NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:7.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ningsihe98

anindira yang baru Wisuda terpaksa harus menikah dengan Dimas dan merawat anaknya yang baru lahir demi keinginan terakhir sang kakak yang meninggal setelah melahirkan anak pertamanya.

dilain sisi Anindira menyayangi kakaknya karen sejak kecil mereka sering bersama karena kedua orang tua mereka yang sibuk bekerja, namun disisi lain Dimas terpaksa menikahi Anin Adik iparnya karena keinginan terakhir alm istrinya

lalu bagaimana kisah mereka? bagaimana mereka menjalani rumah tangga atas dasar "turun ranjang" ? akankah Anindira bisa menggantikan posisi kakaknya di hati Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dimas memakirkan mobilnya, hari ini terakhir ia akan menginjakkan kakinya di perusahaan yang sudah ia beli dan ia kelola 8 tahun terakhir ini. Tapi Tuhanlah yang menentukan setelah 8 tahun ia sibuk dengan perusahaannya sekarang ia harus rela menjual sahamnya.

Bukan ia rela dan tak mau untuk memperbaikinya tetapi ia juga merasa mungkin pekerjaannya ini juga membuatnya kurang memiliki waktu bersama keluarga jadi ia putuskan untuk berhenti dan memulai kembali kehidupannya.

"Selamat pagi pak," ucap seluruh karyawan yang berdiri menyambut Dimas.

"Selamat pagi." ucap Dimas dengan diiringi senyum.

Dimas berjalan kehadapan mereka dan menyuruh mereka untuk masuk keruang rapat, seluruh karyawan sebenarnya sudah tahu bahwa Dimas sudah menjual saham dan berhenti berkerja namun beberapa dari mereka merasa tidak rela, termasuk Friska yang tampak khawatir dengan kehidupan Dimas selanjutnya.

"Baik hari ini saya menggumpulkan kalian di sini untuk memberitahu kalian sekaligus mengucapkan salam perpisahan," ucap Dimas.

Seluruh karyawan menunduk saat Dimas sudah membuka suara, sepertinya memang Dimas sudah bulat untuk meninggalkan perusahaan.

"Saya minta maaf kepada kalian semua jika selama ini baik ucapan dan tindakan saya menyakiti kalian, dari lubuk hati saya paling dalam saya meminta maaf, dan hari ini saya sudah resmi mundur dari jabatan saya dan dari perusahaan ini." ucap Dimas kembali.

Beberapa karyawan wanita terlihat menangis menunduk ada juga yang terlihat biasa-biasa saja, Dimas menatap mereka satu-persatu kemudian tersenyum kecil, ia sudah tahu keputusannya ini memang tepat ia lebih baik menjual sahamnya daripada melihat karyawannya yang harus binggung mencari pekerjaan lain.

"Dan terakhir serah terima jabatan dan pemilik perusahaan kepada bapak Arya," ucap Dimas memberi sambutan sekaligus tepuk tangan pada Arya kakaknya sendiri.

Semua karyawan ikut bertepuk tangan menyambut pemilik sekaligus atasan baru mereka. Tidak ada yang tahu bahwa Arya adalah kakak Dimas apalagi wajah mereka memang tidak terlalu mirip.

Dimas dan Arya sepakat menyembunyikan identitas mereka sebagai kakak-beradik, Bahkan Friskapun tidak pernah tahu tentang Arya karena Dimas begitu tertutup tentang keluarganya.

"Selamat pagi semuanya, terimakasih atas sambutan kalian semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dan untuk serah jabatannya kebetulan yang menjadi atasan kalian bukan saya tapi saya serahkan pada Hendra." ucap Arya.

Semua karyawan ikut terkejut saat tahu Hendralah yang akan menjadi atasan baru mereka, mereka menyambut dengan tepuk tangan tapi beberapa dari mereka juga ada yang memandang tak terima dengan keputusan CEO baru mereka.

Dimas hanya tersenyum kecil melihat ekspresi karyawannya itu, ia tahu mungkin dari mereka ada yang kecewa karena Hendra adalah sekertaris Dimas dan sekarang berpindah jabatan jadi atasan mereka menggantikan posisi Dimas?

"Baiklah saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik, selamat bekerja semuanya." ucap Hendra tersenyum.

"Baik pak." ucap karyawan serentak.

"Baik saya rasa sudah selesai tugas saya di sini, saya harap kalian bisa bekerja dengan lebih baik dengan pemimpin baru disini, saya pamit terimakasih untuk kebaikan dan kerja keras kalian semua." ucap Dimas kemudian menundukan badannya.

Semua karyawan menyalami Dimas bergantian sebelum kembali bekerja. Sedangkan di dalam ruangan Dimas, Arya dan Hendra saling melontar senyum, rencana mereka telah selesai.

Dimas sebenarnya tidak menjual sahamnya pada siapapun ia hanya memberikan pemindahan nama sementara pada Arya kakaknya dan Hendra ikut direkrut Dimas sebagai penggantinya.

bukan karena Hendra sekretarisnya saja Hendra sudah mengetahui segala hal tentang perusahaan karena ia sudah lama mengabdi diperusahaan Dimas dan dia sering menggantikan Dimas setiap ia izin, ia orang kepercayaan Dimas jadi Dimas memilih Hendra untuk sementara waktu membantu meneruskan perusahaannya.

Keputusan ini ia lakukan agar dapat lebih mudah mencari tahu pelaku yang sudah membuat perusahaannya mengalami kerugiaan, dengan berhentinya Dimas akan lebih mudah untuk mengetahuinya.

"Ya sudah Mas, Dimas pamit pulang tolong jaga perusahaan ini," ucap Dimas merangkul Arya.

"Baik, Mas juga pamit langsung ke Bogor." ucap Arya.

"Hendra, saya percaya sama kamu tolong yang terbaik untuk mereka," ucap Dimas menyalami Hendra.

"Siap Pak, terimakasih atas kepercayaan anda pada saya." ucap Hendra tersenyum.

Dimas menganggukan kepalanya sebelum pamit dari kantornya yang akan pindah alih beberapa waktu pada orang Arya dan Hendra.

*-*-*-*-*

Dimas melonggarkan dasinya, rasanya hari ini beban dipundaknya sedikit ringan, untuk beberapa waktu ke depan ia tidak akan pusing memikirkan bagaimana nasib perusahaan dan tentang kerjasama yang membuatnya pusing, ia percaya kakaknya itu akan pandai mengatasinya.

Sebelum pulang ke rumah, Dimas memilih singgah ke Cafe yang tidak jauh dari perusahaannya itu, mungkin untuk beberapa waktu ia tidak akan datang ketempat favoritnya ini. Sambil menunggu pesanan diantar Dimas mengeluarkan rokok disakunya dan menghidupkannya, semenjak menikah dengan Anin ia sering ditegur Anin agar tidak merokok karena membahayakan dirinya juga orang sekitar termasuk Afifa, Dimas hanya sesekali merokok jika waktu senggang dan banyak pikiran saja.

Ia menatap kafe yang tidak terlalu ramai, pesanannya sudah datang ia menikmati secangkir Coffee late yang rasanya selalu sama sejak pertama kali ia mengunjungi , Di ujung sudut mata Dimas mengamati dua orang lelaki yang tengah duduk bercengkrama sambil mengesap rokoknya, dari postur tubuhnya tampak tak asing bagi Dimas.

Dimas terus mengamati mereka dari tempat duduknya, hingga mereka berdua selesai dan pamit, mata Dimas masih tetap mengamati keduanya dan ternyata Dimas tak salah mereka adalah Evan dan Gilang dan baru saja meninggalkan kafe ini.

Hanya saja ada kebinggungan di benak Dimas bagaimana bisa Evan mengenal Gilang dan begitupun sebaliknya? Bahkan mereka terlihat begitu akrab layaknya sahabat lama yang baru bertemu? Anehnya Dimas baru melihat Gilang kembali setelah 6 bulan lamanya ia menghilang tanpa kabar sejak bertengkar dengannya dan sekarang ia baru kembali melihatnya kembali.

Hanya saja ia masih bertanya-tanya apa hubungan mereka berdua? Dan apakah Anin sudah berjumpa kembali dengan Gilang?.

*-*-*-*-*

Anin baru saja selesai memberi makan Afifa, ia juga merapihkan semua mainan Afifa yang sudah berantakan di ruang televisi, Afifa masih terlihat anteng duduk di kursinya untungnya hari ini ia tidak begitu rewel dan membuat Anin kelelahan.

"Assalammualaikum." ucap Dimas membuka pintu.

"Waalaikumsalam." Jawab Anin menyalami Dimas.

"Afifa udah bobo?" tanya Dimas.

"Belum Mas baru aja selesai makan," ucap Anin.

Dimas mengangguk kemudian menghampiri Afifa dan hendak menggendongnya namun di cegah oleh Anin.

"Mas belum cuci tangan, belum ganti baju dan satu lagi bau rokok, Mas ngerokok lagi?" tanya Anin sambil mencium kemeja Dimas yang bau asap rokok itu.

"Tadi cuman satu batang aja," ucap Dimas tersenyum kikuk.

"Tetap aja itu gak baik Mas, kan Anin udah bilang jangan ngerokok gak baik apalagi nempel gini ke baju dan mulut Mas itu masih kerasa bau tembakaunya!" ucap Anin melotot.

"Maaf, Mas janji lain kali gak akan lagi." ucap Dimas

"Janji aja terus tapi diulang mulu, sekarang dimana di taronya?" ucap Anin.

"Apa?" tanya Dimas.

Tanpa menjawab Anin langsung menggeledah jas Dimas namun tidak menemukan bungkus rokok itu, iapun mencari di saku kemeja Dimas tidak ada, ia pun menggeledah celana Dimas mencarinya dan menemukannya di saku kanan depan Dimas.

"Ini apa? Mas beli satu bungkus?"

"Itu yang lama Nin, lagipula gak bisa beli satuan di minimarket" ucap Dimas.

"Ini Anin sita, pokoknya kalau Mas masih ngerokok Anin gak bakal izinin Mas masuk rumah, ngapain masuk rumah kalau bawa penyakit!" ucap Anin kesal.

"Jangan gitu dong sayang, Mas janji gak bakal ngerokok lagi beneran." ucap Dimas.

"Anin gak butuh janji, yang penting pelaksanaannya," ucap Anin.

"Iya Mas bakal usahain gak bakal ngerokok lagi." ucap Dimas.

Anin kemudian menggeledah kembali celana Dimas mencari korek api bensin yang di bawa Dimas, ia meraba semua saku celana Dimas dan membuat Dimas geli sendiri.

"Kamu mau ngapain sih udah gak tahan ya raba-raba?" goda Dimas.

"Jangan kepedean Anin cari korek apinya, Dimana ditaronya sih?" tanya Anin sambil terus meraba saku Dimas.

"Ada di sini," ucap Dimas menarik tangan Anin meraba *********** yang besar itu.

"Ih Mas!" ucap Anin menarik tangannya kembali.

"Lagian kamu raba-raba Mas dari tadi gak kasihan gitu sama dia udah mulai tegang." ucap Dimas yang membuat Anin kembali melotot.

Anin memilih duduk di sofa sambil melihat Afifa yang tampak anteng sendiri tanpa memedulikan kedua orangtuanya yang ribu karena rokok.

"Jangan marah dong, Mas beneran gak akan ngerokok lagi," ucap Dimas ikut duduk menghadap Anin.

"Terserah Mas!" ucap Anin masih kesal.

"Beneran Mas kapok, gak akan lagi jangan marah ya gak kasihan sama Afifa kalau kamu marah," ucap Dimas.

"Anin marah sama Mas gak ada hubungannya sama Afifa!" ucap Anin melipat tangannya.

"Ada kan Afifa itu anak kita, Mas kan Ayahnya kalau Ayahnya dimarahin sama Bundanya pasti dia ikutan sedih karena ayahnya sedih, ikatan batin anak sama ayahnya itu kuat," ucap Dimas dengan tatapan polosnya.

"Alasan, udah sana Mas ganti baju langsung mandi biar bau asap rokoknya hilang," ucap Anin.

"Gak marah lagi ya," ucap Dimas

"hmmm." ucap Anin tanpa menatap Dimas.

"Nanti malam jadikan?" tanya Dimas.

"Apanya?" tanya Anin menatap Dimas dengan mengangkat sebelah alisnya.

"Tanggung jawab buat tadi pagi," ucap Dimas.

"Tanggung jawab apa?"

"Mas kan belum gol." ucap Dimas.

"Mm sebenernya Anin baru aja dapet," ucap Anin kemudian tersenyum kecil.

"Hah? Seriusan?" ucap Dimas.

"Iya baru aja tadi," ucap Anin.

"Berapa hari?"

"Biasanya 7 hari" ucap Anin.

"Apa? udah di buat tegang dari tadi harus nunggu 7 hari?"

"Ya gimana udah jadwalnya Anin haid, gapapa ya ditunda sampai selesai." ucap Anin tersenyum tak enak pada.

"Saya sudah puasa satu tahun Anin dari semenjak Afifa dikandungan dan sekarang harus nunggu 7 hari lagi," ucap Dimas.

"Maaf Mas." hanya itu kata yang bisa Anin jawab.

Dimas dengan lesu menaiki tangga, ia berjalan gontai seperti kehilangan harapan, baru saja tadi pagi gairahnya memuncak apalagi setelah melihat tubuh polos Anin yang begitu menggairahkan, sudah hampir satu tahun saat Alm Kirana hamil Dimas tak pernah melakukan hubungan Intim karena Kirana takut kandungannya bermasalah dan sejak nikah dengan Anin pun mereka belum melakukannya dan sekarang disaat Dimas sudah mulai kembali membutuhkan kebutuhan biologisnya Anin tiba-tiba datang tamu dan ia harus menunggunya selama seminggu? Yang benar saja Dimas sudah tak tahan lagi.

*-*-*-*-*

Sejak tadi siang saat Anin memberitahu bahwa ia sedang datang bulan Dimas menjadi diam tak banyak berbicara, ia tahu Dimas sepertinya kecewa apalagi tadi pagi mereka hampir saja melakukannya namun terhalang oleh Ibu, Dimas hanya turun kebawah untuk makan dan setelah makan ia memilih duduk di sofa menonton tv sedangkan Anin pergi ke kamar meniduri Afifa.

Hari sudah malam, Dimas belum juga kembali ke kamar membuat Anin makin tak enak, Anin takut Dimas tidak mau tidur dikamar dan memilih tidur dikamar lain, ia menatap jam di dinding baru menunjukkan pukul 9 malam belum terlalu larut malam, namun tetap saja Anin gelisah karena sejak tadi Dimas tak berbicara dengannya.

Anin menghela nafasnya, ia harus memilih mengambil baju tidur dilemari, baju yang tampak minim yang belum pernah ia pakai ia akan memakainya hari ini, sebenarnya baju tidur itu adalah hadiah pernikahan dari teman-temannya namun karena nampak minim dan seksi Anin enggan memakainya karena takut menggoda Dimas terlebih saat itu mereka belum ada rasa.

Anin sudah selesai mengganti pakaiannya, ia juga menggelung rambutnya keatas terlihat leher jenjang putih yang sengaja ia perlihatkan untuk menggoda Dimas, dan sedikit belahan dada yang telihat entah apa yang merasuki Anin hingga berbuat demikian, biasanya ia tidak pernah memakai pakaian seperti ini apalagi sangat seksi bahkan menonjolkan lekukan tubuh dan belahan dadanya.

Anin memakai cream malamnya dan memakai body lotion ditangan dan kakinya, ia menatap cermin tata riasnya itu sambil tersenyum, sepertinya dandannya kali ini sangat pas dan cocok sangat menggoda untuk Dimas, ia yakin Dimas akan langsung tergoda olehnya, ya Anin yakin.

Tak lama Dimas membuka pintu kamarnya, Anin yang masih duduk di kursi meja rias memalingkan wajahnya melihat Dimas yang tak menatapnya sama sekali, Dimas langsung merangkak naik ke ranjang dan merebahkan badannya, Anin pun makin merasa bersalah sebegitu marahkah Dimas padanya?

"Mas?" ucap Anin lembut sambil berjala kearah Dimas.

Namun tak ada sautan dari Dimas, ia sudah memejamkan matanya dan memunggungi Anin yang berjalan kearahnya.

"Mas marah?" tanya Anin kembali

Tak ada jawaban dari Dimas, membuat Anin makin merasa tak enak saja dengan suaminya itu, padahal awal pernikahan mereka saling diam seperti ini sudah biasa tapi sekarang entah mengapa melihat Dimas diam rasanya berbeda, ada sedikit kecewa di hati Anin.

"Mas Maafin Anin," ucap Anin kembali.

"Mas ga marah, sudah kita tidur sudah malam," ucap Dimas tanpa membalikan posisinya.

"Tapi Mas..." ucap Anin terpotong.

"Sudah Malam Nin, saya juga lelah kita tidur," ucap Dimas langsung mematikan lampu di meja.

Dengan sedikit kecewa karena Dimas bersikap cuek padanya Anin pun memilih membaringkan dirinya di kasur dan membalikan badannya memunggungi Dimas, ia juga merasa kesal karena Dimas bahkan tak melihat penampilannya malam ini, padahal Anin sudah ingin memberi kejutan tapi Dimas sudah terlanjur kecewa, Anin pun memilih memejamkan matanya dan menyelimuti dirinya berharap besok Dimas menyesal karena tidak melihat penampilannya hari ini.

1
Dewi Fuzi
tau darimana aklak nya bagus kan baru sebentar bertemu nya
Calluella Rista Ramall
Sudah baca berulang" tapi tetep nangis juga 😭
Haru Kagami
iya bner ponakannya dimas. ya ampun ini novel pertama kayanya yg aq Prnh baca awal" tau NT. dh lama bgt ternyata.
Haru Kagami
iya bner dh pernh baca cm dh lama bgt aq makanya lupa" inget
Haru Kagami
kaya udh prnh baca cerita ini tpi lupa krn udh di thaun kpn gtu bacanya. ini novel di bikin kapan sh thor
Tiwi
sedih😭
Tihar
keren ceritanya sat-set Nga pake lama
Yuli Silvy
bgus ceritanya Thor ga' terlalu bertele-tele
Yuli Silvy
udah tau mau pergi kok malah d tinggal sndri Anin, kesihan kn Anin😥
Yuli Silvy
🤭🤭🤭
Yuli Silvy
sedih 😭
Yuli Silvy
bgus tu Anin
Yuli Silvy
kesihan bget anin
Yuli Silvy
klo jodoh ga' kn kmn
Yuli Silvy
baru gabung
Defi
🌹
nurul nazmi
bagus
Sundari Sekariputi
bgs ceritanya thor 👍👍👍
🥀Luka tak Berdarah🥀
D sini anin yg pling tersakiti n banyak berkorban🥺🥺🥺
Nur Janah
gagal maning gagal maning 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!