Sempurna... Wanita Cantik, sexy, keturunan dari keluarga terpandang. namun sudah hidup seorang diri, kini sudah memiliki suami, namun tidak di perlakukan selayaknya istri. Bagaimana cerita Divine mendapatkan cinta suaminya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 23
Divine yang melihat suaminya diam saja berkata " bagaimana menurut tuan Gara ?"
"yah enak" ucap Gara.
suasana kembali hening. mereka menghabiskan makanan mereka lalu Gara dan Ben meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor.
di perjalanan, "Boss, kondisi anak-anak perusahaan kita sedang tidak baik, sampai hari ini belum juga membaik"
"atur rapat mendadak hari ini pada semua pimpinan"
"baik boss". Ben melajukan kendaraan nya dengan cepat.
disisi lain, Divine sedang bersiap untuk pergi ke kantor.
drrttt...drrrttt....drrrrttt .... handphone Divine berdering.
"halo Divi, kamu ke kantor hari ini" suara Jerry di balik telpon.
"iya Jerry, ini sudah siap".
"baiklah aku menunggumu"
"ada apa Jerry ada sesuatu yang penting ? " Divine sudah masuk ke dalam mobil nya.
"ah tidak, kamu cukup datang saja nanti kita bicara disini"
"baiklah" Divine mematikan sambungan telpon mereka dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
tak lama Divine sudah sampai di kantor nya semua tampak normal, ia berjalan dengan santai dan memperhatikan seluruh karyawan dan karyawati yang ia lewati semua juga tidak terlihat tegang dengan santai bisa menyapa Boss nya ini.
Seketika Divine sudah memasuki ruangan dengan nuansa pink pastel, ya ruangan presdir miliknya. Jerry yang baru saja diberitahukan sekertaris nya kalau Nona Divine sudah datang,langsung beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju ke ruangan Tuan Amo terlebih dahulu.
kini Tuan Amo pun ikut bersama Jerry berjalan menuju ruangan nuansa pink pastel.
"selamat pagi Nona Divine" sapa Tuan Amo.
" Iya pagi pak, ada apa ? sepertinya ada yang ingin kalian sampaikan"
Tuan Amo dan Jerry yang sudah duduk di depan Divine terdiam sejenak.
"Nona, sebenarnya saya ingin mengundurkan diri" Tuan Amo berkata pelan.
Divine sangat terkejut, bagi Divine Andava bukan hanya miliknya tapi mereka bertiga lah pemiliknya.
"ada apa pak, apa ada keputusan saya yang tidak cocok dengan bapak, saya bisa mengubahnya pak"
bagi Divine Tuan Amo sudah seperti ayahnya, dia tidak ingin ditinggalkan lagi oleh orang-orang yang disayanginya.
"tidak Nona"
"lalu kenapa pak, kenapa bapak mau meninggalkan saya juga ?"
Divine yang sangat tegar ini tidak mengeluarkan air matanya, padahal ia sudah sangat ingin menangis.
"Maaf Nona, istri saya sedang sakit, sudah setahun terakhir kami berusaha berobat namun tidak ada perubahan, kini ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama saya"
Divine terdiam, ia merasakan apa yang sedang Tuan Amo rasakan.
"ambilah cuti sebanyak yang bapak butuhkan, kembalilah saat bapak ingin kembali, saya dan Jerry tidak akan menelpon bapak untuk hal pekerjaan, Bapak bisa berlibur dengan Nyonya Lusi, aku harap Nyonya Lusi merasa bahagia" Divine sudah beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Tuan Amo.
"Terimakasih Nak" ucap Tuan Amo.
seketika mata Divine berkaca-kaca nada dan suara Tuan Amo benar-benar mirip dengan ayahnya.
hari itu berlalu dengan sangat tenang.
tidak ada candatawa di ruangan ini seperti biasanya. Divine bersiap untuk pulang, dan Tuan Amo menghampirinya.
"Nona besok malam datang lah kerumah untuk makan bersama, karna lusa kami akan pergi ke sebuah desa"
"Baiklah pak" mereka pulang bersama, ntah kemana Jerry tidak terlihat.
___
malam sudah larut, Divine sudah di rumah namun Gara dan Ben tidak terlihat.
bruuuuukk.. terdengar suara orang seperti terjatuh membuat Divi berlari keluar kamar dan melihat Gara sedang terduduk sempoyongan di sofa.
"kenapa ini Ben"
"sepertinya dia mabuk Divi, dia terlalu banyak minum"
"bantu aku bawa dia ke kamar"
Ben dan Divi membantu Gara berjalan menuju kamar nya .
setelah sampai dikamar, Divi membuka sepatu dan juga melonggarkan dasi yang Gara pakai.
"Terimakasih Ben".
mendengar kata ini Ben langsung tersadar.
"sudah kewajiban saya Divi, kalau begitu saya pergi dulu"
Divine mengangguk.
setelah Ben keluar dari kamar mereka Divine mendadak bingung.
"aku harus apa, membiarkan seperti ini atau mengganti baju nya?"