rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendiri Bersama Peti
Hari Kamis pagi.
Rumah kontrakan terasa lebih sempit dari biasanya. Bau sabun colek dan nasi hangat masih mengambang di udara, tapi suasana dingin seperti kulkas mati. Shadiq duduk di sofa plastik ruang tamu, tatap kosong ke dinding retak. Di bawah kasur kamar sebelah, peti kayu itu masih diam—dua AK-47 emas-perak, seperti monster tidur yang menunggu dibangunkan.
Pintu depan terbuka pelan. Arva masuk, tas belanja di tangan, Irva di gendongannya. Wajah Arva pucat, mata sembab seperti nggak tidur semalaman. Irva peluk leher mamanya erat, boneka kelinci di tangan kecilnya.
Shadiq bangun cepat. “Sayang… kalian dari mana?”
Arva taruh tas belanja di meja makan, nggak nengok. Ia duduk di kursi, gendong Irva lebih erat.
“Ke dokter. Irva demam lagi semalam. Gue takut.”
Shadiq dekati, jongkok di depan mereka. “Maaf, Va. Aku nggak tahu. Kenapa nggak bangunin aku?”
Arva akhirnya tatap Shadiq. Mata merah, tapi kemarahan lebih terkendali dari kemarin—sekarang campur takut dan lelah.
“Bangunin kamu bang? kamu tidur kayak mati di sofa. takut ganggu. Takut kamu marah lagi.”
Shadiq pegang tangan Arva pelan. Kali ini ditarik pelan, tapi nggak kasar.
“Aku nggak marah. Aku salah. Kemarin… aku janji berubah.”
Arva diam sebentar. Irva gosok mata, lirik Papa dengan bingung.
Lalu Arva buka suara, suara rendah tapi tegas.
“Bang… aku udah mikir semalaman. aku takut. Kemarin orang serang rumah kita. Tembakan. Senjata. kamu bawa tembakan kayak tentara. aku nggak mau gini terus.”
Shadiq menunduk. “Aku tahu. Aku lagi beresin. Ini terakhir.”
Arva geleng pelan. “Terakhir lagi? kamu bilang gitu terus. aku nggak kuat, Bang. Irva kecil. Dia butuh aman. aku juga butuh aman.”
Ia bangun, gendong Irva ke kamar. Shadiq ikut.
Di kamar, Arva buka lemari, keluarkan koper besar. Mulai masukin pakaian Irva—seragam TK, kaos kartun, celana pendek. Lalu pakaiannya sendiri.
Shadiq berdiri di pintu, dada sesak. “Sayang… kamu mau ke mana?”
Arva lanjut lipat baju, nggak nengok. “Pulang ke orang tua ku di kampung. Di Cianjur. Aman di sana. Nggak ada mobil hitam. Nggak ada tembakan.”
Shadiq masuk kamar, suara naik sedikit. “Jangan gitu dong, Va. Aku bisa jelasin."
Arva berhenti lipat baju, tatap Shadiq tajam. “Barang titipan? Senjata api, Bang? kamu bilang mungkin mobil survei. Mana ada survei bawa pistol? kamu aneh sekarang. Kayak penjahat. Tembakan dari mana kamu dapat? Buat apa?”
Shadiq jongkok di sebelah Arva, coba pegang tangan. “Sayang… itu punya bos aku. Dia titip. Mobil hitam kemarin minta senjata itu. ga aku nggak kasih, makanya mereka serang. Aku lindungin kita.”
Arva tarik tangan, mata basah. “Lindungin? kamu bahayain Irva, Bang!. aku aku ada orang datang lagi kayak kemarin. aku nggak mau ada masalah gara-gara ‘titipan bos’ kamu!”
Irva duduk di kasur, tatap Papa-Mama bergantian, mata besar bingung. “Mama… Papa… kita mau ke mana?”
Arva peluk Irva erat. “Ke rumah Nenek, Nak. Aman di sana. Ada sawah, ada ayam.”
Shadiq suara gemetar. “Sayang… jangan bawa Irva pergi. Dia masih sekolah. aku bisa lindungin kalian di sini.”
Arva bangun, masukin baju lebih cepat. “Lindungin? Dengan senjata? kamu udah gila, Bang. kamu berubah. kamu nggak cerita apa-apa. aku nggak kenal kamu lagi.”
Shadiq pegang bahu Arva. “Va… dengar aku. Ini sementara. Besok Jumat aku beresin semua. Aku janji.”
Arva lepas pegangan Shadiq, tatap dingin. “Janji lagi. Janji yang kamu langgar terus. Gue capek percaya.”
Irva mulai nangis kecil. “Papa… Irva nggak mau pergi… Irva mau sama Papa…”
Shadiq peluk Irva, mata panas. “Papa juga mau sama Irva. Mama lagi capek, Nak.”
Arva ambil koper, taruh di ruang tamu. “aku berangkat sore ini. Kereta jam empat. aku udah beli tiket.”
Shadiq ikut ke ruang tamu, suara memohon. “Va… kasih aku waktu. Besok aku beresin. Kita pindah rumah kalau perlu.”
Arva geleng tegas. “Nggak. aku takut, Bang. Takut Irva kena. Takut kamu mati. Takut gue sendirian.”
Debat berlanjut sejam. Shadiq beralasan: uang, sekolah Irva, rumah baru. Arva balas: aman, takut, Irva kecil.
Akhirnya Arva menang. Koper penuh. Ia gendong Irva, tas di bahu.
Shadiq berdiri di pintu, mata basah. “Va… maaf. Aku salah.”
Arva tatap lama. “Beresin urusan kamu, Bang. Kalau aman, aku balik. Kalau nggak… lupain semua ".
Ia keluar rumah. Taksi online sudah nunggu. Irva melambai kecil dari jendela belakang, mata basah. “Papa… janji ya…”
Taksi pergi.
Shadiq sendirian di rumah kosong.
Ia masuk kamar, dorong kasur. Peti terbuka. Dua AK-47 mengkilap dingin.
Ia duduk di lantai, pegang satu senjata.
*Sendiri sekarang. Bersama peti.*
Di luar, angin sore berhembus.
Di pelabuhan, Farhank menunggu Jumat.
Di kampung, Arva dan Irva menjauh.
Shadiq tatap AK.
*Besok Jumat. Aku beresin semua. Atau mati.*
---