Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo
Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.
"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.
"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.
"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.
Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.
Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.
---
21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Saat Sasa akan melangkah keluar tiba-tiba Sindi masuk, dan melihat tangan Sasa yang memegang sebuah koper. Sindi menatap penuh selidik, tentang apa yang tengah terjadi antara anak dan menantunya itu.
"Sasa, kamu mau kemana?" Sindi mengutarakan pertanyaan dengan raut wajah datarnya.
"Sasa di minta Mas Brian buat nyiapin sarapan pagi Bu, Sasa udah buatin dengan usaha Sasa. Semampu dan sebisa Sasa Bu, dan ternyata gagal. Dan Mas Brian minta Sasa bikinin lagi, Sasa nggak sempat Bu. Sasa harus segera ke rumah sakit, banyak pasien yang nunggu Sasa Bu," terang Sasa,dan sejenak ia menjeda ucapannya, "Mas Brian juga bilang Bu, kalau Sasa keluar sekarang. Sasa nggak usah balik lagi, dan itu artinya kalau Sasa keluar sekarang berarti talak satu sudah Sasa terima Bu. Dan kami sudah cerai, kami cuman nikah siri kan Bu. Jadi enggak ada yang harus di urus," tambah Sasa lagi, menjelaskan apa yang tadi di katakan oleh Brian.
Sindi menarik napas dengan panjang, dan pandangannya kini mengarah pada Brian, "Brian, kalau kamu cerai dengan Sasa. Kamu keluar dari rumah Ibu sekarang juga, kamu bukan anak Ibu sama Ayah lagi. Ibu benci sama kamu," tutur Sindi dengan perasaan yang sangat menyakitkan, bahkan Sindi meneteskan air matanya lalu menatap Sasa, "Cari kebahagian mu Nak, Ibu tidak mau kamu menderita seperti Anggia dulu. Kamu juga berhak bahagia," Sindi mengusap punggung Sasa lalu berlalu pergi sambil terisak.
"Bu," Sasa merasa tak enak hati, bukan pada Brian. Tapi pada Sindi yang terlihat begitu menyayangi dirinya, Sasa ikut merasa bersalah atas apa yang terjadi. Sasa ingin bercerai dengan Brian, tapi ia ingin hubungannya dengan Sindi tetap baik-baik saja.
Sindi yang mendengar Sasa memanggilnya sejenak urung melangkah, ia berbalik dan menatap Sasa, "Kamu pergi saja Nak, tidak usah merasa tidak enak hati. Ini semua salah Ibu, Ibu gagal mendidik anak Ibu sendiri," tutur Sindi menunduk.
Sasa semakin merasa sedih, sejenak suasana hening karena tak ada yang bersuara. namun sesaat kemudian terdengar suara Brian yang memecah kan keheningan, "Sasa, maaf, dan jangan pergi," tutur Brian dengan suara berat dan tertahan.
Sindi dan Sasa dalam bersamaan menatap Brian, tatapan keduanya seakan penuh tanya.
"Untuk apa Sasa di sini? Untuk kamu sakiti?" tanya Sindi, setelah itu Sindi menarik lengan Sasa menjauh dari Brian dan entah apa yang di bisikan Sindi hingga sesaat kemudian Brian datang mendekati kedua wanita itu.
"Sasa apa kau tetap pergi?"
Sasa diam dan menatap Sindi penuh tanya. Sementara kini Sindi beralih menatap Brian.
"Sasa kamu pergi saja, Brian tidak akan pernah bisa berubah. Tidak akan pernah," tegas Sindi, ikut menimpali pembicaraan Brian.
"Sasa tidak," dengan cepat Brian berusaha menahan Sasa agar tak pergi, sebab bila selangkah saja Sasa saat ini benar-benar pergi maka talaknya sudah sah. Dan mereka bukan lagi pasangan suami istri, bukan hanya itu saja. Sindi pun akan membencinya, ia sangat tau seperti apa Sindi bila berkata tak pernah bermain-main.
"Sudahlah Mas, kita nikah cuman karena Mas takut aku hancurin pernikahan mantan istri Mas. Itu aja kan? Nggak lebih. Jadi sekarang kita pisah aja, aku janji dan jamin nggak akan pernah gangguin mereka lagi. Kalau minsalnya Mas mau laporin aku ke pihak yang berwajib juga aku siap," jawab Sasa, ia ingin menegaskan pada Brian jika ia lebih memilih di balik jeruji besi dari pada hidup bersama Brian dengan segala kekasarannya.
"Sasa aku minta maaf, semua kita bicarakan baik-baik," kata Brian berusaha bernegosiasi.
Sasa menatap jam di pergelangan tangannya, "Mas aku harus segera sampai di rumah sakit, aku udah telat. Aku di butuhkan banyak orang, dan masalah pribadi tidak boleh menjadi alasan telat menangani pasien," terang Sasa.
"Ok.....kau boleh pergi, tapi tidak untuk berpisah. Jadi kalau kau pergi silahkan dan kau harus kembali lagi, atau kau tidak boleh pergi sama sekali," terang Brian.
"Brian, Ibu nggak ngerti sama kamu. Kau masih saja egois," kesal Sindi.
"Maaf Mas, aku nggak tertarik," jawab Sasa tak kalah tegas, kemudian ia menatap Sindi, "Bu, Sasa pamit, tapi Sasa masih bisa ketemu Ibu lagi kan?" tanya Sasa penuh harap.
"Bisa dong Nak, semoga kamu bahagia ya," Sindi mengelus pundak Sasa, dan ia tertunduk karena merasa sedih.
"Iya Bu, Sasa pamit Bu," ucap Sasa lagi penuh haru, kemudian ia mencium punggung tangan Sindi dan menatap Brian, "Aku pamit Mas, Assalamualaikum," ucap Sasa.
"Sasa......." Brian tak tau harus berucap apa, kini Sasa menarik koper miliknya dan berlalu pergi meninggalkan rumah kedua orang tua Brian.
"Bereskan semua barang-barang mu dan pergi dari sini!" titah Sindi, pada sang anak yang tengah duduk di kursi roda itu.
"Bu, Ibu bicara apa?" Brian sangat tidak percaya dengan perubahan Sindi saat ini. Ia kini terlihat begitu menyayangi Sasa, Sindi benar-benar sangat jauh berbeda sekali.
"Ibu tidak mau melihat mu! Pergi dari rumah Ibu!"
"Bu, Brian udah minta Sasa nggak pergi kan tadi. Tapi dia tetap pergi, rasanya tidak mungkin Brian harus mengemis padanya agar dia tidak pergi. Di mana harga diri Brian sebagai seorang lelaki," pungkas Brian.
Sindi menatap tajam Brian, "Makan harga diri mu yang mahal itu ya......nanti kalau Sasa sudah jadi milik orang lain, kamu jangan menyesal. Ngemis-ngemis minta rujuk, seperti Anggia dulu, kamu hidup saja dengan harga diri mu itu. Dan yang Ibu bingung kan apa mungkin pria bajingan seperti kamu memiliki harga diri, lelaki yang suka bermain wanita," Sindi mengingatkan Brian yang sangat suka dengan berganti-ganti wanita, ia juga ingin menyadarkan sang anak agar kini bertahan dengan satu wanita jauh lebih baik dari pada dengan banyak wanita yang tak jelas dan hanya sebatas bersenang-senang saja.
"Kenapa sekarang Ibu malah berbicara hal itu, bukannya dulu tidak masalah," jawab Brian.
"Terserah, sekarang keluar dari rumah Ibu. Bawa harga diri kamu yang mahal itu ya," Sindi berbalik dan ia melangkah menuju kamarnya, sebab ia tadi berniat kembali ke rumah karena di minta Pasha mengambil berkas. Namun ternyata ia melihat Brian dan Sasa yang tengah bersitegang. Rasanya Sindi sangat kecewa sekali dan berharap Sasa bisa kembali bersama Brian.
Sesaat kemudian Sindi keluar dengan melewati Brian begitu saja, namun saat di ambang pintu ia sejenak menghentikan langkah kaki dan menatap Brian kembali, "Nanti Ibu pulang ke rumah ini, kamu harus sudah tidak ada lagi di hadapan Ibu!" setelah mengatakan itu Sindi langsung pergi dengan Brian yang menatap penuh bingung dengan apa yang kini harus ia lakukan. Apa lagi dengan perkataan Si di barusan.
***
Like, Vote, Bintang lima.
Buat yang kasih hadiah juga makasih..