NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Bab 23: Bayangan di Balik Jubah Mewah

​Suara denting gelas kristal dan alunan musik orkestra dari lantai utama Kasino Royale Vane masih sayup-sayup terdengar, namun atmosfer di koridor layanan kargo lantai satu bawah tanah terasa jauh berbeda—gelap, dingin, dan berbau besi tua.

​Aria melangkah tanpa suara di atas lantai semen yang lembap. Gaun satin sutra berwarna emas gelap (champagne gold) yang tadi memancarkan kemewahan di lantai dansa kini terselubung di balik mantel panjang berkerudung hitam tebal yang ia ambil dari ruang ganti staf. Topeng kupu-kupu emasnya telah dilepas dan disimpan di dalam saku mantel, menyisakan wajah aslinya yang tegang namun sangat terfokus.

​Jemari lentiknya tidak berhenti menari di atas layar konsol portabel kecil yang terikat di pergelangan tangan kirinya. Garis-garis data hijau berkedip cepat, memindai peta jalur evakuasi manual yang baru saja diretas dari peladen internal kasino.

​“Nona Aria, posisi Anda sudah terpantau oleh kamera CCTV sektor logistik,” suara Erick berbisik tegas melalui earpiece di telinga kirinya. “Dua penjaga patroli sedang bergerak ke arah koridor utara tempat Anda berada. Anda punya waktu empat puluh detik sebelum mereka mencapai sudut belokan.”

​"Aku tahu," balas Aria tenang, suaranya berbisik tipis.

​Ia mempercepat langkahnya, merapat ke balik bayangan pilar beton besar saat suara sepatu lars berat mulai menggema mendekat dari ujung koridor. Dua orang pengawal berjas hitam dengan lencana lambang klan Vane melintas dengan tergesa-gesa, membawa senapan serbu tersembunyi di balik jas mereka. Mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan wanita yang berdiri hanya beberapa sentimeter di balik kegelapan pilar.

​Begitu bayangan kedua pengawal itu menghilang di balik tikungan, Aria kembali meluncur maju.

​Tujuan utamanya saat ini bukan sekadar melarikan diri, melainkan memastikan bahwa keycard master titanium yang ia ambil dari Victor sebelumnya benar-benar terverifikasi untuk membuka brankas penyimpanan terluar sebelum tim taktis Marco membawa keluar Black Ledger.

​Namun, di tengah perjalanan menuju titik temu di lift barang sektor tiga, langkah Aria mendadak terhenti.

​Pintu lift khusus yang seharusnya menjadi jalur evakuasi utamanya berkedip dengan lampu merah menyala. Di atas panel tombol, sebuah tulisan digital terpampang jelas: AKSES DITUTUP — DARURAT SEKTOR TIGA.

​"Sial," umpat Aria tertahan.

​Sistem keamanan pusat kasino rupanya mendeteksi adanya anomali daya listrik kecil di jalur brankas pendulum—efek samping dari peretasan sistem pendingin yang ia lakukan sebelumnya. Pintu lift otomatis dikunci dari pusat, membuat jalur evakuasi utamanya terputus seketika.

​“Nona Aria! Ada pergerakan mencurigakan dari ruang kendali utama!” suara Erick kembali masuk dengan nada mendesak. “Hector Vane baru saja menerima laporan bahwa tekanan hidrolik di Brankas Pendulum turun drastis. Dia memerintahkan seluruh pos keamanan untuk mengunci total seluruh pintu keluar bawah tanah!”

​Keadaan berubah menjadi genting dalam hitungan detik. Jika pintu lift terkunci dan koridor utama ditutup, ia dan tim Marco akan terjebak di dalam perut benteng klan Vane tanpa jalan keluar.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berat lainnya bergema dari ujung koridor tempat ia datang tadi. Bukan lagi dua pengawal biasa, melainkan suara sepatu lars yang teratur dan dikawal oleh beberapa orang—kelompok pengawal elit yang dipimpin langsung oleh Victor.

​"Sisir setiap sudut koridor ini!" suara geraman marah Victor terdengar menggema di sepanjang dinding beton. "Seseorang baru saja menduplikasi kode akses master dari ruanganku! Temukan siapa pun yang memegang kartu itu, dan jangan ragu tembak di tempat!"

​Aria memutar tubuhnya dengan cepat, mencari celah persembunyian. Di sisi kiri koridor terdapat sebuah ruang panel listrik tua berukuran sempit yang tidak terkunci. Tanpa membuang waktu, Aria menyelinap masuk ke dalam ruangan pengap itu, menutup pintu besinya rapat-rapat hingga menyisakan celah kecil selebar mata untuk mengamati keadaan luar.

​Detik-detik berjalan lambat, dipenuhi suara degup jantungnya sendiri yang bergemuruh di dalam dada.

​Cahaya senter berintensitas tinggi menyapu celah pintu ruang panel. Langkah kaki para pengawal klan Vane berhenti tepat di depan pintu tempatnya bersembunyi.

​Aria menahan napasnya, jemarinya secara refleks meraba saku mantelnya, memastikan keycard titanium dan perangkat peretas portabelnya tersimpan aman. Ia tahu, jika pintu besi itu ditarik sekarang, penyamarannya sebagai Gisele Vance tidak akan bisa menyelamatkannya dari todongan senjata anak buah Victor.

​"Bagaimana, Komandan? Ruangan ini kosong," suara salah seorang pengawal terdengar melapor dari luar.

​"Periksa lebih teliti! Tidak mungkin pencuri itu menguap begitu saja!" bentak Victor dengan suara menggelegar penuh amarah.

​Di dalam gelapnya ruang panel, Aria memejamkan matanya sejenak. Ia membuang jauh-jauh rasa panik yang sempat mencengkeram pikirannya, menggantinya dengan dinginnya kalkulasi seorang peretas ulung. Ia tahu ia tidak bisa bersembunyi selamanya di tempat sempit ini. Ia harus menciptakan gangguan pengalih perhatian.

​Dengan gerakan sangat perlahan, Aria merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah jammer sinyal mikro berukuran sebesar korek api. Ia mengatur frekuensinya ke gelombang darurat radio komunikasi pengawal klan Vane, lalu melempar peranti itu keluar melalui celah bawah pintu besi ke tengah koridor.

​BZZZZT!

​Seketika, gelombang radio komunikasi para pengawal di luar berdengung nyaring, mengeluarkan suara bising bernyeting tinggi yang memekakkan telinga.

​"Argh! Apa ini?!" teriak salah seorang pengawal, melepaskan earpiece dari telinganya dengan kesakitan.

​"Sinyal komunikasi kita diacak! Cek sumber gangguannya!" perintah Victor panik, terdistraksi sepenuhnya oleh kekacauan sinyal radio tersebut.

​Para pengawal klan Vane segera berlarian menjauhi area ruang panel, mengejar sumber sinyal acakan yang berada di ujung lorong sebelah selatan.

​Mendengar langkah kaki mereka yang mulai menjauh, Aria tidak menyia-nyiakan waktu sepersekian detik pun. Ia mendorong pintu besi ruang panel dengan cepat, melompat keluar, dan berlari kencang menyusuri koridor ke arah berlawanan menuju titik temu darurat.

​“Erick, dengar aku!” bisik Aria terengah-engah ke earpiece-nya sembari berlari. “Pintu lift sektor tiga dikunci total. Aku butuh jalur alternatif keluar sekarang juga!”

​“Mengerti, Nona Aria! Bergeser ke ujung koridor barat daya. Ada lubang ventilasi utilitas tua yang terhubung langsung ke area parkir luar tempat bus komando terparkir. Aku akan meretas kunci mekanisnya dari sini!” jawab Erick cepat.

​Aria membelokkan arah larinya dengan sigap. Napasnya mulai memburu, dan peluh tipis membasahi pelipisnya di balik mantel hitam yang dikenakannya. Gaun satin emasnya sedikit menyulitkan pergerakan cepatnya, namun tekadnya untuk keluar dari tempat itu jauh lebih kuat daripada rasa lelah di kakinya.

​Sesampainya di ujung koridor barat daya, ia menemukan sebuah teralis besi tua yang menutupi saluran ventilasi besar di dinding bawah.

​CLIK!

​Suara mekanisme kunci otomatis bergeser terbuka dari jarak jauh berkat peretasan Erick. Teralis besi itu terdorong longgar ke depan.

​Tanpa ragu, Aria merengsek masuk ke dalam lubang ventilasi yang sempit dan gelap, menarik teralis besi itu kembali ke posisi semula untuk menghilangkan jejak, lalu merayap cepat menyusuri pipa logam menuju kebebasan.

​Di ujung terowongan ventilasi, pendar lampu kota dan rintik hujan gerimis menyambutnya. Dari celah keluar, ia bisa melihat bayangan bus komando hitam legam milik klan Argantara terparkir sunyi di balik kegelapan gang sempit dua blok dari kasino.

​Aria mendesak keluar dari lubang ventilasi, mendarat mulus di atas tanah basah gang tersebut dengan napas yang masih naik turun.

​Pintu samping bus komando bergeser terbuka secara otomatis dari dalam. Sepasang tangan kokoh dan hangat menyambar lengan Aria, menarik tubuh wanita itu naik masuk ke dalam kabin yang aman dan terang.

​Aria mendongak dan mendapati Devan Argantara berdiri di hadapannya.

​Pria itu telah melepas topeng serigalanya. Kemeja hitam berpotongan tajam yang dikenakannya agak sedikit kusut, namun iris mata kelamnya memancarkan kilatan ketegangan yang langsung mereda begitu melihat keselamatan Aria di hadapannya.

​"Kamu terlambat tiga menit dari estimasi waktumu, Little Bird," suara Devan berat dan rendah, namun ada getaran halus sarat kelegaan yang tak bisa disembunyikan di balik nada datarnya.

​Aria melepaskan kerudung mantelnya, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang masih liar. Ia mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan keycard master titanium milik Victor yang berhasil ia amankan di balik sarung tangannya.

​"Maafkan aku," balas Aria dengan senyum tipis penuh kemenangan di bibirnya yang kemerahan. "Aku sempat mampir untuk membuat sedikit kekacauan buat Victor di koridor belakang."

​Devan menatap kartu tersebut, lalu pandangannya beralih menatap lekat wajah Aria. Tanpa memedulikan Erick dan Marco yang sedang bekerja di depan konsol utama bus komando, Devan merengkuh pinggang Aria, menarik tubuh wanita itu rapat-rapat ke dalam dekapannya.

​Ia mengecup puncak kepala Aria dengan penuh kepemilikan dan kelegaan mutlak, sementara bisikan beratnya mengalun lembut di telinga wanita itu:

​"Selamat datang kembali, Gisele. Misi kita selesai."

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!