Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Tukang ojek
Sudah satu minggu ada di dalam penthouse terus tanpa keluar Safa merasa jiwanya terkurung. Belanja online, masak, nyapu pakai Robi si robot sapu. Rupanya membuat safa merindukan berbelanja dipasar.
" Huuh jadi istri CEO gak enak banget,jiwa petualangku meronta-ronta.Kangen suara ibu-ibu tawar menawar, kangen bau ikan segar, kangen beli cabe,kangen suasana riuhnya pasar." gumam Safa,lalu ide tiba-tiba muncul diotak kecilnya.
"Mas Arga, aku boleh ke pasar nggak?" tanya Safa saat sarapan.
Arga yang sedang membaca berita saham di iPad langsung menhawab tanpa menoleh sedikitpun. "Tidak boleh! Bahaya,kamu itu tidak tau jalanan di Jakarta,kamu juga pasti buta mpas."
"Tapi Mas, aku mau beli tempe yang masih anget, sama kangkung yang masih seger. Kalau di supermarket kangkungnya beda." rengek Safa.
"Tidak boleh! Kamu list saja daftar belanjaan yang kamu ingin beli nanti saya suruh supir belikan." ucap Arga dengan tegas.
Safa terdiam dengan bibir mengerucut. "Supir kan cowok Mas, dia nggak pinter milih kangkung.Milih kangkung itu harus ada ilmunya mas.Kangkung harus yang batangnya masih keras, kalau lembek berarti udah lama. Daunnya harus yang sedikit berlubang itu menandakan petaninya tidak menggunakan pestisida dia menanam dengan sistem hidroponik."
Arga tidak menjawab lagi ,dia menganggapnya sudah selesai,final tidak bisa diganggu gugat.
Tapi bukan Safa kalau tidak keras kepala dan ngeyel.Kalau dia mau kepasar itu artinya dia harus kepasar.
Jam 9 pagi, saat Arga sedang video call meeting di ruang kerja, Safa diam-diam mengganti gamisnya dengan gamis yang paling sederhana, hijab hitam polos, memakai masker dan membawa tas belanja lipat yang dia bawa dari kampung. Tas yang dilipat kecil,. memiliki motif bunga-bunga.
Dia juga membawa uang 100 ribu hasil sisa uang belanja yang dia sisihkan. Katanya biar tidak boros.
Dia keluar dari penthouse secara diam-diam lewat lift barang, biar tidak ketahuan resepsionis yang sudah mengnakenal dia sebagai istri Pak Arga.
Sampai di bawah, dia naik angkot ke Pasar Mayestik. Dia bertanya pada orang disepanjang jalan, memastikan dia tidak kesasar.
Sementara diruang kerjanya tepat jam 9.30 Arga baru saja selesai meeting dan keluar dari ruang kerja.
"Safa, saya mau kopi."triak Arga dari ruang tengah.
Hening,tidak ada jawaban.
"Safa?" panggilnya lagi.
Sepi. Penthouse terasa hening,Robot sapunya saja lagi ngecas.
Penasaran Arga pergi kekamar Safa dan ternyata kosong,dikamar mandi juga kosong.Arga kembali ke Dapur dan tetap kosong.
Di meja Arga melihat secarik kertas sobekan bertuliskan
_Mas Arga, aku ke pasar sebentar ya beli tempe. Jangan khawatir, aku bisa jaga diri. - Safa_
Arga langsung panik,Wajah dinginnya berubah tegang.
"Pasar? Safa ke pasar sendirian? Di Jakarta? Astaga !Gadis desa yang tidak tahu jalan, yang kalau nyebrang saja masih lihat kanan kiri 10 kali? Gawat,dia dalam bahaya!"
"Gadis nekat!" gumam Arga.
Dia langsung mengambil kunci mobilnya namun baru saja hendak ke garasi dia tiba-tiba memikirkan sebuah ide,ide gila untuk laki-laki sekelas Arga sang CEO yang jika dia mau dia bisa membayar 10-100 orang untuk mengawal dan menjemput Safa dipasar.Namun bukan Arga kalau ide gilanya tidak terealisasikan.
Arga cepat- cepet turun ke lobi bawah dengan.Matanga mengedar pandangan dan dia melihat apa yang dia carai.Di depan lobi ada pangkalan ojek online yang sedang nongkrong menunggu orderan masuk.
Arga mendekati salah satu tukang ojek.
"Pak, pinjam motor sama jaketnya sebentar."
Tukang ojek itu melongo melihat pria ganteng pakai jam tangan mahal mau meminjam motor beatnya yang bahkan joknya sobek sedikit.
"Pinjam? Untuk apa pak?"
"Saya mau kepasar,ini misi penting."
Tukang ojek itu akhirnya mengerti. "Baik kalau begitu silahkan pakai saja tapi jangan lama-lama ya pak."
Arga memakai jaket ojek berwarna hijau yang agak kebesaran dan helm yang ada stikernya.
Bayangkan, CEO Mahendra Group yang biasanya rapat dengan menteri, kini naik motor beat dengan jaket ojek, demi misi mengikuti istrinya yang nekat ke pasar.
Sampai di Pasar Mayestik, Arga mencari Safa.Matanya berbinar saat dia melihat istrinya sedang berdiri didepan tukang sayur dengan gamis sederhananya.Sesaat Arga terpana melihat kecantikan Safa meksipun dia tampil sederhana.
" Dia memang nyonya Mahendra." gumamnya tanpa sadar.
Dari jauh Arga bisa mendengar,Safa yang sedang melakukan transaksi jual beli.
"Bang, kangkungnya satu iket berapa?"
"Satu iket 15 ribu neng."
"Mahal amat Bang, 10 ribu ya? Dikampung justru 3000 udah dapat 3 ikat bang."
Mendengar kata kampung tukang sayur itu tertawa. "Neng dari kampung mana?"
"Dari kampung sukajati Bang!"
Arga yang mengintip dari balik tukang kelapa, menahan tawa karna Safa nawarnya memakai logat ngapak.
Akhirnya karna sama-sama orang kampung safa dikasih harga 5000 3 iket.
Setelah itu safa lanjut bebelanja. Dia membeli tempe, tahu, cabe, bawang. Semua dimasukkan ke tas bunga-bunganya.
Tingkahnya kocak. Dia mencium tempe untuk memastikan masih hangat dan baru.
Arga diam-diam mengikuti dari belakang dengan jarak 5 meter. Beberapa ibu-ibu di pasar justru ngira Arga tukang ojek beneran.
"Ojek,antar saya pulang bisa nggak?"
"Maaf Bu, saya lagi nunggu istri." jawab Arga datar.
Safa terus berjalan menuju ke penjual ikan.
"Bang, ikannya masih seger nggak? Matanya masih bening nggak?"
"Masih seger Neng, baru datang."
"Boleh deh bang satu kuloy,tapi aku mau milih sendri ya bang!" ucap Safa.
" Boleh neng boleh!"
Safa kemudian memilih ikan yang benar-benar masih segar dan setelah belanja banyak, tas bunga Safa akhirnya penuh dan hampir jebol.
Sepanjang jalan safa merasa senang meksipun belanjanya terasa berat.
Saat mau nyebrang jalan pasar yang ramai dengan motor dan mobil yang berlalu lalanh Safa mendadak bingung suara kelakson bersahutan tiada henti.
Dia berdiri di pinggir, melihat kekanan kiri berulang kali namun tetap saja dia tidak berani menyebrang.
Arga yang tidak tahan hanya melihat dari tempat persembunyiannya memutskan keluar dengan sepeda motor Beatnya.
"Mbak mau nyebrang,mari saya bantu."
Mendengar suara seseorang disebelahnya Safa menoleh dan menatap sebentar,dia tidak tau jika laki-laki disebelahnya itu Arga karna Arga memakai jaket ojol lengkap dengan helem dan memakai masker."
"Boleh Bang? Saya takut, motornya banyak takut ketabrak.
"Sini pegangan."
Safa berpegangan bahu Arga. Arga menuntun motornya pelan-pelan sambil sesekali memastikan Safa aman disampingnya.
"Terima kasih ya Bang ojek, abang baik banget."
Arga hanya mengangguk, menahan untuk tidak bersuara agar tidak ketahuan.
Setelah menyabrang hal tak terduga justru terjadi.Safa berniat membayar bantuan penyebrangan Arga.
"Berapa Bang?" tanya Safa dengan konyol.
"Gratis mba ,anggap saja amal!" jawab Arga tak kalah konyol.
"Wah baik banget Bang ojek. Semoga rezekinya lancar ya Bang."
" Hem." jawab Arga singkat.
Safa lalu naik angkot,arga kembali mengikuti angkot itu dengan motor beatnya dari belakang menjaga jarak dengan laju yang pelan seperti di film-film detektif.
Sampai di apartemen, Safa turun dari angkot dengan tas belanjaan penuh. Dia berjalan masuk lobi dengan bangga.
Arga buru-buru mengembalikan motor ke tukang ojek yang ia sewa dibawah, Arga kemudian memberikan uang 500 ribu sebagai ucapan terima kasih, lalu lari naik lift lain biar sampai duluan sebelum Safa.
Dia sampai di penthouse 2 menit lebih cepat dari Safa. Dia duduk di sofa lagi dengan Ipad-nya mengatur nafasnya karna baru sajal lari dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Pintu terbuka.
Safa masuk dengan tas belanjaan yang penuh, wajahnya terlihat cerah.
"Mas Arga aku pulang!"
Arga pura-pura kaget. "Kamu dari mana?"
"Dari pasar Mas! Aku beli tempe anget, kangkung seger, sama ikan yang matanya masih bening. Tadi aku pinter nawar loh Mas!"
Arga menahan tawa. "Kamu nekat ya ke pasar sendirian? Kan sudah saya bilang bahaya."
"Tidak bahaya Mas, tadi ada abang ojek baik banget yang bantuin aku nyebrang. Gratis lagi,aku fikir dijakarta kan semua ngga ada yang gratis jadi aku niat bayar eh dia nolak mas.Baik banget ternyata orang Jakarta." Ucapnya konyol.
Arga berdeham. "Ojek? Ojek yang bagaimana?Apa dia menggoda kamu,kamu pasti genit ya sama dia?"
" Mana ada mas aku genit sama tukang ojek,itu loh Ojek yang pakai jaket hijau. Baik banget Mas, sayang nggak bisa lihat mukanya, dia pakai helm pake masker,lain kali kalalau ketemu lagi aku mau kasih dia kangkung gratis."
Arga hampir tersedak. "Tidak usah!"
Safa gelar belanjaannya di meja dapur dengan bangga seperti habis menang perang.
"Mas, malam ini aku masakin mas Arga sayur kangkung sama tempe goreng ya. Dijamin enak, soalnya ini benar-benar fresh aku milih sendiri."
Arga melihat Safa yang berkeringat hijabnya agak berantakan, tapi ada binar bahagia disorot matanya.
"Ya sudah, masak sana! Tapi janji jangan nekat lagi ke pasar sendirian tanpa izin!"
"Iya Mas aku janji ,tapi tadi beneran seru banget mas,rasanya aku bernostalgia saat dikampung dulu.
Safa masuk dapur dan mulai memasak. Arga diam-diam memotret Safa yang sedang masak dari hasil berburu belanjaanya di pasar.
Dia mengirim foto itu ke Nenek dengan caption:
_Gebrakan baru cucu mantu nenek,nekat pergi ke pasar beli kangkung bolong tanpa pestisida_
Nenek yang sedang online langsung membalas pesan arga._ dia memang cucu mantuku,bilang Safa nenek mau makan sayur kangkung bolong tanpa pestisida _
Dan malam itu untuk pertama kalinya, Arga makan malam dengan sayur kangkung dan tempe goreng dengan lahap, padahal biasanya dia hanya makan steak dan salad.
Karena kangkung itu dipilih dengan cinta dan yang lebih sepecial karna orang yang memasak adalah gadis kecilnya yang keras kepala yang membuat seorang Arga Mahendra rela mengikuti dia sampai harus menyamar jadi tukang ojek.
Bersambung