"Lo tau Asam Sulfat? Tapi, itu belum cukup buat lelehin hati lo yang beku. Tapi, gue juga gak bakal Nyerah semudah itu"
~ Arfenik Arkasa
Arfen, si Bocah Sains sang badboy ahlinya PHP, Pemecah rekor murid terlambat setiap hari. Paling enggak bisa patuh sama peraturan.
Arfen yang gak bisa nurut peraturan terlalu hobi mengganggu Lathifa si gadis Hukum yang identik dengan peraturan dari kelas IPS Satu.
Siapa yang sangka, Gangguan iseng Arfen setiap harinya berakibat jatuhnya ia terlalu dalam pada cinta nya Lathifa.
Mampukah Arfen menaklukan Hati beku Lathifa? Apakah Lathifa si gadis hukum mau menerima sang BadBoy?
Ingin tau kisah nya?
Cek yuk ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
***
Arfen mana? Apa dia kecewa sama jawaban gue? Beneran enggak nyamperin gue.
Batin Thifa, matanya terus mencari - cari, dimana keberadaan cowok tengil nan rese yang berjanji untuk antar jemput nya.
Beneran marah kah?
Batin Thifa lagi. Saat Matanya belum menemukan di mana keberadaan Arfen. Tidak seperti biasanya, Arfen CS yang selalu menjemput Thifa CS ke kelas nya.
"Arfen enggak jemput Thif? " tanya Anggi, menepuk pundak Thifa.
"Enggak tau. Enggak kali, mungkin dia sibuk? " Sahut Thifa lesu, ia mengedikkan bahu nya.
"Lo Marahan serius sama Arfen? " Sambung Melia, menatap Intens Thifa.
"Bukan Gue yang marah. Kayak nya dia yang marah."
"Kok bisa dia yang marah. Tumben, biasanya mah-" heran Anggi.
"Jadi, tadi tuh gue liat si Arfen lagi ngomong sama Aurel berdua. Maybe, gue cemburu. Tapi, entah lah. Tiba - tiba si Zefan dateng. Terus bilang kalo Arfen bukan orang baik. Gue kemakan omongan nya." terang Thifa, ia menarik napasnya sebentar. Sebelum melanjutkan cerita nya lagi.
"Terus, Terus? Gimana? " desak Melia.
"Gue dukung kok dia pacaran, sama siapapun! Tapi enggak sama elo! Elo itu playboy! Suka mainin perasaan cewek!! Elo gak baik buat Thifa! Thifa bisa menderita kalo jadian sama elo!! Bukti nya itu, belum apa - apa aja Elo udah godain adek kelas!! Mau gimana lagi alesan lo?! " Zefan menunjuk Aurel yang masih setia ada di sana.
"Gue cuman ngomong sama dia! Gue enggak ngapa - ngapain! Thif, lo percaya kan ke gue? "
"Kalo kalian mau cekcok yah cekcok sana, tapi... Jangan bawa - bawa nama Gue yah. Nama gue bisa tercemar, gue balik ke kelas dulu "
***
"Eh, Woi. Diem aja lo di kelas. Enggak balik? Thifa nunggui noh" Seru Riyan, menepuk pundah sahabat nya itu. Yah, Arfen. Arfen yang sedari tadi terus melamun. Tentu memikirkan Thifa, Thifa, dan Hanya Thifa.
"Yan, Jauh - jauh lo. Mode kanibal nya baru on. Soalnya, si Thifa lebih mentingin si Zefan. " sambar Fandri, duduk agak jauh dari Arfen. Jaga - jaga, biar aman.
"Jadi Si Thifa lebih percaya sama omongan Zefan? Gitu? " timpal Hasan, duduk di sebelah Fandri. Hanya tinggal mereka berempat yang ada di sana.
"Oh, maksudnya si Thifa milih Zefan gitu? Wajar sih. Kan mereka udah sahabatan dari SMP. lah elo? Sadar diri aja lah. Haha!" ledek Riyan, yah hanya Riyan yang berani duduk di dekat Arfen saat ini.
"Jadi Fen, lo gak mau balik bareng Thifa nih? Yakin? " tanya Fandri memastikan.
"Dia palingan juga udah balik sama Zefan. Udah lah" ketus Arfen, ia menghela napas kasar. Tampak, bahwa Arfen benar - benar galau.
"Galau bro?! Sumpeh, gue gak pernah tau kalo orang kayak lo itu bisa galau akut. " Ledek Hasan dari tempatnya.
"FAN, minjem kaca elo deh. Ntaran aja? "
"buat apa Yan? "
"Buat si kawan nih. Biar dia terhibur, kasih liat muka ganteng nya aja"
Tawa ketiga sahabat nya Pecah begitu saja. Rasanya, hampir mustahil orang seperti Arfen bisa galau.
"muka gue gak seberapa, di bandingin calon binik gue tuh. Kalian sih, enggak tau rasanya di gituin, nyesek oi. " frustrasi Arfen. Ia sama sekali tak ingin menggubris candaan sahabt - sahabat nya.
Riyan, Hasan, Dan Fandri diam. Mereka awalnya bercanda untuk menghilangkan kegundahan Arfen. Tapi, nyatanya?
"Okeh, okeh. Kita paham. Trus, mau lo sekarang gimana? Ngelepasin Thifa, gitu aja? " tanya Riyan.
"Yakin mau di lepas. Awas lo, Penyesalan selalu datang di akhir." peringat Hasan.
"Entar di gandengan sama Zefan, lo bunuh diri lagi" timpal Fandri.
"Ngelepas Thifa?? "
***
"Kalo ini gue setuju sama Arfen Thif. Lo harus nya minta maaf ke dia. Kali ini lo yang salah" Saran Anggi, setelah mendengar cerita lengkap nya dari Thifa.
"Lo harus nya dengar penjelasan Arfen dulu. Lo jangan mudah kemakan omongan nya Zefan. Gue juga kalo jadi Arfen, bakal ngambek. " timpal Melia, yang emang orang nya baperan.
"iyah iyah, gue tau gue salah. Gue harus minta maaf kan? Tapi, Gimana caranya? Apa mungkin Arfen bakal maafin gue gitu aja?" tanya Thifa agak ragu, ia membayangkan betapa kecewa nya Arfen saat itu.
Melia dan Anggi diam. Memang ada kemungkinan bahwa Arfen tidak akan semudah itu memaafkan Thifa.
"Kenapa Gue gak mau maafin? Selagi cewek yang minta maaf itu elo. Gue ikhlas maafin nya. Apapun kesalahan lo. " celetuk pria itu. Thifa menoleh ke kanan, merasa kenal dengan suara itu.
Cuppp
Satu kecupan singkat Arfen daratkan di kening Thifa. Thifa tertegun. Membuat Anggi dan Melia tertegun. Meski duta gosip, mereka baru pertama kalinya melihat adegan live seperti ini. Membuat hati mereka berdebar.
"Ar--fen? Elo? "
"Gue sayang ke elo Thif... Berapa kali pun lo nyakitin gue, gue bakal tetep sayang ke elo. "
***
Nexttt??
Lanjuuttt??