NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Kesepakatan Pernikahan

"Jangan mesum!!!" peringat Nara keras saat melihat senyuman aneh pria itu. Sagara kembali mesem-mesem tidak jelas, sepertinya mengganggu Nara adalah kegiatan menyenangkan baginya.

Nara menyusun bantal guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas antara dirinya dengan Sagara. "Jangan melewati batas." Titahnya menepuk-nepuk bantal guling tersebut. Pria yang diajaknya bicara hanya menaikkan salah satu alis. Entah apa maksudnya. Dan jangan lupakan tatapannya itu yang sejuta makna, tetapi tak satupun Nara dapat maknai.

Keduanya tidur dengan mata masih terbuka, lampu pun masih menyala terang. "Oh ya, istri ..." panggilan Sagara membuat Nara tersentak dan refleks menoleh ke arahnya. "Kapan aku bisa untuk ... me—"

"Jangan mulai lagi, aku ingin tidur sekarang. Dan jangan macam-macam serta berkata yang tidak-tidak!" potong Nara, tidak membiarkan pria itu melanjutkan perkataannya yang ia tebak pasti mengarah ke arah sana. Apalagi kalau bukan hal yang mesum.

"Bukan yang tidak-tidak, tapi yang iya-iya," balas Sagara, terkekeh ringan. "Rupanya pikiran mu kotor juga, ya. Kamu langsung mengetahui maksudku. Bukankan ini artinya kita sehati, sepemikiran." Sagara tidur menyamping ke arah Nara, menggoda gadis itu dengan wajah nyelenehnya.

Nara memutar bola mata, "Aku bukan lagi anak kecil, asal kamu tahu! Maksud perkataan mu itu sangat jelas," wajah geram Nara tampak jelas. Inginnya sih ia menggetok kepala pria itu agar tidak lagi mesum dan sedikit waras.

"Hahahah ..." tawa Sagara pecah juga saat melihat raut tidak senang Nara, ia amat terhibur. "Yeah, aku sangat tahu bahwa kamu buka lagi anak kecil, tetapi sudah bisa membuat anak kecil." Sagara kembali bangkit, duduk menghadap Nara. Membuat gadis itu melakukan hal yang serupa. "Namun, poin yang ingin ku bahas adalah sebuah kesepakatan."

"Kesepakatan? Apakah kontrak nikah? Ya, ayo kita lakukan. Berapa tahun? Satu tahun? Dua tahu?" Nara bertanya penasaran dan penuh antusias. Itu bukan sesuatu yang buruk menurutnya, malah lebih baik karena ia dapat bersiap dengan segala sesuatu kedepannya. Contohnya membuat citra Sagara menjadi buruk di mata angin ibu, dengan begitu tidak perlu lagi mencari alasan jika suatu saat mereka bercerai.

Tak!

"Auhw, sakit!" ringis Nara mengusap dahinya yang disentil pria itu. "Aku bilang sama Ibu ya, kamu KDRT!" delik Nara.

"Silahkan. Dan aku juga akan memberitahu Ibu kalau kamu ingin mempermainkan pernikahan kita," balas pria itu santai.

"Siapa yang ingin mempermainkan pernikahan?" sanggahnya.

"Itu tadi, kamu ingin melakukan kontrak nikah."

"Heh, jelas-jelas yang mulai itu kamu. Tolong jangan memutar balikan fakta!" Nara semakin geram.

Sagara melipat kedua tangannya di dada, mata tajamnya menghunus pada Nara. "Kamu harus tahu, nikah kontrak dengan pernikahan berdasarkan kesepakatan itu dua hal yang sangat berbeda jauh."

"Dalam agama, nikah kontrak itu dilarang karena sejak awal diniatkan untuk selesai dalam jangka waktu tertentu. Pernikahan kita ini sah di mata agama, dan tidak ada tanggal kedaluwarsanya."

"Lalu, kesepakatan yang ku maksud adalah prinsip dalam pernikahan kita, bagaimana pernikahan ini akan dijalani kedepannya. 'Aku bertanya, kapan aku bisa menyentuh mu?' Agar aku tidak bertindak semauku saja dan dapat menghargai apapun pendapatmu juga. Itu KESEPAKATAN, antara aku dan kamu. Dan jika kamu juga memiliki sesuatu hal, silakan sampaikan, dan kita sepakati bersama juga." Jelas pria itu panjang lebar. Nara terdiam, tertunduk lama. Sagara menunggunya dengan sabar, memberikan waktu pada perempuan yang telah menjadi istrinya itu untuk berpikir—mencerna ucapannya.

Lalu beberapa saat kemudian, kepala Nara kembali terangkat. Ia mengangguk, tanda menyetujui pria itu. "Baiklah, kita memang memerlukan kesepakatan pernikahan. Jadi, kesepakatan pertama, jangan menyentuhku yang dalam artian itu, kecuali aku menyetujuinya," ucap Nara tegas.

"Maksudmu 'itu' ... berarti yang iya-iya? Yang hu-ha-huuuh?" tanya Sagara dengan kedua alis naik-turun. Tampang pria itu terlihat aneh sekaligus menggelikan. Kadang bisa mendadak serius, tapi lebih sering nyeleneh seperti ini.

"Tolong ya, saya sedang serius!" mata Nara mendelik tajam.

Sagara terkekeh ringa. "Baiklah, aku setuju," ujarnya. "Lalu kesepakatan kedua, dilarang merengek, apalagi menggunakan air mata sebagai alat negosiasi atau manipulasi. Jika ingin menangis karena sedih atau apapun, wajib memberikan notifikasi 5 menit sebelumnya."

"Kesepakatan ketiga, dilarang menggunakan kalimat KODE seperti 'pikir aja sendiri' atau 'kamu tidak peka'. Komunikasi harus dilakukan secara to-the-point dan terbuka," lanjut pria itu, lalu mengangguk-angguk takzim dengan kesepakatan yang telah dibuatnya.

Sedangkan Nara tengah mengernyit dengan alis hampir menyatu. "Hah? Maksudnya?" gadis itu antara dalam kebingungan dan kejengkelan karena merasa tersindir, walaupun aslinya dirinya tidak seperti itu. Hanya sesekali menggunakan kalimat kode, itupun tanpa ia sadari.

"Intinya aku tidak suka wanita yang sedikit-sedikit merengek, menangis, hanya untuk mendapatkan sesuatu. Lalu kode-kodean tidak jelas hanya untuk menyampaikan sesuatu. Semuanya harus disampaikan secara terbuka dan to the poin. Jika menginginkan sesuatu, tinggal bilang saja. Jika tidak bisa dipenuhi, jangan menangis, jangan ngambek, pokoknya begitulah ..." jelas pria itu yang sudah seperti menyampaikan unek-unek terdalamnya untuk kaum hawa. Suaranya tegas, belum lagi wajahnya yang serius. Bayangkan wajah perempuan-perempuan yang membuatnya jengkel menari di kepalanya, belum lagi wanita yang merupakan teman masa kecilnya sekaligus wanita yang ingin ibunya jodohnya padanya. Wanita alay, banyak drama, ratu manipulatif. Membayangkannya saja sudah membuat pria itu mengidik.

Nara dibuat ternganga mendengar ucapan pria itu, "Dasar tidak romantis!" cebiknya pelan, namun masih di dengar oleh sang pria.

"Itu bukan tidak romantis, tetapi menyusahkan hidup pasangan. Sampaikan saja secara jelas dan terbuka, aku pasti akan berusaha memenuhinya. Asalkan bukan sesuatu yang merugikan bagimu dan bagiku," balas Sagara tidak ingin kalah. Menurutnya, jika ingin romantisasi tidak perlu dengan hal-hal aneh seperti itu. Tindakan romantis banyak dan beragam.

"Hm, baiklah. Setuju!" ujar Nara kemudian membuat Sagara tersenyum. Sedikit tidaknya, beban hidupnya ke depannya akan lapang. "Kesepakatan keempat, dilarang berbohong. Jika ditanya, jawab dengan jujur. Apapun itu!"

Sagara tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk tidak masalah.

Nara, ikut mengangguk. Menurutnya, kebohongan adalah sumber dari segala kesakitan, peruntuh kepercayaan, penghancur hubungan, dan bibit-bibit pengkhianat. Tidak ada kebohongan yang benar-benar baik, sekalipun itu untuk kebaikan. Lebih baik mendengar kebenaran yang menyakitkan, ketimbang mendengar kebohongan yang disulap manis.

"Kesepakatan kelima, dilarang keras berselingkuh! Jika kedapatan, salah satu pihak bebas mengajukan cerai dan pihak lainnya harus menyetujui," ujar Nara tegas, perselingkuhan adalah sesuatu yang tidak bisa diterimanya, tidak bisa ditolerir.

"Walaupun kita menikah bukan karena cinta, tetapi tetap saja harus menghormati satu sama lain. Dan dengan tidak berselingkuh adalah hal utamanya. Untuk yang lainnya, masih bisa dibicarakan. Tapi untuk perselingkuhan, maaf, tidak bisa ditolerir sama sekali!" lanjutnya, kembali menegaskan.

Penghianatan sang mantan, membuat ia amat waspada akan hal tersebut. Ia tidak ingin mengalaminya lagi.

Sagara sedikit berpikir lama akan hal tersebut, membuat Nara menatapnya dengan mata memicing "Jangan-jangan kamu memiliki niat untuk menduakanku?!" tanyanya curiga.

"Hah?!" mata Sagara sampai membola karena pertanyaan tersebut, bukan, tetapi lebih kepada pernyataan. "Sorry istri, suami mu ini juga memiliki martabat dan harga diri. Selingkuh bukanlah tipe diriku," bantahnya tegas. "Tapi ngomong-ngomong mengenai hal ini, harus dibicarakan dulu. Dan pihak yang menuduh berselingkuh harus memiliki bukti yang kuat serta valid. Tidak asal menuduh dan tidak asal minta cerai. Paham?"

"Okeee, bisa dipahami." Nara angguk-angguk. "Tapi, karena ini bukan pernikahan karena cinta, ataupun pernikahan atas kesepakatan kontrak. Jadi ..."

Sagara menaikkan alis menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir mungil gadis itu.

"Maksudku, karena pernikahan kita ini terjadi karena terpaksa, jadi tidak akan ada cinta di dalamnya. Kalau suatu saat nanti kita merasa sama sekali tidak cocok, kita bisa saling melepaskan. Aku tidak akan mengekangmu dalam ikatan pernikahan ini."

Sagara menggeleng pelan, bibirnya berkedut menahan senyum. "Tahu apa kamu tentang cinta? Semuanya bisa terjadi tanpa disadari."

"Mau disadari ataupun tidak, aku pastikan aku tidak akan pernah mencintaimu," balas Nara sengit.

Ia tahu pria ini bersedia menerima pernikahan dadakan ini pasti karena ada maksud lain di baliknya. Lagipula, rasa sakit hatinya akibat dikhianati di masa lalu belum sepenuhnya pulih. Nara tidak ingin lagi terjerat oleh hal bodoh yang namanya cinta. Baginya, cinta adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Maka dari itu, dirinya bersumpah untuk tidak akan lagi terjerat oleh hal bodoh seperti itu.

"Jangan mendahului takdir," sahut Sagara menggeleng ringan.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!