Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Sejati dan Sehati
Ada masa dimana kita butuh perhatian
Cinta serta kasih sayang
Dari seorang sahabat yang pengertian
Sahabat sejati tentulah sampai mati
Cintanya tulus dari hati
...*****...
Keesokan harinya tetap sama, mungkin bahkan. Hubungan persahabatan mereka terancam bubar. Riri berusaha untuk membujuk Karina, agar dia mau makan sesuatu pagi itu.
"Rin, kita sarapan dulu, ya? Kamu belum makan dari tadi malam 'kan? Gimana bisa kamu konsentrasi saat kuliah nanti?" ucap Riri penuh perhatian.
Karina masih saja terlihat lesu dan murung. Bahkan, dia tidak menjawab sepatah kata pun pada Riri. Dia berpamitan pada Minami, lalu pergi begitu saja.
"Bu, aku pergi dulu, ya! Sampai jumpa nanti di toko!" ucapnya lirih pada Minami.
"Ya, hati-hati di jalan!" Karina mengangguk dan tak pernah menoleh lagi.
"Ada apa dengannya, Ri?" tanya Minami.
"Aku juga tidak tahu, Bu. Kalau gitu aku juga pamit, ya, Bu!"
"Kamu nggak sarapan dulu?"
"Nggak, nanti aja di toko."
"Oh, begitu. Nanti saya akan menyusul."
***
Raut wajah yang murung terpancar dari wajah Puri. Semenjak ia tak bersama Riri lagi, kini ia lebih sering menjadi seorang yang murung dan penyendiri.
Bahkan, ia tak pernah lagi seceria dulu ketika masih bersama Riri. Banyak teman yang selalu menghiburnya. Namun, tak ada yang seperti Riri.
Olive misalnya, dia hampir tak pernah bosan untuk menyapa dan mengajak Puri bicara. Maupun, bergabung bersama teman-teman yang lainnya.
"Puri, selamat pagi! Kamu udah siap PR dari Pak Hartono?" tanya Olive membuka sesi komunikasi dengan Puri.
"Ya, tentu."
"Baguslah, aku juga sudah siap. Aku kita masuk kelas sama-sama!" ajak Olive. Puri hanya tersenyum dan mengangguk saja.
Saat bel berbunyi, semua siswa/siswi pun masuk ke kelas mereka masing-masing. Tak lama kemudian, Pak Hartono datang dan masuk ke kelas 3 yaitu kelas Puri.
"Selamat pagi, anak-anak!"
"Pagi, Pak!" jawab mereka kompak.
"Tugas yang saya berikan tolong segera kumpulkan ke depan!" titahnya pada semua muridnya.
"Baik, Pak!"
Mereka semua segera mengumpulkan tugasnya masing-masing ke depan. Lalu proses belajar mengajar pun di mulai.
Selang beberapa jam kemudian, bel berbunyi.
"Baiklah, anak-anak. Bapak ingin menyampaikan sesuatu. Minggu depan kalian sudah mulai ujian-ujian sekolah. Jadi, tolong cara belajarnya di perbaiki lagi. Agar nilai kalian bagus. Bisa di mengerti semua?!"
"Ya, Pak!"
"Kalau begitu, cukup sampai disini hari ini."
Hartono pun keluar dari kelas.
Akhirnya setelah pelajaran selesai, Puri dan yang lainnya segera keluar untuk pergi ke kantin sekolah. Guna mengisi perut mereka yang sudah kelaparan.
"Puri, kita ke kantin, ya! Aku udah lapar banget, nih. Tadi, benar-benar tegang banget 'kan? Ditambah lagi Pak Hartono ngajarnya serius banget. Kadang aku jadi takut. Kalau kamu gimana, Pur?"
Omongan Olive yang panjang lebar dan penuh pertanyaan itu, sama sekali tak di gubris oleh Puri.
Namun, Olive bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia tahu betul bahwa Puri amat sangat kehilangan dan kesepian. Semenjak ditinggal oleh Riri sahabat sejatinya. Ia kembali bertanya.
"Puri, kamu mau ke kantin bareng aku 'kan?" Kali ini dia memegang tangan Puri.
"Oh, itu. Boleh, aku juga belum sempat sarapan tadi." Olive berlari menggandeng tangan Puri. Mereka berdua tertawa dan saling tersenyum satu sama lain. Setidaknya, kini Puri merasa bahwa ia tak sendiri lagi.
Terkadang kita tak pernah tahu, apakah akan sama rasanya kebahagiaan itu. Walaupun kita bahagia bukan bersama orang yang sama lagi.
Itulah yang di rasakan Puri saat ini. Ia mulai merasa bahagia lagi, semenjak Olive selalu menghampirinya. Serta tak pernah lupa untuk selalu menanyai dirinya. Walau kini Riri tak lagi di sampingnya. Namun Puri merasa kehadiran Olive membuatnya kuat dan be semangat lagi setiap harinya.
***
Riri yang tengah bersiap-siap untuk meninggalkan Jepang. Ternyata, ia masih ragu untuk menghubungi ibunya. Ia merasa bingung dan juga tak tahu harus apa sekarang.
Saat bekerja dia juga tidak fokus, sama seperti hari sebelumnya.
"Riri, apa yang kamu pikirkan sekarang? Aku benar-benar ingin tahu," kata Riko tiba-tiba.
Riri menghela napas panjang.
"Hahhh ... Ko. Aku juga tidak tahu, aku bingung apa yang aku pikirkan saat ini," jawabnya lesu.
"Wah, ini benar-benar aneh. Kalau kamu sendiri apa lagi aku, Ri."
"Ko, aku ingin pulang ke Indonesia. Mungkin, sekitar tiga hari lagi atau mungkin juga besok. Aku juga sudah terlalu lama disini. Aku rindu ibuku, Ko. Menurutmu bagaimana? Apa aku harus benar-benar pulang?"
Riko hanya diam, dia tak mampu menjawab tanya Riri padanya. Kemudian dia bicara, dia hanya bisa mengatakan.
"Maaf, Ri! Aku rasa aku tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan pribadimu. Apa lagi, menyangkut keputusan dalam hidupmu. Saat ini aku sedang banyak urusan lain. Sebaiknya, aku pergi sekarang. Permisi, Ri!" Riko seolah menghindar dari Riri dan sepertinya ia benar-benar enggan untuk menjawabnya.
"Ada apa dengannya? Di saat aku benar-benar membutuhkannya, dia malah begini padaku." keluh Riri pada sikap Riko terhadapnya.
Selang beberapa menit saja dari saat Riko pergi. Kini, Karina datang menghampiri Riri. Dia minta maaf pada Riri, atas sikapnya terhadap Riri yang kekanak-kanakan itu.
"Ri, aku datang untuk mint maaf padamu. Aku dengar kamu akan pulang ke Indonesia. Apa itu benar?" tanyanya ingin tahu langsung dari Riri.
"Benar, Rin. Aku juga sudah memaafkan kamu, Rin. Kamu tahu dari mana soal aku akan pulang?"
"Tadi, aku bertemu dengan Riko dan dia menceritakan semuanya. Tapi, sungguh bukan karena itu aku minta maaf padamu, Ri. Aku ...," Riri langsung memotong ucapan Karina.
"Rin, kamu tidak perlu menjelaskannya padaku. Jika benar apa yang aku pikirkan ini, maka sebaiknya kalian harus bicara satu sama lain. Aku akan mendukung kalian untuk bersama selamanya. Apakah aku benar?"
Karina tersipu malu dan ia hanya mengangguk pelan.
"Tapi, kenapa kamu bisa tahu, Ri?"
Riri tersenyum dan berkata, "Menurut kamu apakah mata seseorang yang tengah jatuh cinta itu bisa berbohong?" Riri sedikit menggoda Karina. Karina pun semakin malu jadinya.
"Riri, kamu bisa aja. Belum tentu seperti itu, 'kan?"
"Ya, nggak apa-apa. Kalau kamu masih malu untuk mengakuinya padaku. Tapi, setidaknya kamu tidak menolak jika aku berpikir begitu.
"Terserah kamu sajalah! Sekarang yang aku ingin tahu tentang kepulangan mu. Apakah tidak bisa di tunda, Ri?"
"Tidak bisa, Rin. Izin tinggal ku disini sudah habis. Aku harus pulang segera. Lagi pula, aku juga sangat merindukan ibuku, Rin." keluhnya pada Karina.
Karina kini mulai mengerti akan apa yang di rasakan oleh Riri.
"Aku harap kamu akan tetap mengingat kami yang ada disini, Ri! Walau kita nanti tidak akan bertemu lagi mungkin. Jangan lupa kan kami, ya!"
"Rin, aku tidak mungkin lupa pada kalian yang sudah amat sangat baik padaku selama ini."
Mereka pun saling berpelukan satu sama lain dan menangis haru. Tanpa pikir panjang Riri langsung mengajak Karina untuk pergi bersama dengannya ke suatu tempat.
Dia menarik tangannya Karina dan membawanya naik sepeda motor. Sontak hal itu tentu saja membuat Karina bingung dan kaget.
"Eh, tunggu! Kita mau kemana dan mau apa dengan Sepeda motor ini?"
"Sudahlah, ikut saja! Aku ingin memberimu surprise dan kenangan kecil dariku. Kenakan helm mu! Mari kita pergi dengan gembira!"
"Ya, sudah aku ikut saja. Tapi, apakah Bu Minami tidak akan marah?"
"Jika itu yang kamu pikir 'kan, aku sudah membereskannya. Naiklah!"
Sepeda motor pun melaju kencang dan membawa mereka pergi. Semilir angin musim dan gugur menambah indahnya suasana hati mereka.
Riri seakan tak percaya, dia akhirnya bisa membawa Karina pergi bersama dengannya. Tidak sia-sia selama ini Riko mengajarkannya naik sepeda motor milik Riko.
Ketika bersama Karina saat ini, membuat dia teringat akan Puri sahabat karibnya selama ini.
"Andaikan saja saat ini Puri ada bersamaku disini. Mungkin, kami bisa melakukan perjalanan yang menyenangkan ini bersama," keluhnya dalam hati.
Ketika mereka sampai di tempat yang pernah Riko kunjungi bersama Riri. Membuat Karina bertanya.
"Wah, Ri! Tempat ini indah sekali, kamu tahu dari mana tempat ini?"
"Ya, tahu aja. Itu, nggak penting, Rin! Aku senang bisa buat kamu sebahagia ini, Rin." ucap Riri. Dia tidak ingin Karina tahu bahwa dia pernah datang ke tempat ini bersama Riko. Itu pasti akan melukai hatinya, dia tak ingin senyum yang lebar itu berubah jadi tangisan di wajah sahabatnya itu.
"Karina, bisa aku bertanya padamu?"
"Tentu, apa yang mau kamu tanya 'kan?"
"Begini, maaf sebelumnya! Apa yang membuatmu masih bisa mempertahankan hijab mu di tempat yang minoritas ini, Rin?"
"Oh, itu, ya. Aku pikir ada apa tadi. Emmm, jika mengenai itu aku hanya bisa jawab sederhana saja, Ri. Hati, hatiku yang menuntunku untuk tetap taat padaNya. Walau aku berada di tempat terpencil sekali pun. Ri, mungkin aku bukanlah orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan mu itu. Masih ada banyak perempuan yang taat dan lebih mengerti tentang hijab di banding aku." jelas Karina pada Riri yang sepertinya mulai tertarik dengan hijab.
Sejenak, Riri terdiam dan berpikir serta berkata-kata dalam hatinya.
"Mengapa Karina begitu teguh mempertahankan hijab dan juga prinsip hidupnya? Aku benar-benar kagum padanya. Mungkinkah, suatu saat nanti aku juga bisa seperti dirinya?"
Ia lalu melihat ke arah Karina dengan penuh rasa kagum dan juga iri. Iri karena Karina dapat memotivasi orang seperti dirinya.
"Ri ...! Ayo, kita main-main di tempat ini! Sepertinya, akan sangat menyenangkan bermain dengan kelopak-kelopak bunga sakura yang gugur ini?!" ajaknya pada Riri. Riri mengangguk dan berkata, "Hmmm, ayo main!"
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya