NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARA-GARA KECOA

Bandung masih berdiri menatap lukisan-lukisannya yang terpajang di dinding. Beberapa saat kemudian, ia menoleh ke ruang belakang. Luna masih duduk sendirian di sana.

Bandung pun segera menghampirinya.

“Luna, apa lu udah selesai?”

Luna yang sedang melamun langsung terkejut dan menoleh.

“Udah kok. Gue udah nggak ngapa-ngapain.”

“Kalau gitu, kita ke basecamp anak-anak sekarang, ya. Lu masih mau ngajar mereka, kan?”

Luna hanya mengangguk.

Melihat Luna yang masih tampak canggung, Bandung mencoba mencairkan suasana.

“Luna...”

“Hmm?”

“Ada kecoa.”

Di luar dugaan, reaksi Luna justru membuat Bandung terkejut.

Luna langsung bangkit hingga kursi yang didudukinya terjungkal. Tanpa berpikir panjang, ia melompat dan memeluk tubuh Bandung.

Bandung langsung membeku.

Luna masih memeluknya erat. Bahkan kedua kakinya ikut terangkat dan melingkar di tubuh Bandung. Matanya terpejam rapat, sementara mulutnya berteriak histeris.

“Tolong, Bandung! Gue takut kecoa! Tolongin dong!”

Entah kenapa, Bandung tiba-tiba merasa sangat bersalah.

Ia kebingungan harus melakukan apa. Tangannya bahkan tidak tahu harus diletakkan di mana.

Akhirnya, Bandung hanya berbisik di telinga Luna.

Namun karena jarak mereka terlalu dekat, bisikan itu justru terasa seperti hembusan napas di telinga Luna.

Anehnya, Luna yang tadinya histeris justru menjadi diam. Matanya semakin terpejam.

Bandung pun mengulangi perkataannya.

“Luna... maaf. Kecoanya udah pergi.”

Luna perlahan membuka mata.

Barulah ia sadar kalau Bandung sejak tadi hanya mengerjainya.

“Bandung!”

Luna langsung mencubit pundak Bandung sekuat tenaga.

“Aw! Sakit!”

Namun Luna tidak menyadari kalau kedua kakinya masih melingkar di pinggang Bandung.

Bandung yang kehilangan keseimbangan akhirnya terhuyung.

“Eh—”

Bruk!

Keduanya jatuh di tengah galeri lukisan.

Sesaat mereka hanya saling berpandangan.

Seolah-olah keduanya sama-sama tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Sampai akhirnya...

Pintu galeri terbuka.

Boril dan Dola masuk.

Keduanya langsung berhenti.

Di hadapan mereka, Bandung dan Luna sedang terlentang di lantai dengan posisi yang sangat mencurigakan.

Boril dan Dola saling berpandangan.

Tanpa berkata apa-apa, Boril langsung menutup wajah Dola dengan telapak tangan kanannya.

Dola melakukan hal yang sama kepada Boril.

“Alamak!” kata Dola. “Gue lupa belum matiin motor!”

Dola langsung menarik tangan Boril untuk pergi.

Namun Boril yang tidak memahami maksud Dola malah menjawab santai.

“Motor gue udah gue matiin, Dodol.”

Dola mendengus.

“Eh, jengger ayam! Lu nggak lihat Abang Bandung lagi ngapain sama Kakak Ipar?”

“Astaga... gue nggak paham maksud lo tadi!”

Akhirnya mereka berdua menaikkan volume suara.

“BORIL! JAM BERAPA SEKARANG?”

Boril menjawab lebih keras.

“SUDAH JAM SETENGAH DUA! SUDAH WAKTUNYA KITA BELAJAR MEMBACA!”

Mendengar teriakan keduanya, Bandung dan Luna akhirnya tersadar.

Luna buru-buru bangkit dan merapikan pakaiannya.

Bandung yang gerakannya lebih lambat segera menuju pintu.

Namun baru saja sampai di sana, ia langsung disambut tawa cekikikan Boril dan Dola.

Bandung menyipitkan mata.

Boril menahan tawa.

Dola menggoda Bandung,

“Boril... tadi ngapain sih meluk-meluk Gue? Geli tahu!”

Dengan gestur dan mimik wajah yang dibuat-buat, Boril menunjuk wajah Dola.

“Habisnya gue nggak tahan lihat tahi lalat di ujung bibir lu!”

Dola langsung tertawa.

“Hahaha!”

Bandung yang sadar sedang diledek langsung mendekati Boril dan menarik telinganya.

“Jengger ayam! Suara lu jangan kenceng-kenceng! Lihat tuh, Bu Guru nggak berani keluar!”

Luna memang masih berdiri terpaku di belakang.

Melihat itu, Dola segera masuk dan menggaet lengan Luna.

“Ayo, Kakak Ipar. Anak-anak udah nungguin. Mau belajar kalimat romantis lagi.”

Dengan kehadiran Dola, Luna merasa sedikit lega. Ketegangan yang tadi memenuhi ruangan perlahan mencair.

Sambil berjalan, Luna berbisik kepada Dola.

“Dola... jangan cerita-cerita soal apa yang terjadi barusan, ya.”

Dola langsung menjentikkan jarinya ke udara.

“Tenang, Kakak Ipar. Mulut ini gue lem pakai lem Korea. Dijamin nggak bisa ngomong.”

Luna tertawa kecil.

Mereka kemudian berjalan menuju Bandung yang sudah duduk di dalam mobil.

Dola membukakan pintu untuk Luna.

“Silakan masuk, Tuan Putri.”

Bandung melotot ke arah Dola sambil mengacungkan telunjuknya.

Dola langsung membungkukkan badan.

“Siap, Abang.”

Boril yang sudah berada di dekat motor ikut mendekat, lalu merangkul pundak Dola sambil membungkukkan badan.

“Maaf, Abang.”

Dola langsung menyahut.

“Ayam sayur, Abang.”

Luna sedikit terkejut.

“Ayam sayur?”

Bandung langsung menjelaskan sambil menahan tawa.

“Maksud mereka I'm sorry.”

“Dalam bahasa jalanan,” tambah Boril, “jadi ayam sayur.”

Mereka pun tertawa.

Luna akhirnya ikut tertawa.

Boril segera menaiki sepeda motornya. Dola membonceng di belakang.

Keduanya masih terlihat bercanda di atas kendaraan sebelum akhirnya melaju meninggalkan tempat itu.

Luna memperhatikan punggung mereka sampai menghilang di kejauhan.

Bandung mendekatkan tubuhnya ke tubuh Luna.

Ia mengulurkan tangan kirinya melewati tubuh Luna.

Luna menatap wajah Bandung.

Jantungnya kembali berdebar.

Senyum kecil bahkan tidak mampu ia sembunyikan.

Bandung berkata santai,

“Maaf ya, sabuk pengamannya gue pasang.”

Luna langsung merinding.

Padahal sesaat sebelumnya pikirannya sudah melayang ke adegan-adegan drama Korea.

kenapa sih Lagi-lagi Bandung malah mengubah alur ceritanya,

Harusnya dia nggak perlu ngomong. Gue pura-pura merem, nanti saat itu gue gigit telinganya...

Luna menahan senyum tipis.

Bandung tiba-tiba memukul lembut keningnya.

“Jangan menghayal mulu. Ini dunia nyata, bukan drakor.”

Luna segera membela diri.

“Siapa yang menghayal adegan drakor? Gue cuma lagi mikirin materi buat anak-anak di basecamp.”

“Tapi di drakor nggak ada adegan mengajarkan kata-kata romantis buat anak-anak di basecamp.”

Bandung menatapnya sambil tersenyum.

“Berarti lu harus cari referensi yang lain.”

Luna kembali menatap wajah Bandung.

"Rupanya benar kata Jessica"

Bandung mengernyit.

“Emang Jessica bilang apa sama lu?”

“Dia bilang elu duda kolot. Nggak tahu kalimat romantis.”

Bandung tertawa kecil.

“Kalau cuma kalimat romantis, gue punya seribu satu macam. Lu tinggal mau pilih yang mana. Nanti gue tulisin.”

Kali ini gantian Luna yang memukul kening Bandung dengan lembut.

“Nggak usah ngarep, ya.”

Namun Bandung refleks menangkap tangan Luna.

Gerakan itu membuat ekspresi keduanya tiba-tiba berubah.

Mereka kembali saling menatap.

Bandung perlahan mendekatkan wajahnya.

Luna pun tanpa sadar ikut mendekat.

Saat napas Bandung mulai terasa di wajahnya, Luna memejamkan mata.

Wajah Bandung semakin dekat.

Luna menunggu.

Namun kemudian ia merasakan Bandung justru mendekat ke telinganya.

Sebuah bisikan terdengar pelan.

“Tolong ambilin kacamata gue di bawah kaki lu.”

Luna langsung membuka mata.

“Hah?”

Ia menunduk.

Ternyata kacamata hitam yang sering dipakai Bandung memang berada di antara kedua kakinya.

Luna buru-buru mengambilnya dan menyerahkannya kepada Bandung.

Bandung menerima kacamata itu, lalu langsung mengenakannya.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia menyalakan mesin dan melajukan mobil.

Suara mesin meraung keras membelah jalanan yang mulai sepi.

Tidak lama kemudian, mobil itu menepi di depan basecamp anak-anak jalanan.

Luna menatap ke luar jendela.

Sementara Bandung kembali memasang wajah santainya.

Seolah-olah tidak ada satu pun kejadian aneh yang baru saja terjadi di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!