NovelToon NovelToon
Munajat Cinta

Munajat Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Dokter Genius / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:66k
Nilai: 5
Nama Author: Oliv23

Annisa adalah seorang mahasiswi yg baru saja beroleh gelar dokter mudanya. Ia adalah putri angkat keluarga Wahab. Kecelakaan yg menimpa Zahara (putri bungsu keluarga Wahab) delapan tahun lalu, yg mempertemukannya dgn keluarga barunya itu. Wanita muda cantik itu tak henti membuat Abi dan Uminya berbangga serta berbahagia terhadapnya. Zahara adlh sahabat setianya. Dokter muda bertubuh mungil itu mengetahui setiap deteil terkecil mengenai Annisa, begitu pula sebaliknya.

Annisa terjebak dalam gamang rasa yg menyulitkannya. Disatu sisi hatinya masih saja memiliki kecenderungan pada "Rama" seorang pria yg pertama kali dicintainya.
Namun, sayangnya cinta mereka tak direstui "Pak Muchtar" ayahanda Rama di sebabkan Annisa adlh putri dari Fatimah "si wanita hina" menurutnya yg dulu mengkhianati cintanya.

Di sisi lain, Annisa dihadapkan pada pilihan lain yg sangat baik menurut logikanya, namun bertentanga dgn keinginan hatinya yg masih saja menginginkan Rama.
Pilihan terbaik menurut logikanya itu adlh "Khairul Azis Wahab" yg tak lain putra kandung keluarga Wahab, yg meminangnya di depan keluarganya, sahabat2nya, termasuk di depan Rama pada acara syukuran kelulusan Ia dan Zahara "sahabatnya".
Akhirnya Annisa menyerahkan keputusan atas pilihan sulitnya itu pada Allah Yang Maha Mengurusi segala urusan makhluknya di lagit dan di bumi. Dan Allah sesungguhnya Yang Maha Mengurusi, termasuk mengurusi pilihan sulit Annisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oliv23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

Puas mencicipi hidangan yang disuguhkan tuan rumah, acara ditutup dengan doa penutup yang masih dipimpin oleh Ustaz Dayat. Para tamu keluarga Wahab menyelamati Tuan dan Ny. Wahab yang berbangga dan berbahagia atas nikmat Allah SWT berupa prestasi yang ditorehkan anak-anak mereka, lalu berpamitan pulang. Fauzi pun segera berpamitan, berat hatinya untuk berlama-lama. Ia tak ingin jadi hilang arah jika berada di sana lebih lama. Ia tak ingin jadi hilang arah jika berada di sana lebih lama. Kemudian Ustaz Dayat dan rombongan yang gantian berpamitan.

Zahara masih memeluk Rahmita erat. Ia enggan melepas gadis kecil nan lucu itu.

"Ami, sama Tante saja di sini, ya?" bujuknya.

Gadis kecil itu diam saja. Ia memang nyaman berada dalam dekapan Zahara, dengan syarat Ustazah Qonita, adik Ustaz Dayat, harus tetap terjangkau dalam penglihatannya. Bila ibundanya itu menghilang sekejap saja maka pecahlah tangisannya. Ustazah Qonita menghampiri mereka berniat mengambil Rahmita dari pelukan Zahara.

"Ustazah, menginaplah di sini!" Zahara menawari.

Ustazah Qonita tersenyum kecil menjawab ajakan itu.

"Kalau saya di sini, lantas bagaimana anak-anak yang lain. Siapa yang akan mengurus dan memperhatikan mereka, Zahar?" tolak Ustazah Qonita halus. "Kemari, Nak!" Rahmita ringan menyambut bentangan tangan ibunda asuhnya itu. Zahara masih memeluk Rahmita, belum hendak berpisah dengan gadis kecil pemikat hati itu.

"Zahara...!" tegur Pak Rahmat.

"Coba liat anak-anak yang lain itu. Mereka sudah kelamaan menunggu. Nanti kamu saja yang ke panti. Kamu saja yang menginap di sana. Pargi bersama Annisa." Pak Rahmat menyarankan.

Air mata Zahar jatuh, mengenai pipi empuk Rahmita. Diciuminya pipi Rahmita lama, masih tak hendak berpisah. Setelah itu barulah diserahkannya Rahmita pada Ustazah Qonita.

"Nanti kita main ke panti." ucap Annisa menghibur.

"Saya pergi, Annisa, Zahara." hatur Ustazah Qonita berpamitan, lalu menciumi pipi kanan dan pipi Annisa dan Zahara bergantian.

"Assalamualaikum!" salam Ustazah Qonita.

"Waalaikumsalam!" jawab Annisa, Zahara, Umi, Abi, dan Khairul yang mengantar rombongan Ustaz Dayat hingga ke bus yang terparkir di luar gerbang.

Rupanya Fauzi belum meninggalkan rumah sahabatnya itu, meski sudah berpamitan sebelumnya. Dari dalam mobilnya, ia dapat dengan leluasa mengarahkan pandangannya pada wanita bertubuh mungil, Zahara.

Bahkan saat anggota inti keluarga wahab telah memasuki rumah, ia pun urung pergi. Ia menghempaskan tubuhnya kasar di kursi kemudi. Tadinya ia ingin membawa beban hatinya dalam perjalnan, namun ia berubah pikiran. Akan lebih baik meninggalkan bebannya di situ saja menurutnya. Di tempat asal semua beban-bebanya.

Di ruang tengah masih berkumpul sanak saudara Umi dan Abi serta sahabat-sahabat Annisa dan Zahara, serta si Andri yang sibuk pendekatan dengan semua wanita-wanita cantik sahabat-sahabat Annisa dan Zahara.

Lain halnya dengan Andri yang sibuk tebar pesona, pria lajang lainnya malah makin mengakrabkan diri dengan para tetua, melanjutkan kembali berbincangan mereka di awal acara yang tertunda. Rama tak dapat mengelak dari perbincangan mereka yang ditawarkan Pakde Santoso dan Uak Andi.

Ruang tengah merangkap ruang keluarga yang memang didesain khusus untuk menampung banyak orang itu ternyata sukses memenuhi hajat pemiliknya.

Terbukti dengan tertampungnya seluruh tamu sekaligus tuan rumah tanpa kekurangan ruang seinci pun.

Setibanya di ruang tengah, Pak Rahmat langsung bergabung dengan abang dan iparnya, Uak Andi, disusul Khairul yang duduk persis di sampingnya. Sementara Umi lebih memilih duduk di antara Umi Khanifah, Tante Ane dan, keponakannya yang sudah dewasa, Anggun.

Sedangkan Annisa duduk di sebelah Anggun dengan Zahara di sebelah kirinya. Zahara memandang Andri sinis. Ia terlihat gerah dengan ulah Andri yang tak pernah berubah.

Sok kegantengan! Sok oke! gerutu Zahara dalam hati.

Bergabungnya Annisa dalam ruangan itu sontak membuat Rama mengurangi keseriusannya membalas topik menarik yang telah dibahasnya bersama Pakde Santoso dan Uak Andi. Tak tahu apa sebabnya ia berbuat demikian. Adakah Annisa melarangnya atau mengurangi nilainya di mata Annisa? Ah, entahlah!

"Mbak Nisa, pria yang duduk di sebelah Uak Andi itu siapa?" tanya Anggun penasaran.

Annisa menegakkan pandangannya, mencari tahu siapa yang dimaksud Anggun. Annisa tersenyum kelu, lalu menjawab pertanyaan Anggun seperlunya.

"Rama namanya, Nnggun."

"Teman Mbak?" tanyanya lagi.

"Iya, teman Mbak Ara juga." jawab Annisa tak bernafsu.

"Ohh... udh lulus juga, Mbak? FK?" tanya Anggun antusias.

"Dia bekerja di perusahaan Ayahnya. Dia mahasisiwa pascasarjana jurusan Manajemen Bisnis, Nggun. Sudah lulus dan Selasa depan wisudanya." papar Annisa lebih lengkap.

"Mbak datang?" tanya Anggun tak ada habisnya.

"Hmm...." Annisa bergumam, tak hendak menjawab pertanyaan satu itu.

"Kalau Mbak pergi, ajak Anggun, ya?" Anggun memohon.

Annisa tersenyum tawar. Ia benar-benar tak ingin menjanjikan apapun pada Anggun, tapi tak bisa pula mengabaikannya.

"Teman-temanku tercinta beserta para adik-adikku tersayang, jangan termakan rayuan si playboy ini. Kalian tahu sudah berapa banyak wanita yang ditipunya? Sudahlah, Ndri. Jangan masukkan sahabat-sahabatku dalam daftar hitam wanita yang kamu mainkan itu. Mereka teman-temanku, Ndri." cerocos Zahara tak tahan lagi.

Andri memandang nanar wanita bertubuh mungil itu. Bukan karena Zahara hanya memanggil namanya saja, lagipula ia sudah terbiasa dipanggil tidak sopan begitu oleh Zahara. Toh, Zahara tetap tidak akan mengubah sapaan terhadapnya meski sudah diingatkan Khairul dan dimarahi Abi dan Uminya berkali-kali.

Tatapan nanar itu lebih dikarenakan sifat ikut campur Zahara dalam urusannya bila menyangkut wanita.

"Kenapa?" tantang Zahara.

"Dasar cerewet! Kamu cemburu, ya? Karena bukan kamu yang aku ganggu." goda Andri.

"Masya Allah! Percaya diri banget ini orang, ya Allah." gumam Zahara sambil geleng-geleng kepala.

Annisa, Anggun, dan wanita-wanita cantik yang mendadak diabaikan Andri menyaksikan adu mulut Zahara dan Andri serius.

Mereka senyum-senyum sambil seseksli melepas tawa karena ulah pasangan musuh abadi itu.

"Sudahlah! Mengaku saja, Cerewet." tambah Andri tak ingin mengalah.

Wajah Zahara berubah buruk. Ia sinis memandang Andri yang terlihat puas sekali mempermainkannya.

Khairul yang duduk dikelilingi pria-pria pecinta bisnis itu tak hendak ikut serta dalam topik seru yang sedang mereka perbincangkan. Ia menarik diri, berdiam diri guna mengumpulkan keberanian dan kemampuannya untuk mengakui isi hatinya di hadapan semua. Logikanya mengatakan bahwa seharusnya ia mengakui terlebih dahulu kepada Annisa. Kemudian, setelah mendapatkan tanggapan dari Annisa, barulah akan dikatakannys di depan keluarga dan semuanya.

Namun hatinya memiliki logika sendiri. Logika hatinya mengatakan bahwa ia harus mengatakan semuanya sekarang juga. Di hadapan semua orang, disaksikan semua yang bersaksi.

Keringat dingin bermunculan. Dipandanginya Annisa sekilas, mencari tambahan kekuatan, lalu ia cepat-cepat menundukkan pandangannya. Ia lempar pandangannya pada Rama. Terbakar semangatnya untuk segera mengakui isi hatinya saat didapatinya Rama tengah curi-curi pandang pada Annisa. Akhirnya bulat keputusannya untuk memproklamirkan isi hatinya dengan disaksikan oleh semua yang bersaksi.

"Hmm..." Khairul berdehem.

"Ada yang ingin saya katakan." katanya menggema, menyuntik mati keriuhan yang tadi terjadi.

Mendadak semua mata tertuju padanya. Pak Rahmat menoleh ke kanan, memandangi putra kebanggaannya. Khairul balas memandang Abinya.

"Khairul harus mengatakan sekarang, Bi. Jika tidak sekarang, maka kesempatan ini mungkin tidak akan datang lagi, Bi. Keberanian Khairul mungkin juga tidak ada lagi." jelas Khairul di tengah gemuruh batinya.

Pak Rahmat mengenggam tangan putranya, mengokohkan dan menguatkan pendirian putranya. "Katakanlah, Nak!"

Khairul tak berhasil meniadakan gemetar batinnya, takkan mungkin bisa sepertinya. Sebab wanita yang hendak ditaklukannya bukanlah wanita sembarangan. Wanita itu telah terlanjur ia letakkan di tahta terindah hatinya. Wajarlah jika kini hatinya berdebar-debar tak karuan. Meskipun begitu, Khairul berusaha keras menguasai diri dan mengendalikan gejolak sanubarinya. Agar apa yang dikatakannya dapat tersampaikan dengan baik dan dapat diterima pendengarnya dengan baik pula.

*****

1
HENI PUSPA DEWI
terhura thor
HENI PUSPA DEWI
pengen dong punya suami kyk Rama meleleh
Mely Puspita
😭😭😭
Sischa cintara
hadir kk😘 semangat kaja💪💪
Olivia Dewi: Makasih kak 🙏😍
total 1 replies
Deti Hika sopia
yang dinanti
Olivia Dewi: Thanks for the support you have given to me. ❤
total 1 replies
Deti Hika sopia
alhamdulillah author lanjut ...
Olivia Dewi: Thank you for your support 💝
total 1 replies
Deti Hika sopia
🥰🥰🥰🥰 akhirnya thor🤗
Defi Danny Firmansyah
ga kerasa hmpr 1 thn ga up pdhl crtanya bagus bngt....
Anadiana Prijatna
Subhanallah ...bagus veritax..
Nur hikmah
g d lanjutkh thor in crt....syang bngt
Zulya Hana
munajat cinta kenapa gak lanjut cerrita nyaaa🥺
Nur hikmah
semanagt thor n cpt up yaaaaaa
Nur hikmah
tamatkh thor
Hamilah Afkar
dah mau nangis nih
bunda cinta
lamaaaa
Nisa
semmangat thor Dan cepet upnya 😍😍
Mur Niati
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Nur hikmah
lnjut thor....up yg bnyk...heee
Nur hikmah
bawangy kbnyakan thor naruhyaaaa
Nur hikmah
ya allah sakit bcay g kuat....beriknlh kbhgian tuk rama thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!