saya sudah menelpon polisi Tuan, saya juga sudah mengikatnya. Dia tidak akan bisa kabur. Kita biarkan saja dia tergeletak di atas trotoar sampai polisi datang menjemputnya.
Brian mengangguk. Dia sedikit menengok melihat keadaan terakhir pria itu. Sangat mengenaskan, pikir Brian.
Duarrrr!
Tiba-tiba petir besar menyambar ke arah orang yang tadi hendak melecehkan Byan.
"Inalilahi wainailaihi roji'un. Tuan Muda, sepertinya orang itu langsung kena azab," tunjuk Dito pada orang yang terkapar dengan kepulan asap keluar dari tubuhnya.
Brian tersenyum. "Rasain Lo baji Ngan busuk. Gosong-gosong lah kau!"
"Jalan Dit! Ke apartemen saja, jangan ke rumah."
"Baik Tuan."
To be continued.