Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: BADAI BESI DI PELATARAN MENARA
BOOOOOOOOOOM!
Sebuah ledakan kolosal yang luar biasa gila mendadak menghentak hancur berantakan seluruh benteng pertahanan gerbang luar Menara Kristal Sektor Timur tepat saat fajar emas pertama belum sepenuhnya menyingsing. Hantaman masif tersebut dipicu oleh rentetan tembakan meriam fusi nuklir jarak jauh yang dilepaskan secara agresif oleh barisan garis depan armada tempur Faksi Radikal Barat. Gelombang kejut yang dihasilkan dari ledakan itu begitu dahsyat, merambat pekat membelah permukaan pelataran kaca stasiun penambangan hingga retak seribu, menyemburkan serpihan kristal tajam dan kabut oli mesin yang hitam kental ke udara bebas. Skenario pembersihan total yang dirancang oleh Komandan Vane kini resmi meletus menjadi perang terbuka di sepanjang Dataran Tinggi Titan Prime.
Suara raungan sirene darurat melengking tinggi, memutus paksa seluruh sisa kesunyian fajar dan menyebarkan kepanikan massal yang mencekam di antara jajaran ksatria tradisional klan Solari. Ratusan robot tempur siber berukuran raksasa setinggi tiga meter berlapis zirah baja hitam legam milik Faksi Barat merangsek maju menembus kepulan asap pembakaran dengan tawa liar dan bisingnya deru mesin hidrolik yang berputar pada muatan maksimal. Moncong-moncong senjata mesin di sepanjang lengan robot mekanis tersebut menyala merah pekat, memuntahkan rentetan badai tembakan cahaya ungu yang tanpa ampun meremukkan, membakar, dan melelehkan barisan barikade pengawal dalam hitungan sekejap mata. Aroma anyir belerang dan daging terbakar menyengat tajam, mengubah pelataran menara atas yang hangat menjadi neraka besi yang dipenuhi oleh lolongan kematian.
Di atas podium kehormatan yang terisolasi oleh puing runtuhan pilar, Raja Gendo Solari berdiri dengan sisa-sisa wibawanya yang kian digembosi oleh kehancuran militer klan. Jubah emas kebesarannya kini tampak robek berselimut jelaga hitam, sementara lempengan zirah pelindung dadanya terus-menerus mengeluarkan percikan listrik akibat kegagalan sistem komputernya menahan radiasi uap panas bom musuh. Di samping kanan Gendo, barisan pendekar veteran tradisional klan Solari hanya bisa mempererat cengkeraman tangan mereka pada gagang pedang besi kasar mereka dengan wajah pucat pasi menahan rasa ngeri. Di bawah serbuan teknologi siber pemusnah massal Kekaisaran Vorash yang melompati hukum akal sehat, taktik bela diri murni masa lalu yang mereka agungkan seolah-olah telah berubah menjadi barang rongsokan tak berguna.
"Mundur! Kunci seluruh gerbang penyekat interior dan bawa sisa pasukan mundur bertahan menuju Altar Emas Utama di puncak tertinggi menara langit sekarang juga!" raung Gendo Solari melalui sisa pengeras suara zirah dadanya yang berderit parau menahan beban tekanan mental. Ia memuntahkan gumpalan darah segar ke atas lantai emas pelataran, menyadari sepenuhnya bahwa pertahanan lini depannya telah lebur menjadi debu dalam hitungan menit akibat kelicikan Komandan Vane yang tidak tahu malu.
Sementara itu, di sepanjang selasar koridor lift logistik tengah yang gelap, Zephyr dan Elena sedang bergerak cepat menembus badai getaran ledakan yang tiada henti mengguncang struktur bangunan menara. Zephyr berjalan dengan tubuh kurusnya yang tegap, membiarkan jubah karung goni kusamnya melambai kaku menyapu debu-debu emas yang berjatuhan dari atap langit-langit yang retak. Tangan kanannya yang kasar penuh kapalan bekas kerja paksa tetap memegang erat sarung kayu pecahan lempengan besi tua berkarat miliknya, membiarkan mata peraknya menatap lurus ke depan dengan sorot ketenangan mutlak yang sedingin es abadi. Jantung khususnya bergerak dalam ketukan yang acak, namun indra Otoritas Spasial di dalam dirinya terus-menerus membaca dan mengunci setiap pergeseran titik koordinat armada mesin musuh di sekeliling tempat mereka berada.
Elena melangkah tepat satu langkah di samping kanan Zephyr dengan keanggunan putri bangsawan yang seluruh emosi cengengnya telah membeku menjadi insting bertahan hidup yang sangat dingin. Gaun sutra emas mewahnya yang koyak dipenuhi noda karat pelumas tampak berkibar cepat mengikuti irama langkah kakinya yang tegas menembus keremangan lampu darurat merah koridor. Tangan lenturnya yang putih bersih mencengkeram erat belati perak kecil upacaranya, memposisikan dirinya sebagai sekutu taktis yang penuh dengan perhitungan logis. Tidak ada air mata keputusasaan atau permohonan belas kasihan yang keluar dari bibir ranumnya; aliansi bisnis hitam-putih yang ia sepakati bersama Zephyr di dalam barak semalam telah resmi mengunci perhatian jiwanya seutuhnya pada skenario penghancuran Faksi Barat.
"Sistem pertahanan lapis baja luar ayahku telah runtuh total seutuhnya dalam sekejap mata, Zephyr," desis Elena dengan nada suara yang sangat ketus, kaku, dan menusuk keheningan lorong menembus bisingnya suara ledakan di luar dinding. "Komandan Vane sengaja memutus seluruh jalur pelarian udara luar stasiun murni agar kita semua terjebak kaku di atas Altar Emas Utama. Vane sedang menggiring seluruh silsilah darah klan Solari ke satu titik pembantaian massal terbuka demi merebut dokumen takhta perdagangan kristal suci malam ini juga."
Zephyr menghentikan langkah kakinya secara mendadak di ambang pintu masuk jalur Altar Emas Utama, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan tersibak ditiup uap kebocoran pipa ventilasi hidrolik yang bergolak panas. Ia membalikkan tubuh kurusnya sedikit, menatap lurus ke dalam pusat manik mata biru jernih Elena dengan sorot ketenangan pekat yang seketika membungkam seluruh raungan bising badai besi di luar menara seutuhnya.
"Panggung pembantaian yang dirancang oleh Komandan Vanemu itu adalah tempat yang paling sempurna untuk mengakhiri sandiwara politik kasta stasiun ini seutuhnya, Elena," sahut Zephyr dengan nada suara pelan, datar, namun terdengar sangat berat membawa wibawa purba yang menembus lubuk batin istrinya. "Biarkan seluruh robot tempur siber mereka berkumpul melingkar padat di sekeliling Altar Emas tersebut. Semakin banyak lempengan zirah baja modern yang mereka bawa ke atas panggung itu, maka akan semakin megah pula runtuhnya keangkuhan teknologi mereka saat Pedang Raksasaku dari Langit turun membelah atmosfer stasiun ini lusa. Tugasmu di dunia ini cuma satu malam ini, Elena: jalankan sisa aliansi bisnis kita, pertahankan keteguhan batin bangsawamu di depan altar suci, dan biarkan seluruh pengawas galaksi tahu bahwa darah murnimu telah resmi memilih sekutu yang salah bagi keserakahan musuh-musuhmu."
Elena tersentak kaku menahan getaran asing yang luar biasa tajam merayap naik menembus lubuk sanubari terdalamnya menatap keteguhan absolut pemuda di hadapannya. Sisa-sisa dinding keangkuhan kasta bangsawannya lebur menjadi keikhlasan murni aliansi berdarah yang tak tergoyahkan. Ia mengencangkan cengkeraman jarinya pada gagang belati peraknya, lalu menganggukkan kepalanya sedikit sebagai tanda menyetujui skenario takdir pertempuran paling menegangkan di semesta yang kini telah resmi membuka gerbang kehancurannya di atas Altar Emas Utama seutuhnya.