NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Bang Bhumi, Tunggu!

Sepasang telapak kaki berbalut sepatu pantofel warna hitam itu menyusuri lorong-lorong rumah sakit Sayap Rajawali. Langkah kakinya lebar, dengan suara derap yang menyita perhatian orang-orang di kanan kiri. Langkah itulah yang semakin menegaskan jika saat ia ingin bersegera bertemu dengan salah seorang yang berada di tempat ini.

"Tuan Hans!"

Seorang wanita dengan pakaian serba putih itu menyambut kedatangan Hans tatkala ia masuk ke ruangan kerja di mana ia berada. Wanita itu berdiri seketika sembari membungkukkan badan sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada salah satu orang penting di tempat ia bekerja.

"Duduklah, aku ingin menanyakan beberapa hal kepadamu."

Hans mendaratkan bokongnya di sebuah kursi ergonomis yang sudah tersedia. Begitu pula dengan wanita yang ia temui ini. Ia juga ikut mendaratkan bokongnya di sebuah sofa yang berada di salah satu sudut ruangan.

"Ada apa Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?"

"Tunjukkan kepadaku rekaman CCTV rumah sakit ini, kemarin."

Wanita itu sedikit terperangah. Permintaan Hans yang tiba-tiba ini seperti menandakan bahwa telah terjadi sesuatu yang salah. Hal itulah yang membuat wajah wanita ini semakin menunduk pasrah.

"Baiklah Tuan, akan saya perlihatkan."

Wanita itu bangkit dari posisi duduknya. Ia ambil sebuah laptop yang berada di atas meja kerja. Ia ambil untuk kemudian ia bawa ke arah meja yang berada di depan sofa.

"Ruang mana yang ingin Tuan ketahui rekamannya?"

Sembari menjamah papan keyboard dan fokus ke arah layar, wanita itu melisankan sebuah tanya kepada lelaki yang masih anteng duduk di kursi ergonomis ini.

"Tunjukkan kepadaku rekaman CCTV area lobby rumah sakit, dan bagian kasir, sekitar pukul delapan pagi."

Wanita itu menurut. Dengan dahi sedikit mengerut, ia mencoba untuk fokus mencari bagian rekaman yang diinginkan oleh Hans. Pada akhirnya, ia pun menemukan bagian yang diinginkan oleh Hans.

"Apakah ini yang Tuan cari?"

Hans bangkit dari posisi duduknya. Ia mendekat ke arah Sally, di mana merupakan orang yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berada di ruangan ini. Lelaki itupun duduk tepat di samping Sally.

"Benar, ini yang aku cari."

Wajah Hans nampak berbinar di kala rekaman CCTV ini begitu jelas menampilkan gambar seorang wanita yang tengah memapah Kartika. Semua terekam jelas di sana. Bahkan ketika gadis itu memberikan satu lembar uang seratus ribuan ke arah sopir bajaj itu juga terekam di sana.

"Apakah Tuan mengenal wanita di dalam rekaman CCTV ini? Ataukah mungkin saudara dari Nyonya Kartika?"

"Tidak. Aku rasa wanita itu bukanlah salah satu kerabat Nyonya Kartika. Karena sejauh ini aku tidak pernah melihat keberadaan wanita itu di sekeliling Nyonya."

"Berarti ini memang orang luar yang menolong Nyonya Kartika."

Hans hanya mengedikkan bahu karena pada dasarnya ia tidak mengenal wanita asing ini. Kedua netranya pun sedikit menyipit tatkala melihat wanita itu melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah sakit.

"Dia keluar dari rumah sakit? Kira-kira ke mana dia?"

"Menurut saya, dia pergi mengambil uang, Tuan. Karena setiap pasien yang dirawat di rumah sakit ini setidaknya harus membayar uang adminstrasi terlebih dahulu."

Hans mengangguk-anggukkan kepala. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Sally. Rekaman itu terus berputar. Bahkan dalam waktu yang lama, wanita itu tidak kunjung kembali. Itulah yang membuat tanda tanya besar muncul ke permukaan hati.

"Ke mana wanita itu? Jika ia ke ATM, bukankah seharusnya dalam waktu tidak terlalu lama ia kembali? Namun mengapa ini lama sekali? Coba kamu percepat durasi rekaman ini."

Kening semakin berkerut dalam seiring tidak kunjung kembalinya wanita di dalam rekaman CCTV. Ia pun meminta Sally untuk mempercepat tampilan rekaman ini.

"Nah, ini Tuan!"

Hans semakin mempertajam indera penglihatannya. Nampak wanita itu kembali memasuki area lobby rumah sakit dengan membawa sebuah amplop putih dan juga parcel buah di tangannya. Parcel itulah yang mengingatkan Hans kepada parcel yang ia temukan teronggok begitu saja di depan ruang rawat sang nyonya.

"Baiklah. Saat ini, aku minta rekaman di bagian kasir dan panggilkan pula kasir yang kemarin melayani wanita itu."

Sally mengangguk patuh. Wanita itu memperlihatkan rekaman CCTV bagian kasir, dan diperhatikan begitu intens oleh lelaki ini. Sembari mengambil ponsel yang tergeletak di samping laptop dan segera memanggil salah seorang kasir yang dimaksud oleh Hans.

Ternyata benar, parcel buah yang ada di depan ruangan Nyonya Kartika adalah parcel milik wanita yang menolong Nyonya. Siapa sebenarnya wanita ini? Apakah dia merupakan salah satu antek dari dalang penculikan Nyonya sepuh yang berkhianat? Aahh... Aku benar-benar ingin bisa segera memecahkan kasus ini.

***

Langit senja kota Jakarta mulai menyapa. Kilau warna jingganya terlihat begitu memanjakan mata. Menjadi salah satu goresan tinta keindahan Tuhan di alam semesta. Dan sudah selayaknya manusia mengunjukkan rasa syukur dalam menikmati itu semua.

Dewi nampak berkutat di depan jendela kaca tempat tinggal Bhumi. Dengan outfit celana jeans, t-shirt warna putih dan ia padukan dengan blazer jeans senada dengan warna celana, Dewi seperti sudah begitu siap untuk tampil di TMII. Meski sudah nampak siap, namun ada saja yang membuatnya merasa tidak percaya diri.

"Apakah masih membutuhkan waktu lama untukmu berkutat di depan kaca itu?"

Suara bariton yang tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengaran, membuat Dewi tersentak seketika. Ia menggeser manik matanya ke arah sumber suara. Nampak Bhumi sudah siap dengan penampilannya yang sempurna.

"Maaf Bang, aku masih merasa kurang percaya diri."

Sembari tersenyum kikuk, Dewi mencoba untuk mengutarakan apa yang ia rasakan di dalam hati. Meski berkali-kali ia berupaya untuk meyakini bahwa penampilannya sudah sempurna, namun ia merasa tetap ada sesuatu yang kurang pas di dalam diri. Namun semakin ia mencari, justru kebuntuan yang ia dapati. Ia bahkan tidak dapat menemukannya sama sekali.

"Apa yang membuatmu tidak percaya diri? Bukankah kamu sering tampil di depan umum? Jadi mengapa harus merasa tidak percaya diri?"

"Entahlah Bang, aku juga tidak mengerti. Namun aku merasa ada yang kurang."

"Apakah karena fisik yang kamu miliki?"

Pertanyaan yang keluar dari bibir Bhumi sukses membuat netra Dewi terbelalak sempurna. Ternyata laki-laki yang baru sehari ia kenal ini bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Bahwa memang perihal fisik lah yang membuatnya merasa ada yang kurang dalam penampilannya.

"Apakah bang Bhumi yakin ingin mengajakku tampil di TMII? Apakah bang Bhumi tidak merasa malu jika ada yang mengolok-olok bang Bhumi karena memilih partner bernyanyi seperti aku ini?"

"Memang ada apa dengan fisikmu? Bukankah tidak ada satu pun kekurangan dalam fisikmu? Anggota tubuhmu lengkap. Sama sepertiku."

"Tapi, aku gemuk Bang. Wajahku tidak bersinar, dan wajahku juga tidak menjual. Apakah Abang tidak malu?"

Bhumi hanya memasang wajah datar. Ia mendekat ke arah Dewi sembari membawa sebuah gitar. Jarak yang semakin terpangkas inilah yang membuat tubuh Dewi seketika mematung namun sedikit bergetar.

"Kita perform di TMII bukan untuk menjual wajah atau tubuh. Kita perform di sana untuk menghibur para pengunjung dengan suara yang kita miliki. Jadi untuk apa kamu mempermasalahkan perihal fisik? Itu semua tidak akan berpengaruh apapun."

"T-tapi Bang...."

"Ingat, aku hanya ingin berkolaborasi dengan seseorang yang bisa mencintai dirinya sendiri. Mensyukuri apa yang ia miliki dan bangga dengan apa yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya. Jika kamu hanya terpaku pada persoalan fisik, lalu bagaimana bisa kamu maju?"

Bhumi kembali menggeser tubuhnya. Ia langkahkan kakinya perlahan untuk keluar dari beranda.

"Aku hitung sampai lima. Jika kamu masih tetap tidak percaya diri akan penampilanmu, lebih baik kamu tidak perlu ikut denganku. Satu .... dua .... tiga ..."

Dewi terkesiap. Ia geser manik matanya ke arah lelaki yang semakin lama semakin menjauh dari tempatnya berdiri.

"Bang Bhumi tunggu!!!"

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!