"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Jemari Lily bergerak. Matanya terasa berat membuatnya perlahan membuka pandangan.
Beberapa detik pandangannya terasa tak jelas, membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali lalu menatap lagi, melihat langit putih polos di atasnya.
Pandangan Lily bergerak ke samping melihat sekitar yang tak ada seseorang pun. Ia lalu bergerak perlahan, mengambil posisi duduk.
"Rumah sakit. Apa yang terjadi?" gumamnya kemudian menyentuh perutnya yang sedikit terasa nyeri.
Belum ia mencerna dan mengingat kembali yang terjadi sebelumnya. Seseorang melangkah masuk ke ruangannya.
"Lily kamu sudah sadar."
Lily menoleh ke sumber suara dan melihat Axton yang berlari ke arahnya.
"Syukurlah," ucap Axton meletakkan rantang makanan di atas nakas, lalu duduk di seberang kasur Lily.
"Maafkan aku," ucap Axton kemudian memeluk Lily dengan penuh penyesalan.
"Maaf aku tidak tau jadinya begini," ucap Axton memeluk erat tubuh Lily dengan suara berat dan penuh penyesalan.
Lily diam mengerjapkan mata dan masih bingung. Ia mendorong pelan Axton melepaskan pelukannya.
"Apa yang terjadi? Aku kenapa?" tanyanya.
Axton menghela nafas pelan. "Asam lambung kamu kumat, karena emosi dan tertekan. Dan kamu terlalu stress belakangan ini. Makanya tadi puncaknya kamu pingsan," jelas Axton membuat Lily terdiam mengingat kembali kejadian sebelumnya.
Axton kemudian melanjutkan. "Maaf, aku tidak tau, kalau apa yang dilakukan Maria akan buat kamu terlalu emosi sampai seperti ini."
Lily kemudian melebarkan mata saat mengingat kembali yang terjadi. "Tidak. Tepatnya bukan Maria, tapi Om Roy," batin Lily.
Tubuh Lily semakin tegang, kala sepenuhnya sadar Axton tidak seharusnya bersamanya. "Ibu, Luna ... tidak tidak," gumamnya mulai panik.
"Mana ponselku? Mana ponselku?" tanya Lily menyingkap selimut dan bantal di kasurnya, mencari benda pipihnya itu.
"Lily, hey Lily tenang," ucap Axton berusaha menghentikan.
"Mana ponselku!" Jeritnya menatap Axton tajam.
Axton segera mengeluarkan ponsel Lily dari sakunya, membuat Lily mendengkus menerimanya.
Dengan tangan gemetar, Lily mengusap layar ponsel itu, dan segera melakukan panggilan.
"Ibu, Ibu, Luna, kalian tidak boleh kenapa-napa," batin Lily sembari menggigit jarinya gugup.
"Lily ada apa?" Tanya Axton lembut, sembari mengusap lengannya.
Lily berdecak. "Pergi Axton!" sentaknya, semakin cemas saat panggilan itu tak terjawab.
Ia mengulangi melakukan panggilan, memejamkan mata dan terus memohon, hingga akhirnya panggilan itu tersambung.
"Halo, nak ada apa?"
"Ibu, Ibu di mana? Ibu tidak apa-apa kan? Luna juga? Dia baik-baik saja kan?" tanya Lily cepat dengan jantung berdebar tak karuan.
"Ibu dan Luna baik-baik saja. Ada apa nak?"
"Kalian di mana?" Tanya Lily lagi.
"Masih di pesta nikahan tetangga."
Mendengar itu barulah Lily merasa lega. "Oke Bu, ibu jangan pulang dari sana sebelum aku pulang ya, aku yang jemput," ucap Lily memperingati.
"Iya, tapi kamu kenapa nak? Baik-baik saja kan? Perasaan Ibu daritadi nggak enak. Mau telpon tapi takut ganggu?"
Lily menghela nafas pelan. "Aku baik-baik saja Bu. Cuma masalah kecil. Sekarang sudah selesai," tuturnya hanya bisa menutupi.
Saat Lily bicara, Axton hanya diam memperhatikan. Sorot matanya lembut dan penuh penyesalan.
Dalam benaknya ia berucap. "Masalah kecil? Jelas-jelas ini menyakitinya. Perempuan manja, dan tak mau kalah itu di mana sekarang?"
Ia terus memperhatikan lekuk wajah Lily yang terdapat gurat lelah di wajah dan sorot matanya. Lelah yang ditahannya sendiri.
Setelah beberapa detik, panggilan itu berakhir. Axton langsung buka suara, "makan dulu ya," ucapnya mengambil kembali rantang makanan.
"Kamu pergi Axton!" usir Lily.
"Ly."
"Aku tidak mau Maria datang mengamuk ke sini."
"Dia tidak akan melakukan itu Lily. Aku tidak akan membiarkannya!" sahut Axton dengan tegas, menyakinkan Lily.
Lily mengerutkan keningnya, matanya ikut memicing, lalu berucap. "Lupa yang kamu lakukan tadi?" tanyanya.
"Aku salah. Aku minta maaf."
Lily menghela nafas berat. Ia mengusap wajahnya, mengingat kembali rasa terbakar yang sebelumnya dirasakan.
Ia lalu mengangkat ponselnya, menatap wajahnya melalui pantulan kaca ponselnya.
"Wajahmu sedikit terluka. Aku sudah minta dokter mengobatinya, nanti juga dikasi salep supaya nggak berbekas," tutur Axton menjelaskan.
Lily berdecih. Meletakkan kembali ponselnya dan menatap sinis pada Axton. "Jangan harap aku akan berterima kasih. Sudah seharusnya kamu melakukan ini, sebagai tanggung jawab pacarmu. Dan harus ada kompensasi lainnya!"
"Iya," jawab Axton malas, sembari mempersiapkan tempat makan Lily.
"Sudah Axton kamu pergi saja."
"Anggap saja mengurusmu bagian kompensasi," balas Axton menyusun rantang makan di meja depan Lily.
Lily terdiam, namun pikirannya sedang berpikir keras bagaimana agar Axton pergi dari sana. "Om Roy ada di sini. Aku tidak bisa membiarkan Axton terus di sini, dia akan marah," batin Lily.
"Makan dulu," ucap Axton menyodorkan sendok berisi makanan.
Lily diam menatap makanan itu sesaat, lalu menatap Axton. Mulutnya perlahan terbuka, sembari terus berpikir akan kalimat yang akan diucapkan.
"Cukup Axton. Aku capek, pergi dari sini, karena kamu penyebab aku ada di sini. Kehadiranmu yang buat aku stress!" sahut Lily penuh penekanan, berharap pria itu segera pergi.
Axton menurunkan kembali sendok itu, helaan nafasnya berat. Dengan pelan ia bicara. "Memangnya apa yang aku lakukan?"
Lily mengerutkan keningnya menggelengkan kepala. "Masih bertanya?"
Axton terlihat lelah, namun ia juga ingin juga masih mengharapkan. Dengan sisa harapan itu, ia masih bersabar dan menyahut. "Apapun itu, aku minta maaf, apa bisa?"
Lily langsung bereaksi, menyentak suaranya. "Tidak Axton! Tidak!"
Kata maaf itu tak cukup membuat luka yang dialaminya pulih. Itu justru membuat hatinya terasa perih.
"Lalu apa maumu? Kamu mengatakan melihatku membuatmu tertekan. Aku minta maaf. Sedangkan kamu sendiri juga berulah. Kamu juga menyakiti perasaan aku Lily!" balas Axton ikut menyentak suaranya tanpa bicara nada tinggi.
Lily mengerutkan keningnya. "Apa yang kulakukan?"
Axton menyinggung senyumnya. "Kamu tidak mau terus terang, aku akan terus terang. Jadi jangan pikir aku kelewatan."
"Oke katakan!" balas Lily menantang.
"Kenapa kamu mengkhianatiku?" tanya Axton akhirnya memberanikan menanyakan langsung setelah sekian lama memendam.
"Hah?" Lily mengerutkan keningnya heran.
"Bahkan sampai memiliki anak. Apa kamu tidak bisa sabar menungguku pulang? Bukan malah berhubungan dengan pria lain!" sahutnya dengan ketus.
Lily diam dengan terus mendengarkan ucapan Axton.
"Aku hanya pergi selama empat tahun. Tiga tahun lalu aku pulang, hendak memperjelas hubungan kita. Tapi,aku malah dikejutkan dengan seorang anak 2 tahun memanggil mu Ibu," ucap Axton semakin sinis.
Kemudian dilanjutkan. "Lucunya pria itu meninggalkanmu dalam keadaan hamil. Mungkin itu akibat yang kamu rasakan karena mengkhianati aku. Sekarang kamu menerimanya kembali, karena malu denganku kan," sahut Axton mengulum senyum sinis yang nada suaranya yang terkesan mengejek.
Lily mengulum senyum tipis, mulai paham apa yang dimaksud Axton, lalu berucap. "Ow, anakku Luna ya, ayahnya Leon," tuturnya membuat Axton berdecih.
"Kamu menyelidiki ku?" tanya Lily.
"Kenapa tidak suka? Kamu mengkhianatiku kau pikir aku akan diam saja?"
Lily mengangguk. "Kalau begitu seperti itu saja."
"Apa maksudmu Lily!" sentak Axton tidak terima.