NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:770.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Melly

Bagaimana rasanya ditinggal untuk selamanya oleh kedua orang tua, dan mempunyai ibu tiri yang yang gila harta, menjual anak tirinya kepada lelaki kaya demi uang, inilah yang dirasakan Lusiana gadis malang yang dijual ibu tirinya demi dirinya sendiri, dan harus menikah dengan pria yang membelinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 23 Menamui Ina

Lusiana sempoyongan berjalan ke kamar, karena kepalanya terasa pusing sedangkan Tama tak menagacuhkan nya. Lena suster yang merawat Lusiana langsung membantunya untuk pergi ke kamar.

"Sina saya bantu nona" suster Lena merangkul Lusiana supaya jalannya seimbang.

"Kepala saya pusing sekali sus" Lusiana memegang kepalanya.

"Iya, ini karena nona banyak fikiran dan kurang istirahat"

"Apa saya nggak apa-apa sus?"

"Iya, nona cuma perlu istirahat aja, jangan mikirin yang berat-berat dulu"

Lena membaringkan Lusiana di atas kasur, dan mengambilkan obat untuk Lusiana, karena sepertinya Lusiana belum meminum obat nya sama sekali semenjak ia pulang dari rumah sakit.

"Kenapa obatnya tidak di minum nona?"

"Oh iya, saya kelupaan sus"

"Kalau nona pengen cepat pulih, jangan sampai lupa meminum obatnya" Lena memberikan obat itu pada Lusiana

"Iya sus" Lusiana langsung mengambil obat itu dari tangan Lena dan langsung meminumnya.

"Maaf kan saya nona, ini juga salah saya, saya dibayar oleh suami nona untuk merawat nona, tapi saya lalai, saya benar-benar minta maaf" Lena menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.

"Ya sudah jangan terlalu dipikirkan"

"Tapi bagaimana jika suami nona tau pasti dia akan memarahi saya"

"Nggak usah khawatir saya nggak akan ngomong apa-apa sama suami saya"

"Terimakasih nona"

"Kalau begitu suster boleh keluar, saya mau istirahat dulu, kalau ada apa-apa saya pasti akan memanggil suster"

"Baik, saya permisi keluar dulu nona"

Tama saat ini sudah tidak ada di rumah, dia pergi ke sebuah kafe yang biasa ia datangi sebelum menikah ketika ada masalah.

"Tama, sudah lama ya tidak datang kesini" wanita tua pemilik kafe itu mendekati Tama yang terlihat kusut.

Wanita tua itu bernama Ina, dia telah dianggap oleh Tama sebagai ibu kandungnya sendiri. Ibu adalah sebutan yang pantas diberikan Tama untuk Ina karena Ina sudah seperti sosok ibu kandung bagi Tama. Semenjak ditinggal oleh mamanya Tama selalu mencurahkan keluh kesahnya pada Ina, dan Ina selalu mendengarkan apapun yang dibicarakan Tama. Tapi semenjak menikah dengan Lusiana Tama jarang datang ke kafe Ina. Hari ini setelah sekian lama Tama datang ketempat Ina lagi.

"Ibu, maaf Tama baru sempat datang kesini"

Tama lalu memeluk Ina, sebagai pelepas rindu dan obat penenang hatinya.

"Iya, ibu tau kamu sibuk, nikah aja kamu nggak ngundang ibu" rasa kecewa itu terlihat dari wajah Ina.

"Pernikahan itu dadakan, nggak banyak yang diundang, cuma kolega, rekan bisnis dan karyawan kantor saja".

Tama mencoba memberikan penjelasan kepada Ina.

"Ibu nggak mempermasalahkan nya, tapi kamu sudah ibu anggap seperti anak kandung ibu, tepat dihari kepergian mama mu, kamu seperti anak tak berdaya menangisi kuburan mama mu yang masih basah itu, ibu yang baru kehilangan anak karena kecelakaan, merasakan semangat hidup kembali ketika kamu ibu ajak ke kafe ini, dan ibu memberi mu makan, tapi kamu nggak mau memakannya, setelah membujuk mu dengan berbagai macam caranya akhirnya baru lah kamu mulai menyuap nasi. Saat itu kamu mempunyai keinginan untuk memanggil ku dengan sebutan "ibu" bukan bibi seperti yang kamu ucapkan disaat kita bertemu di pemakaman. Mulai saat itu aku merasakan mempunyai anak lagi, dan kamu selalu datang kesini walaupun hanya sekedar minum teh" Ina mengingat semua masa lalu saat pertama kali bertemu dengan Tama.

"Sekali lagi, Tama minta maaf ibu"

"Ya sudah, kamu akan ibu maafkan setelah kamu mencicipi menu terbaru dari kafe ini"

Ina membawakan menu yang baru ia buat, walaupun sudah tua Ina sangat cekatan dan pintar dalam bidang mengolah makanan, itulah yang membuat kafenya tak pernah sepi pengunjung.

"Wah...apa ini, kok bentuknya aneh?"

Tama sebelumnya belum pernah melihat makanan seperti itu.

"Ini adalah Jajangmyeon"

"Apa itu?, kok aku nggak pernah dengar, apa namanya ja...jaaa..., apa itu nama nya aja susah disebut"

"Jajangmyeon, ini makanan dari Korea kemaren ibu mempelajari cara membuatnya dari internet"

"Apa ini enak, kok hitam-hitam gini"

Tama memandang dalam-dalam hidangan itu.

"Memang seperti itu, jangan dilihat warnanya coba dimakan pasti kamu ketagihan"

"Yakin ini boleh dimakan?"

Tama merasa nggak percaya akan makanan itu, karena baru pertama kalinya dia melihat makanan seaneh itu.

"Iya, coba dulu baru beri komentar"

Tama mengambil sumpit yang berada di sebelah mangkok itu, dengan pelan-pelan dan berat hati Tama memasukan makanan itu kedalam mulutnya. Satu suapan, dua suapan akhirnya Tama ketagihan juga, dia langsung menyantap habis semuanya tanpa sisa.

"Enak kan, sampai kamu mampu menghabiskannya dalam waktu 10 detik"

Ina melirik jam tangannya dan melihat mangkok yang berisikan Jajangmyeon telah ludes.

"Ternyata ini memang enak, ibu sangat pintar memasak, apapun yang ibu masak pasti akan terasa sangat enak" puji Tama.

"Kamu sudah tahu kan, rasanya seenak apa, itu sebabnya banyak pengunjung yang datang ke sini untuk menyantapnya, oh ya kenapa kamu nggak ngajak istri kamu kesini, siapa namanya?

"Lusiana bu, dia ada di rumah, lagian dia baru keluar dari rumah sakit, kepalanya masih terasa pusing"

Tama mengingat bahwa ia meninggalkan Lusiana yang dengan kepalanya yang masih pusing.

"Pusing, kenapa, apakah ibu akan segera punya cucu?.

Ina menganggap bahwa Lusiana sedang mengandung dan ia begitu antusias untuk memiliki cucu.

"Tidak, dia tidak mengandung, Lusi habis mengalami kecelakaan jadi kepalanya masih terasa pusing"

Tama segera membenarkan ucapannya supaya Ina tidak salah memahaminya.

"Kecelakaan, apa dia baik-baik saja?" tanya Ina yang merasakan khawatir.

"Dia sempat dirawat di rumah sakit, tapi sekarang kondisinya jauh lebih baik"

"Syukur deh, kalau memang begitu, kamu harus menjaga istrimu dengan baik, supaya tak ada hal yang buruk terjadi padanya"

"Iya ibu, aku akan menjaganya segenap jiwa dan ragaku, karena aku sangat mencintainya"

"Tugas suami memang harus seperti itu, tidak boleh membiarkan istrinya bersedih apalagi dalam bahaya"

"Tama akan selalu mengingat pesan-pesan ibu"

"Oh ya, sepertinya kamu lagi memiliki banyak masalah ya, ibu lihat wajah mu saat datang barusan sangat kusut"

"Papa datang lagi kehidupan Tama"

"Bagus dong, kenapa kamu nggak senang gitu?"

"Laki-laki itu belum berubah ibu, aku memergokinya bersama seorang perempuan didalam kamar hotel"

"Apa perempuan itu sama dengan perempuan yang diajak pergi oleh papa mu disaat setelah pemakaman mama kamu?"

"Tidak bu, perempuan ini sangat Tama kenal waktu dulu"

"Memangnya siapa perempuan itu?"

Ina mulai merasa penasaran.

"Dia masa lalu aku, Nurin"

"Nurin?"

Ina mengingat nama itu, karena dulu Tama sering menyebut nama itu didepan Ina.

"Iya Nurin"

"Apa kamu masih mencintai perempuan itu?"

selidik Ina.

"Nggak, Tama tidak punya perasaan apa-apa lagi untuknya, tapi yang menyakitkan kelakuan papa yang tak pernah berubah dan tak pernah memandang siapa orangnya, tidakkah ada rasa malu untuk berhubungan dengan orang seumuran anaknya, dan dia juga termasuk masa lalu anaknya"

"Papa mu ternyata memang gila wanita, ibu fikir dia datang kembali untuk menemui mu dan menyesali perbuatannya"

"Tidak, malahan mereka mau menikah"

"APA?"

"Iya, dia barusan datang kerumah dan memberikan undangan pernikahan"

"Lalu, apakah kamu akan datang?"

"Nggak tau, sepertinya tidak"

"Saran ibu, mendingan kamu datang aja"

"Aku coba pikirkan dulu"

"Ya, itu keputusan mu, ibu nggak bisa juga memaksa mu"

"Sepertinya Tama harus pamit dulu, karena saat pergi kesini Tama nggak memberitahu Lusi"

"Ya sudah, titip salam buat istrimu ya, lain kali ajak dia kesini"

"Pasti, Tama akan ajak Lusi kesini"

Tama berpamitan pulang kepada Ina, karena takut Lusi mencarinya, ponsel Tama pun ketinggalan di rumah.

Bersambung 😍

1
Yuni Sari
Buruk
Yuni Sari
Biasa
imafe
tunggu2 rekaman adam kok ada yg janggal ya,
dr cerita dia (adam) mulai awal sampek kerumah nurin ,dan kehamilan nurin ,sampek diusir gk direstui oleh bram,
padahal habis pulang dr rmh nurin langsung meninggal si adam
imafe
eh eh eh.....knp yg cantik ini jadi nurin sipelakor sih ,padahan dia manis banget apalagi klo senyum,gigi gingsulnya bikin imut,
dan dlm semua dramanya sllu jadi protagonis dan mudah senyum
imafe: murah senyum
total 1 replies
imafe
kurang micin ceritanya dan sedikit gk nyambung
Lastri Gandhi
Kenapa hrs pakai kata ganti org kedua " Kau " sih thor....kaku bgt, lbh enak di baca dgn kata " Kamu. "
Keroppi
Kira-kira apa alasan tama membeli lusiana🤔
Dhina ♑
thor ayo promo
Shalwa Sabil
lanjut
Shalwa Sabil
..lanjut
Shalwa Sabil
lanjut thour
Nur Hayati
bener Tama kl Nurin pengen blk sm Tama Krn harta
Shalwa Sabil
lanjut thour
Nia Bae
nunggu lagi ahhh
Nia Bae
makin suka aja ma ceritanya,, sayang ceritanya gak up tiap hari hehehe😁😁😁😁lama banget nunggu nya
Nilaaa🍒
like
Mirna Watie
lanjuttt
Nilaaa🍒
semangat kak
like episode tertinggal
salam dari IKYD
Shalwa Sabil
lanjut thour... kenapa senyum nya nurin sinis ya....
Kaka Pertama
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!