NovelToon NovelToon
PENDEKAR PEDANG BERLIAN

PENDEKAR PEDANG BERLIAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Contest / Kultivasi / Pendekar / Wuxia / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Aa Petruk

Teratai Putih adalah nama sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari pusat keramaian kota di kekaisaran Han. Meski terletak jauh dari pusat ibu kota, namun penduduk desa Teratai Putih hidup rukun dan sejahtera berkat sumber daya alam yang melimpah.

Hingga suatu saat kedamaian desa Teratai Putih terusik oleh kehadiran kelompok perampok dan pendekar aliran hitam yang datang untuk merampas harta benda seluruh warga desa.

Penduduk desa yang awalnya hidup rukun penuh dengan ketentraman, terpaksa melewati hari-hari berselimut ketakutan yang mencekam.

Chi wei adalah seorang anak petani dari desa Teratai Putih. Dia bersama dua orang sahabatnya Tao Ming dan Yan San, setiap hari menghabiskan waktunya untuk berburu. Disaat anak-anak sebayanya sibuk belajar dan berlatih ilmu bela diri, mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk berburu hewan liar dan berbagai macam tanaman obat. Hasil dari perburuan tersebut nantinya akan mereka jual ke tengkulak yang ada di desa Teratai Putih.

Hingga suatu ketika di sebuah hutan belantara, chi wei mengalami fenomena yang merubah jalan hidupnya. Takdir hidup yang membuat dia menjadi seorang pendekar berilmu tinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa Petruk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cha 24 - Aura Seorang Pendekar

Rombongan kelompok Tangan Api yang dipimpin Pendekar Cambuk Api sudah mulai memasuki wilayah desa Teratai Putih, jaraknya hanya tinggal beberapa kilometer saja dari desa tersebut.

Di atas sebuah dahan pohon berukuran besar, Chi Wei berdiri tegak sambil memperhatikan kelompok tersebut.

"Wei'er, kedatangan mereka tidaklah bermaksud baik. Kau harus menghentikan mereka sebelum para bandit itu memasuki desa dan membuat kekacauan di sana." Suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei.

"Baik guru, aku juga bisa merasakan ***** membunuh yang sangat kuat, terutama dari pimpinan kelompok itu." Jawab Chi Wei sambil bergerak turun dari pohon tempat ia bersembunyi.

Chi Wei berdiri santai tepat di depan rombongan kelompok tersebut. Kedatangannya yang secara tiba-tiba, sontak saja mengagetkan rombongan kelompok Tangan Api yang saat itu langsung menghentikan laju kuda mereka.

"Berhenti!..."

Pendekar Cambuk Api berteriak sambil mengangkat sebelah tangannya sebagai kode yang ditujukan kepada seluruh pasukannya.

"anak muda, dilihat dari warna rambutmu sepertinya kau adalah pendekar rambut biru yang kucari." Pendekar Cambuk Api berkata penuh keyakinan.

"wow, sungguh mengesankan. Sepertinya aku cukup terkenal." Ucap Chi Wei sambil tersenyum tipis.

"kau jangan senang dulu anak muda, aku mencarimu untuk memenggal kepalamu itu, jadi bersiaplah!"

Whung!...

Dari tubuh pendekar Cambuk Api keluar aura berwarna merah darah yang diarahkan kepada Chi Wei.

"apa yang dia lakukan?" Chi Wei membatin.

Tiba-tiba suara Lung Huo terdengar dalam pikiran Chi Wei. "dia sedang mencoba menekanmu menggunakan aura pendekar yang di milikinya, jika tingkat kependekaranmu berada dibawahnya maka kau akan mengalami kesulitan bernapas dan sekujur tubuhmu akan sangat sulit untuk digerakkan."

"tapi aku tidak merasakan dampak apa-apa Guru, apa itu artinya..."

"ya, kau benar Wei'er, tingkat kependekaranmu berada jauh diatas pria itu. Saat ini pendekar itu berada di tingkat pendekar bumi tahap menengah, sedangkan dirimu berada di tingkat pendekar dewa langit tahap puncak. Dengan perbedaan tingkatan yang cukup jauh, kau bahkan bisa menghabisinya hanya dengan menggunakan aura pendekar yang kau miliki saat ini." Lung Huo menjelaskan sedikit tentang tingkatan seorang pendekar.

"hmmm...sepertinya itu cukup menarik untuk dicoba." balas Chi Wei sambil tersenyum tipis.

Sementara itu, melihat Chi Wei tidak menunjukkan reaksi apa-apa, pendekar Cambuk Api mulai merasakan sedikit ketakutan.

"sial, siapa sebenarnya pemuda ini. Sepertinya dia bukan tandinganku."

Wushhh...

Tiba-tiba tubuh Chi Wei memancarkan aura berwarna perak yang sangat menyilaukan mata.

Seketika itu juga pendekar Cambuk Api jatuh berlutut dengan darah yang mengucur dari mulut, hidung, mata dan telinganya, sekujur tubuhnya terasa kaku dan sangat sulit untuk digerakkan.

Sementara itu seluruh pasukan kelompok Tangan Api satu persatu ambruk tersungkur ke tanah, dan kuda tunggangan mereka berlari berhamburan ke segala arah menjauhi area tersebut akibat terkena dampak tekanan aura yang terpancar dari tubuh Chi Wei.

Boom... Boom... Boom...

Ledakan demi ledakan terdengar bersahutan seiring satu persatu hancurnya tubuh para pasukan kelompok Tangan Api menjadi kabut darah.

Seketika itu pula aroma amis darah menyebar di area tersebut hingga memancing komplotan binatang buas keluar dari sarangnya. Namun tak satu pun dari binatang buas tersebut yang mampu mendekat ke lokasi di mana Chi Wei berada akibat dari kuatnya tekanan aura tersebut.

"si...siapa kau sebenarnya?" Pendekar Cambuk Api bertanya terbata-bata. Dengan segenap tenaga dalam yang dimilikinya pendekar utusan Ghuo Lan tersebut berusaha keras untuk tetap bertahan. Namun apalah daya, kuatnya tekanan aura yang terpancar dari tubuh Chi Wei membuat pria itu tak berdaya dan akhirnya hanya bisa duduk berlutut pasrah menanti ajalnya tiba.

"hmmmmm... seorang pendekar yang diutus untuk membunuhku ternyata hanya seekor semut lemah."

Chi Wei berkata sambil berjalan mendekati pendekar Cambuk Api.

"Sombong!...rasakan ini keparat!" dengan sisa-sisa kekuatannya, pendekar cambuk api menyerang Chi Wei menggunakan senjata pusaka andalannya.

Slash... wush...

Secepat kilat cambuk api bergerak meliuk mengejar tubuh Chi Wei.

Hap...

Dengan mudah Chi Wei menangkap ujung dari cambuk senjata pusaka tersebut.

"hmmm... senjata yang cukup bagus, aku mencium aroma kematian dari cambuk ini. Kalau aku tidak salah menduga cambuk ini telah memakan banyak korban. Sepertinya cambuk ini sangat cocok untuk aku hadiahkan kepada salah satu adikku." Chi Wei berkata sambil menatap tajam pendekar Cambuk Api.

"kau benar anak muda, cambuk ini telah memakan banyak korban dan sebentar lagi cambuk ini akan mengirimmu ke neraka."

"oya? aku merasa sudah saatnya cambuk ini berganti tuan." balas Chi Wei tersenyum sinis.

Wush.....

Chi Wei mengalirkan tenaga dalam yang disertai kilatan-kilatan petir ke cambuk tersebut, saking kuatnya tenaga dalam yang dialirkan Chi Wei membuat pendekar cambuk api tak mampu menahannya. Seketika itu tubuh pendekar Cambuk Api terlempar menghantam sebatang pohon berukuran besar.

Slash.....Boom....

"Aaaarrrrgggghhhh... uhuk...uhuk..."

Darah kental keluar dari mulut pendekar Cambuk Api.

"ucapkan selamat tinggal kepada senjata kesayanganmu ini semut lemah." Secepat kilat Chi Wei menghantamkan cambuk tersebut ke tubuh pendekar Cambuk Api.

Slashhhh....wushhhh....

"tidaaaaakkk......."

Pendekar Cambuk Api berteriak histeris meregang nyawa dalam keadaan tubuhnya diselimuti kobaran api yang sangat besar.

Aroma daging terbakar menyeruak menyebar ke udara.

Tak jauh dari lokasi tersebut, berdiri sesosok pria paruh baya di atas dahan sebatqng pohon berukuran cukup besar.

"gila, pemuda itu benar-benar seorang monster. Pendekar Cambuk Api yang terkenal di dunia persilatan pun tak berdaya menghadapinya." gumam pria paruh baya tersebut yang begitu kaget saat mendapati Chi Wei melirik ke arahnya sambil tersenyum tipis.

"apa?... aku harus segera pergi dari sini. Sepertinya pemuda itu menyadari keberadaanku."

Cling...

Secepat kilat pria paruh baya tersebut pergi meninggalkan tempat itu.

"biarkan orang itu pergi, sebaiknya kau padamkan api yang membakar pendekar itu dan ambil cincin dimensi miliknya. Sepertinya pendekar itu memiliki banyak harta." tiba-tiba suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei.

Chi Wei pun melakukan apa yang diperintahkan Lung Huo lalu memeriksa cincin dimensi yang di ambil dari tubuh pendekar Cambuk Api.

"Wow...pendekar ini ternyata sangat kaya." Gumam Chi Wei saat menemukan jutaan koin emas dan berbagai macam pil dan sumber daya yang tak ternilai harganya dalam cincin dimensi tersebut.

Lalu Chi Wei menyimpan pusaka cambuk api dan cincin dimensi rampasannya ke dalam cincin dimensi miliknya. Ia pun mengambil puluhan cincin dimensi milik pasukan kelompok Tangan Api lainnya, namun isinya tak sebanyak milik pendekar cambuk api.

Untuk menghilangkan jejak, Chi Wei kembali membakar mayat para pendekar tersebut menggunakan cahaya petir miliknya, dalam hitungan detik mayat-mayat tersebut berubah menjadi abu.

Dia pun bergegas pergi meninggalkan area tersebut dan kembali ke desa Teratai Putih.

1
Rajo kaciak
cerita nya terlalu kereen
Rajo kaciak
mantap, mudah2an hanya seorang wanita nya , karna rata2 kultivator punya bnyk istri 🤣🤣
Nay Galcite Nay Galcite
😎😎
John Travolta
thor ga ada update lagi kah?
dofi hendriyanto
rekomendasi
Khairul Azman Abdul Kahar
waduhhhh kenapa tidak diambil cincinnya
Bocil
cwritanya bagus thor. tapi untuk suara audionya musiknya terkalu keras jd merusak suara lainya.
Didik Setyawan
aq bingung saat bca seorang yg d'panggil pangeran it anakx jenderal,trs anakx raja/kaisar d'panggil pa y??????????????????
Didik Setyawan
tingkatan pendekar kok lucu pke bingit sich,s'tauku gelar dewa yg akhir tp nie lucu bingit.masa pendekar bumi trs dewa bumi,pendekar langit trs dewa langit.n raja Mlah yg akhir,emang gelar raja lbih tinggi drpd dewa wkwkwk,,
Roynaldi Ananda
àuthor kan lulusan pesantren tebu ireng
Roynaldi Ananda
author sialan
Hary
KAMPRET.... 🤣
Omen Aura
keren menghibur😄
Omen Aura
kopi luwak😄😄
Raditya Radi
lanjut
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt
Purwanto aza
g ada kelanjutannya
Nurhairani
jadi ngak seru.masa berahir begini ceritanya
Roni Sakroni
lanjutkan dan terima kasih...
Roni Sakroni
asyemmm tenan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!