Warning: Kisah sedih.
"Tuan, saya mohon pinjamkan saya uang sebesar 500 juta. saya berjanji akan melakukan apapun yang tuan inginkan," mohon Lona pada atasannya.
"Benarkah, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan?" tanya tuan Devan dengan tatapan nakalnya.
"Ia tuan saya berjanji," jawab Lona memantapkan hatinya untuk yakin.
"Bagaimana kalau aku memintamu menjadi BUDAKKU," ujar tuan Devan tersenyum sinis.
Mendengar kata itu, Lona menaikkan pandangnya, menatap tuan Devan dengan mata berkaca-kaca.
"Sa-saya......,
Selama menjadi Budak tuan Devan, Lona terus tersiksa. Dituduh melakukan segala hal yang tidak ia lakukan.
Hingga akhirnya, kesucian Lona direnggut oleh tuan Devan. Apakah Lona akan pergi! atau akan terus bertahan! Demi rasa cintanya kepada tuan Devan, juga pengorbanannya demi keluarga yang dicintainya.
Mau tau kelanjutannya, Buruan ikuti kisahnya💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
🔥🔥🔥
"Hay sayang, gimana keadaan kamu? Masih mual-mual nggak?" Tanya nyonya Zeline pada Myla.
"Mual-mual sudah nggak lagi, Mom. Myla baik-baik aja, nggak ada rasa apa-apa," jawab Myla menebarkan senyuman lembut palsunya.
"Waah...beruntung sekali kamu sayang, Mom dulu, waktu hamil Devan nggak berhenti mual dan muntah terus-terusan." Saut nyonya Zeline.
"Oh iya, sayang. Si Budaknya Devan dimana? Kok nggak keliatan," tanya nyonya Zeline seraya mencari-cari keberadaan Lona.
"Nggak tau tuh Mom, kayaknya sih masih tidur," jawab Myla.
"Sudah siang hari gini dia masih tidur. Kenapa nggak kamu siram, sayang," geramnya.
"Jangan Mom, mungkin dia lagi nggak enak badan kasian, Mom," jawab Myla lengkap dengan akting wajah palsunya.
"Sayang, kamu dengarin Mom ya! Dia itu ditugaskan oleh Devan untuk menjaga kamu dan bayi kamu. Bukan untuk jadi ratu yang kerjanya cuma makan sama tidur. Ratu dirumah ini tu kamu, sayang. Bukan dia, dia yang seharusnya melayani kamu, bukan malah enak-enakkan tidur. Kamu tunggu disini biar Mom yang kasih dia pelajaran," melangkah menuju kamar Lona, dengan membawa segala kebencian juga amarahnya.
"Mom, jangan Mom. Kasian," teriak Myla berpura-pura membela Lona.
Saat nyonya Zeline tak lagi terlihat, barulah ia melepaskan topengnya.
"Rasain kamu Lona, makannya jangan macam-macam sama aku. Kalau kamu berani, bukan hanya Mom yang menghukumu tapi juga Semua orang yang ada disisimu," ucap Myla dengan senyuman sinisnya.
Sementara itu, Lona terbangun dengan mengigil kedinginan. Saat nyonya Zeline menyiramnya dengan seember air.
"Sudah jam segini, dan kamu masih enak-enakkan tidur. Siapa kamu dirumah ini ha! Cepat bangun dan kerjakan semua tugasmu. Masak lalu bersihkan semua sudut dihotel ini. Awas kalau kamu tidak bangun dan mengerjakan tugasmu," teriak nyonya Zeline pada Lona, setelah mengeluarkan amarahnya ia pun keluar dari kamar Lona karena tak sangup berlama-lama didalam sana. Jelas saja ia tak sangup, hanya dikamar Lona yang tidak ada AC nya. Karena hal itu lah ia tak bisa menahan panas didalam sana.
Pov Lona:
Aku benar-benar kedinginan, tubuhku tak bisa diajak kompromi. Rasanya benar-benar remuk. Duduk lama-lama saja aku tidak kuat, apalagi harus masak dan beberes rumah. Aku sunguh tak sangup melakukannya.
Meski begitu, aku tetap memaksakan diriku untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh nyonya ku.
Dengan tertatih-tatih, aku menyusuri dinding. Melangkahkan kaki perlahan menuju dapur.
Sampai di dapur, aku segera membuka kulkas. Sayangnya aku tak melihat apa-apa didalam sana. Hanya ada minuman didalam sana. Apa yang akan aku masak kalau begini. Pikirku.
Menuju ruang tamu, aku langsung melaporkannya kepada nyonya Zeline. Dan dia memberikanku beberapa lembar uang. Dia menyuruhku membeli bahan makanan di Mall yang berada cukup jauh dari hotel.
"Ingat beli bahan makanan yang bermutu tinggi. Jangan sembarangan memilih, aku tidak mau cucu dan mantu ku kenapa-napa. Sudah pergi sana! Tunggu apa lagi?" Bentak nyonya Zeline padaku.
Tidaklah jauh memang keberadaan Mall itu, 10 menit berjalan kaki. Jika aku sehat-sehat, itu bukanlah hal yang sulit bagiku. Tapi, saat ini aku tidak enak badan, dan tentu saja itu terasa sangat berat bagiku.
Dengan langkah gontai, aku memaksakan kakiku untuk terus berjalan. Ditengah-tengah perjalanan. Tiba-tiba saja, dadaku terasa nyeri, kepala ku terasa sangat berat, keringat dingin membasahi bajuku. Pandanganku mulai buram hingga akhirnya menjadi gelap. Dan aku kehilangan kesadaranku dipinggir trotoar.
🍂🍂🍂
Like, komen, hadiah, dan vote 🙏
Rate bintang 5 juga ya 🙏
Maafkan typonya 🙏
Selamat membaca dan semoga suka 💖
Lope readersss 😘
🔥🍂
congratss🎉🎊🎉🎊
cuss lanjut novel berikutnya..
sehat2 terus kak..
tetap semangat untuk berkarya.. 😘🥰😍🤩