"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Papa
"Papa!!!"
Pekikan melengking itu seketika memecah keheningan siang di halaman depan butik baru Zia di kawasan Menteng. Sabrina, yang sejak tadi duduk lesehan di teras bersih sambil menyusun beberapa boneka Barbie-nya, mendadak melempar mainannya begitu saja ke lantai.
Mata bulat bocah itu melebar sempurna demi melihat sebuah taksi komersial berhenti tepat di depan gerbang. Dan begitu pintu penumpang terbuka, sosok pria tinggi tegap dengan kemeja kasual berwarna biru dongker melangkah keluar.
"Hei, Anak Papa!" Rayyan bahkan belum sempat menutup pintu taksi dengan sempurna ketika tubuh mungil Sabrina sudah berlari kencang membelah halaman dan langsung melompat ke arahnya.
Rayyan dengan sigap menangkap tubuh Sabrina, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara sebelum mendekapnya sangat erat ke dada.
Sabrina melingkarkan kedua lengannya di leher Rayyan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu dengan napas yang memburu.
"Papa... Ina rindu berat! Tujuh hari itu lama sekali tahu!" protes Sabrina dengan suara yang sengaja dibuat merajuk, meski air mata kerinduan mulai menggenang di sudut matanya.
Rayyan terkekeh pelan, mengusap punggung Sabrina dengan penuh kasih sayang sembari mencium pipi gembulnya berulang kali.
"Papa juga rindu sekali sama Sabrina. Maaf ya, Papa harus menyelesaikan banyak pekerjaan dulu di Singapura baru bisa menyusul ke Jakarta hari ini,
Rayyan perlahan menurunkan Sabrina ke tanah, lalu meraih sebuah kantong belanja besar yang tadi dia letakkan di atas kap taksi setelah membayar ongkos.
"Lihat, Papa bawa apa untuk menebus kesalahan Papa karena datang terlambat,"
Mata Sabrina langsung berbinar cerah begitu melihat isi di dalam kantong tersebut.
"Wah! Barbie seri terbaru yang kemarin Ina minta! Ada tiga! Terima kasih, Papa Rayyan!"
"Sama-sama, Sayang. Dipakai main yang pintar, ya," Rayyan mengacak rambut Sabrina gemas.
Pria itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman rumah dan butik yang tampak asri.
"Oh ya, Ina sudah masuk ke sekolah baru belum? Bagaimana sekolahnya?"
Sabrina menggelengkan kepalanya dengan cepat, bibirnya kembali mengerucut.
"Belum, Papa. Ina belum masuk sekolah. Ina sengaja menunggu Papa yang mencarikan sekolah baru untuk Ina di Jakarta. Kata Mama, Papa paling tahu sekolah yang bagus dan aman untuk Ina,"
"Tentu saja. Tenang saja, besok Senin Papa akan antar Sabrina keliling melihat beberapa sekolah internasional terbaik di dekat sini. Oke?"
"Oke, Papa!" sahut Sabrina kompak.
"Sekarang... di mana Mama?" tanya Rayyan, sorot matanya mendadak berubah penuh antisipasi, menyiratkan rasa rindu yang tidak kalah besar pada sosok wanita pemilik hatinya.
"Mama ada di dalam butik, Papa. Sedang sibuk sekali dari pagi sampai lupa waktu," tunjuk Sabrina ke arah pintu kaca besar di bagian depan bangunan.
"Ayo masuk, Papa. Kita kejutkan Mama!"
"Ayo, pelan-pelan jalannya," bisik Rayyan sembari menggandeng jemari kecil Sabrina, melangkah mengendap-endap memasuki area butik yang bernuansa elegan dan modern itu.
Di dalam butik, suasana tampak begitu rapi dengan jajaran gaun-gaun eksklusif yang sudah tergantung indah pada rak display. Di sudut ruangan dekat meja kasir, Zia tampak sedang berjongkok membelakangi pintu masuk. Dia begitu fokus, kedua tangannya sibuk memilah-milah gulungan kain sutra dan brokat dari dalam sebuah kotak kayu besar yang baru saja dibuka.
Rambut panjangnya dicepol asal ke atas, menyisakan tengkuk putihnya yang indah. Zia sama sekali tidak menyadari suara lonceng pintu yang berdenting pelan saat Rayyan masuk.
"Kain yang warna marun kemarin ditaruh di sebelah mana ya..." gumam Zia pelan pada dirinya sendiri, masih sibuk membongkar isi kotak.
Rayyan memberikan isyarat dengan jari telunjuk di depan bibirnya kepada Sabrina, menyuruh bocah itu untuk diam di dekat pintu.
Dengan langkah yang sangat tenang dan tanpa suara, Rayyan berjalan mendekati posisi Zia.
Tepat saat Zia mengembuskan napas panjang dan mulai bangkit berdiri untuk meregangkan punggungnya yang pegal, sepasang lengan kekar mendadak melingkar sempurna di sekeliling pinggang rampingnya dari arah belakang.
"Astaga!" Zia tersentak kaget, tubuhnya seketika menegang sempurna karena sentuhan mendadak itu.
Namun, belum sempat dia berteriak atau berbalik untuk memberontak, sebuah aroma maskulin yang teramat familiar, campuran wangi kayu cendana dan aroma kopi yang selalu menenangkannya, langsung menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya. Rasa terkejut Zia dalam sekejap mata meleleh, digantikan oleh senyuman manis yang langsung merekah di bibirnya.
"Rayyan..." bisik Zia pelan, menaruh kedua telapak tangannya di atas lengan kokoh Rayyan yang masih mengunci pinggangnya erat.
"Kena kamu," bisik Rayyan dengan suara baritonnya yang dalam, menundukkan kepala sedikit untuk menyandarkan dagunya di bahu Zia, menghirup aroma tubuh wanita itu yang sangat dia rindukan seminggu ini.
"Katanya hari ini mau bersiap untuk acara fashion show nanti malam? Kenapa desainer utamaku malah masih sibuk membongkar kotak kain jam segini, hmm?"
Zia terkekeh geli, merasakan getaran dada Rayyan di punggungnya. Dia perlahan memutar tubuhnya di dalam dekapan pria itu, hingga kini mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak yang sangat mengikis.
Zia mendongak, menatap lekat sepasang mata elang Rayyan yang kini memancarkan binar kebahagiaan yang utuh.
Tanpa memedulikan sisa debu kain di tangannya, Zia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Rayyan, menghambur ke dalam pelukan hangat pria itu dengan perasaan lega yang luar biasa.
"Aku merindukanmu, Ray. Sangat merindukanmu," bisik Zia tulus, mempererat pelukan mereka seolah ingin menyalurkan seluruh rasa rindu dan beban yang dia tanggung sendiri selama tujuh hari berada di Jakarta.
Rayyan membalas pelukan itu tidak kalah erat, menenggelamkan wajahnya di rambut Zia.
"Aku tahu, Zia. Aku juga tidak bisa tidur dengan tenang di Singapura karena terus memikirkanmu di sini. Sekarang, aku sudah ada di dekatmu, dan aku tidak akan pergi lagi,"
"Sabrina belum masuk sekolah?" tanya Rayyan.
"Belum Nemu sekolah yang pas," jawab Zia.
"Nanti Senin biar aku bantu cari sekolah buat Sabrina sebelum aku balik ke Singapura lagi,"
"Tuh, kan, Ma! Apa Ina bilang, Papa pasti mau temani Ina cari sekolah baru!" celetuk Sabrina dengan nada bangga, menatap Zia sambil berkacak pinggang di dekat pintu butik.
Zia melepaskan pelukannya dari Rayyan, lalu beralih menatap putrinya dengan dahi berkerut dan pura-pura merengut sebal.
"Oh, jadi sekarang begitu? Kemarin waktu Mama ajak lihat-lihat sekolah yang di sekitaran Menteng ini saja, Ina langsung mogok tidak mau masuk ke dalam,"
"Sabrina kan sudah bilang sama Mama kemarin, Ina mau tunggup Papa datang dulu biar bisa cari sekolahnya bareng-bareng," sahut Sabrina membela diri, langsung berjalan mendekat dan memeluk kaki Rayyan dengan erat.
Zia mengembuskan napas panjang, melirik Rayyan yang sudah tersenyum-senyum penuh kemenangan sejak tadi.
"Padahal sekolah yang Mama pilihkan kemarin bagus sekali lho, Sabrina. Fasilitasnya lengkap, halamannya luas, dan dekat sekali dari rumah kita,"
"Ih, tetap saja beda, Ma," bantah Sabrina, mendongak menatap Rayyan dengan mata bulatnya yang penuh binar keyakinan.
"Ina takut pilihan Mama nanti tidak bagus. Pilihan Papa Rayyan itu pasti jauh lebih bagus dan keren daripada pilihan Mama. Iya kan, Papa?"
Rayyan tidak bisa menahan tawa renyahnya mendengar pembelaan tingkat tinggi dari putri kecilnya itu. Dia berlutut, mengusap kepala Sabrina dengan gemas sembari melirik Zia dengan tatapan meledek.
"Dengar itu, Zia. Naluri anak perempuan memang tidak pernah salah kalau soal memilih yang terbaik," gurau Rayyan, sengaja memanaskan suasana yang langsung disambut dengan tatapan tajam nan jenaka dari Zia.
"Ray, jangan malah didukung dong! Anak ini kalau sudah urusan membela Papanya nomor satu," keluh Zia sambil menggeleng-gelengkan kepala pasrah.
"Papa," panggil Sabrina tiba-tiba sambil mendongak, menatap Rayyan dengan dahi berkerut serius.
"Kenapa Om bodyguard yang Papa sewa itu tua-tua sekali? Mukanya galak lagi,"
Rayyan tertegun, lalu menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Lho, kenapa memangnya? Pak Joko dan Pak Budi itu mantan militer, Sayang. Mereka sangat hebat menjaga Ina dan Mama,"
"Ih, tapi kan penampilannya tidak seru," gerutu Sabrina sambil melipat tangan di dada.
"Kenapa Papa tidak cari bodyguard yang mirip penyanyi Korea saja? Yang tinggi, putih, dan ganteng begitu! Jadi nanti Ina tidak malu kalau diantar jemput ke sekolah baru. Malah bisa pamer ke teman-teman!"
Zia yang sedang merapikan kain di meja langsung menoleh, matanya membelalak.
"Ina! Bicara apa, sih? Masih kecil sudah memikirkan cowok ganteng Korea,"
Rayyan justru tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan putrinya. Dia mencubit gemas hidung Sabrina.
"Oh, jadi anak Papa maunya bodyguard yang ganteng? Waduh, kalau Papa carikan yang seperti itu, nanti Papa malah tidak tenang kerjanya di Singapura, Sabrina,"
"Eh? Kenapa Papa tidak tenang?" tanya Sabrina polos.
"Ya iya," Rayyan melirik Zia dengan tatapan penuh arti yang sarat akan candaan.
"Nanti Papa pasti kepikiran Mama terus selama di kantor. Papa takut Mama Sabrina yang cantik ini malah kepincut dan jatuh cinta sama bodyguard ganteng dari Korea itu. Kan gawat kalau Papa ditikung sama cowok Korea,"
"Ray! Jangan mengada-ada, ya!" potong Zia cepat, wajahnya seketika merona merah padam karena digoda di depan anaknya sendiri.
Sabrina langsung tertawa renyah, menutup mulut mungilnya dengan tangan.
"Hahaha! Papa tenang saja, Mama itu tidak akan suka sama cowok lain. Sukanya cuma sama Papa seorang!"
"Oh ya? Tahu dari mana kamu, hmm?" pancing Rayyan, semakin bersemangat menggoda Zia.
"Tahu dong! Setiap malam sebelum tidur, Mama itu selalu senyum-senyum sendiri melihat foto Papa di hpnya. Baru setelah itu Mama bisa tidur nyenyak," bongkar Sabrina tanpa beban, membuat mata Zia semakin melebar sempurna karena rahasia malamnya dibongkar habis-habisan.
"Sabrina, stop! Jangan bicara sembarangan!" seru Zia panik, mencoba menyembunyikan wajahnya yang kini terasa panas luar biasa.
Namun, Sabrina tidak berniat berhenti. Dia justru beralih memeluk pinggang Rayyan dengan erat sambil mendongak jenaka.
"Terus ya Papa, kemarin Ina tidak sengaja mengintip. Kalau Mama kirim pesan wa ke Papa, ketikannya pakai panggil Sayang... Sayang...nlagi! Hih, geli sekali! Pokoknya Mama itu sebenarnya jauh lebih sayang sama Papa daripada sama Ina sendiri!"
Butik itu seketika dipenuhi oleh suara tawa kemenangan Rayyan yang menggema puas. Pria itu menatap Zia yang sudah salah tingkah setengah mati, berpura-pura sangat sibuk menata gantungan baju demi menghindari tatapan matanya. Rasa rindu yang sempat tertahan selama seminggu ini seolah terbayar tuntas oleh kehangatan dan candaan kecil di dalam butik baru mereka.