Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Sugar Daddy KR
Pintu darurat The Abyss terayun terbuka, mengeluarkan Ayu seperti peluru yang ditembakkan. Napasnya tercekat, bercampur dengan aroma amis dari keringat dan sisa alkohol yang menempel di udara klub malam. Ia berlari, tetapi rasa takut membuatnya limbung.
Gadis itu tahu ia tidak bisa lagi mengikuti Vera; ia tidak akan mempertaruhkan dirinya demi uang SPP. Ia harus mencari cara lain.
Namanya tertera jelas dalam daftar siswa yang tidak diizinkan mengikuti ujian akhir. Alasan yang tertulis di sana terasa dingin dan menusuk: Persyaratan tidak terpenuhi, tunggakan SPP selama satu semester.
Daftar itu serasa menampar wajahnya. Masa depan yang sudah ia ukir di benak seolah runtuh seketika, terganjal oleh masalah finansial yang membelit. Ayu menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak emosi di dada.
Ayu ingin menangis, meratapi nasibnya, namun air mata terasa tercekat. Seakan-akan, kesedihan yang terlampau pekat telah melumpuhkan refleks menangisnya—ia ingin menangis, tapi tidak ingat nadanya.
"Jangan bodoh, Yu. Sekolah itu mahal, dan kau butuh uang cepat," bisik Vera. "Dunia ini kejam, dan paras secantik dirimu itu aset. Kau hanya butuh satu malam, satu jam saja di club malam. Carilah... seorang sugar daddy yang bisa melunasi semuanya."
Ayu menyesal mengikuti Vera ke klub ini. Tepat saat ia hendak mencapai lobi, tabrakan keras terjadi. Ayu menabrak sesuatu yang sekeras batu dan sehangat api, memancarkan bau tajam whisky premium yang sangat pekat.
"Minggir!" Geraman itu dalam, berat, dan dipenuhi emosi yang tidak menyenangkan.
Ayu mendongak. Di hadapannya berdiri Lingga Mahardika. Jas hitamnya mahal, tetapi kerah dasinya sudah longgar dan wajahnya yang tampan tampak memerah karena mabuk parah. Matanya yang biasanya tajam kini berkaca-kaca, dipenuhi kekecewaan, keputusasaan, dan amarah.
"Ma-maaf, Tuan," cicit Ayu, mencoba menghindar.
Lingga, yang berada di ambang batas kesadaran, tidak peduli. Seluruh pikirannya dipenuhi oleh pengkhianatan kekasihnya yang baru saja ia lihat berpelukan dengan pria lain. Rasa sakit itu, dendam itu, membuatnya butuh pelarian. Dan gadis muda di depannya ini adalah pelarian yang sempurna.
"Kau," Lingga mencengkeram lengan Ayu dengan kekuatan luar biasa, cengkeraman yang menunjukkan keputusasaan, bukan nafsu. "Kau ikut aku. Sekarang."
"Lepaskan saya, Tuan! Saya bukan pekerja di sini!" Ayu meronta. Tangannya yang ramping tak berdaya melawan kekuatan Lingga.
"Diam!" bentak Lingga, suaranya mengandung perintah yang terbiasa dituruti. Ia menarik Ayu menuju lift VIP yang tersembunyi. "Aku tidak peduli kau siapa. Aku hanya butuh seseorang. Seseorang yang tidak punya wajah dia."
Lingga memaksa Ayu masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai teratas yang mengarah ke suite pribadi The Abyss.
"Aku akan memberimu uang. Semua yang kau butuhkan," Lingga berbisik, tetapi matanya tidak fokus pada Ayu. "Hanya... buat aku melupakan. Lupakan pengkhianatan itu. Lupakan wajahnya."
Ayu panik luar biasa. Ia mengerti implikasi dari ajakan ini. Ini adalah puncak dari semua ketakutan yang ia rasakan sejak Vera mengajaknya. Ia harus berpikir. Ia harus selamat.
Saat pintu lift terbuka di lantai suite yang mewah dan sepi, Ayu melihat kesempatan. Pria ini mabuk, dan pikirannya terdistraksi oleh rasa sakit.
Mereka memasuki kamar suite yang gelap dan besar. Lingga langsung melemparkan dirinya ke sofa beludru, tangannya menutupi wajahnya.
"Pergi ke kamar. Tunggu di sana," perintah Lingga, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku... aku akan datang setelah aku minum lagi."
Lingga meraih botol whisky kristal di meja dan menenggak isinya langsung dari botol.
Melihat Lingga yang benar-benar tidak peduli dan hanya tenggelam dalam kesedihannya, Ayu memutuskan. Ia tidak akan menunggu di kamar. Ia harus pergi, dan ia harus membawa 'tiket'nya.
Ia berjalan hati-hati menuju sofa tempat Lingga tergeletak. Lingga mendesis pelan, masih menutupi matanya, tenggelam dalam rasa sakitnya.
Ayu berlutut di sampingnya. Dengan tangan gemetar, ia menyelinap ke saku dalam jas Lingga. Jantungnya berdetak kencang seperti drum. Ia merasakan gumpalan kulit tebal. Itu dia.
Ia menarik dompet kulit hitam itu keluar, mencengkeramnya erat-erat.
"Aku akan mengembalikannya, setelah aku bayar SPP," Ayu berbisik lirih, sebuah janji yang ia yakini. Mencuri adalah dosa, tetapi menjual diri adalah kehancuran. Ia memilih yang pertama, dengan niat baik untuk segera melunasi hutangnya setelah mendapat uang.
Ia berdiri, dan hendak berbalik, namun Lingga tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Lingga, matanya setengah terbuka, dipenuhi tatapan kosong.
"Saya... saya ambil minum untuk Anda, Tuan," jawab Ayu, panik.
Lingga tertawa pelan, tawa yang menyakitkan. "Minum? Kau tahu apa yang kubutuhkan? Kau."
Lingga menarik Ayu, memaksa gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Cengkeramannya yang kuat membuatnya tidak bisa bergerak. Ayu merasa seluruh tubuhnya lumpuh karena bau alkohol dan kedekatan pria asing yang mabuk ini.
"Kau adalah pelarian. Hanya satu malam. Jangan pedulikan aku, jangan pedulikan dia," Lingga membenamkan wajahnya di bahu Ayu, napas panasnya terasa di kulit Ayu. Ia tidak melakukan apa-apa selain memeluknya dengan erat, seperti orang tenggelam yang memeluk kayu.
Ayu menyadari: Pria ini bukan predator, ia hanyalah pria yang sedang patah hati dan kehilangan akal.
Momen ini adalah kesempatannya. Dengan sisa tenaga, Ayu mendorong Lingga menjauh sekuat tenaga. Dorongan itu, ditambah dengan keseimbangan Lingga yang mabuk, berhasil membuat CEO itu terhuyung dan jatuh ke lantai suite yang berkarpet tebal.
"Aduh..." Lingga mengerang, menahan kepalanya yang pening.
Ayu tidak menunggu lagi. Ia melarikan diri. Ia berlari secepat kilat keluar dari suite, turun menggunakan tangga darurat, dan keluar dari The Abyss.
Di bawah lampu jalan yang redup, Ayu akhirnya membuka dompet yang dicurinya itu. Dengan tergesa-gesa, ia mencari uang tunai untuk membayar SPP. Di dalamnya ia menemukan kartu-kartu emas, kartu identitas, dan sebuah kartu Platinum BNI Private Client.
Tapi, dompet itu... kosong.
Benar-benar tidak ada selembar uang tunai pun.
Ayu menahan jeritan frustrasi. Ia mengambil kartu Platinum itu—satu-satunya hal yang bisa menjaminnya ikut ujian—dan berencana untuk menggadaikannya ke pegadaian pagi-pagi, atau mungkin menggunakannya untuk membayar SPP langsung (meski ia tak tahu PIN-nya). Ia menyembunyikan kartu dan dompet di tas ranselnya yang lusuh.
Saat ia berbalik, Lingga sudah berdiri di ambang pintu The Abyss, rambutnya berantakan, pandangannya sedikit lebih sadar dan sangat marah.
"Kembalikan dompetku, dasar gadis pencuri!" teriak Lingga, suaranya bergema di jalan yang sepi.
Ayu melihat kartu Platinum yang ia simpan. Ia mencuri, ia dipermalukan, ia mempertaruhkan segalanya, hanya untuk dompet kosong.
"Dompet Anda? Cih! Dasar pria sinting!" Ayu berteriak kembali, penuh amarah. "Anda bilang Anda kaya! Anda bilang Anda akan membayar! Tapi dompet Anda bahkan tidak punya selembar uang tunai untuk saya beli nasi! Dasar Sugar Daddy Kere!"
Ayu berlari ke kegelapan, meninggalkan Lingga Mahardika, sang CEO yang sedang patah hati dan baru saja kehilangan dompet serta harga dirinya, sendirian di bawah lampu remang-remang.
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....