Tak sengaja Rena melihat suami nya sedang bersama dengan seorang wanita, padahal dia sedang dalam kondisi hamil 3 bulan, dari awal sebelum menikah dia sudah mengatakan bahwa dia paling tidak suka di bohongi, dan suami nya mengiyakan permintaan nya.
Namun setelah melihat apa yang di lakukan suaminya Rena pergi dan berniat untuk menuntut cerai. Rena adalah gadis bercadar yang kecantikan nya hanya di perlihatkan kepada suaminya, dia tidak pernah membenci seseorang, tapi dia paling benci di bohongi apa lagi itu suami yang di cintai nya.
suaminya sudah berusaha untuk membuat Rena kembali dan percaya, namun semua sia - sia. tiba - tiba datang seorang gadis berjilbab yang Rena lihat waktu itu bersama suami nya. gadis itu melemparkan sebuah kunci kepada Rena, sambil menangis dia mengatakan.
"jika kamu ingin mencari kebenaran ambil kunci ini, jika tidak buang lah, namun jangan pernah membenci nya, karena Malaikat pun akan membencimu walaupun kau berbakti kepada orang tua mu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frangki s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Gaji Untuk Dawa
Di Kantor Raka sedang mengerjakan beberapa laporan yang memang harus dia selesaikan. Sebenarnya kemarin dan hari ini adalah hari liburnya. Namun karena ingin menyelesaikan semua laporan terpaksa Raka harus masuk Kantor. padahal kemarin dia sudah di ajak Awan untuk berlibur ke Vila.
Sedang serius nya dia mengerjakan laporan Handphone nya berdering. Raka kemudian menekan tombol untuk menerima panggilan.
"Halo Fira... Kok kamu tiba-tiba telpon aku? Ada apa Fir."
"Kak Awan di mana ya Kak? Soalnya dari tadi Fira telpon tidak pernah tersambung. Pesan Fira juga tidak di balas. Apa Kak Awan lagi banyak kerjaan ya Kak." Tanya Fira.
Handphone Awan memang sengaja dia nonaktifkan. Karena dia tidak mau ada yang mengganggu kita dia lagi belajar bersama Dawa. Makanya ketika Fira menelpon tidak bisa tersambung.
" Oh... Awan lagi sedang menemui Klien Fir' Makanya Handphone di matikan."
Jawab Raka berbohong.
Dia tidak tega melihat Fira sedih. Karena selama ini Raka menyimpan rasa kepada Fira. Namun dia tidak berani menyatakan perasaannya.
Dan pacar yang pernah di katakan nya sama Awan ternyata itu hanya lah kebohongan. Karena sampai sekarang dia tidak mempunyai pacar ataupun kekasih. Dia berbohong agar Awan cepat menemukan Wanita bercadar itu dan menikah dengan nya.
"Agar Fira tidak berharap lagi atas cinta nya kepada Awan dan dia bisa memiliki Fira seutuhnya."
"Bukannya ini hari Minggu Kak' Masa Kak Awan tidak punya libur sama sekali. Kan dia Bos nya."
Tanya Fira penuh curiga.
"Iya Fir' Memang akhir - akhir ini. Kakak sama Awan banyak kerjaan. Ini saja Kakak lagi di Kantor kerja. Kalau Fira tidak percaya Kakak Video Call saja ya..?"
Raka berusaha membuat Fira percaya padanya agar Fira tidak merasa kecewa.
"Tunggu ya Kak' Fira matiin dulu telpon nya."
Setelah telpon di matikan Fira pun kembali menelpon Raka melalui Video Call.
Betapa senang nya Hati Raka melihat wajah Fira di layar Handphone nya. Dalam Hati nya berkata.
"Andai saja kamu tahu. Aku sangat menyayangi dan mencintai mu Fira. Namun aku takut kamu tidak menerima aku. Semenjak pertemuan pertama kali kita di Rumah Sakit waktu itu. Aku sudah jatuh Hati padamu."
"Kakak kok senyum - senyum sendiri. Apa ada yang lucu dengan wajah Fira?"
Tanya Fira karena melihat Raka hanya tersenyum kepadanya tanpa bicara apa - apa.
"Memangnya Kakak tidak boleh senyum. Kamu sudah makan belum?"
Tanya Raka mengalihkan arah pembicaraan nya.
"Sudah Kak' Terus apa Kakak juga sudah makan? Jangan kerja terus. Nanti Kakak malah sakit."
Kata Fira sambil tertawa.
Mendapat perhatian dari Fira sungguh membuat Raka hampir terbang melayang. Andai saja Kantor ini tidak memiliki atapnya mungkin dia sudah di atas Awan.
"Sudah kok' Ini bekas makanannya.
Kata Raka sambil memperlihatkan sisa Kotak makanan nya.
"Kamu yang rajin kuliah nya di sana ya... Pokoknya kalau kamu mau kesini hubungi Awan atau Kakak. Biar kamu aman. Soalnya Kakak khawatir kalau terjadi apa - apa sama kamu."
"Iya Kakak bawel' Ya sudah Kak Raka lanjutkan saja pekerjaan nya. Fira mau ke Kamar mandi dulu by."
Raka benar-benar bahagia hari ini. Pekerjaan yang menumpuk membuat dia bersyukur. Karena mendapatkan perhatian dari Fira. Padahal tadi dia sempat mengeluh.
***
"Alhamdulillah Kak' Bacaan Kakak sudah benar. Sudah tidak tersendat kayak tadi."
"Iya syukur Alhamdulillah." Kata Awan.
Awan merasa gembira karena dia sudah bisa menghafal tiga Surah pendek itu. Bukan hanya sekedar memiliki wajah yang tampan, Awan juga memiliki daya ingat yang tinggi. Makanya tidak sudah bagi dia menghafal tiga Surah itu.
"Nanti Minggu depan kita tinggal memperlancar nya lagi Kak' Kalau perlu sekalian nadanya biar kedengaran merdu Kak."
"Apa sama seperti cara kamu membacanya?"
"Iya Kak' Nanti saya ajarkan cara membaca dengan nada yang bagus. Supaya yang mendengar nya juga merasa tenang."
Kata Dawa berusaha memberi semangat kepada Awan.
Awan dan Dawa pun semakin terlarut dalam pembicaraan mereka. Hingga akhirnya Ibu dan Ayah Dawa datang membawa kan gorengan untuk mereka berdua.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum'salam." Jawab Dawa dan Awan bersama - sama.
"Ini ada sedikit makanan. Maaf ya Mas' Ibu dan Bapak cuma bisa menyiapkan gorengan. Ucap Ibu Dawa.
Ada rasa sedih di Hati nya karena tiap kali Awan datang dia hanya bisa menyiapkan gorengan saja.
"Waduh tidak apa - apa Bu' Maaf kalau saya sudah merepotkan Bapak sama Ibu. Lagian juga saya suka kok gorengan Ibu."
Awan berusaha menghibur kedua Orang tua angkat Dawa tersebut. Sementara Dawa sudah mengeluarkan air mata nya. Karena walaupun Ibu dan Bapaknya susah mereka tetap memperlakukan tamu Dawa dengan baik.
"Kebetulan Bapak kamu Ibu ada. Jadi Kakak mau memberikan gaji kamu semoga kamu senang dengan pemberian Kakak.
Kata Awan sambil memberikan amplop berwarna Coklat kepada Dawa.
Semenjak mereka berdua memulai kesepakatan waktu itu. Dawa tidak pernah menyebutkan nominal uang yang dia minta. Justru pikiran nya tidak sampai di situ. Yang ada hanyalah niatnya untuk membantu Awan agar bisa membaca Al-Quran.
Dawa pun menerima pemberian dari Awan sambil bertanya.
"Apa ini Kak?"
"Itu gaji kamu' Coba kamu buka dulu.
Kata Awan sambil tersenyum.
Dawa kemudian membuka amplop Coklat itu secara perlahan. Ketika Dawa mengeluarkan isi nya. Dia kaget tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Begitu juga dengan kedua Orang tuanya.
"Ini buat saya Kak?" Tanya Dawa dengan suara bergetar.
"Iya' Terus buat siapa lagi. Kan Kakak kasih nya ke kamu. Kata Awan sambil tersenyum.
Dawa memegang Uang dengan jumlah lima juta di tangan. Belum pernah dia mendapatkan Uang sebanyak itu begitu pun dengan kedua Orang tuanya.
Dawa memeluk Awan. Sambil menangis dia mengatakan.
"Ya Allah Kak' Kenapa Kakak sebaik ini sama saya. Saya hanya mengajar apa yang menjadi kewajiban saya sebagai Umat Muslim. Namun Kakak membalasnya dengan memberikan saya Rezeki yang mungkin tidak akan pernah saya dapat kan seumur hidup saya."
Dawa terus menangis di pelukan Awan. Sambil mengusap Kepala Dawa Awan pun melanjutkan perkataan nya.
"Bukan hanya itu yang akan kamu dapatkan. Tapi Kakak akan membiayai kuliah kamu sampai kamu selesai. Makanya jangan bosan mengajar kan Kakak mengaji ya...?"
Mendengar apa yang di katakan Awan barusan. Kedua Orang tua Dawa langsung mengambil posisi dan melakukan Sujud Syukur dan di ikuti oleh Dawa.
Dawa kemudian memberikan semua uang itu kepada Ibunya.
"Bu...Tolong Ibu ambil ini ya... Dawa tahu Ibu dan Bapak bekerja setiap hari hanya untuk membayar uang sekolah Dawa. Dawa janji, Jika Dawa sudah punya pekerjaan nanti. Dawa akan membahagiakan Ibu dan Bapak. Dawa tidak akan pernah lupa kebaikan Ibu dan Bapak."
Mendengar apa yang di ucap kan Dawa Ibu dan Bapaknya kemudian memeluknya dan berkata
Dawa ambil saja mana yang mau Dawa pakai. Ibu sama Bapak kan belum mengirimkan uang untuk membeli keperluan nya kamu bulan ini.
Kata Ibu nya sambil menyerahkan kembali uang itu ke tangan Dawa. Melihat hal itu Awan pun segera berkata.
"Uang itu sudah Dawa kasih sama Bapak dan Ibu. Kalau untuk keperluan Dawa Ibu sama Bapak tidak usah khawatir. Sebentar saya akan ajak Dawa untuk membeli keperluan nya. Sambil mengantar dia pulang ke Pesantren."
"Ya Allah' Terima kasih karena Engkau telah memberikan kami Rezeki yang berlimpah." Ucap Ayah Dawa sambil mengusap kan kedua tangan di wajahnya.
Setelah cukup lama mereka berbincang suara Azan Magrib pun terdengar di kumandangkan.
tapi kalau pemeran utama pria harus mengemis dan menderita baru dimaafkan
kalau sudah begini dimana keadilan yang harus ditegakkan
kok g pernah dgr,
boleh kasih penjelasan lbh akurat, atau vid ulama y membahas@?
gk rela kayaknya nya klo ud end😔😢
blm tau ke benaran yg pasti sikapnya begitu ke suami dr segi mn solehanya thor...sorry...
banyak kejutan" dari masing"tokoh tentang jati dirinya
pokok nya keren alur ceritanya