Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Tak biasanya Kila bangun meninggi hari, masih gelap memang, sebab masih jam enam pagi, tapi biasanya jam segini Kila sudah beraktivitas.
Tadi malam Kila tak bisa tidur hingga menjelang subuh baru matanya terlelap, hingga subuhpun dia lakukan dengan kantuk yang tak tertahan.
Begitu selesai subuh kantukya benar-benar tak mampu dia tahan dia pun terlelap.
Dia meraih handphone nya di atas meja, menghidupkan layarnya guna melihat angka yang tertera di layar sebagai menanda waktu di handphone nya. jam enam lewat lima.
Kila kembali terpejam, mengikuti bisikan kantuk yang merayunya agar kembali memejamkan mata dan kembali terlelap, Kila benar-benar terlelap saat sepasang tangan kokoh merengkuhnya begitu hangat.
Aroma tubuh yang begitu dia kenal serasa memenuhi indra penciumannya, membuat tidurnya semakin nyaman, mimpi yang begitu nyata, pikirnya di antara setengah kesadarannya.
Kila menyentuh kedua tangan kokoh yang sedang meneluknya erat, tangan itu terasa begitu hangat, bahkan debar halus dari dada bidang yang menempel di punggungnya juga bisa dia rasakan, perlahan Kila membuka matanya, mengumpulkan segenap kesadarannya yang masih tercecer akibat tidurnya.
matanya nyalang menatap sepasang tangan yang begitu dia kenali, memeluknya hangat dan ini bukan mimpi ini nyata.
"Mas.." Suara Kila terdengar bergetar.
"Heeemm" sahut suara barito yang sudah dia rindukan beberapa hari ini.
"Kapan mas sampai" ujar Kila, seraya melepas pelukan suaminya, tapi Rico malah mempererat pelukannya.
"Berbaringlah sebentar sayang, aku lelah dan ngantuk, nanti kita bahas semua yang ingin kau ketahui, bisa tidak sayang" bisik Rico lirih.
"He,em" sahut Kila dengan gumaman, senyum mengembang sempurna dibibir merahnya.
Kila kembali terpejam menikmati Momen yang dia rindukan beberapa hari ini.
Erico benar-benar mengantuk dan kelelahan, terbukti dia tak bergeming saat Kila perlajan melepas pelukannya dan dengan hati-hati turun dari tempat tidur, dia beranjak kekamar mandi membersihkan diri kemudian beranjak keruang sholat.
Kila kembali kekamar setelah selesai melaksanakan Sholat Dhuha, menemui Rico yang masih saja tertidur dengan nyenyak.
"Mas," Kila mengguncang lembut bahu Rico.
"Hmm" gumam Rico dengan mata masih terpejam.
"Sudah siang mas, sarapan dulu nanti bisa tidur lagi" Ujar Kila, yang juga sudah mulai merasa lapar.
"Jam, berapa sayang," ujar Rico yang hanya mampu membuka sebelah matanya.
"Jam sembilan mas" ujar Kila.
"Sayang sarapanlah, aku mau lanjut tidur" ujarnya kembali berbaring melanjutkan tidurnya.
"Mas gak sarapan nih" tanya Kila meyakinkan. Tak ada sahutan, hanya gelengan lembut kepala Erico.
Kila pun sarapan tanpa di temani susminya, setelah sarapan Kila pergi ke ruang baca milik suamunya, kemarin dia membeli bebberapa buku bacaan usia Tk, berhubung muridnya yang lumayan banyak di usia itu.
Dia ingin mengajarkan pengenalan huruf dan angka, sebab seharusnya mereka sudah mendapatkan pemblajaran itu Tk.
*
Rico membuka matanya perlahan, rasa kantuk yang mendera membuatnya tak mampu membuka mata seutuhnya. Dering handphonen Kila membuatnya terpaksa melakukannya.
Dengan mata separuh terpejam Rico meraih hp Kila di atas meja. dengan mata yang menyipit dia melihat layar hp Kila, tertera nomor tak di kenal di layar handphone Kila. dia pun menerima panggilan telepon, lalu meletakkan hp Kila di telinganya.
"Halo Kila" suara berat di seberang telpon seketika membuat kedua matanya terbuka lebar.
"Hey, sayang, kenapa diam" ujar suara barito itu lagi, membuat rahang Erico seketika mengeras.
Dengan kasar dia mematikan panggilan telpon, dia tak ingin semakin terpancing emosinya, demi mendengar sapaan lembut suara barito itu dengan sebutan Sayang untuk istrinya.
Dia segera memeriksa panggilan yang di lakukan oleh Kila, saat dia berada di paris, ternyanta kila tak menghapus riwayat pangilan di hp nya. dan ternyata nomor ini sudah pernah menghubungi Kila, tapi dengan durasi yang tak lama.
Membuat amarahnya sedikit mereda, dia menduga Kila juga tak mengenal penelpon ini, tebukti dari panggilan masuk yang hanya sekin detik, itu membuktikan Kila hanya menerima panggilan itu sesaat, sama seperti yang dia lakukan tadi.
*
Karena asiknya menyusun buku yang akan di bawanya, membuat Kila lupa akan suaminya.
"Nyonya sedang apa" Sapa Nana yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Mbak Nana, Kenapa tidak beri salam, membuatku kaget" sungut Kila yang kaget dengat kedatangan Nana yang tampa suara.
"Maaf nyonya" jawab Nana, merasa bersalah sudah mengejutkan Kila dengan kehadirannya yang tanpa suara.
"Masuk ruangan biasakan beri salam mbak Nana." ujar Kila dengan senyum khasnya.
"Iya maaf nyonya, tuan sudah pulang ya nyonya" tanya Nana yang baru tau tuannya pulang.
"Oo iya, mas Rico" ujarnya, saking asyiknya dengan buku-buku muridnya dia lupa suaminya.
"Udah mbak, oh ya, tolong di susun kemudia di bungkus seperti yang sudah aku buat ya mbak, aku mau melihat mas dah bangun apa belum" ujar Kila seraya beranjak bangkit.
"Baik buk"
Kila meninggalkan ruang perpustakaan, berjalan menuju kamarnya guna melihat suaminya sudah bangun apa belum.
Kila membuka pintu kamarnya, ternyata Rico sudah bangun bahkan sepertinya baru selesai mandi terlihat dari rambutnya yang basah dan wajahnya yang terlihat segar, dia duduk di sofa, dengan dua handphone di tangan, satu di telinga dan satu di tangannya,handphone di tangan Rico sepertinya itu miliknya.
Melihat Kila memasuki kamar, Rico segera mengakhiri panggilan teleponnya.
"Sudah bangun mas" sapa kila lembut.
"Sudah sayang" ujar Rico, seraya merengkuh tubuh yang begitu dia rindukan beberapa hari ini.
"Mau sarapan mas"
"Tentu " ujar Rico, tanpa melepas pelukannya, dia malah menatap wajah kila dalam.
"Mas katanya mau sarapan" tegur Kila, sebab suaminya tak juga bergeming, malah memeluknya semakin erat.
"Ini, aku lagi menikmati sarapan pagiku" ujar Rico seraya membenamkan wajahnya di cela ceruk lehernya. Kila hanya tersenyum di tengah gelanyar lembut yang memenuhi perasanya.
Rico terus saja beraksi melepas kerinduanya yang tak mampu di utarakan dengan kata, hal sama juga di rasa Kila.
"Mas.." ujar Kila dengan nafas tersengal karena ulah Rico.
"Hmmm" gumam Rico disela kesibukanya mencumbui dirinya.
"Handphone mu berbunyi" ucap Kila, kali ini di akhiri dengan desahan lembut akibat dari perbuatan Rico.
"Abaikan saja saja sayang" ujar Rico dengan Suara serak.
"Takut pentinga mas" ujar Kila lagi masih dengan terengah-engah di tengah gairah yang tengah menderanya.
"Ini juga penting" ujar Rico, menatap Kila dengan nanar, kemudian menyatukan wajahnya pada Kila, kila menyambutnya dengan suka cita, dengan sekali gerakan Rico sudah membopong tubuh Kila membawanya ke atas ranjang, demi menuntaskan hasratnya yang terpendam selama beberapa hari ini.
Rico memeluk tubuh Kila yang lunglai di balik selimut akibat ulahnya.
"Sayang"
"Hemm"
"Tadi ada yang menelponmu, dengan nomor tak di kenal, siapa dia" ujar Rico seraya mencium ubun-ubun Kila dengan lembut.
"Nomor baru..?" Kila malah balik bertanya.
"Iya, ada riwayat panggilan sebelumya aku lihat di hp sayang" ujarnya Rico
"Aku gak kenal mas" ujar Kila setelah berpikir sesaat, kemudian dia teringat pada penelpon yang di sangkanya suaminya.
"Apa yang dia katakan saat menelpon mu"
"Dia menyebut namaku, seakan sudah mengenalku mas"
"Apa kau benar-benar tak menenalnya sayang, dari suaranya, mungkin teman mu ketika di pesantren" ujar Rico mencoba membuat Kila mengingat sesuatu tentang si penelpon.
"Dari nada bicaranya, dia bukan orang dari lingkungan pesantren mas" ujar Kila menerawang.
"Hmmm, begitu rupanya"
"Ada apa mas?"
"Tidak ada sayang, tidak usah di pikirkan" ujar Erico, seraya melabuhkan ciuman hangat di kening Kila.
"Sayang ayo mandi, aku juga sudah lapar sayang" ujar Erico, tapi malah memeluk tubuh Kila dengan erat.
"Ayo, kenapa malah memelukku begini erat" protes Kila dengan pasang wajah cemberut.
"Masih kangen"
"Tapi mas laperkan, ya udah makan dulu gih"
"Baiklah" ujar Rico beranjak bangkit, kemudian dengan tak di sangka dia membopong tubuh Kila yang tebalut selimut putih.
"Mas!!" pekik Kila kaget, Rico malah terkeke mendengar teriakan kaget istrinya.
"Jangan macam-macam di sini, aku gak akan layani" ancam Kila dari dalam kamar mandi.
"Iya" sahut Rico, tapi sesaat kemudian terdengar teriakan manja kila dari dalam.
**
Rico duduk di balik meja kerjanya, sesekali menatap layar laptopnya, dengan jari telunjuk menyentuh dagunya, kemudian berpindah menyentuh meja, mengetuk-ngetuk sisi meja dengan jarinya, wajahnya terlihat gelisah, menatap layar laptop dan hanphone bergantian.
Sesaat kemudian, terdengar dering handphone, miliknya.
"Hemmm"
"Sudah tau pemilik Nomor itu"
"Bagus"
"Aku tidak mau ada yang terlewat sedikit pun, paham!!" ujar Rico mengakhiri panggilanya.
Tok
Tok
Terdengar ketukan di pintu ruangan Roci.
"Masuk"
Tampak Alan dari balik pintu, bersama dua orang pengikutnya.
"Suruh mereka menunggu di luar" perintah Rico.
"Baik pak" ujar Alan, tanpa di komando kedua anak buah alan pun keluar ruangan.
"Duduk" perontahnya.
"Apa yang terjadi" uacapnya lagi dengan tatapan Dinginnya.
"Maaf pak, saya masih menyelidikinya, dan saya pastikan segera saya tangani" Jawab Allan berusaha memberi keyakinan pada Bos nya.
"Pastikan kali ini tidak ada kesakahan lagi" ucap Rico.
"Satu lagi, kau yakin kemampuan orang yang mengawal istriku bisa di percaya" ucap Rico menatap Alan dalam.
"Pasti pak, mereka orangku" ujar Alan penuh keyakinan.
"Kau belum juga menemukan anak istrinya?"
"Belum pak, mungkin mereka merubah identitas sehingga sulit kita lacak"
"Aku tidak yakin, dia bahkan tak tau mengenai bisnis suaminya, ada yang aneh di sini, sudah tiga tahun tapi masih belum ketemu"
"Maksud bapak?"
"Aku masih belum bisa menyimpulkan, tapi memang terlihat janggal di mataku, orang-orangku menutupi sesuatu dari ku" ujar Rico menatap Alan dalam, membuat Alan terlihat gelisah.
"Maaf pak" ujar Alan tertunduk.
"Kau masih tidak mau cerita" Suara barito itu kini terdengar menakutkan di telinga Erico.
"Itu kesalahan orang suruhan saya pak, saya akan bereskan" ujar Alan tegas.
"Aku suruh habisi dia, bukan seluruh keluarganya, Bangsat!!!" bentaknya seraya menggerbrak mejanya dengan penuh amarah, untung saja ruangan itu kedap suara andai saja tidak, suara kerasnya sudah pasti di dengar seluruh kariawan di luar ruangannya.
"Aku perintahkan sesuai perintah bapak, tapi tidak tau di mana salahnya insident itu pun terjadi"
"Siapa yang melakukan tugas itu"
"Anjas pak, dia tewas beberapa bulan lalu akibat kecelakaan mobil" jelas Alan. membuat Rico memalingkan wajahnya menatap Alan dengan seksama.
"Kau berpikir itu murni kecelakaan" ucap Rico dengan seringai di bibirnya, Alan menggeleng.
"Aku sudah menyelidikinya, itu sabotase" ujarnya lirih.
"Dia pantas mendapatkannya, atas pebuatan kejinya, aku selalu bilang pada kalian jangan kasari wanita apapun alasannya, tapi kalian malah menghabisinya tanpa ampun, bang sat!!" ujarnya geram, Alan cuma bisa tertunduk, Rico benar selama bertahun bekerja dengan Rico dia tak pernah berlaku kasar dengan wanita, selain sikap dingin yang kadang timbul.
"Dia tak kan berhenti di sini, kalian menghabisi keluarganya dengan begitu kejam, dia pasti telah mempersiapkan balas dendam yang setimpal untuk kita" ujar Rico penuh penyesalan.
"Dengar Alan, jangan ada darah lagi, aku tak ingin mendengarnya apa pun alasannya" ujarnya lagi.
"Baiklah pak, akan saya usahakan semaksimal mungkin" ucap Alan.
"Baiklah kau boleh pergi" ujar Rico menatap Alan yang juga tengah menatapnya.
"Saya permisi pak"
Rico mengangguk, menatap kepergian Allan dengan perasaan gundah, buah dari perbuatan mereka Tiga tahun lalu kini mulai terlihat jelas, siap di petik kapan saja.
.
.
Happy reading🙂💞
Tinggalin jejak buat Author ya like, komen and Vote 🙏🙏🥰🥰
apa kurang gelap ya malam hari 🤣🤣🤣