NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Petualangan / Mafia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Carolini Rodrigues

Pada malam badai, hidup Beatrice runtuh dalam satu ketukan pintu.

Ayahnya, sang penjudi, terjerat utang enam juta euro kepada Matteo Vitale, mafioso paling ditakuti di Sisilia. Pria dingin yang matanya sebiru langit sebelum badai itu tak menginginkan uang. Ia menginginkan Beatrice.

Untuk menyelamatkan nyawa keluarganya, Beatrice menyerahkan dirinya sebagai "pelayan" di rumah besar Matteo, sebuah benteng penuh pengawal bersenjata. Hari-harinya diatur oleh perintah, tatapan yang menelanjangi, dan kemarahan yang bisa meledak kapan saja. Namun semakin ia melawan, semakin Matteo kehilangan kendali. Dan semakin Matteo mendekat, semakin Beatrice takut pada hal yang paling tidak ia duga: dirinya sendiri.

Di balik pintu-pintu terkunci, ada rahasia yang jika terbongkar bisa menghancurkan segalanya. Di luar tembok, musuh-musuh Matteo sudah mengincar kepala siapa pun yang ia cintai.

Seberapa jauh seorang pria sanggup memiliki? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan sebelum ia berhenti ingin pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolini Rodrigues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sambil keluar, kutelepon rumah dan kusuruh Joana membantunya bersiap. Aku tidak mau dia membuatku terlambat. Aku tahu betul bagaimana perempuan.

POV Beatrice

Setelah dia keluar dari kamarku, aku seperti mati rasa. Kudengar bantingan pintu kamarnya. Tubuhku tak mau menurut. Sulit sekali meminta dia berhenti, padahal yang kuinginkan hanyalah menjadi miliknya. Perasaan ini baru bagiku, dan hasrat yang ia bangkitkan dalam diriku tidak wajar. Tapi tetap saja aku menolak menjadi milik seseorang yang sedang menghancurkan hidupku.

Aku masuk ke kamar mandi dan berdiri di bawah shower. Tubuhku terbakar, membara dari dalam. Aku menyentuh diriku sendiri, tetapi tidak sama. Tangannya yang kubutuhkan. Selesai mandi, aku berganti pakaian. Tak lama Joana memanggilku makan siang. Kami makan bersama dan mengobrol sedikit. Menyenangkan punya seseorang untuk diajak bicara. Setelah selesai, aku membantunya membereskan, meski ia tidak suka, takut Matteo melihat kami. Aku tetap membantunya. Setelah semuanya beres, aku naik ke penjaraku, alias kamar, berbaring, dan segera tertidur. Aku bermimpi tentang dia.

Dalam mimpi semuanya terasa sangat nyata. Tangannya menjelajahi tubuhku, mulutnya ada di mana-mana. Ketika dia melepas celananya, aku sudah siap untuknya, sampai...

Tok tok, tok tok.

Aku terbangun kaget.

"Ya."

"Boleh saya masuk?" kata Joana.

"Tentu, Joana."

Joana masuk dan melihat betapa berkeringatnya Beatrice.

"Mimpi buruk? Lihat kamu, keringatan sekali."

"Akhir-akhir ini aku hanya mimpi buruk."

Ia berkata sambil berusaha mengalihkan topik. Mimpi buruk apanya, Nona Beatrice. Kalau Joana tahu...* (tertawa) Sudahlah.*

"Ada apa?"

"Tuan Matteo menyuruh saya membantumu bersiap."

"Bersiap untuk apa?"

"Makan malam keluarga!"

"Masih terlalu cepat, Joana."

"Sekarang sudah hampir pukul enam sore."

"Apa? Aku tidur selama itu?"

"Sebaiknya cepat. Tuan Matteo benci keterlambatan."

"Memangnya apa yang tidak dia benci?"

Joana tersenyum.

"Dengar baik-baik. Dia orang baik. Yang terjadi pada Nona Aurora mengubahnya."

"Dulu dia seperti apa? Dan bagaimana Aurora meninggal?"

"Yah, dia memang tidak tersenyum dua puluh empat jam sehari, tapi dia bahagia. Aurora membuatnya sangat bahagia, dia selalu menemukan cara menghidupkan lagi cinta mereka. Sampai dia hamil. Dia selalu tergila-gila pada anak-anak, ingin punya keluarga sendiri, dan Aurora selalu ingin menyenangkannya dalam segala hal. Mereka hampir berlawanan, sedangkan kamu dan dia sangat mirip. Pokoknya, suatu hari dia pergi dan tak pernah kembali. Mobilnya ditemukan sudah tak berbentuk. Beberapa hari kemudian mereka mengirim jenazahnya dengan sebuah catatan yang menyebut dia sedang hamil. Tuan Matteo memburu mereka satu per satu dan membunuh semuanya."

"Mengerikan."

"Dia tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu. Dia mencintai Nona Aurora, tapi kamu berbeda."

"Berbeda?"

"Dia cemburu setengah mati padamu. Dia datang ke kamarmu..."

"Dia apa?"

"Jangan bilang padanya. Saya pernah melihat dia di kamarmu, dan saat kamu dikurung di belakang sana, di sinilah dia melewatkan malam-malamnya. Sudah, cukup, mandilah, saya yang akan menata rambutmu."

Beatrice pergi dan tak lama kembali. Joana menggelung rambutnya, menyisakan beberapa helai terurai. Beatrice berdandan sederhana, hanya dengan lipstik yang sedikit lebih gelap. Ketika ia berdiri, Joana sudah memegang gaunnya: gaun merah mengembang di atas lutut, dengan tali yang jatuh di bahu. Joana membantunya mengenakan sepatu hak hitam bertabur batu. Joana menawarkan sebuah kalung, tetapi Beatrice menolak melepas kalung peninggalan ibunya.

"Cantik sekali."

"Terima kasih, Joa. Apa aku sudah boleh turun?"

"Boleh, ayo. Tuan Matteo pasti sudah menunggu."

* * *

POV Matteo

Aku tiba di rumah dan berlari ke kamarku. Kudengar suara-suara dari kamar Beatrice, tapi aku tahu itu Joana. Aku mandi dan berpakaian cepat, memakai jas, menyisir rambut, menyemprotkan parfum, mengenakan jam saku, lalu turun menunggunya. Tak lama ia turun, dan astaga, ia begitu memukau. Aku menelan ludah, berjalan ke tangga, dan mengulurkan tanganku. Ia menyambutnya. Aku sudah bersiap kalau ia menolak.

"Kau cantik," kataku.

Ia tersenyum kecil, dan aku menuntunnya ke mobil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!