Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA REKAHAN RASA DAN BATASAN SUCI
Sore itu, langit di atas kompleks pesantren terasa abu-abu, seiring dengan atmosfer yang mendadak canggung di dalam kediaman Pak Kiai. Di ruang tamu bernuansa kayu jati yang harum minyak wangi kasturi, Abi Rahman dan Umi duduk berdampingan dengan Fatih yang tertunduk takzim di sebelah mereka. Kedatangan mereka kali ini tidak membawa hantaran atau kabar pertunangan yang menggembirakan, melainkan sebuah kejujuran yang akan menyayat hati seseorang.
“Pak Kiai... maksud kedatangan kami sekeluarga kemari, sebenarnya ingin memberi tahu sebuah keputusan, sekaligus saya pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya,” ucap Abi Rahman membuka percakapan dengan nada suara yang teramat berat dan penuh rasa sungkan.
Pak Kiai yang duduk bersila di hadapan mereka mengernyitkan dahi tipis, namun tetap mempertahankan senyum kebapakannya yang teduh. “Meminta maaf untuk apa, Pak Rahman? Seperti dengan siapa saja. Silakan kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati untuk diobrolkan.”
Mendengar respons bijak sang guru, Fatih perlahan mendongak. Dengan posisi kepala yang tetap tertunduk sebagai tanda kesopanan mutlak seorang santri di hadapan gurunya, Fatih memberanikan diri membuka suara.
“Maafkan Fatih, Pak Kiai... Fatih rasa, amanah perjodohan ini tidak bisa Fatih lanjutkan,” ucap Fatih dengan nada bariton yang terdengar bergetar namun sarat akan ketegasan yang mutlak. “Fatih merasa tidak memiliki kecenderungan rasa kepada Ning Halwa. Dan entah mengapa... setiap kali Fatih mencoba memikirkan dan memaksakan perjodohan ini, hati Fatih selalu menolak dengan sangat keras. Fatih takut, jika dipaksakan, Fatih justru akan mendzolimi Ning Halwa ke depannya.”
Pak Kiai terdiam sejenak. Beliau menatap Fatih dengan pandangan menilai yang dalam, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengangguk paham. “Ooh... begitu rupanya. Ya... sebagai pendidik, saya tentu tidak bisa dan tidak akan pernah memaksa jika kamu sendiri menolak perjodohan ini, Fatih. Pernikahan itu ibadah seumur hidup, harus didasari keridhoan kedua belah pihak.”
“Terima kasih banyak atas pengertiannya, Pak Kiai. Sekali lagi, maafkan kelancangan Fatih,” ucap Fatih sembari menyatukan kedua telapak tangannya di dada.
Sementara itu, di balik pintu kayu kamar yang tertutup rapat tak jauh dari ruang tamu, sosok Halwa berdiri mematung. Tangannya yang memegang tepi jilbabnya tampak bergetar hebat. Mendengar setiap kalimat penolakan yang meluncur dari bibir Fatih, dada Halwa seketika terasa mencelos. Rasa perih yang teramat sangat menjalar meremukkan hatinya. Rasa bahagia yang sempat membuncah saat sang Abi mengabarkan rencana perjodohan ini beberapa waktu lalu, kini telah luntur sepenuhnya tanpa sisa.
“Ternyata... Mas Fatih memang tidak pernah menyukaiku,” batin Halwa perih. Setitik air mata hangat meluncur di pipinya yang mulus. Namun, sebagai seorang Ning yang dididik dengan ketegaran iman, Halwa buru-buru menyeka air mata itu. “Mungkin... kami memang bukan jodoh di suratan takdir yang dituliskan di Lauhulmahfuz.”
Setelah keluarga Fatih berpamitan dan melangkah pergi dari area pesantren, Halwa perlahan keluar dari kamarnya. Ia memoles wajahnya dengan senyuman terbaik, berusaha sekuat tenaga menutupi luka patah hati yang mendalam di depan kedua orang tuanya.
“Halwa, sini Nak,” panggil sang Abi dengan nada suara yang teramat lembut. Beliau tahu persis apa yang dirasakan putrinya.
Halwa mengangguk patuh, melangkah dengan anggun lalu duduk di dekat sang Abi.
“Fatih... memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan ini. Apa kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Pak Kiai dengan tatapan mata keayahan yang sarat akan rasa khawatir.
Halwa memaksakan sebuah senyuman manis di bibirnya, meskipun hatinya sedang hancur lebur berkeping-keping. “Tidak apa-apa, Abi. Mungkin Halwa dan Mas Fatih memang tidak berjodoh.”
Padahal, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Halwa sedang meratapi patah hati pertamanya. Fatih adalah cinta pertamanya. Sejak pertama kali Fatih datang menuntut ilmu di pesantren ini hingga sesukses sekarang sebagai arsitek, Halwa selalu setia menjaga rasanya dalam diam yang teramat panjang dan rapi.
Umi Halwa yang mengerti kepedihan putrinya langsung merangkul pundak Halwa dengan erat. “Benar, Nak. Semoga Allah segera mengganti kesabaranmu dengan sosok laki-laki lain yang jauh lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih menyayangimu melebihi Fatih.”
“Aamiin, ya Allah... terima kasih, Umi,” sahut Halwa lirih, membenamkan wajahnya di pundak sang ibu untuk mencari kekuatan.
Sementara itu, suasana canggung yang tidak kalah pekat justru menyelimuti mobil keluarga Fatih dalam perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, Umi Fatih yang merasa teramat kecewa karena batal mendapatkan menantu seorang Ning, tidak bisa menahan diri untuk tidak menyindir anak sulungnya.
“Abi... kita gagal dapet menantu seorang Ning. Umi rasanya sedih dan kecewa banget deh,” ucap Umi dengan nada menyindir yang sengaja dikeraskan saat mereka berkumpul di ruang tengah, memastikan suaranya terdengar oleh Fatih yang sedang merapikan berkas gambar arsitekturnya di meja sudut. “Padahal ya, kurangnya Halwa itu apa coba? Cantik iya, shalihah iya, pinter agama iya, dan yang paling penting keturunan keluarga terhormat.”
Abi Rahman menghela napas, menatap istrinya dengan pandangan menegur. “Umi, tidak boleh berkata seperti itu. Jodoh itu rahasia Allah, kita tidak bisa memaksakan kehendak jika Fatih memang tidak mantap di hatinya. Lebih baik kita doakan saja agar Fatih segera dipertemukan dengan jodoh yang baik, atau bahkan lebih baik dari Halwa.”
“Ya tapi siapa, Abi, yang bisa lebih baik dari seorang Ning seperti Halwa? Umi rasa, zaman sekarang susah sekali menemukan wanita sesempurna dia,” sahut Umi ketus, masih dilingkupi rasa dongkol.
Fatih yang mendengar percakapan kedua orang tuanya akhirnya meletakkan pena gambarnya. Ia melangkah menghampiri mereka, lalu duduk dengan tenang di hadapan Umi dan Abi.
“Umi tidak boleh berkata begitu,” ucap Fatih dengan nada suara yang teramat lembut namun sarat akan ketegasan. “Kalaupun Fatih dan jodoh Fatih kelak digariskan bersama, kami pasti akan dipertemukan di gerbang pernikahan nanti dengan cara yang terbaik menurut Allah. Tolong hargai keputusan Fatih, Umi.”
Sebelum suasana semakin memanas, Fatih segera bangkit berdiri dan menyalami takzim tangan kedua orang tuanya. “Fatih izin pamit sebentar ya, Umi, Abi. Mau menjemput Aisyah dulu di kafe sekalian ada urusan. Assalamu’alaikum.”
Fatih langsung melangkah keluar, menyalakan mesin motornya, dan melesat membelah jalanan sore yang mulai dipadati kendaraan.
Sesampainya di depan kafe tempat Aisyah bekerja, Fatih menghentikan motornya beberapa meter dari gerbang masuk. Pandangan matanya seketika terkunci pada dua sosok wanita yang sedang berdiri di teras kafe. Aisyah dan Maira tampak sedang mengobrol santai sembari sesekali tertawa lepas.
Detik itu juga, Fatih terpaku di atas motornya. Matanya tak berkedip menatap Maira yang sore itu tampak begitu menawan dengan balutan hijab pashmina barunya. Angin sore yang berembus perlahan menerpa helaian hijab Maira, membuat wajah cantiknya yang diterpa sisa cahaya matahari keemasan terlihat begitu indah dan bersinar.
Dunia di sekitar Fatih seolah-olah bergerak melambat dalam hitungan detik. Fatih merasakan ada sebuah letupan kecil yang asing namun teramat manis mekar di dalam dadanya. Jantungnya berdegup tidak karuan hanya karena melihat tawa lepas dari bibir Maira.
Namun, sedetik kemudian, kesadaran Fatih tersentak kembali. Ia segera memejamkan matanya rapat-rapat dan menundukkan pandangannya ke aspal jalanan.
“Astaghfirullahaladzim... ya Allah, ampuni pandangan mata hamba yang tidak terjaga,” bisik Fatih dalam hati, merapalkan istigfar berkali-kali untuk meredam debaran di dadanya sebelum kembali melajukan motornya mendekat ke arah mereka.