Cinta Dan Misi Rahasia
Lanjutan Become An Agent.
Di sarankan membaca Become An Agent lebih dulu.
===
⚠️Tidak Update Harian⚠️
===
Misteri - Aksi - Fiksi Ilmiah - Roman
Chelsea Nathalie, seorang agen rahasia yang dengan segenap kelebihannya bisa terbang bebas seperti burung di angkasa, tanpa takut jatuh dan terluka, tanpa harus mendengar begitu banyak tuntutan gila.
Setidaknya, semua itu sampai seorang pria dengan seluruh pesonanya datang dan membuat hidup Chelsea berubah. Dirinya terjebak dalam cinta yang mengikat. Seorang Tuan Muda menggantikan sayapnya untuk terbang dan mulai membuat rantai yang tidak bisa ia lepas
Pada saat yang sama, Chelsea mulai menemukan jalan menuju masa kecilnya yang penuh rahasia. Segala teka-teki hidupnya yang selalu menjadi tanda tanya terjawab oleh sebuah fakta yang membuatnya putus asa setelah masuk ke dalam benteng teknologi milik keluarganya sendiri.
Namun, terlepas dari segala masalah dan rintangan yang dihadapinya, Chelsea tetap bisa merasakan kebahagiaan yang membuat tawa dan senyuman tak lekas hilang dari bibir indahnya.
Hanya saja, Tuhan ternyata sedang merencanakan sesuatu yang tidak pernah dia duga ... Bahkan dalam lamunan sekalipun.
Warning⚠️
•Ada banyak adegan kekerasan di beberapa Chapter!
•Harap tanggapi kisah ini dengan bijak!
•Hanya cerita fiksi dan tak bermaksud menyinggung pihak manapun!
•Dilarang menjiplak!
Note:
-Bukan novel terjemahan.
-Happy Reading-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EijEnEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23: Mata Yang Berkobar
Keesokan harinya, Chelsea mau tak mau harus pergi ke Richenle Company. Namun ada yang aneh kali ini, di dalam koper yang ia bawa, entah kenapa hanya ada baju berwarna merah yang dipilihnya. Chelsea mengumpat berkali-kali.
Dia diam cukup lama sampai akhirnya mengacak rambut dengan frustrasi. Keberadaan Ziv benar-benar membuatnya kacau. Dia seolah menjadi wanita seutuhnya, dalam artian tak bisa berbuat apa-apa saat bisikan penuh rasa berdengung di telinganya.
Ziv jauh lebih mengerikan darinya sendiri. Pembawaannya yang mematikan dan karisma yang memikat sungguh membuatnya di luar kendali. Dia diam cukup lama sampai sebuah ingatan berputar di pikirannya.
"Seseorang hmm?! Arghhh kenapa aku harus peduli? Damn!" Chelsea membentak pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya, ia naik ke mobil dan pergi ke Richenle Company. Saat ia kembali menginjakkan kaki di gedung yang menjulang tinggi itu, dia harus terkejut saat suasana nya berbeda. Richenle Company di dekorasi sedemikian rupa seolah menjadi tempat acara besar.
Chelsea berspekulasi jika akan ada pesta atau perayaan yang di rayakan. Dia keluar dari mobil dengan tangan yang memegang ponsel. Saat ia ragu untuk masuk ke dalam, sebuah mobil mewah bermerek Sweptail Rolls Royce berhenti tak jauh darinya.
Ziv yang keluar dari kursi belakang sambil memakai kacamatanya, masih melihat Chelsea yang terburu-buru masuk, bahkan berlari kecil. Ziv tak bisa menahan senyum.
"Sangat menggemaskan." senyum itu kembali terbit di bibirnya.
"Who?" Valerie entah sejak kapan turun dari mobil dan mendengar suara lirih kakaknya.
Ziv tak menjawab, ia justru pergi begitu saja, meninggalkan saudara perempuannya yang mati penasaran dibuatnya.
Sementara Ziv pergi entah kemana, Chelsea berusaha menghindarinya dengan tergesa saat ia masuk ke Richenle Company. Dia hampir terjatuh saat menabrak seseorang yang tak lain adalah Jack.
"I-i'm sorry." Chelsea melirik ke arah lembaran kertas berserakan yang terjatuh dari pangkuan Jack.
"Tak apa Nona, anda di tunggu di ruangan Tuan Maurice." Jack tentu mengenali gadis di hadapannya yang berhasil menarik perhatian Tuan Muda Richenle yang tak pernak menunjukkan minat, sehingga ia harus bersikap sopan.
Tanpa sepatah kata pun Chelsea pergi ke lantai 15, ia ingin segera menyelesaikan urusannya agar tak terjatuh lebih dalam untuk sebuah pesona. Untungnya, saat ia menaiki lift, Ziv sedang tak ada.
Maurice adalah yang pertama kali ia lihat saat masuk ke ruangan. Chelsea menyunggingkan senyum tipis untuk sekedar formalitas yang di balas senyum oleh orang di hadapannya.
"Kau boleh membacanya terlebih dahulu. Berikan tanda tanganmu jika kau menyetujuinya." Maurice kembali menyerahkan sebuah kertas.
Disana tertulis beberapa persyaratan, ketentuan, dan keuntungan kontrak yang akan di peroleh oleh CIA. Chelsea membacanya dengan teliti, ini adalah hal yang melibatkan banyak pihak, jadi tentu ia tak boleh ceroboh.
Dirasa sudah cukup, ia mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di bagian paling bawah.
"Jadi apakah aku sudah bisa kembali?" Chelsea bertanya sambil menaikkan pandangannya.
"Tentu, tapi sebelum itu aku ingin memberimu ini." Maurice menyodorkan sebuah kartu undangan. Chelsea mengambilnya dan membacanya seksama.
"Besok adalah ulang tahun Richenle Company, kami mengharapkan kehadiranmu." Maurice memperhatikan raut wajah Chelsea yang tak bisa dibaca.
"W-what? Why? Bukankah seharusnya Direktur CIA yang hadir jika itu memang harus? Aku sama sekali tak memiliki pengaruh." Chelsea mengernyit.
"Ini permintaan istriku Ella, dia ingin kau di undang. Dia tentu tak bisa melupakan orang yang menyelamatkan Valerie begitu saja. Kami akan sangat menghargai jika kau bisa hadir." kata-kata Maurice selalu menjebaknya dalam pilihan yang tidak memuat kata 'No'
"Apa semuanya akan hadir?" entah dari mana pertanyaan itu terlontar. Maurice tertegun untuk beberapa detik sebelum tersenyum.
"Tentu, keluarga Richenle akan hadir, termasuk tiga anakku."
Chelsea memalingkan wajah dan malah jadi salah tingkah. Pipinya terasa panas seketika. "Aku permisi." tanpa menunggu jawaban, ia pergi dengan terburu-buru, meninggalkan Maurice yang tertawa.
"Bagaimana anakku tak tak menyukaimu, kau memang sangat memarik."
***
"Shit! Dasar bodoh! Bagaimana aku bisa menanyakan hal itu!" Chelsea memaki dirinya sendiri. Dia berjalan cepat, hendak kembali menuju pintu lift saat matanya melihat Jack yang keluar dari ruangan Ziv.
"Silahkan Nona." Jack berucap saat pintu lift di hadapannya terbuka.
"Jack, itukah namamu?" Chelsea bertanya saat mereka ada dalam lift.
"Ya Nona."
"Apa kau bisa jelaskan tentang ini?" Chelsea mengacungkan undangan yang di terimanya dari Maurice.
"Itu adalah undangan Nona." Jack menjawab tanpa rasa bersalah.
"Aku tahu." Chelsea bersungut kesal. "Tapi apa maksudnya?" lanjutnya.
"Itu artinya anda di undang. Besok saat pukul 09
:00 malam anda sudah harus hadir di sini. Acaranya ada di lantai 3." Jack menjelaskan perlahan.
"Apa aku harus datang ke-- hei hei." ucapan Chelsea terpotong saat Jack keluar dari lift yang sudah berhenti di lantai utama.
"Apa lagi Nona? Anda bisa memeriksa detail acara di kartu itu." Jack menunjuk bagian kartu undangan.
"Apa aku harus benar-benar datang?" Chelsea bertanya gusar.
"Tentu, apa anda tak bisa melihat yang tertera di undangan itu. Anda di undang khusus." Jack menjelaskan sambil berjalan, diikuti Chelsea.
"Maksudnya?" Chelsea mengernyit tak paham.
"Anda tak lihat tulisan itu? Di situ tertulis 'Exclusive People Only' artinya anda tamu undangan khusus. Richenle Company memiliki beberapa jenis pesta yang di bagi dalam banyak kategori. Jika anda mendapat undangan seperti itu, berarti anda memang harus hadir." jelas Jack sambil menghentikan langkahnya, menghadap ke arah Chelsea.
"Jika aku tak hadir bagaimana?" Chelsea bertanya dengan jantung berdebar.
"Tolong jangan buat masalah Nona, anda belum tahu se mengerikan apa Tuan Muda Ziv jika marah." mungkin yang mengundang Chelsea memang Ella, namun Jack tahu bahwa yang paling ingin Chelsea hadir adalah Ziv.
Sementara Chelsea bertanya banyak hal pada Jack, mereka tak sadar bahwa ada yang memperhatikan dari jauh.
Ziv datang dari arah lobi bersama Ella dan Valerie. Dia dengan ekspresi netralnya mendengar ucapan adik dan ibunya yang berbincang.
"Ziv, kau akan hadir besok kan?" Ella bertanya sambil menghentikan langkah mereka.
"Tentu bu." jawaban Ziv sukses membuat senyum Ella terkembang.
"Bu, apa kau tahu bahwa anak menyebalkanmu itu tertarik pada seorang gadis?" Valerie memecah keheningan.
"Benarkah? Siapa?" Ella tentu terkejut namun rasa kagetnya hilang saat Valerie membisikkan satu nama sedang Ziv terlihat tak peduli.
"Sudah kuduga kau akan tertarik Ziv. Dia anak yang baik, aku juga menyukainya." Ella tersenyum sambil mengusap pundak anaknya sedang Ziv tak bergeming, dia memperhatikan arah lain.
Matanya berkobar melihat Jack dan Chelsea keluar dari lift bersama. Tangannya mengepal keras. Darahnya mendidih saat melihat keindahan berwarna merah nya terlihat akrab dengan Jack.
Meskipun tak se tampan Ziv, Jack tak bisa di katakan jelek. Usia Jack mungkin sudah 30 tahun, namun untuk ukuran wajah dia tak terlihat tua. Saat Ziv dengan amarahnya akan menghampiri Jack, tangan Ella menahannya.
"Ziv, kau mengenal Jack dengan baik." Ella menjaga suaranya tetap netral walaupun ada hiburan di matanya karena ia sudah memperhatikan minat anaknya.
"Dia seperti bagian keluarga kita. Bisa kau lihat undangan yang ada di tangan Chelsea? Jack sedang menjelaskannya karena Chelsea tak mengerti. Kau tahu sendiri bahwa kita menyebarkan jenis undangan berbeda untuk setiap orang bukan?"
Baru saat itu mata Ziv kembali normal dengan tangan yang tak lagi mengepal. Ella dan Valerie menahan tawanya. Ziv mungkin orang yang dingin, namun ia tak pernah peduli untuk menunjukkan minatnya pada orang lain.
"Jika kau tertarik padanya, maka perlakukan dia dengan baik." Ella memberi nada peringatan. "Seandainya kau berhasil, sungguh aku akan senang memiliki anak perempuan lainnya." lanjutnya.
Valerie menahan tawa untuk menyadari strategi ibunya yang jelas. Ketika ia kembali melihat ke arah kakaknya, dia menyadari dengan terkejut bahwa ada seringai kecil yang muncul di wajah Ziv, seolah tak keberatan dengan perkataan ibunya. Bahkan kakaknya yang ambisius itu terlihat cukup senang.
favorit
👍❤