NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Duar!

Mendengar laporan pengawal, raut santai di wajah Areksa menguap seketika. Sorot matanya berubah tajam bagai pisau, sementara Zevanna otomatis mengambil satu langkah mundur. Sensasi hangat dari kecupan Areksa di bibirnya menguap, berganti ketegangan yang mendadak menusuk kulit.

"Itu pasti paman bungsu" tebak Areksa.

Areksa melepas genggaman tangannya dari Zevanna, berjalan cepat ke arah meja kerja, lalu menarik laci bagian bawah. Dari sana, ia mengambil sebilah pistol hitam berperedam dan menyimpannya di balik pinggang.

"Areksa! Apa yang mau kamu lakukan?" seru Zevanna, melangkah mendekat. Bukannya takut, napasnya malah memburu karena adrenalin. "Biar pengawalmu yang urus!"

Areksa berbalik menatap istrinya. Rasa dinginnya kembali utuh, tapi ada kilat protektif yang teramat pekat di matanya. "Paman bungsuku nekat menerobos ke sini bukan cuma buat gertak sambal, Nana. Dia tahu kamu ada di rumah ini."

"Kalau gitu biarkan aku ikut!" Zevanna menegakkan tubuhnya, menatap Areksa tanpa gentar. "Aku bukan barang pajangan yang cuma bisa tiarap saat ada musuh datang! Aku mau lihat muka bajingan itu secara langsung!"

Areksa terkekeh pelan, kekehan rendah yang terdengar berbahaya. Ia melangkah cepat, merengkuh tengkuk Zevanna dengan satu tangan dan memangkas jarak di antara mereka hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.

"Kamu pikir aku bakal membiarkan pria gila itu menatap wajahmu lagi?" bisik Areksa tepat di depan bibir Zevanna. Tangannya mengusap lembut leher istrinya sebelum bergeser mengunci pinggang Zevanna dengan erat. "Dengar, Nyonya Areksa. Keras kepala kamu itu seksi, tapi aku nggak akan pernah menumbalkanmu di depan dia."

"Tapi Areksa..."

"Nggak ada 'tapi', Nana," potong Areksa dingin namun penuh penekanan. "Aku yang akan beresin Paman Kalingga di paviliun belakang. Dan kamu... tetap di dalam rumah."

Belum sempat Zevanna memprotes dan menyuarakan kekesalannya, pintu ruang kerja mendadak terdorong dari luar. Sosok wanita paruh baya bersetelan busana haute couture yang begitu elegan melangkah masuk dengan anggun. Helena, ibu mertua Zevanna.

"Areksa benar, Zevanna," suara Helena terdengar tenang, kontras dengan kegentingan di luar. Helena menatap menantunya dengan senyum tipis yang penuh wibawa. "Urusan pria biar diselesaikan oleh pria. Lagipula, jadwalmu hari ini masih padat denganku."

Zevanna mengerutkan dahi, menatap mertua dan suaminya bergantian. "Jadwal apa, Mama?"

Helena menyesap sedikit cangkir teh porselen yang dibawanya. "Latihan tata krama lanjutan. Hari ini kita fokus pada table manners ala bangsawan dan keluarga kerajaan. Kamu kan sebentar lagi akan kuperkenalkan secara resmi ke lingkaran sosial teratas di jamuan makan malam Kakek minggu depan."

"Mama... luar sana ada penyerang, dan Mama mau kita latihan cara pegang garpu?" Zevanna menatap Helena tak percaya.

"Justru karena di luar ada kekacauan, kita harus menunjukkan kelas kita," sahut Helena santai. "Lagi pula, paviliun belakang sudah terisolasi total. Areksa tahu apa yang harus dia lakukan."

Areksa menunduk, memberi kecupan singkat di kening Zevanna yang bersungut-sungut sebelum membisikkan sesuatu di telinganya. "Penurut sedikit, my dear. Ikut Mama, atau aku tahan kamu di kamar seharian."

Zevanna mendelik tajam pada Areksa, tapi genggaman Areksa di pinggangnya melonggar secara perlahan, menyerahkannya pada perlindungan Helena dan barisan pengawal pribadi keluarga.

"Awas kalau kamu kenapa-kenapa," gumam Zevanna tajam pada suaminya.

Areksa hanya tersenyum miring, lalu berbalik melangkah keluar menuju lorong rahasia menuju paviliun belakang.

Suasana di paviliun belakang sangat berbeda jauh dengan ketenangan ruang utama. Pintu kaca paviliun sudah hancur berantakan. Tiga pengawal penyusup tampak terkapar di lantai stone granite, sementara Kalingga duduk santai di salah satu sofa kulit sambil memutar-mutar gelas wiski.

Klek.

Areksa melangkah masuk sendirian. Jasnya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih berlengan gulung dan pistol di genggaman tangannya. Suara langkah pantofelnya terdengar mantap di atas pecahan kaca.

"Sayang sekali, Paman Kalingga," suara Areksa menggelegar dingin di ruangan yang sepi itu. "Pilihan minuman di paviliunku terlalu bagus buat penjahat yang berstatus buronan."

Kalingga tertawa pelan, menuangkan sisa wiski ke gelasnya. "Areksa... anak muda yang terburu-buru. Mana istri cantikmu? Mana Zevanna? Aku datang jauh-jauh cuma buat menyapa putri dari wanita yang dulu sangat kucintai."

Areksa menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan Kalingga. Matanya membeku, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

"Nama istriku bahkan terlalu suci buat keluar dari mulut kotor Paman," ujar Areksa datar, mengangkat pistolnya persis mengarah ke dahi Kalingga. "Paman pikir bisa menyentuhnya setelah apa yang Paman perbuat pada ibunya belasan tahun lalu?"

"Dia mirip sekali dengan ibunya, Areksa," mata Kalingga menyipit penuh obsesi yang gila. "Ibu Zevanna dulu menolakku dan memilih berandalan konyol. Dan Zevanna... dia harusnya jadi milikku, bukan jadi pion mainanmu dan Kakekmu!"

"Dia bukan pion," potong Areksa dingin. "Dia Nyonya di rumah ini. Dan Paman... cuma kotoran yang lupa dibersihkan belasan tahun lalu."

Sementara itu, di ruang makan utama rumah utama, atmosfer terasa begitu kontras. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat, memantul di atas meja kayu mahoni panjang yang dipenuhi belasan set alat makan perak.

Zevanna duduk tegak di ujung meja dengan napas masih tertahan. Tangannya memegang pisau steak dan garpu perak dengan cengkeraman yang agak terlalu kuat.

"Rileks, Zevanna," tegur Helena lembut, memiringkan posisinya di sebelah Zevanna. "Genggam pisau itu seperti memegang pena berharga, bukan seperti mau menusuk jantung musuh."

Zevanna menghela napas panjang, merenggangkan jarinya. "Maaf, Mama. Tapi bagaimana aku bisa fokus pada etiket potong daging kalau suamiku sedang berhadapan dengan pembunuh ibuku di belakang rumah?"

Helena tersenyum anggun, membetulkan letak serbet kain di pangkuan Zevanna. "Areksa dibesarkan untuk menjadi predator di keluarga ini, Zevanna. Kalingga itu cuma masa lalu yang terlalu percaya diri. Kamu harus percaya pada suamimu."

Helena lalu menunjuk salah satu pisau paling kecil di deretan kanan. "Coba tunjukkan padaku, pisau mana yang kamu pakai untuk butter knife?"

Zevanna mendengus tipis, tapi jarinya yang lentik bergerak tepat mengambil pisau kecil berujung tumpul di sisi atas piring roti. "Yang ini."

"Bagus," puji Helena. "Sebagai istri dari calon tunggal penerus aset keluarga, kamu tidak boleh terlihat gentar sedikit pun. Cara makanmu, cara berdirimu, bahkan cara matamu menatap lawan bicara adalah senjatamu. Kakek Areksa akan mengujimu minggu depan, dan aku tidak akan membiarkan dia meremehkan menantuku."

Zevanna menatap pisau di tangannya. Kata-kata Helena perlahan meresap. Ia sadar, dendam ini tidak cuma memburu dan membunuh musuh secara fisik seperti yang dilakukan Areksa saat ini, tapi juga memenangkan posisi puncak agar tak ada satu orang pun yang bisa memanfaatkannya lagi.

Duar!

Suara tembakan tunggal bergema samar dari arah paviliun belakang, membuat denting garpu di tangan Zevanna terhenti sejenak.

Zevanna menatap ke arah jendela besar yang mengarah ke taman belakang, lalu kembali menatap pisau peraknya dengan tatapan tajam dan dingin, tatapan yang kini persis seperti tatapan Areksa.

"Mama benar," gumam Zevanna pelan, memotong daging mentega di piringnya dengan gerakan yang sempurna dan anggun. "Aku tidak boleh terlihat lemah di depan siapa pun lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!