[🚫Hati-hati, novel ini bisa buat kamu terbang melayang-layang lalu jatuh ke dalam empang🚫]
Kisah Tuan Muda Rico.
Pria dewasa yang dijodohkan dengan gadis amit-amit bernama Bebiana.
Tidak hanya merepotkan, gadis belia itu juga memiliki hobi aneh. Yaitu mencuri apa saja yang bisa dijadikan uang demi menuruti hobinya bermain game.
Akankah Rico bisa bertahan memiliki istri yang hobinya maling sana-sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Rico berjalan dari dapur melewati ruang tengah dengan nampan berisi makanan di tangannya. Ia sempat melirik sang ayah yanf tengah duduk sebentar sebelum kakinya mendaki undakan anak tangga satu-persatu.
"Siapkan kamar! Malam ini aku ingin menginap di sini," ujar Wicaksono sampai membuat Rico refleks menghentikan langkah kaki.
Pria itu sedikit menengok ke belakang. Lantas berjalan naik kembali setelah mengetahui ternyata ayahnya sedang berbicara dengan salah satu pelayan, bukan dirinya.
"Sialan!"
Rico berdecak geram.
Itu artinya malam ini ia harus tidur bersama Bebi dalam satu kamar yang sama untuk menjalankan peran suami dan istri, kan?
Sambil bergumam-gumam kesal, tak terasa langkah kakinya sudah berada di ujung batas. Kini pria itu termangu menatapi bingkai pintu ber-cat putih tulang yang ada di depannya. Rico tampak ragu-ragu saat hendak masuk. Beberapa kali ia mengatur napasnya untuk menghadapi kenyataan menyebalkan satu ini.
Ceklek ....
Akhirnya pintu terbuka. Tampaknya Bebi tengah bersandar di headboard ranjang dengan pandangan kosong seolah tengah menatapi bayang-bayang kesedihan.
"Ehemm!"
Pria itu segera memasang senyum secerah matahari berkepala bayi di kartun Telletubbies.
"Waktunya makan malam! Satu porsi hati ayam yang tersakiti sudah di goreng krispi khusus untuk Nona Bebi," selorohnya sok jenaka.
Tik ... tik ... tik
Namun suasana masih terasa hening sampai denting jarum jam terdengar sangat jelas di telinga Rico.
Bebi masih setia bergeming sampai membuat Rico mengepalkan tangannya kesal lantaran lawakkan pria itu tak dihiraukan. Malahan kehadirannya dianggap tak kasat mata oleh perempuan itu.
Dasar petasan banting sok jual mahal.
Belum apa-apa pria itu sudah menyerah terlebih dahu. Rico urungkan niatnya untuk merayu menggunakan bahasa manusia.
"Makanlah .... Jangan sampai kamu sakit apalagi mati! Aku belum siap memasang bendera kuning di depan rumah," katanya sambil menaruh nampan berisi makanan di atas meja.
Pria itu mendudukkan diri di bibir tempat tidur. Matanya seketika membola begitu melihat obat nyamuk cair ada di tangan perempuan itu.
"Apa yang mau kamu lakukan Bebi?"
Gertakannya tak membuat Bebi lekas menoleh. Namun, pelan-pelan mulutnya mulai terbuka untuk bicara.
"Memangnya apalagi? Aku mau mati bunuh diri! Buang saja tubuhku ke rawa buaya agar kamu tidak perlu memasang bendera kuning dan mengurus pemakamanku!" ketus wanita dengan mata menyorot tajam setajam silet ke arah obat nyamuk cair di tangannya.
Tidak ada air mata. Tidak ada kesedihan. Wajahnya sangat datar dan serius saat mengatakan ingin mati.
"Jangan gila! Memperbaiki diri jauh lebih baik daripada mati sia-sia!"
Bebi refleks menoleh. "Mudah sekali kamu berkata seperti itu. Kamu tidak pernah tahu seperti apa rasanya hidup diambang keputusasaan seperti ini. Kelahiranku bahkan hanya dianggap aib yang menghancurkan hubungan ayah dan ibuku," kata Bebi seputus-putusnya. Tiba-tiba Rico jadi iba kembali melihat keadaan gadis tidak perawan itu.
"Jangan seperti ini. Yang lalu biarlah berlalu." Rico menepuk pundak Bebi lembut.
Sebenarnya ia ingin sekali memberikan nasihat panjang kali lebar. Tetapi ia mendadak kehabisan kata-kata mutiara untuk dikeluarkan. Takut ucapannya justru memperkeruh suasana hati si Petasan Banting.
Tring ... Tring ... Tring
Ponsel Bebi di atas nakas berbunyi nyaring. Rico yang duduk dengan posisi lebih dekat dengan benda pipih itu segera mengulurkan tangan untuk menjangkauhnya.
Terlihat sebuah panggilan seluler dari nomor tak di kenal memenuhi seisi layarnya. "Ada panggilan telepon tidak di kenal! Kutebak ini pasti ayah kandungmu."
Rico segera mengangkat panggilan tersebut, lantas memberikannya pada Bebi setelah mengaktifkan fitur pengeras suara agar ia dapat menguping lebih leluasa.
"Hallo!" Lemah Bebi menyapa.
Hallo selamat malam, apakah ini dengan nona Bebiana?
Rico sudah dapat menebak, itu pasti pengacara suruhan ayah kandung Bebi. Cepat jawab, begitulah sorot mata Rico berbicara sangat antusias.
"Iya ... saya Bebi, Anda siapa?"
Perkenalkan, saya adalah Punggut Utomo. Direktur utama dari PT Pertamina Indonesia. Saya Mau mengucapkan selamat karena nomor Anda mendapat berkah subsidi pemerintah sebesar 187 juta rupiah. Jika Anda berdesedia dan ingin mencairkan dana, maka Anda har—
Cetak!
Ponsel itu melayang ke udara. Berakhir menggenaskan setelah terbentur tembok dan jatuh tragis di lantai yang dingin. Rico sampai tertegun menelan salivanya gugup.
"Sumpah! Kukira itu ayah kandungmu! Ternyata telpon dari penipu ya," kata Rico agak canggung.
Tanpa basa-basi lagi, Bebi segera membuka tutup botol obat nyamuk rasa jeruk yang sejak sore tadi ia pegang erat-erat melebihi balonku ada lima.
Bebi lantas meminum cairan mematikan itu dengan sekali tenggak. Rico diam seperti patung, tak mencegah dan terkesan membiarkan saja gadis itu meregang nyawa.
***
Semarakkan komen, dan kopinya dong. Mana yang kemarin nabung buat Bebi. Up lagi kalo poinnya udah masuk 20 besar, ya. Wkwkkw. Bonus Visual Obat Nyamuk
wkakakaaakakakaaaaaa....
🤦🤦🤣🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃